LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
MAMA MAMA


__ADS_3

Minggu malam aku bersama Salman terbang ke Ternate. Sedangkan mama telah lebih dulu berangkat mengawal Fifi dan seabrek barang belanjaannya terbang ke Makassar. Lepas subuh kami mendarat di Ternate langsung melanjutkan perjalanan dengan kapal cepat menyeberang laut menuju kota Sofifi. Di kota itu kami berpisah. Salman menyewa mobil ke Jailolo. Sementara aku dijemput Hisyam yang sudah diwanti-wanti Bray untuk mengawalku.


"Titip Fifa, kak Hisyam." kata Salman sebelum masuk ke mobil yang disewanya.


"Siap, Kaka. Itu sudah sa punya tugas. Mengantar nona berlian sampai di rumahnya. Ngoni pulang hari jum'at petang kah?"


"Ya. Insya Allah."


"Hati-hati di jalan."


"Ngoni so hati-hati bawa kita punya berlian."


"Lecet lagi. Krek." Salman tertawa sambil memperagakan tangan yang melintas di depan leher.


Salman melambaikan tangannya sebelum mobil sewaannya berjalan meninggalkan kami. Mulai saat itu aku menjalani hari dengan penjagaan yang lebih ketat. Duduk bersamaku di kursi belakang mobil SUV yang membawaku pulang ke kampung seorang satpam perempuan bernama Santi. Dia telah diutus Bray khusus jadi pengawalku. Hisyam duduk menemani supir di kursi depan. Pria ramah itu bersikap lebih kaku padaku. Awalnya kami saling diam. Namun aku kembali teringat obrolanku dengan Bray tentang Arfa. Tak ada salahnya kalau aku mengkonfirmasi berita pada Hisyam yang katanya menanggung malu akibat kasus Arfa yang dituduh mencuri dan melarikan diri dari pulau Obi.


"Kak Hisyam, boleh sa tanya sesuatu?"


"Silakan, Nona."


"Janganlah panggil nona. Sa jengah mendengarnya. Panggil Fifa saja seperti biasanya."


"Mulai sekarang ngoni yang harus membiasakan diri dipanggil nona, sebab sabantar lagi ngoni jadi istri mas Bray."


Aku cemberut. Dia ubah pula panggilan ngana jadi ngoni seperti ingin menunjukan jarak denganku.


"Jangan begitu, kak Hisyam. Kitorang tetap teman."


Hisyam tersenyum tipis.


"Kak Hisyam, kenapa nggak pernah cerita sama Fifa soal kasus Arfa?"


Hisyam garuk-garuk kepala. Terlihat bingung dan canggung.


"Nggak boleh sama mas Bray ya?"


Hisyam nyengir. Tanpa harus bicara, dari ekspresinya aku menafsirkan iya. Mereka punya rahasia yang telah disepakati.


"Mas Bray udah cerita semua kok. Fifa cuma mau dengar versi kak Hisyam."


"Idem."


"Apa yang idem?"


"Apa kata mas Bray, itu yang sa tahu. Tak ada beda."


"Kak Hisyam tak anggap Fifa teman ya?"


"Status Fifa malah lebih dari sekedar teman. Calon istri bos." jawabnya sambil meringis.


"Kak Hisyam ..."

__ADS_1


"Jangan buat posisi kita jadi sulit, Nona. Apa yang diceritakan mas Bray sumbernya kita yang dapat. Jadi su pasti sama saja isinya."


Susah ternyata memaksa Hisyam bersikap normal sebagai teman. Pikirannya sudah terkontaminasi oleh bosnya yang pasti harus dibenarkan. Ada perintah yang dianggapnya sebagai amanah yang harus dijaga sampai mati.


Aku kembali mengerucutkan bibir dan membanting tubuhku di kursi. Hisyam tak peduli. Dalam 5 jam perjalanan darat Hisyam sibuk memantau pekerjaannya lewat gawainya sampai lelah dan tertidur. Kelihatan ia lelah sekali. Kasihan. Seorang field manager perusahaan besar harus membuang waktunya 10 jam bolak balik dalam perjalanan demi memastikan keamanan seorang Fifa yang menolak fasilitas penjemputan lewat jalur udara. Maksudku tak ingin membebani perusahaan karena biayanya mahal, tapi tidak sadar keputusanku justru membenani waktu kerja Hisyam.


Jenuh membuatku turut tertidur dalam perjalanan. Tahu-tahu terjaga saat sudah hampir melewati jembatan terakhir menuju batas kampung kami.


"Kita belok dulu ya, Pak. Sa mau ziarah makam sa punya baba."


Aku kangen baba. Terakhir aku tak cukup puas di makamnya sebab Bray terluka. Sekarang makamnya pasti sudah lebih banyak ditumbuhi rumput liar.


Cukup lama aku berada di makam baba. Santi membantuku menyabuti rumput yang tumbuh di makam baba. Selain berdoa, aku bercerita tentang banyak hal. Bercerita tentang mama dan Fifi yang menemani nenek di Makassar, kembalinya Salman, rencana pernikahan dengan Bray dan penggalan cerita hidupku yang belum sempat kuceritakan pada baba.


"Maaf, kelamaan ya?" kataku pada Hisyam dan supir yang masih sabar menungguku selesai meluapkan rasaku di makam baba.


Sebelumnya mereka sudah kuminta kembali ke kantor saja sebab aku bisa jalan kaki pulang bersama Santi. Rumahku sudah dekat. Toh barang bawaanku tak banyak. Tapi Hisyam dan supir menolak. Kukuh harus mengawal dan memastikan aku aman sampai di rumah.


"Nggak apa-apa, Fifa. Sampai sore pun kami tunggu." ungkap Hisyam seraya tersenyum. Wajahnya terlihat lelah.


"Sa jadi tak enak hati."


Mereka mengantarkanku sampai rumah. Bahkan Santi diperintahkan menemaniku di rumah. Sebelumnya gadis itu sudah lebih dulu datang membawa pakaiannya dan membersihkan rumah.


"Ngana yang bersihkan rumah ya, San?"


"Iya, Nona."


"Pak Hisyam."


Tidak hanya bersih. Di rumahku juga ada barang-barang baru yang tak ada sebelumnya seperti kulkas dan kompor gas.


"Ini kulkas sapa punya?"


"Nona punya."


"Sa piki ngana yang bawa kulkas ke mari."


"Pak Hisyam yang beli atas perintah pak Firdaus."


Tak ada yang kulakukan selain berkata "Oooh." Ya sudahlah. Diterima saja. Tak ada guna komplain pada Bray dan Hisyam. Percuma. Keduanya pasti tak menganggap ini masalah sepele yang patut ditanggapi.


Berkah dari adanya orang yang mengurus rumah, barang elektronik baru dan kabar kalau mama dan Fifi kini tinggal di Makassar membawa efek baru bagi mama-mama rempong yang suka berkumpul di sebelah rumah. Mendadak mereka jadi baik dan super ramah menghampiri rumahku yang sudah tidak ada aviary di halamannya. Aviary itu sudah dipindah ke depan kantor yayasan khusus untuk tempat tinggal Aga.


"Pulang sendiri, kak Fifa? Fifi dan bu Mala pindah ke Makassar ya?"


"Iya. Fifi pindah sekolah di sana. Menemani nenek."


"Tarada titipan oleh-oleh buat kami kah?" todong mama Hiya sambil celingak celinguk dengan senyum sedikit malu.


"Maaf, mama mama. Sa tak sempat beli oleh-oleh. Mau apa? Nanti akan dikirim mama dari Makassar dengan jasa paket pengiriman." tawarku basa basi.

__ADS_1


Tak kenal basa basi mama mama itu langsung mengajukan permintaan.


"Sa mau minyak tawon yang tutup putih, kak Fifa. Babanya Hiya encoknya sering kumat. Minyak tawon asal Makassar itu obat paling mujarab."


"Sa juga mau minyak tawon tutup putih."


"Sa mau kue bagea."


"Sa mau sirup markisa."


"Sa mau kopi Toraja, kak Fifa. Kata babanya Tori kopi Toraja tak ada lawan."


Apa? Banyak sekali permintaan mereka. Tapi baiklah. Akan tetap aku catat agar dapat dikirim segera lewat paket jasa pengiriman tercepat. Aku sedang ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka karena hari ini urusanku dimudahkan Tuhan dan mereka telah bersikap ramah padaku.


"Su kita catat semua permintaan mama dan su kirim pesan ke nomor Fifi. Mama mama silakan tunggu 2 atau 3 hari lagi. Mudah-mudahan pesanan su sampai semua di sini."


Mama mama itu berteriak girang, mengucapkan terima kasih walau pesanannya belum terlihat mata. Aku ikut tersenyum. Hari ini indah. Aku baru merasakan perbedaan perlakuan mereka. Entah karena sadar dan merasa kehilangan kami sebagai tetangga atau karena hal lain. Aku tak peduli apa alasannya. Ketika mereka bersikap baik, aku juga harus baik. Hari ini aku tertarik bergabung dengan mereka untuk mendengar kabar dan gosip yang beredar di kampung. Walau kebenarannya harus diuji, tapi barang kali ada informasi awal tentang keberadaan Arfa.


"Keluarga Deya pindah ke Weda, Fifa. Gara-gara malu tak jadi nikah dengan Arfa. Hutangnya semua sudah dibayar lunas waktu Arfa pulang bulan lalu." Mama Hiya mulai bergosip.


Ini informasi penting buatku. Kudengarkan saja tanpa menanggapi.


"Mama papa Arfa bilang Arfa hanya pulang sehari lalu kembali ke pulau Obi. Tapi belakangan ada polisi yang mencari Arfa. Kabarnya dia dituduh mencuri dan melarikan diri dari pulau Obi."


"Benarkah?" Beberapa mama tampak terkejut namun ada yang bereaksi biasa saja.


"Mungkin dia mencuri buat bayar utang keluarganya." timpal yang lain sinis.


"Arfa itu memang tidak kembali ke pulau Obi. Sa yakin dia mengembara masuk hutan karena kecewa sudah terlanjur bayar utang tapi Fifa tak ada. Fifi selalu bilang Fifa dijodohkan nenek di Makassar."


"Benar itu. Arfa tidak kembali ke pulau Obi. Papanya Tio pernah pergoki dia sedang jual damar di cukong."


Silih berganti mama mama itu bicara. Aku mendengarkan saja dengan seksama. Kutampung semua informasi. Benar atau salahnya perlu ditinjau kembali. Informasi ghibah campur gosip seperti ini tak kan pernah kudapat dari Bray atau Hisyam. Memang bukan berita faktual. Setidaknya rasa penasaranku akan kabar Arfa sedikit terobati mendengar cerita mereka. Rupanya berita tentang Arfa sedang viral di kalangan mama-mama kampung.


"Dengar-dengar Arfa dicari polisi karena dituduh memanah tuan Firdaus. Papa Key mengaku berpapasan dengan orang yang mirip Arfa dan temannya di ujung jalan kampung naik honda yang sama pada hari kejadian."


Aku terkejut. Menatap mama berambut pendek yang membawa berita mencengangkan. Inikah informasi yang masih disembunyikan Bray dariku? Arfa yang diduga polisi memanah Bray. Aku mencoba mengingat-ingat pemotor yang memanah Bray pada hari itu. Postur tubuhnya sekilas memang mirip Arfa.


Tapi apa alasan Arfa memanah Bray? Kalau memang benar itu Arfa, mungkinkah dia juga yang membunuh baba? Oh, rasanya tidak. Pasti bukan Arfa. Tak ada motif Arfa buat membunuh baba yang sama sekali tak pernah punya masalah dengannya. Apalagi Arfa belum dewasa waktu itu dan tak punya keahlian meracik racun. Bukan. Bukan Arfa yang membunuh baba.


"Ngana pernah bertemu Arfa, Fifa?" tanya salah seorang mama mengembalikan perhatianku kembali.


"Tara." jawabku pasti.


"Arfa pasti kecewa pe ngana karena pilih bos tambang itu."


"Eh jangan bicara begitu mama Je. Kita kalau jadi Fifa su pasti pilih tuan Firdaus daripada Arfa. Tak ada bagusnya itu Arfa. Bukan cuma orang tuanya yang banyak utang. Dia juga jadi buronan polisi."


"Manalah mungkin Arfa dibandingkan dengan tuan Firdaus. Bagai langit dan bumi." Mama Hiya terkekeh dengan nada meremehkan.


"Kami dukung ngana menikah dengan tuan Firdaus saja. Supaya kampung kecipratan berkahnya."

__ADS_1


"Sudah. Sudah. Ini waktunya anak sekolah pulang. Ayo kita jemput ke sekolah. 3 hari lagi kita tunggu oleh-oleh yang dijanjikan Fifa. Mari, Fifa. Kita permisi jemput anak ke sekolah dulu."


__ADS_2