
Mama membuka perekat cadarku di belakang kepala dan memperlihatkan luka yang tak ingin kuperlihatkan pada siapapun. Tidak hanya perih yang kurasakan. Aku malu punya wajah penuh goresan luka. Setelah mama membuka cadar, aku menunduk tak ingin menatap siapapun.
"Ibu lihat wajah anak saya! Lihat baik-baik hasil kekejaman anak yang ibu bela. Ibu mau anak ibu wajahnya saya buat jadi begini?" tantang mama membuat perempuan setengah baya yang mengaku sebagai ibu Maudy itu mengkerut dan menggelengkan kepala.
"Bayangkan kalau yang wajahnya seperti ini adalah anak ibu! Bagaimana perasaan ibu? Kepedihan anak ibu di penjara tidak sebanding dengan kepedihan yang diderita anak saya." tuding mama dengan berani membelaku.
Ibu Mayta menatap jauh ke luar jendela. Sama sekali tak berani menatap mata mama yang penuh api. Perempuan itu mulai kelihatan bingung.
"Masuk, pak Agung!" ujar nenek mempersilakan notaris sekaligus kuasa hukum keluarga kami yang baru tiba untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Pak Agung sempat kaget dan ketakutan memandangku sebelum akhirnya memberi senyum tipis. Aku buru-buru mencari cadarku dan kembali mengenakannya. Semua orang yang melihat wajahku menunjukan ekspresi ngeri bercampur iba. Tentu saja kenyataan ini membuat mentalku makin terpuruk. Sedih, kecewa, dan marah bercampur aduk jadi satu.
"Kami turut prihatin atas keadaan cucu dan anak ibu. Sekali lagi kami mohon maaf. Kami ingin masalah ini diselesaikan dengan damai." Kali ini bukan ibu Maudy yang bicara. Namun pengacaranya.
"Kami datang dengan itikat baik meminta maaf ke sini."
"Minta maaf tak akan bisa mengembalikan keadaan puteri kami, Pak." tanggap mama sinis. Api kemarahan masih menyala di matanya.
"Kami bersedia memberikan ganti rugi biaya pengobatan dan pemulihan puteri anda."
"Maaf, pak! Kami tak bermasalah dengan keuangan. Anda boleh tanya ke seluruh orang Bugis siapa Burhanudin Syam, pemilik grup bisnis Syam Coorporation." jawab nenek dengan mengangkat wajahnya. Sikap angkuh dan kepercayaan diri ternyata dibutuhkan sekali dalam situasi seperti ini. Aku suka gaya angkuh nenek yang sangat elegan.
Lawan bicaranya menelan ludah. Tampak tertekan dengan gaya bicara nenek yang penuh percaya diri. Aku akan pelajari cara itu agar lebih pandai bernegosiasi.
__ADS_1
"Kami paham, bu Arifah. Semua orang kenal daeng Syam orang berpengaruh di tanah ini. Uang bukan masalah buat keluarga anda." jawab pengacara itu dengan penuh kehati-hatian.
"Jika sudah paham, silakan kalian pulang!" Nenek mengibaskan tangan dan membuang muka ke arahku.
"Saya juga paham keluarga Syam terkenal murah hati dan pemaaf. Tolong bantu klien kami! Apapun konsekuensinya akan dipenuhi oleh klien kami."
Nenek terlihat kesal dengan jalannya pembicaraan yang bertele-tele. Beliau menatapku dan bertanya, "Afifa, apa kamu mau memaafkan orang yang telah merusak wajahmu?"
Aku mengangguk. "Fifa akan memaafkan jika dia benar-benar menyadari kesalahannya. Fifa tak bersalah. Mbak Maudy datang tiba-tiba ke aviary menuduh Fifa sebagai penyebab pertunangan mas Firdaus dan mbak Maudy putus. Padahal kak Jim pernah bilang, mereka sudah lama berselisih dan beda pemikiran. Hubungan Fifa dengan mas Firdaus selama beberapa bulan ini hanya sebatas kerja sama program konservasi burung khas hutan Lolobata."
Perempuan setengah baya itu ingin angkat bicara, namun pengacaranya mencegah.
"Kamu dengar, ibu Mayta yang terhormat. Tuduhan anak anda terhadap cucu saya itu tidak benar. Anak anda punya dua kesalahan besar; memfitnah dan menyerang cucu saya hingga wajahnya menjadi cacat. Apa perlu kita panggil Firdaus dan orang tuanya agar motif masalah ini lebih clear?"
Nenek menghembuskan nafas dengan kasar. Aku tahu nenek pasti sangat lelah menghadapi masalah ini. Sudah diusir berkali-kali tapi mereka masih kukuh bertahan di situ seperti pengemis yang tak tahu diri. Kasihan.
"Saya menjamin anak saya pasti kapok tidak akan melakukan kekerasan lagi. Meskipun saya sadar luka batin nak Fifa tak bisa disembuhkan, tapi saya dengan segala kerendahan hati bersedia membayar kerugian materil maupun immateril atas kasus ini. Kami tak ingin kasus ini berlarut-larut dan bisa selesai dengan damai." Kini ibu Mayta terlihat menitikan air mata. Suaranya pelan memohon dengan wajah pasrah. Kesombongan yang tadi ditunjukannya luntur sudah.
Aku yakin nenek tak sampai hati melihat seorang ibu kukuh memohon demi anaknya. Seorang ibu bersedia mengorbankan apa pun demi kebahagiaan anaknya. Justru anak yang sering lupa bahwa perbuatan buruknya melukai hati ibu sampai mengharuskan ibunya menghambakan diri demi membelanya.
Nenek sudah mulai lelah dengan pembicaraan panjang ini. Sedangkan ibu Mayta dan pengacaranya tetap memohon.
"Baiklah. Kami akan cabut laporan dengan beberapa syarat. Pertama, harus ada permintaan maaf terbuka di media massa maupun forum keluarga yang melibatkan keluarga kami, keluarga anda dan keluarga Firdaus sebagai saksi. Kedua, kalau kejadian kekerasan terbukti berulang kami akan kembali memperkarakan masalah ini. Ketiga, kalian harus bayar 3 milyar untuk biaya pengobatan dan pemulihan cucu saya."
__ADS_1
"3 milyar?"
"Tidak sanggup? Nilai itu tak sebanding dengan luka batin yang diderita cucu saya. Itu cuma harga kemurahan hati kami. Apa perlu kami tambah lagi dengan tuntutan kerugian immateril?" tantang nenek dengan wajah angkuh dan berwibawa.
"Tidak. Kami bersedia. Apapun kami akan lakukan buat putri kami." Bu Mayta menyanggupi dengan wajah ketakutan. Pastinya negosiasi ini melelahkan juga buat perempuan yang memperjuangkan kebebasan anak kesayangannya itu. Tanpa kata sepakat darinya. Keluarga kami pasti bertekat terus melanjutkan kasus ini.
Maudy pasti tak bisa tidur semalaman. Terbayang bagaimana seorang gadis manja yang biasa hidup mewah mendadak jadi tahanan polsek di daerah terpencil. Sudah pasti stres berat. Mereka kelimpungan karena ternyata polisi tak mau disuap. Itu sebabnya keluarganya terpaksa kukuh meminta kami cabut laporan. Apapun diusahakan agar anak kesayangan mereka bisa bebas. Bravo. Strategi Bray memang terbukti super sekali.
Tak rugi kami nekat mencari suaka ke Makassar. Setidaknya di sini mereka tak bisa merendahkan aku seenaknya. Ada nenek yang membelaku.
"Pak Agung, tolong buatkan konsep surat perjanjiannya. Saya sudah tidak mau lama-lama mengurus kasus ini. Selesaikan semuanya sekarang juga. Saya harus makan siang, minum obat dan istirahat. Pak Tristan, sambil menunggu pak Agung tolong sajikan menu makan siang terbaik."
"Baik, bu."
Aku diam dan pasrah dengan keputusan ini. Bu Mayta tampak sibuk menghubungi keluarga dan orang-orangnya berkaitan dengan syarat yang diajukan nenek. Sementara nenek menghampiriku dan menatapku dengan sendu, "Maaf ya kalau keputusan nenek melukai rasa keadilan buat kamu."
"Fifa nggak masalah kok, Nek."
"Sabar ya, Fifa! Kamu boleh ambil bedah kosmetik untuk memperbaiki kondisi wajah kamu. Memang mungkin takkan kembali bisa sempurna seperti sebelumnya. Tapi Tuhan akan memberimu banyak pahala sabar dan kelapangan hati karena telah memaafkan."
Aku mengangguk mengerti. Wajah memang perhiasan utama yang menjadi pusat perhatian bagi seorang perempuan. Namun ketulusan hati lebih tinggi derajatnya di mata Tuhan dan semesta. Aku tak takut wajahku jadi buruk. Saat ini aku cuma malu karena orang-orang memandangku dengan ekspresi ngeri dan iba. Aku masih menganggap wajahku masih seperti kuntilanak yang berwajah pucat dengan banyak goresan luka berwarna merah. Esok luka ini akan mengering dan aku akan terbiasa dengan wajahku lagi.
Aku pamit pergi ke mushola lalu makan sendiri di ruang yang kosong. Aku malu. Belum terbiasa dengan wajahku. Tapi aku berusaha menguatkan diri bahwa kondisi wajah ini tak akan mengubah apapun dalam hidupku.
__ADS_1