
Tentu saja aku mengabari kepulangan Aga pada pihak yang terkait agar tidak jadi masalah dikemudian hari. Karena statusnya sudah dilepaskan, yang pertama kali kubertahu tentang kembalinya Aga ke aviary adalah Andi sebagai satu-satunya staf lingkungan hidup yang kukenal. Sebagai orang kampung pedalaman, aku tak punya banyak kolega yang paham tentang hukum maupun peraturan tentang lingkungan hidup. Kudengar ada orang pernah ditangkap polisi karena memelihara hewan yang dilindungi tanpa ijin. Tentu saja aku tak ingin punya masalah dengan hukum.
Andi terkekeh mendengar ceritaku tentang kembalinya Aga.
"Yang kembali hanya yang jantan, Fifa?"
"Iya."
"Hahahaha, berarti nuri jantan itu mungkin sudah terlanjur jatuh hati padamu."
Ahh, Andi. Apaan sih. Leluconnya sama sekali tidak lucu.
"Kamu share loc aja lokasi aviarymu. Nanti aku datang menjenguk."
"Sertifikat Aga bisa dikembalikan kan?"
"Nanti kuusahakan."
Tak sampai setengah jam Andi telah tiba di halaman rumah dengan sepeda motornya. Dia pasti langsung berangkat begitu aku mengirimkan share loc. Begitu cepat.
"Aviarymu bagus juga. Mungil tapi desainnya eye chaching." komentarnya ketika masuk dan melihat-lihat aviaryku.
"Kak Hisyam yang bikin konsep dan membangunnya. Aku terima jadi aja."
Andi tersenyum tipis. Aku membalas dengan senyum bangga. Cuma aku di wilayah ini yang punya aviary sebagus ini. Aku sendiri tak pernah terpikir membuat kandang burung besar dengan taman dan air mancur yang indah di dalamnya. Maklum, pergaulanku terbatas. Aku tak pernah keluar dari tempat tinggalku di sebuah kampung sepi yang berada di tepi hutan.
Sejak kecil aku penikmat suara burung, tapi tak berniat memelihara burung liar. Aku terbiasa mendengar jeritan dan nyanyian burung-burung tiap pagi dan sore hati. Kadang baba mengajakku pergi mengamati burung-burung yang lebih eksotis di hutan. Yang kutahu selama ini orang-orang kampung memelihara nuri dengan menaruh di dahan dengan kaki terikat rantai. Menurutku cara seperti itu tidak layak. Aku sedih setiap kali melihat ada nuri terbelenggu sedemikian rupa, sementara yang lain bisa terbang bebas dan bernyanyi sesuka hati. Menurutku tak ada hak buat kita membelenggu kebebasan makhluk hidup lain. Burung pun berhak bebas terbang sesukanya.
"Kamu benar-benar serius mau jadi keeper volunteer, Fif?"
"Maksudnya?" Aku tak mengerti kata yang diucap Andi. Bahasanya masih asing di telingaku.
"Kamu benar-benar sukarela atau dibayar buat merawat burung-burung itu?" Dia memperjelas pertanyaannya dengan kata lain yang lebih mudah dimengerti.
"Sukarela dong. Memangnya ada yang mau bayar buat pekerjaan remeh begini?"
"Eit.... Jangan anggap remeh. Apa yang kita lakukan meski kecil tapi berdampak pada kelestarian lingkungan hidup. Memangnya kamu pikir kerjaku apa."
Apa ya? Aku cuma bisa garuk-garuk kepala sambil nyengir. Aku kurang paham pekerjaan pegawai negeri selain guru dan tenaga medis.
"Aku ditugaskan di unit BKSDA, singkatan dari balai konservasi dan sumber daya alam. Pekerjaan utamaku adalah melaksanakan pengelolaan kawasan hutan dan konservasi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar baik di dalam maupun di luar kawasan Lolobata ini."
"Hehehe. Sama dong kita." ucapku riang mengetahui bahwa apa yang kukerjakan setali tiga uang dengan pekerjaan Andi.
__ADS_1
Pantas saja tadi pagi ia langsung menawarkan untuk merawat bidadari halmahera sitaan yang masih stres. Hewan yang diburu dari habitatnya dan mengalami perlakuan buruk butuh perawatan ekstra. Itulah sebabnya perlu waktu untuk pemulihan dan adaptasi dulu sebelum dilepaskan kembali ke habitatnya. Aku senang sekaligus bangga diberi kesempatan bisa turut ambil bagian dalam upaya penyelamatan burung-burung liar. Aku benci para pemburu dan penyelundup yang memperjualbelikan dan memperlakukan burung-burung langka dengan cara yang tidak layak. Kasihan mereka.
Pasti Andi sering kewalahan dengan tugas mengkonservasi banyak flora dan fauna di wilayah kerjanya. Hutan Lolobata ini luas. Konon kabarnya hutan ini merupakan kawasan surga bagi burung-burung eksotis yang langka dan bernilai. Dan sampai saat ini masih ada saja pemburu yang menangkap burung langka di kawasan hutan Lolobata.
"Iya, pekerjaan kita hampir sama."
"Tapi kak Andi bergaji, aku sukarela." Aku menggarisbawahi perbedaan kami sambil tersenyum lebar. Sedetik kemudian kututup mulut dengan kedua tangan. Malu membahas yang begini ini.
Syukurlah Andi tak tersinggung. Ia malah tertawa lebar.
"Pasti hewan dan tumbuhan yang harus dikonservasi pemerintah banyak banget ya," komentarku kemudian.
Wajar Andi digaji, karena waktunya didedikasikan penuh untuk pekerjaan itu. Lagipula tugasnya jauh lebih banyak daripada sekedar konservasi burung. Beda dengan aku yang melakukannya hanya untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang membuatku merasa lebih berharga dan bahagia.
"Iya. Aku sering kewalahan dengan pekerjaanku. Itulah kenapa aku senang banget setiap kali ketemu sukarelawan yang mau bantu merawat hewan untuk dilepaskan kembali ke habitatnya. Pekerjaanku jadi terbantu. Hehehe."
"Aku senang merawat burung-burung ini. Mereka teman yang baik. Nggak pernah marah, nggak suka bergunjing dan tingkahnya menghibur."
Akh, kenapa kesannya jadi curhat ya. Aku malu, tapi sayangnya sesuatu yang sudah terlanjur terucap tidak bisa ditarik kembali. Duh, ini mulut kadang susah sekali dikendalikan untuk tidak melontarkan pikiran bawah sadarku begitu saja.
Ucapanku tadi mungkin terdengar miris. Tapi jujur itulah kenyataan hidupku. Kurasa makin dewasa temanku justru semakin sedikit. Entah karena aku sudah terbiasa sendirian atau memang begitulah kodrat kehidupanku sebab memilih berada di sudut pandang yang berbeda dengan kebanyakan warga kampung. Apa pun yang kulakukan selalu salah di mata para tetangga.
Untungnya Andi tak terlalu menanggapi kalimatku yang mengandung keluhan itu. Ia justru mengangguk membenarkan. Mungkin sudah memaklumi anggapan umum bahwa perempuan itu makhluk perasa yang suka mengeluh. Padahal aku tak mau dianggap begitu. Tapi ... sudahlah. Kita tak bisa jadi sempurna seperti apa yang kita mau kan? Selalu ada celah yang membuat citra diri kita tergelincir sedikit.
"Secepatnya."
"Gimana caranya?"
"Sekarang aku mau ambil foto dan buat berita acara dulu. Paling cepat besok urusan administrasinya baru bisa diproses. Nanti kukabari lagi kalau sertifikatnya sudah boleh diambil kembali." Andi nyengir. Mungkin menyesal hanya bisa membantu sebatas itu saja.
"Baiklah. Terima kasih atas bantuannya."
Aku paham urusan dengan administrasi pasti baru bisa diproses pada hari kerja dan melibatkan prosedur birokratis yang katanya bisa berbelit-belit. Dibantu segitu saja aku sudah sangat berterima kasih. Tanpa bantuan Andi, aku pasti sangat kesulitan mengurus surat-surat Aga. Terus terang saja aku malas wira-wiri ke kantor dinas hanya untuk urusan selembar surat. Ketidaktahuanku pastinya akan membuat urusan selembar kertas harus makan waktu yang lama dan melelahkan. Dengan begini, aku tinggal tunggu kabar baiknya saja.
"Bagaimana dengan bidadari halmahera jantannya? Kapan aku bisa ambil?" tanyaku dengan nada bersemangat.
Dalam benakku sudah ada sang bidadari halmahera menari-nari dengan indahnya. Tak bisa terbayangkan suka cita hatiku menanti besok. Rasanya tak sabar ingin bertemu burung dari surga itu. Kangen.
"Nggak usah ngambil sendiri. Besok kuantar saja sambil jalan pulang dari kantor. Kan sudah tahu letak aviarymu."
"Ah jadi nggak enak nih."
"Menurutku malah jadi enak." Lagi-lagi Andi tersenyum menggoda. Pria itu benar-benar jahil.
__ADS_1
Aku mengkerutkan kening menunggu kelanjutan pernyataan Andi yang bertentangan dengan kalimatku. Masak sih kalimatnya hanya segitu.
"Aku mau kok disuruh sering-sering ke sini."
"Aku yang nggak mau." potongku cepat sambil tertawa.
"Kenapa? Pacarmu marah ya?"
"Bukan. Tetangga di sini suka bergunjing. Kami di sini hanya tinggal bertiga dan semuanya perempuan, jadi kalau ada lelaki bertandang ke rumah kami jadi perhatian mama mama kampung. Yah maklumlah. Beginilah suasana kampung." kataku sambil melirik ke arah ke samping rumah. Beberapa mama sudah terlihat berbincang di halaman rumah mama Hika. Semoga bukan aku yang jadi bahan perbincangan mereka.
Ah, kenapa setiap kata yang terlontar dari mulutku seperti keluhan. Duh, rasanya aku ingin pukul-pukul sendiri lidahku yang tak bertulang ini.
"Kalau kamu tidak ingin kecewa, mengeluhlah sama Tuhan, jangan sama manusia." Aku teringat lagi nasehat mama yang baru saja luput dari memori otakku. Rupanya aku harus belajar dan berlatih sabar terus sepanjang hayat. Memang berat banget untuk menjaga lisan.
Andi turut melihat ke arah yang sama lalu tersenyum kecut sambil berkomentar, "Mama mama dimanapun selalu ada yang suka bergosip. Jangan pedulikan mereka."
Aku mengangguk.
"Jadi, boleh kan aku sering-sering ke sini menjenguk burung-burung ini? Kita bisa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang karakter dan metode perawatan burung."
Aku mengangguk. Tawaran berbagi pengetahuan dan pengalaman lebih menarik hatiku daripada keresahan akibat gunjingan tetangga.
"Besok kak Andi bisa tidak temani aku bertemu pak Firdaus?"
"Direktur perusahaan tambang itu?"
Aku mengangguk. "Aku diundang ke kantornya, mau ngomong soal yayasan."
"Sayangnya aku nggak bisa, Fif. Besok ada urusan dinas yang nggak bisa ditinggal. Padahal aku pengen banget lo ketemu langsung dengan dia."
"Apa kita minta dijadwal ulang aja ya?"
"Nggak usah. Nanti susah lagi cari waktunya. Dia kan orang Jakarta."
"Tapi katanya mulai bulan ini dia akan berkantor di sini."
"Benarkah? Tahu dari mana?" Andi terlihat penasaran dan meragukanku.
"Dia bilang sendiri."
"Bilang sendiri? Kapan kamu ketemunya? Beruntung banget sih kamu bisa ketemu dia."
Aku mengernyitkan dahi. Beruntung? Ah, wajar saja Andi berkata begitu. Tidak sembarang orang bisa bertemu direktur perusahaan besar. Apalagi bisa makan bersama dan bicara empat mata. Tapi apa untungnya buatku? Gara-gara dia aku malah menderita penyakit gila yang tak kutahu apa obatnya. Apalagi kalau ingat peristiwa anak panah yang menewaskan nuri kesayanganku itu, rasanya lebih baik selamanya tak kenal pria itu.
__ADS_1