
Melihat ekspresi putus asa Jim, aku tak bisa berharap banyak pendanaan CSR dari perusahaan ini. Bray sendiri dalam masalah karena keputusannya tak sepakati semua pemilik saham dan sampai saat ini belum ketahuan akhir ceritanya akan seperti apa. Aku tak mengerti mengapa Jim yang seorang pria lebih sentimental daripada aku. Mungkin tekanan yang dirasakannya jauh lebih berat atau aku yang telah terbiasa menjalani kesederhanaan hidup yang penuh tekanan dan ketidakpastian.
Esok harinya selepas mengurus aviary dan ternak, aku berangkat ke kantor yayasan yang sebenarnya masih dalam tahap pembangunan. Progres pembangunannya baru selesai 85%. Jangan dibayangkan kantor itu besar dan berfasilitas mewah layaknya kantor PT XY. Kantor yang dimaksud adalah bangunan seluas 150 m2 yang pondasinya terbuat dari batu kali dan bagian dinding bawah setinggi semeter merupakan tembok bata tanpa plester. Dinding bagian atasnya terbuat dari kayu mahoni. Sementara atapnya terbuat dari rangka besi holow yang ditutup anyaman daun kelapa dan dialasi dengan terpal warna biru. Memang aku yang meminta kantor sesederhana itu agar anggarannya lebih hemat.
Sebagian area kantor akan jadi tempat tinggal bagi sepasang suami istri dokter hewan yang juga pencinta burung. Sang suami kebetulan mendapatkan tugas kedinasan di pusat kesehatan hewan (puskeswan) kecamatan. Sementara sang istri akan menjadi dokter hewan di yayasan Bidadari Halmahera ini.
"Halo, dokter Fahira. Saya Fifa."
"Halo juga, Bu eh mbak eh kak. Aduh bingung saya jadi manggilnya apa ya biar enak. Mbak Fifa masih muda sekali ternyata." Dokter Fariha agak gelagapan dan canggung. Bingung mesti menyapaku dengan sebutan apa. Tak menyangka kalau pimpinan yayasan yang akan menjadi tempatnya bekerja cuma anak bau kencur.
"Panggil Fifa aja, Dok."
"Tapi ..."
"Tidak ada hierarki, Dok. Status kita sama. Malah Fifa yang harus belajar banyak dari dokter yang pastinya lebih senior, pintar dan berpengalaman."
Dokter Fahira tersenyum manis meski masih terlihat sisa kelelahan di wajahnya. Perjalanan jauh untuk mengikuti suami yang bertugas di wilayah pedalaman pasti sangat berat.
"Dokter Hans sudah berangkat dinas?"
"Sudah sejak pagi tadi. Hari ini mungkin beliau akan pulang setengah hari karena masih dalam tahap perkenalan hari pertama."
"Bagaimana perjalanan dari Semarang ke sini? Capek?"
"Lumayan."
"Maaf ya, Dok. Rumahnya sederhana dan masih dalam tahap finishing."
"Nggak apa. Ini juga sudah nyaman ditinggali. Yang penting penerangan dan air sudah siap."
__ADS_1
Aku melihat suasana sekeliling rumah yang berdampingan dengan kantor yayasan. Dibandingkan dengan rumah-rumah di Jawa yang pernah kulihat di TV, rumah ini tampak kurang layak. Apalagi untuk tempat tinggal orang berpendidikan tinggi seperti mereka. Aku jadi sedikit merasa bersalah telah menyesuaikan desain awal dengan kondisi rumah-rumah warga sekitar yang mayoritas memang terbuat dari kayu. Maksudku waktu itu adalah biar tampak alami dan tak berbeda dengan rumah-rumah warga di wilayah kami.
"Rumah-rumah di Jawa pasti bagus-bagus ya. Maaf kalau kondisi rumahnya dibawah ekspektasi. Semoga saja dokter akan betah tinggal di sini."
Dokter hewan muda itu tersenyum, " Yang bikin betah bukan bagaimana rumahnya, Fifa. Tapi suasana hati dan lingkungan yang nyaman." jawabnya bijak.
Aku sedikit lega mendengar jawabannya walaupun belum sepenuhnya yakin orang Jawa yang terbiasa hidup dengan fasilitas lengkap akan betah tinggal di pinggir hutan nun jauh dari pandangan mata dunia. Apalagi tanpa sanak kerabat.
"Semoga dokter merasa nyaman di sini." harapku tulus. Aku berusaha mengusir raguku sendiri dengan senyum.
Dokter Fahira mengaminkan.
"Oh iya, burungnya mungkin baru tiba lusa bersamaan dengan supir dan asisten rumah tangga kami sebab mereka berangkat lewat jalur laut dari pelabuhan Tanjung Mas. Besok kami akan jemput mereka di Sofifi."
Hm, pasangan ini ternyata punya supir dan asisten rumah tangga? Aduh berat juga beban yayasan mempekerjakan orang profesional dari Jawa. Ternyata ia membawa serta 2 orang pekerja yang membantu keluarganya. Kayaknya sulit mengharapkan mereka bisa bekerja pro bono kalau misalnya nanti kondisi penerimaan dana yayasan lebih buruk daripada rencana anggaran awal. Duh, bagaimana ya? Belum melangkah sudah dibuat pusing dengan pendanaan.
Aku mengangguk-angguk padahal tak ikut campur soal penjemputan itu. Jangankan menjemput, sampai saat ini aku belum pernah melihat bagaimana rupa bandara itu. Hanya pernah dengar namanya saja. Anak kampung macam aku paling jauh aku hanya pergi ke kota kecamatan saja.
Tampaknya kak Hisyam menggunakan mobil kantor PT XY untuk memfasilitasi kedatangan pasangan dokter hewan ini. Tadinya aku berpikir mencari tenaga sukarelawan dari sini saja agar biaya mobilisasinya murah. Tak perlu harus dokter hewan. Tapi Bray memaksa menerima usulan agar menerima lamaran dokter Fahira dengan pertimbangan keluarga mereka punya pengalaman membiakan burung paruh bengkok dan suaminya yang memiliki profesi yang sama. Ditambah kebetulan sang suami ditempatkan sebagai tenaga dokter hewan di pusat kesehatan hewan wilayah kami. Aku tak punya alasan menolak pertimbangan itu sebab dokter Fahira telah setuju dengan gaji yang telah dianggarkan. Di luar itu aku tak mengira kalau mereka akan membawa serta asisten rumah tangga, supir dan mobil pribadinya. Informasinya baru aku dapatkan hari ini.
Aku ingat betul saat Jim menyerahkan draf kontrak kerja dokter Fahira padaku. Jumlah gajinya sesuai anggaran dengan masa percobaan 6 bulan kerja. Aku menurut saja sebab sesuai komitmen kerjasama kami, PT XY akan mendanai seluruh biaya operasional yayasan tahun pertama. Waktu itu aku sama sekali tak mengira akan ada konflik internal perusahaan yang berimbas pada masalah pendanaan yayasan. Sekarang masalah itu membuatku cemas. Sementara Bray yang mencetuskan ide dan merencanakan semua ini justru tenggelam dengan masalah pribadinya bersama nenek sihir itu. Jangan jangan sekarang dia sedang asyik cinta cintaan dengan tunangannya itu.
Hufh. Kuhembuskan nafas yang menyekat dadaku sambil memejamkan mata sesaat. Tentu saja aku tak boleh menunjukan kecemasanku di hadapan dokter Fahira.
Sabar, Fifa. Jalani saja semampumu. Hempas semua pikiran burukmu. Jangan takut melangkah selama yang kau kerjakan adalah kebaikan.
Aku terus memotivasi diriku sendiri dan berdoa dalam hati.
"Saya mulai aktif bekerja 3 hari lagi ya, Fifa. Perlu waktu buat membereskan barang-barang dan membiasakan jagoan kecil saya dengan situasi di sini."
__ADS_1
"Santai, Dok. Burung di aviary masih sedikit sekali jumlahnya dan kondisinya sehat. Lagipula sudah ada pak Koli yang merawat aviary sehari-hari. Rencananya nanti teman dari BKSDA akan datang menitipkan 2 pasang burung kasuari hasil sitaan polisi hutan."
"Kondisinya sehat?"
"Agak stres, tapi katanya secara fisik normal dan tidak ada luka."
"Syukurlah."
Melihat anak balitanya yang masih rewel, aku memutuskan pamit meninggalkan dokter Farhana. Beliau masih membutuhkan penyesuaian. Aku urung mengajaknya diskusi mengenai rencana kerja jangka pendek. Selanjutnya aku kembali mengayuh sepeda ke belakang kantor menuju aviary raksasa yang berukuran 30 x 30 x 5 meter. Sudah ada beberapa kandang besi untuk penangkaran dan tempat perawatan burung yang sakit di dalam aviary itu. Ada juga panggung untuk tempat pengamatan burung.
"Bagaimana hari ini pak Koli?" tanyaku pada pria berkulit coklat yang direkrut menjadi penjaga aviary. Dia sedang menanam beberapa pohon perdu di sekitar kolam yang berisi ikan lele dan ikan nila.
"Baik, Fifa. Lihatlah wake-wake yang baru saja ngana bawa sudah hinggap di atas pohon mangga."
Aku menengok ke arah yang ditunjukan pak Poli. Kulihat sang bidadari halmahera jantan tengah berkicau dengan suara yang panjang namun serak, "krakka kak kaaaak," Tampaknya ia masih menyesuaikan diri dengan aviary raksasa yang di dalamnya terdapat lebih banyak pohon-pohon tinggi. Suasananya tak jauh berbeda dengan habitatnya dalam hutan Lolobata. Ada pohon tinggi yang memang sudah tertanam bertahun-tahun seperti ulin, sengon, damar dan kenari. Ada pohon buah-buahan yang baru ditanam sebagai pelengkap seperti pohon mangga, klengkeng, pisang dan pepaya. Berry hutan, rumput liar dan tanaman perdu yang berada dibawahnya dibiarkan tumbuh begitu saja. Beberapa jenis serangga sengaja dilepas agar berkembang biak di dalam aviary. Selain mengurus aviary, Pak Koli juga bertugas beternak larva dan ulat untuk sumber makanan beberapa jenis burung.
Sementara sang bidadari halmahera betina berbulu coklat aprikot. Penampilannya sangat sederhana. Burung itu berada di semak-semak sedang mematuk-matuk serangga. Jantan dan betina beraktivitas sendiri-sendiri.
Pandanganku beralih kepada bidadari halmahera jantan yang ditakdirkan memiliki bulu indah mempesona. Apalagi burung ini memiliki sepasang bulu putih panjang di bagian sayap yang bila digerakkan naik turun menambah pesona dan keunikan burung ini. Entah kenapa bayangan Bray melintas di kepalaku. Pria berambut lurus itu memiliki penampilan dan senyum yang selalu memukau layaknya bidadari halmahera jantan.
"Krak kraaakkkk kaakkk."
Sang bidadari halmahera dengan angkuh bernyanyi untuk membuat seluruh dunia terpukau oleh pesonanya. Persis seperti Bray kalau sudah bicara. Perhatian semua orang tertuju padanya. Isi pembicaraan terdengar manis dan menawarkan harapan. Tanpa sadar lawan bicaranya terpukau lalu akhirnya menyesal sebab merasa dimanfaatkan. Setidaknya itulah yang kurasakan sekarang. Sendirian menanggung beban mengurus yayasan yang baru saja dibentuk seperti bayi yang ditinggalkan induknya. Padahal Bray pencetus ide yang akan menerima manfaat langsung adanya program ini.
Sedang apakah dia sekarang? Mengapa tidak pernah menghubungiku untuk sekedar bertanya apakah aku baik-baik saja? Bukankah ia janji akan datang untuk menyelenggarakan perayaan kecil setelah aviary dan kantor ini terbangun? Di mana dia? Mana tanggung jawabnya?
Ternyata begitu mudah janji dilupakan semudah sang bidadari halmahera jantan berpaling kelain hati setelah selesai memadu cinta dengan seekor betina yang terjebak pesonanya. Begitulah logika dunia. Makhluk yang berpenampilan menarik seringkali bukan tipe makhluk yang setia. Satu-satunya lelaki menarik dan setia sampai akhir hayat hanya baba seorang. Tak ada selain baba.
Baba ... Fifa kangen
__ADS_1