LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
KEDAI


__ADS_3

Paman terburu-buru keluar ruangan begitu proses tanda tangan dokumen selesai. Uluran tanganku tak dihiraukannya. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Sungguh. Ini semua bukan inginku. Kedatanganku untuk menjalin silaturahmi, bukan membuat perselisihan.


Nenek meraih tangan kananku lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya seperti tumpukan roti sandwich.


"Semua ini hak kamu dan keluargamu, Fifa. Nenek hanya ingin kamu dapat keadilan. Jangan hiraukan sikap pamanmu! Dia sudah dapat jauh lebih banyak dari yang diberikan untukmu."


"Aku datang buat silaturahmi, Nek. Bukan menuntut warisan dan pemberian." ungkapku nyaris terisak.


"Nenek tahu. Kau mewarisi sifat ayahmu, tidak silau harta." Nenek tersenyum dan mempererat genggamannya pada tanganku.


"Nenek percaya kamu amanah. Makanya nenek titipkan kedai dan perhiasan turun temurun yang memang biasanya diberikan pada keturunan perempuan itu padamu."


Ternyata yang dihibahkan nenek bukan hanya harta tapi tanggung jawab menjaga harta keluarga. Berarti tanggung jawabku bertambah lagi. Aku tak tahu apakah aku sanggup menjaga amanah itu.


"Ayo jalan lagi! Nenek mau tunjukan rumah pesisir dan kedai kopimu."


Ditengok Andi yang cengar cengir. Pak Rodi dan bi Ima tersenyum manis. Orang-orang itu yang menjadi saksi serah terima harta kekayaan itu. Mereka turut berbahagia.


Bi Ima mendorong kursi roda nenek keluar ruangan. Sementara pak Rodi jalan duluan menyiapkan mobil untuk nenek.


"Asyik, kayaknya aku dapat uang dengar nih. Eh, harusnya dapat juga uang fee tanda tangan sebagai saksi." Andi tertawa menggodaku.


"Uang dari mana? Kakak lihat aku pegang uang atau tidak? Aku cuma pegang kertas ini." Aku tersungut memukul kertas pemberian notaris itu. Kertas yang membuatku merasa terbebani sebuah masalah yang tak terduga sebelumnya.


Melihat sikap paman dan keluarganya kemarin, jelas sudah mereka tahu apa yang akan dilakukan nenek untukku. Itu sebabnya mereka tidak suka dengan kehadiranku. Cuma aku orang baru yang tak tahu apa yang dipikirkan nenek. Mereka pasti tambah benci padaku kalau tahu nenek memberi hibah sebanyak ini. Mereka pasti menuduhku datang untuk merampas harta yang sebelumnya mereka kuasai selama ayahku merantau ke pedalaman Halmahera.


Andi masih tertawa "Cair bulan depan juga nggak apa-apa, Fif. Kau sudah tahu nomor rekeningku. Aku tak perlu kirim lagi kan?"


Spontan aku memukul lengannya lagi dan kali ini Andi memilih menghindar sambil tertawa terbahak-bahak.


Ih, sebal. Kenapa aku selalu kalah dan jadi bahan ledekan. Aku berjalan sambil menghentakan kaki menuju mobil nenek.


"Aku ikut nenek aja."


Andi buru-buru meraih tanganku. "Jangan ngambek gitu dong, Sayang. Nih. Kau boleh pukul lenganku semaumu."


Andi memajukan lengan kirinya dengan wajah pasrah tapi aku tak minat lagi memukulnya. Pintar sekali dia bersandiwara. Bisa jadi itu adalah trik. Dia pasti sudah antisipasi pukulanku dengan menahan otot bisepnya agar jadi sekuat batu.


"Temani dia, Sayang. Kau kan sudah janji hari ini mau jalan-jalan sama kak Syarif. Dia sudah berjasa besar mempertemukan kita. Nenek janji, setelah makan siang di kedai kalian boleh jalan berdua sesuka hati kalian."

__ADS_1


Nenek sepertinya salah sangka namun tak memberi kesempatan aku memberikan pernyataan pembenaran. Beliau langsung memerintahkan pak Rodi jalan dan tutup kaca mobil.


"Aku jengkel sama kak Syarif." keluhku sambil menghentakkan kaki keras-keras ke bumi.


"Aku enggak."


"Aku JENGKEL." kataku lebih keras.


"Aku SUKA." jawabnya dengan intonasi yang sama kerasnya sambil tersenyum konyol dan melangkah santai pergi ke tempat mobilnya terparkir.


Mau tak mau aku mengikuti langkah kakinya. Tak mau aku tersesat di kota yang masih asing bagiku. Nenek telah lebih dulu meninggalkanku. Tak ada pilihan lain selain semobil dengan makhluk menjengkelkan itu.


Aku membuka pintu sendiri dan kubanting dengan keras agar Andi tahu aku masih marah.


"Jangan kebanyakan marah. Nanti wajahmu jadi lebih keriput daripada nenek." ucapnya santai sambil menyalakan mesin mobilnya.


Aku diam tak menanggapi.


Andi tak pernah merasa bersalah atas perbuatan konyolnya padaku. Sikapnya biasa saja walaupun ia tahu perbuatannya membuatku jengkel. Tidak minta maaf atau memperbaiki sikap. Sepanjang jalan ia bercerita tentang tempat-tempat yang memiliki kenangan tersendiri buatnya. Saat lewat di depan SMU 1 Makassar, dengan bangga ia bercerita kalau dirinya alumnus SMU yang katanya terbaik se-Sulawesi Selatan itu. Ia juga bercerita tentang prestasinya di cabang olah raga karate dan hobinya nonton sepak bola sampai bergabung dalam organisasi fans klub sepak bola Makassar yang kadang berbuat onar cari perhatian. Semua hanya cerita satu arah. Seperti mendengarkan radio saja. Aku menyimak tanpa komentar sama sekali.


Mobil nenek berhenti di sebuah rumah mewah yang bangunannya tampak tua. Arsitekturnya bergaya eropa klasik dengan ditandai tiang-tiang besar dan tebalnya tembok serta pintu besar yang tinggi. Satpam rumah sempat menghampiri mobil nenek, tapi nenek hanya menyampaikan pesan saja pada penghuni rumah. Tidak mampir.


Seorang berjas dan berdasi rapi datang menyambut dan menyalami kami dengan ramah.


"Selamat siang. Selamat datang, ibu Arifah." Pria setengah baya itu menekuk tangan kanan di dada dengan tubuh sedikit membungkuk hormat.


"Selamat siang. Bagaimana situasi kedai ini pak Tristan? Masih ramai?"


"Alhamdulillah masih ramai, Ibu. Omset relatif stabil walaupun sudah menjamur kedai-kedai kopi baru di sini."


"Bagus. Jangan sampai kalah saing ya!" Nenek menepuk punggung pria itu.


"Siap, Bu."


"Oh iya, pak Tristan. Saya mau kenalkan cucu perempuan saya yang mulai saat ini akan menggantikan posisi saya di kedai ini."


Pria berjas itu sedikit terkejut. Namun dengan cepat ia menormalkan ekspresinya dengan senyum dan gaya santun.


"Namanya Afifa Syarif, anak ke empat dari mendiang putra kedua saya."

__ADS_1


"Ooh anak daeng Syarif rupanya." Pak Tristan langsung tersenyum lebar mendengar nama ayahku disebut.


"Cantik kan?" tanya nenek.


"Pasti. Persis neneknya waktu masih muda." Pria setengah baya itu tertawa renyah.


Basa basi itu menjadi biasa di telingaku. Lama-lama aku menyadari memang ada beberapa kemiripan antara kami. Darah tak bisa berbohong.


Kami dipandu masuk ke dalam ruang khusus VVIP yang pemandangannya langsung menghadap pantai alami yang airnya berwarna biru toscha. Mejanya berasal dari batu marmer besar yang indah dengan buket bunga anggrek di atasnya.


"Ini masih jadi top seller kita bulan ini, bu. Toraja coffe ice cream." Pak Tristan menunjukan salah satu menu andalan kedai ini dengan bangga.


"Yang klasik masih diminati ya, pak."


"Iya, bu."


Nenek menengok ke arahku untuk memberitahukan satu hal penting, "Minuman top seller ini sudah diracik sejak jaman nenek buyut kamu, Fifa."


"Berarti nenek buyut aku juga dong, Nek." Andi menyela cari perhatian sebelum aku merespon ucapan nenek.


Nenek mengalihkan pandangan ke arah Andi dan menunjukan ibu jarinya, "Benar sekali."


"Hebat ya nenek Khadijah. Es krim racikannya bisa laris sepanjang waktu. Benar-benar legendaris."


"Sebenarnya resep Toraja coffe ice cream itu lebih dekat ke gelato daripada es krim. Teksturnya sangat lembut. Protein susunya juga jauh lebih banyak daripada es krim."


Aku sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan nenek. Aku tak pernah makan es krim atau gelato. Tak ada yang buat minuman macam itu di kampungku. Kalau minum kopi campur susu itu ada. Tapi tak dibuat jadi padat dan menarik seperti yang terlihat di gambar dalam buku menu itu.


"Saya boleh pesan gratis kan, Nek."


"Tentu saja. Cucu nenek Khadijah boleh pesan apapun gratis."


"Kalau misalnya ajak teman boleh nggak, Nek?"


"Kau saja yang gratis, teman harus bayar." ucap nenek tegas.


Andi tersenyum simpul. "Yah itu mah biasa. Dari dulu juga Syarif selalu diberi kartu gratis kedai ini. Sekarang boleh beda dong, Nek."


"Tak ada yang beda. Nanti kalau kau sudah menikah dengan Fifa baru boleh membawa teman sebanyak-banyaknya buat makan gratis di sini. Tapi cukup satu kali. Pada saat pesta saja. Nenek tidak mau dibuat bangkrut karena semua orang mengaku temanmu." Nenek tertawa diikuti oleh seluruh penghuni ruangan VVIP itu.

__ADS_1


Aku pun ketularan suasana ceria itu. Keberadaan Andi dengan tingkahnya yang menjengkelkan membuat suasana menjadi hangat dan ceria.


__ADS_2