
Aku belum sepenuhnya paham apa yang terjadi pada keluarga ini sebelum dan sesudah kedatanganku. Terlalu dini untuk menyimpulkan sesuatu berdasarkan praduga dan apa yang kulihat serta kurasakan selama seminggu bersama nenek. Masih banyak kabut yang meliputi kehidupan keluarga ini dibalik sunyi. Tak ada konfrontasi. Semua berjalan dalam diam dan sunyi hingga sulit ditebak apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tak ada jalan lain yang bisa menuntunku melewati semua ini kecuali mengikuti petunjuk nenek yang telah banyak makan asam garam kehidupan.
Pagi ini mendadak aku kehilangan semangat menjalani hariku. Ada sesal yang mendera hati di sela kebahagiaanku bertemu ibu dari ayah yang sangat kucintai. Tak kusangka kedatanganku membuat nenek harus mengambil keputusan sulit demi satu kata sakral yaitu, adil. Bukan hanya adil dalam pembagian hak waris namun adil pula dalam pemberian harta hibah yang mestinya dilakukan dengan cara sukarela. Pagi ini demi mewujudkan kata adil itu nenek terpaksa harus pindah dari rumah besar yang selama ini menjadi tempat bernaung ke rumah sewaan yang lebih kecil dan sederhana. Semua dilakukan agar paman dan keluarganya puas dan tak lagi iri padaku.
Pasti banyak memori indah tentang kakek dan keluarga mereka yang tertinggal dalam rumah itu. Akh.... Gara-gara kehadiranku nenek jadi menderita di masa tuanya. Tampaknya benar apa kata orang, keberadaanku membawa masalah dan malapetaka bagi orang-orang terdekatku.
Sedih. Kasihan melihat nenek yang sudah renta dan sakit-sakitan terpaksa harus keluar dari rumahnya sendiri. Namun aku tak berdaya melawan keputusan yang telah dibuat nenek. Aku yakin nenek pasti sangat sedih. Namun nenek akan lebih sedih lagi bila aku tak mau patuh pada perintahnya membantu mengupayakan rumah sewaan sesegera mungkin. Nenek tak ingin kami tahu kesedihannya. Padahal aku tahu demi aku nenek memaksakan diri tegar. Dengan usianya yang sudah lanjut nenek merasa pantas berlindung pada satu kalimat penghibur; Benda-benda duniawi tak akan pernah dibawa mati. Tapi apakah kata-kata itu tulus keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam atau hanya cara buat menghibur diri? Aku tak pernah tahu jawabannya. Yang kutahu sekarang adalah menghormati keputusan nenek. Jangan sampai aku mengecewakannya atau membuat luka baru yang mengikis bahagianya di usianya yang telah serenta itu.
Nenek mengambil keputusan sangat cepat tanpa meminta pertimbanganku dan mau tak mau aku harus mengikuti langkah yang telah ditentukannya. Nenek telah membuat janji dengan pemilik rumah dan mengutusku untuk melihat kondisi rumah sekaligus mengurus perjanjian kontrak dan segala hal mengenai administrasi sewa.
"Kita akan sewa rumah lengkap dengan furnitur selama setahun. Bagaimana selanjutnya kita pikirkan sambil jalan apakah akan tinggal di rumah pesisir atau membangun rumah yang lebih kecil sesuai kebutuhan di dekat kedai. Yang penting besok kita harus sudah pindah dari rumah ini." begitu pesan nenek sebelum kami berangkat tadi. Terlihat ada segaris kemarahan terpendam di matanya.
Rasanya seperti orang yang terusir. Sewa rumah dengan furnitur lengkap. Itu artinya tak banyak barang yang akan dibawa nenek dari rumah besar yang akan ditinggalkannya itu. Semua benda berharga yang berada di dalam rumah itu dihibahkan untuk paman.
Terusir. Pedih sekali rasanya. Aku juga pernah merasa terusir ketika terpaksa meninggalkan rumah warisan baba yang di dalamnya ada barang-barang kesayangan yang punya kisah tersendiri. Tempat tidur kayu yang dibuat sendiri dengan tangan baba, mushaf al qur'an tua yang dipakai baba buat mengajarkan orang-orang kampung membaca kitab suci, lampu minyak jarak yang menerangi malam kami dengan cahaya redupnya, dan beberapa benda lain yang masing-masing memiliki fungsi dan nostalgia tersendiri. Semua benda-benda kenangan yang tak seberapa itu akhirnya kubawa ke rumah mama di kampung baru untuk pelepas rindu. Aku selalu mencatat kenangan tiap benda dalam ruang tersendiri dalam otakku. Kenangan itu selalu kuhidupkan sampai otakku aus tak mampu lagi mengingatnya.
Apakah nenek tak punya kenangan tentang kakek yang melekat pada benda-benda di rumah itu seperti aku mengenang baba lewat benda-benda yang ditinggalkannya. Akh, mungkin saking banyaknya benda yang ditinggalkan almarhum kakek benda di rumah itu menjadi tak berharga. Nenek mungkin punya satu benda istimewa yang akan tetap dibawanya. Benda itu bukan furniture mewah. Bukan pula lampu kristal atau peralatan elektronik yang akan ditinggalkan nenek di rumah itu. Aku jadi penasaran benda apakah yang paling istimewa menurut nenek dan akan dibawanya serta ke rumah yang akan jadi tempat tinggalnya kemudian.
Aku melangkah memasuki rumah tua yang masih tampak terawat itu. Pemilik rumah adalah kenalan nenek yang pernah membantu mengelola kedai. Rumah itu terdiri dari 1 setengah lantai dengan 4 kamar tidur yang berukuran sekitar 3 x 3 meter dan 2 kamar mandi. Tiang-tiang dan jendelanya terbuat dari kayu jati solid hingga masih tampak gagah berpadu dengan arsitektur klasik.
"Begini kondisi rumahnya, kak Fifa. Rumah lama dan sederhana. Saya agak kaget saat beliau tiba-tiba menghubungi saya ingin sewa rumah ini." kata tante Husna sang pemilik rumah yang menemani kami mengelilingi rumah dan melihat tiap sudutnya satu per satu.
__ADS_1
"Biar lebih dekat ke kedai, tante. Nenek ingin sesekali bisa bernostalgia mengurus kedai." Kujawab dengan alasan yang sudah disiapkan nenek untuk pihak lain yang mempertanyakan kepindahannya.
Tante Husna tersenyum. Ia pasti sudah menerima alasan yang sama saat nenek menghubunginya. "Emmm. Berarti kondisi bu Arifah pasca operasi pemasangan ring jantung sudah semakin membaik ya."
"Alhamdulillah baik, tante. Mohon doanya saja agar nenek cepat sehat dan dapat beraktifitas normal kembali."
"Kedai mau diperluas ya? Nenek kamu sempat tanya apa tanah dan rumah ini mau dijual atau tidak. Belum bisa tante jawab sebab harus rembukan dulu dengan seluruh keluarga."
"Belum ada rencana ke sana, Tante."
"Tante perhatikan tiap jum'at dan sabtu sore pengunjungnya ramai sekali. Kadang sampai ada yang tak kebagian kursi. Tante pikir bagus juga kalau diperluas atau buka cabang di tempat lain."
Tante Husna manggut-manggut. "Kamu cepat sekali belajarnya, kak Fifa. Pantas bu Arifah bangga memujimu. Tidak cuma cantik, kamu pekerja keras dan cerdas."
"Jangan berlebihan, Tante. Yang hebat di kedai itu tetap pak Tristan. Saya baru bisa mengutip kalimat beliau saja."
Tante Hasna memukul-mukul pundakku seraya tersenyum. "Tetap saja tante salut sama kamu. Selama ini bu Arifah belum pernah membanggakan cucunya kecuali kamu."
Benarkah? Sehebat itu aku di mata nenek. Jadi terharu. Dadaku mengembang. Bahagia dengan pujian itu.
"Bagaimana, Fifi? Kamu suka tinggal di sini?" Aku menoleh ke arah Fifi meminta pendapatnya.
__ADS_1
"Terserah kakak." Fifi mengangkat bahu. Wajahnya terlihat datar saja. Tak antusias juga tidak antipati.
"Di sini lokasinya strategis. Tak jauh dari bandara, pusat perbelanjaan, dan rumah sakit. Khusus untuk kalian harganya sudah saya korting 30%."
"Saya ambil sewa setahun lengkap dengan barang-barangnya ya, tante."
"Boleh."
"Perjanjian sewanya boleh dikirim ke notaris langganan nenek, Tan. Saya transfer dp sekarang. Sisanya saya bayar besok setelah proses verifikasi dan legalitas pihak notaris beres."
Tante Hasna setuju, "Kapan mau mulai menempati?"
"Besok. Maaf ya kami terburu-buru! Lusa saya pulang ke Halmahera, Tante. Saya ingin memastikan nenek sudah menempati rumah sesuai keinginannya sebelum kembali. Nanti adik saya, 2 asisten dan pak Rodi ini yang akan menemani nenek di sini."
"Lho kak Fifa nggak menemani nenek?"
"Saya akan menjenguk sesering mungkin, Tante. Ada pekerjaan yang tak bisa saya tinggal di sana."
Akad sewa dan urusan administrasi selesai. Keesokan harinya kami benar-benar pindah ke rumah itu seperti orang yang terusir. Nenek hanya membawa pakaian, sebuah mobil SUV, kursi roda, sebuah lukisan kuno, dan sebuah kotak kayu berisi benda-benda kuno yang katanya peninggalan keluarga turun temurun. Terjawab sudah tanya dalam hatiku. Ternyata dua benda terakhir itu yang amat berarti buat nenek; lukisan dan kotak kayu berisi benda-benda kuno. Bukan kemewahan, nenek menyukai hal-hal klasik peninggalan nenek moyangnya.
Kepindahan nenek ternyata sesederhana itu. Barang-barang yang dibawanya hanya seperti bawaan orang yang pergi traveling lama ke luar kota.
__ADS_1