LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
OBROLAN PAGI


__ADS_3

Kutunggu apa reaksi lelaki itu selanjutnya dengan tetap bersandar pada daun pintu yang telah kututup dan kukunci dengan kunci selop dari dalam rumah. Dug dug dug. Suara langkah kaki terdengar mendekati beranda. Hatiku sedikit was was. Tapi langkah itu terhenti sebelum tiba mendekati pintu. Mungkin dia ragu. Detik demi detik menit demi menit berlalu tanpa suara selain desah nafas, suara serangga malam dan desir angin. Aku tetap diam pada posisiku. Lelaki itu juga tak melakukan apapun. Entah menit ke berapa akhirnya kudengar suara langkah kaki menjauh dari rumahku.


Alhamdulillah, aku menghembuskan nafas lega. Lelaki itu masih punya harga diri tidak berbuat onar malam ini. Sungguh aku masih kesal dan tak mengerti apa tujuannya datang dan mengatakan pada tamuku bahwa aku stres semenjak ditinggal baba. Padahal aku sepenuhnya masih bisa berpikir waras. Justru karena waras aku berani tinggal sendirian di rumah peninggalan baba selama hampir 4 tahun.


Aku melangkah meninggalkan ruang depan menuju kamar tidurku. Segera saja kurebahkan diri di atas tempat tidur kayu beralas tikar pandan itu. Ingatanku melayang pada peristiwa sore tadi dimana kami jumpa dengan mama Wen dalam perjalanan sepulang dari kebun. Ia mengabarkan bahwa bapak kepala kampung ingin rujuk dengan mama. Tapi mamaku sudah langsung menjawab tidak saat itu juga. Tidakkah mama Wen menyampaikan itu pada suaminya?


"Janda muda kampung sebelah itu su tolak lamaran bapak. Dia memilih jadi simpanan pekerja tambang asal Jawa yang lebih muda dan uangnya jelas lebih banyak. Kawin kontrak katanya." lapor mama Wen dengan nada berapi-api.


Mama tak menanggapi kecuali dengan senyum tanpa makna sebab mama memang tak peduli sama sekali tentang itu.


"Bapak mengaku menyesal ceraikan ngana. Mau rujuk lagi katanya."


"Sa lebih bahagia sendiri, kak Wen."


"Tak baik lah menjanda. Meskipun sudah berumur tapi ngana masih cantik toh."


"Bilang pada bapak, sa tara mau rujuk." ucap mama pelan disambut wajah kecewa mama Wen.


"Tapi kita tetap basaudara, kak Wen." lanjut mama menghibur mama Wen agar tak terlampau kecewa dengan keputusannya.


"Ngana tidak butuh lelaki buat pelindung keluarga?"


"Cukup Allah tempat sandaran saya, kak Wen. Saya su tua dan tak punya banyak harta. Manalah ada yang mau mencuri di rumah saya."


"Tapi ngana masih punya 2 anak gadis."


"Mereka mandiri, kak Wen. Cukup bisa menjaga diri."


Mama Wen mengangguk-angguk saja. Matanya menatapku tajam seolah menuduhku yang mengubah pola pikir mama.


"Ngana belum mau menikah juga, Fifa?"

__ADS_1


"Doakan saja, mama Wen." jawabku diplomatis.


Mama Wen membuang muka. Dia terlanjur tak suka padaku yang dianggap anak sombong dan keras kepala. Berbeda dengan mama yang lembut dan penuh belas kasih. Makanya ia mengalihkan lagi perhatiannya pada mama, "Banyak ngana dapa kopra musim panen ini?"


"Alhamdulillah. Nanti sa kirim beras ke rumah kak Wen kalau su dapa wang dari jual kopra."


Mama Wen tersenyum lebar mendengar janji manis itu. Mama memang tak pernah lupa berbagi dengan orang yang dianggapnya saudara. Ada hak orang lain dalam hasil panen kita yang mungkin tak seberapa. Namun kami percaya ada berkah lebih ketika kami ikhlas berbagi. Aku pun tak pernah mempermasalahkan itu meski aku tak terlalu suka pada sifat mama Wen yang suka memperalat mama. Hak mama untuk menggunakan uangnya sendiri. Aku sendiri tak berharap upah walau aku ikut bantu mama mengolah kopra dan memupuk tanaman kelapa kami.


Malam itu aku tidur sampai pagi dan tak menceritakan sama sekali kedatangan bapak kepala kampung pada mama ataupun Fifi yang telah tertidur lelap kelelahan. Tak penting. Tapi pagi harinya bapak kembali mendatangi rumah setelah mama dan Fifi berangkat ke kebun dan ke sekolah.


"Mana mama?"


"Sudah berangkat ke kebun. Masih ada pekerja yang mengasap kopra." jawabku sambil menyalakan air untuk mengisi kolam kecil yang berada dalam aviary.


"Ngana ....?"


"Sa akan berangkat agak siang ke kebun selepas memberi makan burung dan ternak kami. Mama berangkat diantar Fifi naik honda." potongku yang sudah mengira-ngira akan kemana arah pembicaraan bapak. Aku tak ingin dianggap anak durhaka yang tega membiarkan mama bekerja di kebun tanpa membantu sama sekali.


"Hubungan kerja. Sa diminta urus yayasan konservasi burung."


"Cuma itu?"


"Memangnya bapak berharap apa?"


"Bapak kira ngana punya hubungan pribadi. Orang kampung bilang ngana jadi simpanan pekerja tambang."


"Apa ada bukti? Apa salah kalau sa punya hubungan pribadi?"


"Tara." Bapak menepis angin dengan tangannya.


Setelah kolam kecil dalam aviary cukup terisi air aku mengunci pintu aviary dengan gembok lalu pergi ke belakang rumah untuk memberi makan ternak kambing dan ayam sekaligus membersihkan kandangnya.

__ADS_1


Sebagaimana biasanya, yang pertama kulakukan di kandang belakang rumah adalah mengumpulkan kotoran ternak yang berserakan di bawah kandang dengan sapu lidi. Kotoran itu disatukan dengan sampah dedaunan dalam satu lubang tempat kami biasa mengolah pupuk organik. Bapak masih membuntuti langkahku tapi sama sekali tak membantu.


"Ngana bujuk lah mama untuk rujuk. Bapak mengaku salah telah keras pada mama."


"Sa tak bisa bujuk rayu mama."


"Cobalah! Mama pasti dengar ngana punya omong. Kami pun cerai gara-gara mama terlalu bela ngana. Sekarang bapak janji tak lagi ikut campur urusan ngana. Ngana bebas mau menikah kapan saja dan dengan sapa saja. Bapak justru dukung ngana bergaul dengan orang-orang besar macam Firdaus Sanjaya."


Rupanya lelaki ini terpukau dengan jabatan dan uang tamuku semalam. Karena itulah pagi ini mencoba berdialog empat mata denganku. Ngobrol apalagi di pagi hari bukan kebiasaan kami. Pagi adalah waktunya mulai bekerja. Lagipula sebelumnya lelaki itu enggan menyapaku. Akupun sama. Tak pernah ada kecocokan diantara kami. Aku sudah mengira pasti ada kepentingan terselubung selain ingin rujuk dengan mama.


"Sa tak bisa janji apa-apa, Bapak." jawabku datar.


Bapak mengamatiku bekerja sambil jongkok dekat pohon pala. Aku sebenarnya sangat risih, tapi tak sampai hati mengusirnya. Bagaimana pun dia kepala kampung.


Aku meneruskan pekerjaanku memberi makan ayam dengan dedak bercampur nasi sisa semalam. Ciap ciap anak ayam yang baru seminggu lalu menetas terlihat riang memburu makanan yang baru saja kuletakkan di atas tempat makanannya.


"Bapak akan senang kalau anak pemilik tambang itu mau datang melamar. Biar tak ada banyak omongan buruk tentang ngana."


Sejenak aku menghentikan aktivitas memotong dahan pohon lamtoro untuk makanan kambing. Aku genggam sabitku erat-erat. Ternyata benar dugaanku, ia punya misi lain selain berharap rujuk dengan mama. Misi itu terlalu mustahil. Bagaimana mungkin dia menganggap aku punya hubungan khusus dengan anak pemilik perusahaan tambang itu. Apa dia tidak mikir aku ini siapa.


"Kami hanya punya hubungan kerja. Tidak lebih." tegasku dingin.


"Ngana kerja apa untuk dia. Tak ada hubungannya memelihara burung dengan kegiatan tambang. Bapak tahu itu hanya akal-akalan kalian saja."


Malas rasanya menjelaskan konsep green company yang baru kemarin kupahami dari tamuku pada bapak. Orang kampung tahunya adalah apa yang dilihat sehari-hari. Kalau bekerja di perusahaan tambang selain jadi staf administrasi, ya jadi operator alat berat. Aktivitas tambang yang selama ini dilihat warga kampung adalah pembukaan lahan dan mengerukan tanah untuk mencari mineral tertentu yang kemudian diolah di dalam pabrik besar yang terletak di bagian depan area tambang. Semua aktivitas para pekerja tambang itu tak terlihat bersinggungan sama sekali dengan konservasi burung.


Aku memilih diam.


"Sudahlah. Ngana pepet terus saja anak pemilik tambang itu. Bapa lihat dia ada tertarik pada ngana. Jadi gundik selama dia di sini pun tak masalah. Hidup kita pasti makmur. Ngana tak perlu lagi berlelah-lelah mengurus ternak, berkebun dan menganyam tikar."


Sepicik itu ternyata pemikiran mantan bapak tiriku itu. Ingin rasanya kuhunuskan sabit ini ke mulutnya sampai sobek. Untunglah akal sehatku masih berfungsi. Tak boleh menyerang orang duluan walaupun mulutnya lebih tajam dari sabit.

__ADS_1


Aku menarik nafas panjang sambil menggarisbawahi apa niatnya mengajakku bicara empat mata begini. Bukan hanya sekedar ingin rujuk dengan mama, ia berniat mengambil keuntungan sendiri setelah semalam melihat hubungan baikku dengan Bray. Ini tidak boleh terjadi dan tidak akan terjadi.


__ADS_2