
Telepon Bray menyuntikan sebuah pemikiran yang menyita energiku. Seperti mama, secara terang-terangan Bray mengungkapkan kecewa dengan keputusan pencabutan laporan itu. Mereka berdua tak terima jika Maudy dibebaskan dari hukum. Apa yang dilakukan Maudy itu terlalu sadis. Mereka bilang lukaku akan menyebabkan cacat seumur hidup. Dia harus dihukum dan tak layak mendapatkan pengampunan. Bray yakin Maudy minta dibebaskan bukan karena menyesal, tapi karena tak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.
Bimbang mengusikku. Meski mama dan Bray menghargai keputusan nenek dan tetap mendukung mentalku untuk bangkit tapi aku merasa keputusan ini sama saja dengan mengkhianati upaya mereka yang telah membelaku mati-matian. Keputusan ini menyakiti rasa keadilan. Luka di wajahku masih basah dan terasa perih. Begitu pun dengan hatiku. Sementara Maudy sudah bisa tertawa bebas menikmati kenyamanan hidup yang biasa ia rasakan. Dia sama sekali tidak merasakan nyeri yang berkepanjangan dan tak peduli pada sakitku. Apakah itu adil? Apalagi ada kemungkinan aku harus menjalani operasi plastik untuk memulihkan kembali wajahku seperti sedia kala.
Bedah estetika kemungkinan akan jadi pilihan terakhirku. Saat ini yang ada di benakku adalah berusaha disiplin mengikuti saran dokter Natasha agar lukaku cepat sembuh dan dapat kembali beraktivitas normal. Kuambil sisi baik dari kejadian ini. Barangkali ini cara Tuhan memintaku istirahat dan merenungi diri. Mungkin kemarin aku terlena dengan pujian orang yang mengatakan aku cantik sehingga Tuhan memberi peringatan yang membuktikan bahwa cantik itu tidak abadi. Kecantikan itu anugerah Tuhan yang bisa diambil olehNya kapan saja dan dengan cara tak terduga.
"Kakak, dicariin nenek tuh. Ngapain makan ngumpet di situ?"
Si cerewet Fifi tiba-tiba muncul. Kupikir karena tidak diperbolehkan ikut dalam pembicaraan tadi dia sudah pulang ke rumah bersama pak Rodi. Ternyata dia betah berlama-lama di Kedai. Mungkin sejak tadi dia asyik nonton drama seri korea mengandalkan wifi kedai yang dapat diakses gratis.
"Kakak malu makan dilihat orang. Muka kakak kan masih kayak kuntilanak."
Fifi tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelincinya. Dia menarik kursi tepat di hadapanku.
"Dengar-dengar orang jahat itu mau bayar 3 milyar buat biaya pengobatan kakak ya?" tanya Fifi sambil berbisik-bisik. Ia mengulur lehernya agar lebih dekat denganku.
"Kamu nguping ya?"
Fifi merespon ucapanku dengan senyum nakal. ABG yang satu ini pemikirannya agak berbeda denganku. Kalau dia mulai kepo berarti ada maksud tertentu yang patut dicurigai.
"Wah lumayan banyak tuh. Buat operasi plastik ya? Nanti kakak operasi plastik di Korea aja. Fifi tahu klinik yang bagus langganan artis-artis. Fifi ikut nganterin ya. Sebelum operasi kita jalan-jalan dulu ke pulau Jeju, terus foto-foto pakai baju hanbok di istana Gyeongbukgung dan jalan-jalan ke gangnam district."
__ADS_1
Aku bengong. Dengan santainya Fifi menyebutkan nama tempat destinasi wisata di Korea yang aku tidak paham dan tak pernah ada pula keinginan untuk mengunjunginya. Aku tak kepikiran soal operasi plastik karena itu alternatif terakhir. Berbeda dengan Fifi yang sejak di klinik dokter Natasha tadi sudah menanyakan soal kemungkinan operasi plastik. Dia berpikir terlalu jauh sampai sudah merencanakan operasi plastik sekaligus jalan-jalan di Korea.
"Kakak belum tahu pulau Jeju kan?"
Aku menggangguk. Memang belum pernah sama sekali dengar nama pulau itu. Nama pulau yang sering disebut orang kampungku adalah pulau Obi, pulau Morotai, pulau Bacan, pulau Tidore dan pulau Ternate. Pengetahuanku hanya sebatas itu. Mana pernah aku cari tahu tentang tempat-tempat wisata dunia. Wisata lokal saja tak ada dalam benakku.
"Kakak mah kudet. Pulau Jeju itu tempat syuting film drama Korea Our Blues yang sedang populer sekarang."
Owalah. Pantas saja Fifi antusias sekali ke pulau Jeju. Ternyata dia terpengaruh dengan drama korea yang ditontonnya. Adikku Fifi memang penggemar berat drama korea. Mama sering mengeluh karena anak itu terlalu sering minta uang untuk membeli kuota. Selain itu kalau sudah nonton Fifi tak mau diganggu. Fifi betah berjam-jam menatap gawai demi drama seri Korea favoritnya. Kalau belum habis biasanya dia masih penasaran. Jadi, karena itu dia semangat sekali menyarankan aku operasi plastik di Korea. Ternyata ada modus terang-terangan yang terendus.
"Kakak nggak mau operasi plastik."
Operasi ganti muka? Kikis tulang tengkorak? Hiy. Mendengarnya saja aku sudah ngeri. Ngilu juga membayangkan bagaimana rasanya tulang dikikis. Heran. Kok ada orang yang rela sakit untuk menjadi cantik.
Budaya yang melekat pada drama korea tampaknya sudah mulai merasuki kepala sebagian besar penikmat drama korea, termasuk Fifi. Makin banyak orang terobsesi operasi plastik untuk jadi cantik. Padahal dalam agama islam setahuku tidak boleh mengubah sesuatu dari bentuk asal yang telah diciptakan Allah SWT, baik menambah atau mengurangi agar kelihatan cantik. Operasi plastik hanya dibolehkan untuk alasan kesehatan atau memperbaiki yang rusak agar kembali ke bentuk asal.
"Kalau kakak nggak mau operasi plastik nggak apa-apa juga sih. Tapi kita tetap aja pakai duit itu buat jalan-jalan ke Korea." Fifi tersenyum genit sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Nggak ah. Culas." Aku mendorong lima jemari kananku di depan wajah Fifi tapi dia keburu menghindar dan tersenyum tengil meledekku.
"Ye, nggak kena." katanya sambil menjulurkan lidah.
__ADS_1
"Lagian buat apa nenek minta penggantian biaya pengobatan sebanyak itu kalau nggak buat operasi plastik. Mendingan penjahat itu dipenjara aja biar jera. Fifi benci banget sama orang jelas salah tapi merengek-rengek nggak mau dihukum. Kalau ketemu Fifi mau balas cakar wajahnya. Dia pikir mentang-mentang kaya bisa berbuat seenaknya nyakar-nyakar muka orang sampai rusak."
Aku terhenyak mendengar komentar serius Fifi. Negosiasi panjang tadi mengandung perangkap. Entah dari mana perhitungannya hingga nenek bisa memutuskan angka sebanyak itu. Mungkin awalnya nenek hanya kesal menantang bu Mayta supaya berpikir panjang lalu mundur dan memilih ikut prosedur hukum yang berlaku. Tapi gengsi dan kecintaannya pada anak kesayangannya terlalu besar. Angka 3 milyar adalah pertaruhan harga diri yang harus disanggupi bu Mayta demi kebebasan anaknya. Uang bukan masalah. Maudy tak boleh sengsara di dalam sel tahanan atau di penjara. Bukan hanya untuk nama baik keluarga, tapi karena anak manja itu menolak bertanggung jawab secara hukum meski sudah terbukti bersalah.
"Ya sudah. Nanti aja kita pikirin lagi duitnya buat apa. Cepetan kakak balik ke ruang pertemuan tadi. Biar masalahnya cepat selesai dan kita bisa istirahat dengan tenang di rumah." Fifi mengayun-ayunkan kedua tangannya ke depan mengusirku agar menyelesaikan masalah kami secepatnya
Aku kembali ke ruangan itu ketika mereka telah sepakat dengan isi perjanjian yang dibuat oleh notaris. Tinggal menunggu aku tanda tangan maka semuanya dianggap selesai.
Ada keraguan yang menyelimuti hatiku ketika hendak menggoreskan tanda tangan pada surat pencabutan berkas perkara. Semua mata memandangku. Aku menengok dan menatap mama yang menggelengkan kepala tanda tak setuju. Terbersit khawatir kalau masalah ini akan berlanjut di kemudian hari mama mungkin akan mengungkit kesalahanku menandatangani surat ini.
Kemudian aku menoleh ke sebelah kanan dimana nenek telah terlihat lelah. Kutatap mata nenek yang warna lensanya telah pudar. Andai aku menolak menandatangani surat ini, beliau akan menanggung malu. Sudah kepalang tanggung. Nenek dan ibu Mayta telah setuju dengan isi perjanjian itu. Aku harus konsekuen dan menerima segala akibatnya.
Aku menggoreskan tanda tangan di berkas itu bukan karena uang. Jujur sesungguhnya aku masih butuh waktu berpikir tentang keputusan ini. Masukan Bray hadir terlambat. Menyesal aku tak melibatkan dia dalam keputusan ini sebelumnya. Setidaknya dia yang lebih banyak tahu bagaimana karakter Maudy dan keluarganya. Lepas dari semua kebimbanganku, inilah hasil negosiasi yang terjadi. Aku berharap semoga baik untuk ke depannya.
Masalah ini harus diakhiri dengan damai. Setelah tahu latar belakang keluargaku mungkin Maudy bakal berpikir seribu kali jika ingin berurusan denganku. Seharusnya dia sudah puas melampiaskan marah dengan membuat wajahku jadi begini. Aku sadar bahwa aku telah banyak dirugikan dalam kasus ini; dituduh tanpa bukti dan dianiaya. Uang 3 milyar tak sebanding dengan perihnya luka yang kurasakan dalam waktu yang panjang.
Melalui video conference Maudy dan keluarganya meminta maaf. Aku lihat gadis itu menunduk selama berlangsungnya pertemuan daring itu. Tapi sepanjang pengelihatanku tak terlihat ada penyesalan sama sekali di matanya. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia hanya mengucap maaf dengan kalimat pendek yang dingin dan tidak bersahabat.
"Maaf! Saya tak akan mengulangi perbuatan itu lagi."
Permintaan maaf itu benar-benar hanya formalitas melengkapi syarat perjanjian agar bisa bebas dari hukum. Bray benar. Maudy tak pernah menyesali perbuatan jahatnya padaku. Setelah video conference berakhir dia akan tertawa puas atas kemenangannya. Sedangkan aku masih harus merasakan perihnya luka, malu dan kehilangan kesempatan beraktivitas normal. Nenek benar. Keputusan ini mencederai rasa keadilan, tapi mungkin aku akan dapat banyak pahala dan kelapangan hati jika ikhlas memaafkan. Aku akan belajar memaafkan dengan tulus. Biarlah Tuhan yang menentukan karmanya.
__ADS_1