
Aku bukan diriku lagi saat jantung mulai memompa darah yang panas menggelora. Tidak cukup menggelayut manja dan mengalungkan tangan di lehernya. Insting liar menuntunku untuk berani membuka kancing kemejanya agar bisa menyusupkan wajahku yang malu di dadanya langsung menyentuh kulitnya yang hangat tanpa perantara. Dadanya yang bidang, putih, dan beraroma segar membuatku merasa sangat nyaman dan terlindungi.
Senyum magisnya terus bekerja menghipnotisku. Aku mengendus-endus wangi tubuhnya dan menciumi dadanya dengan gemas. Bray menggeliat-geliat sambil tertawa kecil.
"Geli, Sayang. Tapi enak." Suara yang bernada rendah bagai mantra yang membangkitkan seluruh rasa percaya diriku.
Dia milikku. Aku boleh melakukan apa saja yang kumau bersamanya.
Tangannya meraba dadaku dengan gerakan memijat yang memaksaku mengeluarkan suara desau yang menguat. Pijatannya nikmat luar biasa.
Serrr. Darah mengalir cepat seluruh tubuh, terutama ke organ diantara lipatan paha yang mulai terasa basah. Ada denyut-denyut manja di organ itu yang menuntut sentuhan.
Bray mengangkat wajahku. Dengan rakus ia menyesap bibirku. Darah mengalir semakin cepat. Nafas kami sama-sama memburu. Hipnotis sudah meluruhkan segalanya.
Desau-desau manja yang mirip rintihan justru membuat kami makin larut dalam kenikmatan yang membuai. Semua terjadi spontan. Lupa semua masalah. Lupa segalanya. Malam ini kami nikmati keindahan kami berdua dengan mengikuti insting yang mengalir begitu saja.
Lelah tapi nikmat. Kami mengakhiri pergumulan dengan peluh dan banjir cairan. Aku tetap membenamkan diri di dadanya pasca hubungan suami istri selesai. Rasanya lega. Luar biasa.
"Terima kasih untuk malam yang indah ini, Sayang. Tadinya kupikir aku akan menunggu lama sampai kamu siap dan percaya padaku." Bray membelai rambutku dengan tangannya dan tersenyum.
Kamu menghipnotis aku, mas Bray. Aku malu. Kenapa aku bisa jadi beringas menuntutmu melakukannya di atas sofa.
"Mau lagi?"
"Mau. Tapi istirahat dulu." katanya sambil mencium ubun-ubunku.
Aku tak ingin berkata-kata. Kalah. Malam ini aku adalah istrinya. Mungkin selamanya aku akan jadi budak cintanya. Tak apa. Ikhlas. Malam ini aku merasakan bahagia yang tiada tara.
Bray membopongku ke tempat tidur yang masih tertata rapi. Aroma melati dan cendana memenuhi ruangan yang diliputi cahaya lampu tidur berwarna hijau temaram.
"Sayang, kamu benar-benar tidak mau resepsi?" tanya Bray sambil membelai rambutku yang ikal. Sesekali ia menggulung sebagian rambutku di jari telunjuknya lalu melepaskannya sambil tersenyum.
"Resepsi itu terserah nenek, papa dan mas Bray yang punya banyak kolega. Aku nggak punya teman buat diundang. Buat apa resepsi?"
Bray tertawa kecil mendengar jawaban polosku.
Telunjuknya kini menyentuh bibirku dan mengusapnya dari ujung ke ujung. Dengan gemas aku memasukan telunjuknya ke dalam mulut dan menghisap dengan cepat dan kuat seperti orang yang kehausan seharian tak mendapatkan air.
Bray terkekeh.
"Yang ini terlalu kecil, Sayang. Lebih enak hisap es krim hula-hula yang ini." katanya sambil menunjukan adiknya yang mulai menegang lagi di balik celana panjangnya.
Kubalas tawanya dengan tawa kecil. Ada sedikit perasaan malu tapi kuabaikan saja.
"Mau coba? Rasa coklat kacang ijo lo. Manis dan bergizi tinggi."
__ADS_1
Bray menyodorkan adiknya padaku tapi aku menggeleng.
"Kamu belum tahu cara makan es krim hula-hula ya?"
Aku menggeleng.
"Besok kita ke kota kecamatan beli es krim hula-hula di mini market. Nanti aku ajarkan bagaimana cara makannya. Rasanya enak banget. kamu mungkin bisa ketagihan." ujarnya bersemangat. Senyum tak lepas dari bibirnya.
Aku mengernyitkan dahi. Mencoba berpikir tapi tak tahu apa maksudnya.
Tangannya kembali memijit-mijit kedua dadaku dengan gerakan memutar yang lembut. Darahku kembali menghangat. Apalagi saat ia menjilat dan menghisap dada seperti sedang menikmati es krim yang lezat.
"Hhmmm, kenyal dan empuk. Kayak permen yupi." Bray tersenyum mengagumi dadaku yang tak seberapa besar.
Tak terungkapkan bagaimana rasaku malam perdana bersamanya. Tiga ronde pergulatan kami terasa sangat melelahkan. Aku tertidur dalam pelukannya.
Esok paginya dia membangunkan aku dengan ciuman di kening. wajahnya segar dan bercahaya. Sudah pulang dari shalat subuh di masjid yang letaknya hanya beberapa langkah dari rumah.
"Bangun, Sayang! Mandi dan shalat subuh dulu."
Aku menggeliat merenggangkan tubuhku yang penat.
"Ada air hangat. Kamu tinggal arahkan kran air ke kanan yang tandanya berwarna merah."
Nyawaku belum utuh tapi aku mengangguk. Masih bermalas-malasan dengan tubuhku yang tak berbalut pakaian di balik selimut.
Aku mengangguk. Padahal bohong. Cuma sedikit lelah.
"Mau digendong ke kamar mandi?"
"Nggak usah." jawabku cepat.
Sebenarnya aku malu. Entah dimana pakaianku. Tanganku meraba-raba seluruh permukaan kasur di sekitar. Tak kutemukan sepotong pakaianku.
"Bajumu sudah kutaruh semua di laundry bag." Bray mengerlingkan sebelah matanya. Ternyata dia tahu kelakuan tanganku di balik selimut.
Bray mengambilkan handuk putih bersih dari lemari lalu menyerahkannya padaku.
"Pakai handuk saja nggak apa-apa. Masak malu sama suami sendiri."
Kuambil handuk dari tangannya dengan malu-malu. Sumpah. Aku kikuk. Pagi pertama bersama Bray serasa berada di dunia lain. Dunia yang masih asing bagiku.
Kunikmati guyuran air hangat dan wangi sabun yang menambah semangat dan meredakan sisa penat akibat pergumulan hebat semalam. Setelah kembali suci, aku menghadap Tuhan dengan doa pagi yang lebih panjang. Banyak harapan yang ingin kusampaikan. banyak permohonan yang ingin kupanjatkan. Semoga kehidupanku yang baru lebih membahagiakan.
Ketika keluar kamar, aroma nasi goreng seafood telah menguar di udara. Bray telah duduk di meja makan menghadap 2 piring nasi goreng yang asapnya masih mengepul di udara. Ada setoples kecil acar, setoples kerupuk udang dan 2 gelas susu segar. Aku jadi malu. Bangun lebih siang dan sarapan sudah disiapkan.
__ADS_1
Bray menghampiriku begitu tahu aku sudah keluar kamar. Ia membimbingku untuk duduk di salah satu kursi makan yang memang hanya ada 2. Dipersilakan seperti seorang puteri.
"Sarapan ya! Kita perlu banyak energi buat mengulang kegiatan semalam."
Lagi-lagi Bray mengecup ubun-ubunku sebelum kembali duduk di kursinya yang berhadapan denganku.
"Mas masak sendiri?"
"Enggak. Dikirim orang katering kantor." jawabnya sambil tersipu.
"Besok biar aku yang masak."
"Nggak usah memaksakan diri. Di sini semua sudah ada fasilitas makan 3 kali sehari. Anggap saja tinggal di resort."
Aku mengangguk. Kuhabiskan nasi goreng seafood lezat yang jadi menu sarapanku pagi ini. Setelah makan, kami mencuci piring berdua di kitchen sink sambil bercanda. Tiba-tiba Bray seperti bayangan yang mengikuti kemana pun aku melangkah. Aku cuci piring dia ikut. Aku sikat gigi, dia melakukan hal yang sama di dekatku.
"Boleh nggak aku mau lagi?" tanyanya ketika aku baru saja selesai sikat gigi dan merapikan tempat tidur.
"Mau apa?"
"Berkegiatan kayak semalam. Kayaknya aku ketagihan. Tubuhmu mengandung narkoba. Bikin candu."
Aku tersipu malu. Semalam itu aku memang seperti bukan aku. Terlalu liar.
"Semalam itu kamu luar biasa." pujinya sambil mengecup bibirku sepintas.
Cuma sepintas. Makanya bikin penasaran. Cepat-cepat kukalungkan tanganku lagi di lehernya. Mengekangnya untuk tidak pergi. Masak cium cuma sepintas. Tanggung banget. Dia harus bertanggung jawab atas darahku yang mulai menghangat.
Bray kembali mengeluarkan senyum magisnya. Ia merebahkan tubuhku kembali ke kasur.
"Kamu juga kecanduan ya?"
Aku menjawab dengan senyum manja.
"Kalau sudah tahu menikah itu enak. Nggak nyesel lagi kan menikahnya dipercepat?"
Aku memukul manja dadanya sambil tersipu.
"Kecanduan kalau sudah halal itu nggak masalah. Paling-paling hasilnya cepat punya anak."
Ups? Punya anak? Duh, mengerikan sekali. Aku belum mau punya anak. Aku masih mau bebas. Kenapa sih tidak ada antisipasi sebelumnya? Semua terjadi tiba-tiba. Mana sempat berpikir pakai alat kontrasepsi.
"Mungkin doa papaku akan cepat terkabul." Bray tersenyum riang penuh semangat.
Aku mematung. Menyesal? Minta pakai alat kontrasepsi? Sudah terlanjur basah. Percuma saja pakai alat kontrasepsi hari ini. Semalam yang tiga ronde, apa kabar? Kalau ternyata benihnya ditakdirkan jadi, mau tidak mau aku harus terima takdir atas perbuatan kami.
__ADS_1
Bray memulai gerakan menikmati yupi kenyal sesukaannya. Tangannya menjalar ke lipatan paha. Aku ingin berontak karena takut punya anak. Tapi tak kuasa. Tubuh kekarnya telah mengungkungku. Dan rasa nikmat kembali menghipnotis dan membuatku lupa segalanya.