
Sore itu aku terlena oleh memori tentang romansa yang diciptakan oleh tarian burung Bidadari Halmahera yang begitu indah yang tak sengaja kulihat di tengah hutan 2 minggu yang lalu. Aku berharap menemukan burung endemik itu sekali lagi. Sudah 3 hari ini aku berjalan ke tengah hutan mencari pohon - pohon tinggi yang bisa kujadikan tempat pemantauan burung sekaligus tempatku bersantai melepas kepenatan pikiran akibat perkataan dan ancaman Deya tempo hari. Aku butuh healing. Cara healing paling mungkin adalah jalan - jalan ke hutan.
Hari pertama aku melepas penat dengan tidur di atas pohon dengan ayunan kain yang kuikat pada dahan pohon dengan erat dan kuat. Aku berharap mendengar kicau burung saat pagi tiba. Namun harapanku nihil. Saat pagi ternyata yang kujumpai hanya sepi.
Hari ini pandanganku tentang cahaya berubah. Kadang malam lebih meriah dan membahagiakan meski bumi diliputi kegelapan. Terang tak selalu berarti keriaan. Gelap juga bisa membahagiakan. Setidaknya keriaan dalam gelap kudapati dari riuhnya suara hewan nokturnal berpesta malam tadi. Aku begitu menikmati merdunya suara serangga malam berderit bersahut-sahutan. Bulan sabit tersenyum. Jutaan bintang menatapku dengan sinar teduh yang mendamaikan hati. Mereka semua yang menemani dan mendamaikan hatiku sampai tertidur nyaman dalam hammock sederhana buatanku sendiri. Aku merasa tidak sendirian. Alam adalah teman sejatiku pada waktu siang ataupun malam.
Aku hanya membawa sedikit makanan dan minuman dalam ransel. Bekal utamaku hanya sedikit pengalaman bertahan hidup di hutan dan keyakinan Allah akan menjagaku dimana pun aku berada selama aku terus mengingat dan memuji namaNya. Perjalananku ini tanpa misi apapun kecuali bertahan hidup dalam hutan. Andai harus mati atau celaka dalam perjalanan ini tak mengapa. Aku sudah siap. Entah itu sikap apatis atau suatu bentuk keteguhan hati, aku tak dapat membedakannya. Namun sikap itulah yang membawaku terus masuk jauh ke dalam kawasan hutan sendirian tanpa takut bertemu binatang buas, kelaparan atau apapun yang dapat membahayakan hidupku. Jauh sekali aku berjalan menyusuri bekas-bekas jalan setapak yang mungkin ditinggalkan oleh orang suku Lili pedalaman. Ada juga sisa-sisa jejak kaki binatang dan tapal kuda di jalan setapak yang kulalui. Aku merasa perjalanan ini nyaman. Paling tidak aku tahu daerah yang kulintasi pernah dilewati oleh polisi patroli hutan kawasan TNAL. Kata baba polisi hutan suka berpatroli dengan mengendarai kuda.
Hari kedua aku tetap berada di tempat itu menikmati udara hutan sambil mengamati kawanan kera dan burung yang kuharap melintas di pandanganku. Namun itu hanya harapan kosong. Seharian binatang yang kuharapkan tak ada yang muncul. Seharian aku hanya termenung menikmati hembusan lagu cinta yang didendangkan hembusan angin yang menggerakan daun-daun dan ranting pohon.
Mungkin aku harus masuk lebih jauh ke dalam hutan untuk bertemu burung-burung liar yang kurindukan. Hari ketiga aku merasa harus lebih berani melangkah lebih jauh masuk ke dalam hutan. Aku adalah Afifa Syarif sang petualang. Aku melangkah dengan percaya diri. Aku pasti mampu bertahan sendirian di hutan. Ayahku keturunan suku Bugis yang sudah dikenal sebagai bangsa penjelajah lautan. Ibuku keturunan suku Lingon yang mampu bertahan hidup tinggal di hutan pedalaman oleh sebab kapalnya karam di lautan yang jauh dari negeri asalnya. Banyak yang bilang suku Lingon itu masih keturunan penjelajah Portugis yang berlayar keliling dunia dengan kapalnya pada abad pertengahan.
Kata kakak Surya yang pernah mengajar kami di sekolah rimba, Portugis adalah nama negara di benua eropa yang warganya kebanyakan berkulit putih, bertubuh tinggi besar, dan bermata biru. Karena itulah sebagian orang suku Lingon mewarisi gen orang Portugis yang berasal dari ras kaukasoid. Secara fisik mereka berbeda dengan suku lain penghuni pulau ini yang kebanyakan berasal dari ras mongoloid atau melanesia.
Mulai hari ketiga aku berjalan dan terus berjalan menyusuri jalan setapak tanpa kompas tanpa tujuan pasti. Makin lama berjalan aku tak mengenali lokasi hutan tempat aku berpijak. Akibatnya adalah bingung mencari jalan pulang.
Bodohnya aku masih berharap menemukan sesuatu yang langka dalam perjalananku kali ini, yaitu bertemu dengan sang Bidadari Halmahera sekali lagi atau mendengar lagu cinta burung-burung liar di hutan Lolobata. Padahal keberuntungan tak bisa didapat tiap hari. Apalagi saat kita benar-benar ingin lari dari penatnya pikiran yang membebani. Burung-burung itu seperti menjauh dariku.
__ADS_1
Sementara itu ucapan Deya terus terngiang di telingaku. Cepat atau lambat aku akan diusir dari rumahku. Aku harus bagaimana? Mengalah ikut mama atau pergi ke dalam hutan seperti sebagian warga suku kami yang menginginkan hidup damai bersama alam?
Tidak. Aku punya pemikiran sendiri yang berbeda dari 2 alternatif pilihan itu. Aku masih ingin tinggal di rumahku. Hanya rumah itulah yang membuatku merasa baba masih ada bersamaku. Jauh dalam lubuk hati sesungguhnya aku masih menyimpan rasa penasaran pada siapa yang membunuh babaku. Waktu tak bisa menyembuhkan rasa penasaran dan dendamku. Ya, aku mengakui aku belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan kepergian baba. Aku ikhlas pada takdir kematian baba, tapi aku tidak terima kenapa caranya dengan dibunuh. Aku harus tahu siapa yang membunuh dan apa alasannya mengambil nyawa orang yang sangat kucintai dan amat berarti dalam hidupku.
Perubahan kondisi sosial di sekelilingku membuatku tak merasa nyaman. Aku tak bisa menerima perubahan keadaan kampung kami sebagaimana mama, Fifi, Arfa dan orang-orang kampung yang lain. Hatiku masih mengingkari perubahan itu, tidak bisa dipaksa ikut lebur di dalamnya.
Setelah hampir empat tahun berlalu, aku tetap ingin semuanya masih seperti saat baba masih hidup. Jangan ada yang berubah. Namun kenyataannya semua berubah. Keadaan tak lagi sama. Warga kampung sudah pergi meninggalkan lahan kampung kami dan menetap di kampung baru dengan kebiasaan serta pola pikir yang baru pula. Mama dan Fifi terus mendesakku agar menerima saja uang kerahiman itu dan memindahkan makam baba ke kampung baru. Aku benar-benar sendirian. Sekarang Arfa -satu satunya teman yang mau memahami pemikiranku dan masih menyempatkan waktu ngobrol dan makan bersama- tak boleh lagi kutemui.
Aku harus bagaimana?
Kadang aku berhenti karena melihat ada pohon air. Kupotong batang pohon itu lalu kuhirup airnya yang terasa segar membasahi tenggorokanku. Aku tahu batang pohon air itu bisa menjadi sumber air minum sebab baba pernah melakukan hal yang sama saat aku mengikutinya pergi mencari damar di hutan. Dalam kondisi darurat dan tidak mendapati sungai ada beberapa alternatif untuk mendapatkan minum, salah satunya dari pohon air. Selain itu bisa juga mencari air minum dari batang pisang, memeras lumut atau jika jumpa tumbuhan kantung semar juga menyimpan air yang bisa buat melepas dahaga.
Alhamdulillah, aku bersyukur tiap kali mendapatkan kemudahan yang membuat tubuhku kembali bugar dan siap melanjutkan perjalanan. Entah itu bertemu pohon air, mendapati pohon buah rambutan hutan, buah berry liar, biji kenari ataupun jamur yang bisa langsung kumakan sebagai pengisi perut atau kuambil dulu untuk kubakar dengan api yang kubuat dari menggesekan ranting pohon kering.
Begitulah hidupku selama beberapa hari di hutan. Sangat liar. Mungkin hampir sama dengan kehidupan suku Lili pedalaman yang mendiami wilayah hutan Lolobata ini.
Haruskah aku selamanya hidup sendirian tanpa arah dalam hutan ini? Setelah berhari-hari sendirian, akhirnya pikiranku mulai bertanya-tanya.
__ADS_1
Tentu saja tidak. Setelah 5 hari bertualang, aku mulai merasa kangen rumah. Aku teringat ayam-ayam peliharaanku yang kubiarkan mencari makan sendiri dengan kulepas dari kandangnya. Bagaimana kabar mereka? Apakah mereka dapat makan? Apa mereka lebih bahagia bebas tanpa aku yang suka mengambil telurnya untuk lauk makan?
Aku kangen pusara makam baba. Apakah di atas makamnya telah tumbuh rumput liar? Aku harus membersihkannya. Aku ingin duduk di sisi pusaranya dan bercerita pada baba tentang apa yang terjadi pada hidupku.
Aku kangen mama. Beliau pasti sedih memikirkan bagaimana nasibku. Aku juga kangen kecerewetan Fifi yang kadang mampu menghibur lara. Aku harus pulang. Barangkali burung nuri yang biasa hinggap di pohon kenari sebelah rumahku sedang mencariku, merindukan ngobrol bareng lagi.
Sialnya saat aku mulai dicekam rasa rindu, aku tak tahu kemana arah jalan pulang. Aku merasa telah berputar-putar di hutan hingga aku tak tahu lagi dimana arah menuju rumahku. Ke barat, timur, selatan atau utara? Aku benar-benar bingung.
Bajuku mulai terasa tak nyaman. Pliket. Tubuh dan rambutku juga kotor. Aku tak kunjung menemukan sungai selama tiga hari terakhir perjalananku, padahal aku sudah mencoba mengikuti jejak binatang yang biasanya pergi ke sungai untuk minum.
Aku memperhatikan sejak pagi hari ke lima, jejak tapal kuda tak ada lagi. Berarti harapanku bertemu polisi hutan yang mungkin bisa dijadikan tempat bertanya dan menolongku kembali ke kampung mulai menipis.
Hik hik hik... Sampai kapan aku harus berada di hutan ini?
"Mama ... Fifa kangen. Maafkan Fifa mengabaikan nasehatmu." gumamku pelan.
Mama benar. Manusia selalu butuh orang lain, tidak bisa selamanya hidup sendirian. Itu kodrat. Binatang pun hidup dalam koloni dan berpasang-pasangan. Suku pedalaman yang hidup terasing juga berada dalam kelompok, tidak benar-benar sendirian.
__ADS_1