
Dari sedikit teman yang kumiliki saat ini Bray yang paling sering menghubungi dan mempedulikan aku. Aku kehilangan Arfa yang hanya menghubungiku sesekali saat baru pindah ke pulau Obi. Setelah aku menegurnya tentang Deya, Arfa mulai enggan menghubungiku. Entah karena sibuk, kecewa, atau sengaja melupakan sahabat kecilnya. Andi Syarif, teman yang masih memiliki hubungan kekerabatan denganku tergolong sering menghubungi. Dia seorang yang pandai membuat suasana ceria tapi sering ngambek hanya karena urusan sepele. Belakangan dia marah gara-gara aku tak sempat membuka kotak hadiah yang diberikannya saat dalam perjalanan pulang dari Makassar. Lebih marah lagi saat tahu aku pergi ke Makassar tanpa pamit padanya dan mengetahui kasus Bray dan Maudy dari dokter Farhana. Bukan langsung dariku.
"Kamu anggap aku siapa sih, Fifa? Kenapa aku tak diberitahu kalau Firdaus kena panah beracun di areal pemakaman ayahmu? Kenapa aku tidak diberitahu juga waktu mantannya Firdaus datang melabrak dan menganiaya kamu di aviary? Bahkan waktu aku kirim pesan singkat mau kirim burung kakatua kamu cuma jawab hubungi dokter Farhana saja." Andi marah-marah di telepon. Aku sampai menjauhkan gawai dari telinga saking khawatir tingginya nada yang merambat masuk membuat pecah gendang telinga.
Aku bingung harus mulai dari mana menjawab rentetan pertanyaan panjangnya. Kondisi psikisku masih belum normal. Selain itu aku tak terbiasa menceritakan semua masalahku pada orang lain. Kalau bisa diselesaikan sendiri, aku tak ingin orang lain tahu aku sedang punya masalah. Kupikir semua orang punya masalah masing-masing sehingga tak patut kalau saling ganggu.
"Seharusnya kamu cerita dulu sama aku. Kita bisa selesaikan masalah di sini tanpa melibatkan nenek. Kasihan. Nenek kan sudah tua. Sudah terlalu banyak masalah pula."
Terus terang aku bingung. Aslinya aku tak mau melibatkan nenek yang sudah tua dan sakit-sakitan. Tapi tak tahu bagaimana caranya menyelesaikan masalah dengan Maudy tanpa melibatkan nenek. Andi tak tahu aku sedang berhadapan dengan siapa. Di kampung halaman aku hanyalah gadis pedalaman yang bisa dengan mudah diinjak-injak pemilik uang dan kuasa. Sementara di tanah Bugis ini aku bisa berlindung dengan darah bangsawan yang diwarisi keluarga ayahku.
Lepas dari relasi kuasa, dalam kasus ini aku tidak minta tolong siapa pun. Bray yang merancang rencana melindungiku atas inisiatif sendiri berdasarkan laporan dokter Hans dan pengetahuannya tentang sifat serta kebiasaan Maudy. Semua yang terjadi bukan atas kehendakku. Merasakan perihnya luka dan beban batin sudah memakan hampir semua energiku. Aku sama sekali tak bisa berpikir apa-apa. Blank. Pikiranku kosong dibajak oleh rasa sakit dan sedih.
"Maaf, kak Syarif! Kata dokter saya belum boleh banyak bicara." Untungnya aku masih bisa menggunakan alasan itu agar Andi tidak mencecarku.
"Ya sudah. Lain kali jangan lupa kabari aku ya. Walaupun Firdaus ada hati sama kamu, jangan ditanggapi serius. Kita belum kenal siapa dia yang sebenarnya dan apa maksudnya sama kamu. Kedekatan hubungan kalian bisa bikin orang salah paham. Apalagi dia punya tunangan sadis begitu. Lain kali jangan ada urusan pribadi dengan dia lagi ya."
Andi bisa seenaknya bilang begitu sekarang. Kemarin saat aku mau menghindar tawaran Bray naik helikopter bersama malah dia yang bersemangat mengambil kesempatan itu. Waktu sampai di lokasi pun dia langsung pergi ke kantornya demi dapat catatan kehadiran baik tanpa menghiraukan bagaimana nasibku.
Andi mungkin amnesia. Lupa kalau dia sengaja meninggalkanku di kantor PT XY. Kalau dia peduli padaku harusnya dia yang jemput dan mengantarku pulang, bukan Bray. Seandainya tempo hari dia yang mengantarku pulang, mungkin ceritanya akan berbeda.
Aku ingat lagi pesan baba, jangan buang waktu dengan berandai-andai. Pikirkan saja pokok masalahnya dan selesaikan dengan bijak. Masalahnya Andi ingin mendapatkan cerita langsung dariku. Dia belum paham betul karakterku yang tak suka mengumbar cerita. Dia juga tidak memahami beban psikologis sebagai saksi dan korban dua buah peristiwa tragis berturut-turut itu sangat berat. Suatu saat aku akan beritahu alasanku padanya. Tidak sekarang.
"Kamu akan lama di Makassar?"
"Tidak tahu. Masih harus konsultasi lagi ke dokter spesialis kulit dan kecantikan. Lihat perkembangan nanti saja."
__ADS_1
Andi diam sejenak. Mungkin sedang berpikir bahwa aku memang perlu ke Makassar untuk memperoleh pengobatan yang lebih baik. Belum ada kota yang memiliki fasilitas kesehatan lengkap di Indonesia timur selain Makassar.
"Apa kamu akan menetap di sana dan nggak akan ngurus yayasan lagi?"
Aku tak bisa menjawab.
"Oke. Jangan terlalu dipikirkan. Semoga keadaan cepat membaik. Cepat sembuh ya! Jangan lupa banyak makan buah dan sayur supaya pulih lebih cepat. Aku janji akan ikut mantau perkembangan kasus pemanah beracun itu."
"Terima kasih." Aku senang dengan kalimat terakhir Andi. Semoga saja jati diri pemanah yang membunuh baba dan nuriku segera terungkap.
Aku lebih banyak mengisi hariku di dalam kamar dan berhadapan dengan laptop. Tak ada suara burung bernyanyi di rumah ini. Sunyi. Selama di kota Makassar aku belum punya teman baru. Tidak seperti Fifi yang dengan cepat dapat banyak teman baru di mana pun dia berada. Hari ini Fifi memberitahu bahwa ia mulai masuk bimbingan belajar di sebuah pusat kursus ternama. Fifi bersikeras masuk sekolah favorit dengan nilai tes masih sedikit di bawah standar. Pihak sekolah memberikan dispensasi sebab dia pindahan dari sebuah kota kecil di Indonesia timur yang standar kualitas pendidikannya masih jauh dibandingkan sekolah favorit itu. Sebagai konsekuensinya mereka menyarankan agar Fifi ikut bimbingan belajar untuk mengejar ketertinggalannya.
Teman baruku hanya orang-orang yang bekerja di kedai dan perkebunan. Semua temanku selalu berkaitan dengan kerja. Aku merindukan Aga yang senantiasa menghibur laraku dengan tingkah manja dan perilakunya yang menyenangkan. Baru sehari bertemu burung paruh bengkok berkepala merah itu, sudah dipisahkan lagi oleh keadaan.
"Fifa sama Firdaus fokus aja di marketing supaya kita bisa punya dana cukup untuk keberlangsungan program kita. Kami sekeluarga sudah mulai betah di Lolobata. Insya Allah urusan perawatan dan pengembangbiakan burung beres deh."
"Iya. Kayaknya Fifa perlu kursus editing video profesional buat kepentingan promo program."
"Bagus tuh, Fifa. Ambil kursus privat aja di rumah buat ngisi waktu biar lebih efektif."
Ide dokter Farhana jitu juga. Daripada bingung mau melakukan apa, lebih baik meningkatkan pengetahuan di bidang yang kita sukai. Aku sudah mulai suka berjam-jam di depan laptop buat mengedit. Mulai dari buat organization profile sampai bikin update konten video kulakukan sendiri. Alasan awalnya karena menekan biaya tapi lama-lama aku menikmati pekerjaan itu. Cuma yah. Kata Bray hasilnya masih kelihatan kasar dan kurang 'eye catching'.
"Bagaimana kabar Aga dokter?"
"Kemarin dia agak murung tidak mau bicara. Mungkin sedang menyesuaikan diri dengan tempat dan lingkungan yang berbeda. Tapi hari ini dia sudah mengucapkan salam menyapa kami."
__ADS_1
"Syukurlah. Fifa kangen Aga."
"Dia baik-baik saja di sini. Oh iya, Fifa nggak usah kirim uang atau hp baru. Mas Firdaus sudah mengganti hp aku dengan yang lebih bagus."
"Yah, padahal baru hari ini Fifa baru mau transfer. Maaf ya dokter! Fifa responnya kelamaan. Kemarin-kemarin Fifa kayak ngeblank gitu."
"Nggak apa-apa. Wajar. Kamu sedang menghadapi banyak masalah. Mantannya mas Firdaus memang sadis. Pantas kalau diputus. Kelakuannya minus banget. Dengar-dengar dia sudah bebas dan pulang ke Jakarta."
Kicep. Aku menunggu kalimat dokter Farhana selanjutnya. Apa sih komentarnya tentang berita itu.
"Hukum manusia itu memang bisa dibeli ya. Orang jelas bersalah kok dibebaskan begitu saja."
Jadi, aku telah terlibat dalam kasus jual beli hukum itu?
Dalam hati aku merasa bersalah dan menyesali keputusan kemarin. Bray benar. Harusnya biarkan Maudy mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan ketentuan hukum.
"Ohya, Fifa. Ngomongin soal cakar menyakar aku jadi ingat kalau hari ini BKSDA rencananya akan menitipkan seekor elang pada kita. Elang itu menderita luka akibat kena peluru senapan angin pemburu. Nanti dikirim videonya kalau elangnya sudah datang ya."
Elang. Aku tersenyum mengingat bercerita baba tentang burung yang dikenal sebagai makhluk penguasa udara itu. Burung perkasa itu memiliki fisik yang gagah, cakar yang tajam, dan mampu terbang cepat. Namun, kemampuan terbangnya tak langsung didapat begitu saja. Ada proses belajar yang harus dilewatinya. Umumnya, sesekor elang muda berlatih terbang di usia 2-3 bulan. Di awal latihan pastinya tidak mudah. Bahkan ada anak elang yang masih takut untuk keluar dari sarang. Kalau elang kecil takut keluar dari sarang, maka sang induk akan berusaha memancing anaknya untuk mau keluar. Seekor elang dikenal sebagai makhluk tangguh tapi ketangguhannya itu tak didapat semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya diperoleh dengan latihan dan kerja keras.
Pada usia 40 tahun, seekor elang akan dihadapkan pada dua pilihan: menunggu kematian atau melalui proses transformasi selama 150 hari. Pada usia itu cakarnya mulai menua dan paruhnya yang tajam itu jadi panjang dan bengkok sampai akhirnya patah. Tak hanya itu saja, elang kesulitan terbang karena bulunya tumbuh lebat dan tebal. Dia harus melalui masa sulit agar bertahan hidup lebih lama. Saat bertransformasi, elang harus berusaha keras terbang dengan susah payah ke puncak gunung. Di sana ia akan membuat sarang di tepi jurang dan mulai menjalani proses transformasi. Elang yang sebenarnya sudah tak berdaya itu akan mencabuti bulunya sendiri dan mematahkan cakar serta paruhnya demi mendapatkan “kesempatan hidup kedua”. Dengan cara itu, dia bisa mendapatkan bulu, cakar, dan paruhnya yang baru. Setelah melewati proses menyakitkan itu, dia pun siap menjalani hidupnya 30 tahun lagi.
Aku harus bersemangat belajar dan sabar agar jadi hebat seperti elang. Musibah ini hanya rintangan kecil. Ini cara Tuhan menuntunku melalui fase transformasi menjadi Fifa yang lebih baik. Setiap orang punya fase dan pilihan hidup sendiri.
🦅Aku ingin terbang tinggi seperti elang🎵🎶 (ini soundtracknya🤭)
__ADS_1