LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
SUATU PAGI


__ADS_3

Malam itu telepon berdering. Bukan dari Bray seperti malam-malam sebelumnya melainkan dari nomor tak dikenal. Aku enggan mengangkat. Dengan kecewa kumatikan lalu kuletakkan kembali di atas meja. Aku menunggu telepon dari Bray, bukan yang lain. Mungkinkah Bray sedang nge'prank' aku dengan nomor baru? Masabodo. Aku sudah berkomitmen pada diri sendiri tak akan menerima telepon tak dikenal. Bray sudah tahu itu. Aku malas buang waktu melayani sales asuransi, orang iseng maupun orang yang berpotensi menipu lewat telepon.


Tak lama kemudian telepon dari nomor yang sama kembali berdering dan langsung kutolak lagi.


Semenit kemudian ada pesan masuk dari aplikasi hijau bergambar gagang telepon.


"Assalamu'alaikum. Fifa. Ini Arfa. Tolong angkat telepon sebentar saja!"


Spontan aku langsung memencet tombol gagang telepon warna hijau.


"Ngana pegi kemana saja, Arfa?" tanyaku penasaran.


"Ceritanya panjang. Sekarang sa tinggal sendiri di hutan macam orang suku Lili."


"Kenapa ...?"


"Jangan ngobrol di telepon. Sa mau cerita banyak tapi ini hp pinjam dari teman dan sudah hampir habis baterainya. Kita ketemu besok pagi di tepi sungai dekat rumah lama ngana."


"Jam berapa?"


"Habis subuh."


Tuuut sambungan terputus. Kutelepon balik pun tak ada jawaban kecuali pemberitahuan dari provider telepon bahwa nomor yang dihubungi tengah berada di luar jangkauan.


Keesokan harinya selepas subuh aku bergegas mengemas roti jatah sarapan kami dan air mineral di dapur. Dengan mengenakan celana training dan jaket hoodie aku jalan kaki menuju rumah lamaku. Sengaja pergi mengendap-endap tanpa membangunkan Santi. Namun ternyata pengawalku itu tahu kepergianku dan mengikutiku dari belakang.


Aku menghentikan langkah. Santi pun demikian.


"Ngana tak perlu mengawal, Santi. Ini masih pagi."


"Saya ditugaskan 24 jam menjaga Nona."


"Saya cuma mau jalan-jalan pagi sebentar saja."


"Saya harus ikut untuk memastikan Nona aman kapan pun dan di mana pun." jawabnya tegas.


Aduh, bagaimana ya? Walaupun situasi selama beberapa hari ini aman, Santi tetap bertugas mengawalku. Kalau ada apa-apa dengan aku hari ini, karirnya pasti rusak. Tak bijak kalau aku melarangnya menjalankan tugas. Dalam hati sebenarnya ada rasa bersalah ketahuan bertemu teman lelaki diam-diam tanpa memberitahu Bray. Tak ada maksud apa-apa, aku hanya takut kalau Bray tahu akan lapor polisi dan mereka segera datang menangkap Arfa.


"Baiklah. Saya mau bertemu sahabat kecil saya di tempat kami dulu biasa main bersama di tepi sungai dekat rumah lama saya. Kamu boleh ikut mengawal tapi buatlah jarak aman agar tak mengganggu privasi kami."


"Siap, Nona."


Aku membuka mulut ingin berpesan agar tak melaporkan pertemuan ini pada Bray tapi urung. Santi adalah orang bayaran Bray. Aku sadar kesalahanku makin berlipat ganda kalau sampai mengucapkan kata itu. Toh aku tidak berniat buruk. Setelah pulang nanti akan kuceritakan pertemuanku dengan Arfa. Tapi untuk saat ini aku ingin bertemu dengan dia sebagai sahabat tanpa intervensi apa pun dari Bray.


Hari masih agak gelap. Jalan menuju rumah lama kami terlihat remang. Aku harus berhati-hati sebab jalan sudah menyempit dan hampir tertutup oleh rumput alang-alang yang tinggi. Tak ada lagi orang yang beraktivitas pagi di sungai. Sebagian besar warga kampung sudah punya sumur atau pompa air di rumahnya masing-masing. Itu sebabnya jalan ini nyaris tak pernah ada yang melalui. Rumput dan pohon liar tumbuh subur.


"Hai, Fifa." Arfa melambaikan tangan. Ia menungguku sambil duduk di atas batu besar tempat kami dulu biasa duduk menunggu baba yang sedang menangkap ikan dan mama yang sedang mencuci pakaian.

__ADS_1


Penampilan Arfa tampak kumal dan kurus. Rambut ikalnya dibiarkan panjang dan berantakan. Tampangnya sama dengan orang-orang suku Lili yang dulu pernah kujumpai di hutan.


"Hai, apa kabar?"


"Baik."


Aku menyerahkan beberapa potong roti dan sebotol air padanya. "Ngana pasti belum sarapan."


Arfa tersenyum. Ia langsung meraih kantung plastik yang kubawa dan memeriksa apa yang ada di dalamnya.


"Ngana sudah seperti noni Belanda sekarang. Sarapan roti tiap hari?"


"Tidak. Itu roti pemberian mama Yos buat contoh sebab sa pesan kue padanya buat pertemuan warga nanti malam." Aku sedikit menyembunyikan fakta. Padahal roti itu dikirim dari katering PT XY kemarin sore khusus buat sarapanku. Mama Yos adalah nama salah satu juru masak katering kantor.


"Apa mama Yos juga menerima pesanan selain masak buat PT XY?" tanya Arfa dengan sorot mata tajam dan agak sinis.


"Ya. Makanlah! Sa sengaja bawakan ini buat ngana karana tahu selama tinggal di hutan ngana pasti tak pernah berjumpa roti. Mama Yos pintar buat roti dan aneka kue."


Arfa masih menatapku dengan tajam. Lapar menuntunnya agar mengambil sepotong roti lalu memakannya dengan lahap.


Aku duduk di batu besar di sebelah Arfa. Seperti biasa, tanganku selalu iseng mengambil batu-batu kecil dan melemparkannya ke sungai.


Plung, suara dan cipratan air sungai ketika batu menyentuh permukaan air sungai begitu indah. Di tempat jatuhnya akan terbentuk lingkaran-lingkaran dan percikan air yang berpendar di sekitar lingkaran itu. Entahlah. Aku selalu suka dengan pemandangan sesederhana itu.


"Ngana tak betah kah kerja di pulau Obi?" tanyaku langsung pada pertanyaan yang berhari-hari mengendap di kepala.


Aku mengangguk mengerti. Alasannya meninggalkan pulau Obi cukup masuk akal. Sayangnya aku tak berani menanyakan soal tuduhan mencuri yang dialamatkan pada rombongan pekerja yang kabur dari pulau Obi. Pura-pura tak tahu. Berharap ia mau berbagi cerita lebih banyak.


"Tak mau kembali kerja di PT XY?"


"Tara. Lebih baik sa tinggal di hutan saja."


"Sa bisa bantu bicara pada kak Hisyam dan mas Firdaus agar menerima ngana lagi."


"Tara. Sudah tak mau urusan dengan perusahaan tambang lagi. Tak cocok lagi kerja dengan mereka."


Sudah. Ceritanya tak berlanjut pada tuduhan pencurian itu. Aku tak punya kata untuk menggali informasi lebih.


"Bagaimana dengan kuliah?"


"Lupakan! Sudah tak guna."


Arfa terlihat sudah putus asa. Kasihan.


Aku kembali melempar batu sebesar kepalan tangan ke sungai yang menghasilkan cipratan air lumayan tinggi.


Kami sama-sama diam. Kutunggu banyak cerita mengalir. Agaknya Arfa ragu. Tak yakin apakah aku cukup dapat dipercaya.

__ADS_1


"Deya pindah ke Weda. Ngana tahu?" Kualihkan topik ke masalah yang lain.


"Tahu."


"Dia pasti kecewa dan malu."


"Itu salahnya sendiri."


"Iya. Salahnya sendiri." ulangku membenarkan ucapan Arfa. Sekedar buat menghibur. Di sisi lain aku bisa merasakan bagaimana malu dan kecewanya Deya. Untunglah aku tak ada di kampung hingga tak jadi sasaran kemarahan keluarga mereka.


"Sa sudah bayar hutang keluarga beserta bunganya sesuai saran ngana. Uang sudah habis. Sekarang harus mulai hidup dari nol lagi. Tadinya sa mau ajak ngana sama-sama tinggal di hutan. Tapi keadaan telah berubah. Kita beda nasib, Fifa. Ngana sekarang gadis kaya dapat warisan dari keluarga almarhum baba. Makin dekat pula dengan direktur PT XY. Tak mungkin lagi mau tinggal di hutan."


Aku melihat rona cemburu di wajahnya. Untuk itu aku mencoba untuk menawarkan bantuan, "Apa ada yang bisa sa bantu? Mau bekerja di perkebunan lada atau coklat milik keluarga baba di Sulawesi?"


"Tara."


"Mau kupinjamkan uang untuk beli lahan perkebunan sendiri?"


"Tara."


"Kabarnya damar hutan sudah mulai berkurang. Petani kelapa juga banyak yang beralih cari damar karena harga kopra sedang anjlok. Ngana sulit memperbaiki hidup dengan hanya bekerja sebagai pengumpul getah damar."


"Sa tak peduli. Sa kembali pulang hanya mau menikahimu, Fifa."


"Mana bisa. Dari dulu sa su bilang cuma anggap ngana sahabat. Ngana tak bisa menikahi Deya karena tak cinta. Sa juga tak bisa menikahi ngana karena tak cinta."


Frustasi. Aku kembali melempar batu ke sungai membuang perasaan kesal pada keadaan ini. Kali ini batunya lebih besar dari kepalan tangan. Percikan air yang ditimbulkannya lebih tinggi.


Tiba-tiba Arfa mendekatkan wajahnya pada wajahku dan menatapku tajam, "Kalau tak mau sa nikahi, ngana jangan menikah dengan siapapun! Tidak dengan orang yang dijodohkan nenek di Makassar. Juga tidak dengan Firdaus." ancamnya membuatku bergidik ngeri dan berdiri menghindar.


Menyesal kenapa aku tak kabari Bray. Aku takut melihat wajah Arfa yang berubah beringas. Matanya merah memandangku dengan tatapan mengancam.


"Karena alasan itu ngana memanah mas Firdaus waktu kami di makam baba?"


Arfa tersenyum tipis.


"Jenis racun pada anak panahnya sama dengan racun yang membunuh baba."


Arfa memalingkan wajahnya. Kini aku tak takut lagi. Diamnya Arfa membuat darahku makin panas. Dengan berani aku menuding Arfa dengan suara keras dan sorot mata yang tegas.


"Ngana menyuruh bertemu di tempat sepi ini untuk dibunuh juga?"


"Bunuhlah! Ngana tahu sa akan senang dapat cepat-cepat jumpa baba di alam baka. Bunuh saja kalau itu buat ngana puas."


"Tak ada yang mau bunuh ngana. Lihatlah! Tarada senjata di sini. Sa rindu. Ingin jumpa." jawabnya pelan tanpa berani menatapku. Memang tak ada senjata di sekitar kami.


"Sa cinta pe ngana, Fifa." ucapnya sendu.

__ADS_1


__ADS_2