LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
SEBUAH TAWARAN


__ADS_3

"Kalau begitu, kita makan satu kotak ini dulu aja sama-sama. Biar kalau ada racunnya kita mati bareng-bareng." Kini dia tersenyum jahil. Tetap terlihat sama menawannya. Pokoknya lengkung bibirnya itu benar-benar mengandung magic di mataku


Sok akrab banget sih. Tak pernah terpikir dia bisa melontarkan ide gila macam itu. Seorang CEO perusahaan besar menawarkan makan sekotak berdua dengan orang yang bukan siapa-siapa. Tentu saja aku langsung menggeleng. Suka atau tidak suka pada pribadinya, aku tetap harus menjalankan etika yang baik.


"Terus, maunya bagaimana?" keluhnya dengan wajah lugu mirip anak kecil yang merajuk.


Ya ampun dimana dia sembunyikan harga dirinya sebagai seorang CEO kalau kelakuannya seperti itu. Aku tak habis pikir. Tapi justru tingkah absurdnya itulah yang membuatku tak sadar suka senyam-senyum sendiri.


"Aku makan sendiri saja." jawabku sok jual mahal.


Sekarang dia menyodorkan kedua kotak makanan dengan kedua tangannya. Ada bumbu senyum manis yang menyertainya. Aku tak kuasa menahan sipu.


Kuraih kotak yang ada di tangan kirinya. Random saja. Bismillah, semoga makanan ini baik bagiku.


Cacing di perutku meronta kegirangan seketika. Aku menghabiskan makananku dengan cepat. Kotak berisi nasi, ayam bakar, lalapan, sambal dan tempe tahu ludes dalam sekejap mata. Air mineral dan jeruk yang ada pun langsung ludes tak bersisa.


Sementara pria itu makan dengan anggun dan terstruktur. Mungkin begitulah cara makan orang terpandang. Makannya belum habis saat aku telah membereskan kotak makanku lalu pergi ke sungai untuk mencuci tangan.


"Senang lihat kamu makan. Lahap banget." Dia tersenyum tengil mengomentari cara makanku.


"Lapar." sahutku datar. Sebenarnya sih malu dikomentari begitu. Aku baru sadar ternyata aku selalu terlihat rakus saat makan di depannya. Pasti dia punya persepsi buruk tentang cara makanku yang bar bar.


"Kalau lapar kenapa tadi langsung ngeloyor pergi tanpa ambil kotak makan yang telah disediakan?" Dia masih tersenyum tengil menggodaku.


"Nggak kepikiran."


"Begitu kok bisa nggak kepikirin? Apa sih yang kamu pikirin?"


Ehm, kepo juga orang ini. Aku mencibirkan bibirku dan membuang pandanganku ke arah air yang mengalir. Lain kali aku tak akan makan cepat-cepat lagi di hadapannya. Mungkin aku harus belajar tata cara makan supaya tidak dianggap rakus dan bar bar.


"Aku nggak mikirin apa pun. Kata orang aku nggak punya otak jadi nggak bisa mikir." jawabku asal sambil melempar keras batu kerikil ke sungai guna membuang kesal.


Plung, Riak kecil dan cipratan air muncul di tempat jatuhnya kerikil.


Pria itu tersenyum lebar. Aih, daya magis dari senyumnya keluar lagi. Jantungku bocor lagi. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke arus sungai yang mengalir supaya efek magisnya tidak masuk terlalu dalam di jiwaku.


"Masih marah sama aku?"


"Enggak."

__ADS_1


"Tapi pipimu semu merah. Kelihatan seperti tomat yang ranum." ujarnya sambil tertawa kecil penuh kemenangan.


Benarkah? Aku menunduk lebih dalam. Bukan main malunya diperhatikan sampai sedetil itu. Apa dia tahu semu merah itu bukan karena marah, tapi kesal bercampur malu.


Sisi lemah jiwaku sedang dilucuti habis. Andai ada cermin, aku ingin melihat bagaimana raut wajahku. Apa benar pipiku sudah tampak seperti tomat ranum?


"Kamu cantik kalau sedang marah." pujinya dengan senyum yang terus mengembang.


Rayuan apa lagi ini? Alamak... jantungku makin susah dikendalikan. Berdetak makin cepat seperti dikejar hantu.


Aku mengenakan kaca mata hitamku. Kuturunkan topi agar lebih menutupi wajahku. Aku tak ingin tampak bodoh dan malu-malu.


Mulutku terkunci. Tak ingin berkata-kata lagi walaupun asal bunyi. Otakku susah diajak berpikir normal. Dia bukan lawan bicara yang seimbang. Aku bisa makin gila jadinya. Apalagi pria ini tak pernah berhenti mengumbar senyum. Matanya tak lepas memandangku seperti serigala yang memperhatikan tiap detil tubuh mangsa yang hendak diterkamnya. Mengerikan.


Aku lemah dan sadar sudah pasti akan kalah oleh segala pesonanya.


Dia mengambil kotak makanku lalu menyatukan kotak makan kami dalam satu plastik dengan terampil. Disimpannya dengan rapi bungkusan plastik berisi sampah itu di dekat tempat duduknya. Ternyata bos yang satu itu bisa juga melakukan hal-hal remeh tanpa meminta bantuan asisten atau orang lain. Padahal aku ada di depannya. Kalau dia mau, dia bisa menyuruhku sesukanya. Tapi dia memilih melakukan hal remeh itu sendiri. Salut.


Sejenak kami saling diam. Aku sedang tak punya topik yang menarik untuk dibicarakan. Berkali-kali aku membuang kesal dengan melampar batu-batu kerikil dan ranting pohon ke sungai. Dia masih saja asyik memperhatikan apa yang kulakukan sambil menyungging senyum kemenangan. Apa dia tahu kalau aku sedang malu dan salah tingkah.


Aku ingin angkat tangan dan berteriak mengaku sudah kalah mental. Namun bibirku terkunci. Batu kerikil dan ranting pohon yang jadi pelampiasan emosiku. Kulempar-lempar sekuat tenagaku. Satu batu bahkan sampai terlempar ke seberang sungai yang jaraknya belasan meter dari tempat aku duduk. Dahsyat sekali pengaruh emosi terhadap kekuatan melempar kerikil. Dalam kondisi normal tak mungkin lemparanku sampai sejauh itu.


"Ya."


"Berniat melanjutkan upaya itu?"


"Tentu. Burung-burung langka itu harus dijaga keberadaannya di habitat alaminya. Aku khawatir dengan berkurangnya hutan akan menjadikan keberadaan burung-burung endemik nan cantik di hutan Lolobata semakin berkurang dan mendekati kepunahan."


"Heemmm."


Tersinggungkah dia? Harusnya dia berpikir kelestarian alam dan kesejahteraan warga yang tanahnya dilibas untuk kepentingan perusahaannya.


"Sampai berapa lama kamu mau merawat burung-burung langka yang akan dilepaskan?"


"Seumur hidup pun tidak masalah. Staf dinas lingkungan hidup tadi menawarkan aku bantu merawat Wake Wake atau Bidadari Halmahera jantan yang perlu direhabilitasi dan aku sudah menyetujuinya."


Kak Bray manggut-manggut. Kulirik dengan ekor mataku, sorot matanya masih tertuju padaku. Akh, rasanya seperti tawanan yang tak punya kemerdekaan berbuat sesuatu. Mau begini takut salah. Mau begitu takut memicu komentar yang menjerumuskan aku ke jurang emosi yang lebih dalam. Biar kutahan gilaku di hati saja. Jangan terlalu mencuat ke permukaan.


"Apa kamu akan menyetujui juga jika ada lebih banyak orang yang menitipkan perawatan burung-burung yang dalam masalah belum bisa dilepaskan ke habitatnya?"

__ADS_1


"Sepanjang aku mampu, kenapa tidak." jawabku datar. Bibirku bergetar kesulitan melawan pesonanya.


Haruskah aku lari tinggalkan saja dia di sini? Tapi itu tidak sopan. Dia mewawancaraiku baik-baik. Aku yang salah, terlalu larut dengan permainan hatiku sendiri. Aku yang gila setiap kali ingat atau dekat dengannya. Masalah dalam jiwaku harus kuatasi sendiri.


"Aku ingin menawarkan kamu kerja sama."


"Kerjasama untuk apa?


"Membentuk yayasan konservasi burung endemik pulau ini. Di perusahaan kami selain ada dana rehabilitasi pasca tambang ada juga dana CSR yang disisihkan dari keuntungan perusahaan. Dana itu bisa digunakan untuk program atau kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar atau upaya pelestarian alam."


Hah? Apa maksudnya? Pernah dengar tapi aku tak mengerti sama sekali apa itu CSR. Apa iya perusahaan mau menyisihkan sebagian keuntungannya untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian alam? Mungkin aku memang awam sekali tentang pengetahuan pengelolaan perusahaan modern. Kupikir pengusaha itu otaknya hanya uang, uang dan uang. Mana mungkin berpikir tentang pemberdayaan masyarakat dan pelestarian alam.


Kak Gun, aktivis sosial yang menjadi guru kami di sekolah rimba pernah bercerita tentang keburukan pengaruh masuknya industri modern dalam menciptakan kerusakan adat, alam dan lingkungan hidup. Buku-buku serta tulisan tentang perjuangan masyarakat menuntut keadilan pada perusahaan yang merusak lingkungan dan adat sebagian masih kusimpan. Pengetahuan itu cukup mempengaruhi pemikiranku selama ini.


"Dengan membentuk yayasan, kita bisa menjangkau dana CSR dan dana publik selama pertanggungjawabannya jelas dan akuntabel. Kita bisa bikin aviary yang jauh lebih besar, menggaji perawat tambahan, menyediakan makanan, melengkapi fasilitas kesehatan hewan, dan kalau memungkinkan bisa dikembangkan dengan membuat penangkaran burung-burung langka untuk menghindari kepunahan."


Hemmm, ide menarik. Tapi tidak adakah udang di balik batu atas semua ini? Aku tak terbiasa menerima kebaikan hati orang lain begitu saja. Mungkin ada maksud tersembunyi di balik ini.


Cukup lama ia menunggu, namun aku tak bersuara. Kesibukanku tetap sama, melampiaskan emosi dengan melempar batu dan ranting. Entah sudah berapa butir batu dan ranting yang kulempar sampai aku kesulitan mencari batu kerikil lain yang ada di sekitarku.


"Bagaimana, Fifa?"


"Aku pikirkan dulu." jawabku diplomatis.


Aku butuh memutuskan dalam kondisi pikiran dan emosional normal. Tidak dalam keadaan terbelenggu hati begini. Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan.


"Tak apa kalau belum bisa jawab sekarang."


Tampaknya dia memaklumiku dan tak butuh keputusan segera.


"Kamu tak butuh nomorku?"


"Nanti aku jawab lewat kak Hisyam saja."


Padahal dalam hati mau juga kalau diberi nomornya langsung. Siapa sih yang menolak diberi nomor orang nomor satu di satu-satunya perusahaan yang beroperasi di wilayah kami. Aku pura-pura menolak. Berharap dia memaksa memberi nomornya. Tapi trik aku itu tak berhasil.


"Langsung ngobrol di kantor juga boleh sekalian menyiapkan legalitas dan rencana kerjanya. Mulai bulan ini aku fulltime bekerja dari kantor sini."


Aku mengernyitkan kening tanpa berani bertanya kenapa. Mungkin memang dia saat ini lebih dibutuhkan di kantor ini daripada di Jakarta.

__ADS_1


Biasanya pimpinan tertinggi tak pernah ada di lokasi. Peluang bisnis dan urusan manajemen di kantor pusat pasti lebih banyak. Tempat hiburan juga lengkap. Kita lihat saja dengan berjalannya waktu, apakah orang yang sudah terbiasa hidup dengan fasilitas mewah di kota besar akan betah atau tidak berlama-lama berkantor di wilayah pinggir hutan yang sepi dan minim tempat hiburan. Mau mengurus administrasi ke ibukota provinsi saja butuh waktu sekitar 5 jam perjalanan darat. Tidak ada mal, tidak ada bioskop, kafe-kafe, bar atau tempat nongkrong mewah khas orang-orang kota seperti yang terlihat di siaran televisi. Fasilitas kesehatan juga sangat minim. Rumah sakit sangat jauh di kota provinsi. Itupun paling mentok hanya rumah sakit tipe B atau C. Pokoknya dari segi fasilitas hidup perbedaannya sejauh jarak bumi dan langit.


__ADS_2