LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
TERBUKA


__ADS_3

Malam harinya Bray kembali menelponku mengabarkan bahwa operasi jantung papanya telah selesai dan beliau telah berhasil melalui masa kritisnya. Pak Budhi telah dipindahkan ke ruang ICCU, sebuah ruang perawatan intensif khusus untuk pasien penyakit yang berkaitan dengan kardiovaskuler atau yang lebih dikenal dengan penyakit jantung. Keadaannya cukup stabil. Bray terlihat lebih cerah karenanya walaupun gurat-gurat kelelahan masih tampak di wajahnya.


"Mas Bray tidur di mana?"


Entah kenapa aku sekarang suka mengulik hal yang menyangkut pribadi Bray karena tak ingin menyudahi telepon. Sementara aku sudah kehabisan bahan pembicaraan soal pekerjaaan. Kegiatan pengelolaan konservasi dan penangkaran burung kami sudah berjalan baik meski tanpa kehadiran kami berdua. Tentu saja semua itu berkat pasangan dokter hewan yang memang mencintai profesi dan dunia fauna. Rasanya sekarang ini kami mulai bisa mendompleng nama dari hasil kerja keras mereka.


"Kami menyewa 2 kamar hotel yang berseberangan dengan rumah sakit."


"Kok 2 kamar?"


"Ada 3 orang asisten yang setia membantu dan mengawal keluarga kami. Mereka ikut mengurus segala keperluan kami di sini dan bergiliran menunggu di rumah sakit."


Wah beruntung sekali. Kupikir 3 orang asisten setia itu sama dengan pak Rodi, bi Ika dan bi Siti yang mendedikasikan hidupnya buat nenek. Mereka bahkan lebih tahu detail apa yang dibutuhkan nenek dan apa apa yang disukai maupun tidak disukainya. Aku cucunya belum tentu bisa mengurus nenek sedemikian tekunnya. Pada jaman ini memikili pekerja yang loyal adalah suatu anugerah yang tak ternilai dengan apa pun. Langka. Di tengah gempuran gaya hidup materialisme konsep kesetiaan dan pengabdian ala feodal tetap kentara dalam jiwa mereka. Tidak pudar. Mereka telah mengabdi pada keluarga nenek secara turun temurun. Entah apakah budaya ini akan terhenti pada generasi nenek atau bisa berlanjut ke generasi selanjutnya. Aku pesimis. Kebaikan hati mereka dilindungi oleh kepercayaan lama yang masih dipegang teguh bahwa kedamaian hidup adalah dengan mengabdi pada khalifah. Aku yakin kepercayaan itu sudah tak lagi ada seiring dengan penyebaran kebudayaan global yang bersifat masif melalui berbagai media.


"Kamu ke sini dong, Fifa. Jenguk aku dan papaku. Aku butuh teman. Belakangan ini kondisi papa down. Lelah menghadapi sidang perceraian dan berbagai masalah yang datang silih berganti." keluh Bray dengan sorot mata sayu. Aku melihat sisi rapuh dari seorang yang dipandang orang memiliki segala sumber kebahagiaan.


"Sidangnya sudah selesai?"


"Belum. Prosesnya berbelit-belit karena pihak sana menyebarkan berita bohong di berbagai media dan banyak sekali tuntutan. Kata pengacara sih kemungkinan minggu depan baru akan sidang putusan. Doakan semoga mendapat putusan yang terbaik ya. Kami sudah lelah dan tak ingin ada prosedur banding."


"Aku selalu berdoa yang terbaik untuk mas Bray dan keluarga."


"Terima kasih."


Tanpa kuminta Bray bercerita tentang konflik dan masalah dalam keluarganya. Bermula dari ibu kandungnya yang meninggal karena kanker. Tak lama kemudian ayahnya menikah lagi dengan seorang janda muda yang cantik dan terkenal di kalangan selebriti nasional. Dalam perkawinannya yang sudah berjalan 7 tahun ini mereka tak memiliki anak. Bray tetap menjadi anak tunggal. Namun bukan anak masalah yang menyebabkan ayahnya mengajukan cerai, tapi perselingkuhan ibu tirinya dengan pria lain yang lebih muda.


"Papa sangat marah saat memergoki sendiri perbuatan ibu tiriku. Yang perlu kamu tahu, ibu tiriku itu adalah tantenya Maudy."


Hah? Pantas Bray ngotot berusaha memenjarakan Maudy. Dia sangat kecewa dan marah atas keputusan damai kami. Bukan semata-mata aku penyebabnya. Ada banyak masalah dan dendam yang bertumpuk-tumpuk terhadap keluarga itu.

__ADS_1


"Dia yang jodohin mas Bray dengan mbak Maudy?" Aku mencoba menebak ke mana arah jalan cerita Bray. Perjodohan adalah hal klasik yang biasa jadi premis dalam sebuah kisah manusia. Dari jaman batu sampai jaman internet perjodohan masih ada saja yang melanggengkan.


Bray membiarkan pertanyaanku mengambang. Ia melanjutkan ceritanya. "Ibu tiriku itu seorang pembawa acara televisi yang terkenal, pintar, cantik dan memiliki koneksi luas. Sejak menikah dengannya bisnis papa diklaim makin berkembang. Itu sebabnya saat digugat cerai dia minta harta gono gini dalam jumlah sangat besar."


"Mas Bray bakal jatuh miskin kalau permintaannya disetujui pengadilan?"


Bray malah tertawa mendengar pertanyaan spontan yang cenderung bodoh itu.


Aku langsung menutup mulutku begitu sadar kalimat itu mungkin bisa melukainya. "Dasar lidah tak bertulang." makiku dalam hati.


"Eh, maaf!" kata itu yang keluar dari mulutku. Aku menunduk sambil menyilangkan tangan kanan di dada.


"Ya enggaklah. Pembagian harta gono gini tak akan membuatku jadi miskin. Kami sudah kaya sebelum papa kenal dia." ujarnya sambil mengangkat dagu.


Sombong.


Menurutku masalah orang kaya sebenarnya tidak rumit. Mereka terlalu mendewakan harta. Asalkan mereka mau mengikhlaskan harta mungkin urusan bisa beres dan tidak jadi beban pikiran yang menyakitkan. Toh harta tak akan dibawa mati.


Rejeki itu sudah ada takarannya dalam catatan hidup kita. Sekeras apa pun kita mempertahankan harta, kalau Tuhan ingin mengambilnya akan ada jalan untuk kehilangan. Qarun yang kekayaannya melimpah ruah saja bisa kehilangan seluruh hartanya. Sayangnya hanya sedikit manusia yang mengambil hikmah dari kisah Qarun.


Aku bangga pada baba yang mampu meninggalkan harta dan kebangsawanannya untuk berdakwah dan tinggal damai bersama alam. Yah walau tidak mudah juga tinggal di tepi hutan daerah pedalaman. Tiap pilihan pasti ada konsekuensi baik dan buruknya.


"Mas Bray sendiri bagaimana?"


"Aku sih merasa diuntungkan dengan adanya kasus ini. Pertikaian keluarga memudahkan aku menganulir pertunanganku dengan Maudy. Hubungan kami dengan keluarga mereka terus memburuk. Sekarang yang kutakutkan adalah kesendirian. Semangat hidup papa rendah banget, Fifa. Di usianya yang sudah enam puluh tahun papa sudah merasa tak berguna. Aku takut kehilangan papa. Aku belum siap hidup sebatang kara."


Aku trenyuh. Walau tidak terlihat mata, aku bisa mendengarkan rintihan hati seorang yang kecewa karena kesendirian. Aku pernah hidup sendiri dalam rumah peninggalan baba, tapi tak pernah merasakan kesendirian. Itu pasti menyakitkan.


"Mas Bray harus terus berdoa dan semangatin papa. Insya Allah sembuh."

__ADS_1


"Bantu aku dong, Fif!" pintanya dengan suara yang terdengar pilu.


"Bantu apa?"


"Kamu jenguk papaku di sini. Jenguk aku juga hehehe."


"Duh, gimana ya? Mas Bray kan tahu bagaimana wajahku. Lukaku masih setengah kering. Papa mas Bray bisa makin stres lihat wajah yang mengerikan begini." kilahku apa adanya. Memang itu yang kutakutkan.


"Beliau udah tahu kalau luka itu akibat ulah Maudy. Beliau ada di zoom dan melihat kamu waktu nenek meminta Maudy meminta maaf, tapi nggak bicara."


Benarkah? Aduh, malu banget. Kupikir selain keluarga kedua belah pihak hanya Bray yang ikut menyaksikan permintaan maaf Maudy itu. Kulihat tidak ada nama Budhi Sanjaya di daftar partisipan. Apa dia pakai nama lain?


"Beliau sempat bicara personal dengan nenek dan paham kamu hanya korban. Beliau sebenarnya ingin ikut minta maaf sama kamu karena merasa ikut andil atas masalah yang memicu kebrutalannya. Biar bagaimanapun beliau merasa bersalah ikut skenario ibu tiri yang menjodohkan aku dengan Maudy."


Aku menunduk. Kehabisan alasan untuk menolak. Jujur aku ingin menghibur dan mendukungnya. Aku ingin menemaninya agar tak merasa sendirian. Aku ingin bertemu langsung, memeluknya, dan duduk bersama dengannya mencurahkan isi hati kami. Tapi luka ini membuatku tak percaya diri.


"Fifa ..."


Perlahan bibirku melengkungkan senyum. Aku selalu suka saat dia menggantungkan kalimatnya pada namaku. Kunanti kalimat selanjutnya. Bray menjawab dengan kegelisahan. Bingung memilih kata apa untuk mengungkapkan isi hatinya.


Kami berdua sejenak dalam diam.


"Kalau kamu tidak keberatan, aku minta Jim bantu kamu dapatkan paspor hari senin besok." katanya ragu.


Kalimat permintaan halus itu terdengar seperti sebuah paksaan. Aku tak diberi pilihan.


"Sebelum anfal, papa sempat mengatakan ingin ketemu kamu. Aku takut ini permintaan terakhirnya." Suara Bray terdengar parau, pelan dan ragu. Ia berhati-hati sekali dalam melafalkan tiap kata.


Jika sudah bicara permintaan orang yang tengah sakit keras, rasanya sulit untuk menolak. Aku mengiyakan dengan anggukan kepala. Akan kupertimbangkan.

__ADS_1


__ADS_2