
Kami tak mendapatkan kendala berarti di kantor polisi. Dengan menyebut nama Firdaus Sanjaya semua urusan dipermudah. Arfa dan temannya bersedia menemuiku di ruang khusus dengan ditemani beberapa orang anggota polisi.
Aku tak ingin bicara. Bahkan sudah tak ingin bertemu lagi dengan Arfa. Jijik dan benci. Aku tak mau menatap pria hitam manis dengan rambut ikal dan berantakan itu.
"Maaf, Fifa! Sa menyesal telah menyembunyikan informasi soal kematian baba."
Arfa mengulurkan tangan dan memohon maaf. Aku tak menyambutnya. Malah melipat tangan di dada dan memalingkan wajahku darinya.
"Fifa..."
"Tak perlu minta maaf. Sekarang kita tak berteman lagi." kataku tegas dan lantang. Aku hanya ingin bicara kalimat itu saja. Cukup. Selebihnya aku akan mengunci mulut.
Hatiku terlanjur berdarah-darah. Lukanya tak bisa terobati lagi. Dua hari yang lalu aku masih memberi kesempatan Arfa untuk mengakui kesalahan dan menyerahkan diri ke polisi. Sekarang tidak. Sudah terlambat. Apalagi nyata-nyata dia telah bersekongkol dengan pembunuh baba. Tak ada kejahatan yang lebih kejam daripada pengkhianatan pada sahabat sendiri.
Rasakan akibatnya. Kamu telah menantang Bray dengan berkeliaran dekat rumahku menjelang pernikahan kami.
"Sa cuma mau bilang sa bukan pembunuh baba Syarif."
"Kamu sama jahatnya dengan pembunuh, Arfa. Kamu ambil keuntungan dari menyembunyikan pelaku kejahatan tanpa memikirkan bagaimana perasaan keluarga kami. Terutama Fifa, sahabatmu sendiri." Salman bicara dengan tegas sambil menuding ke arah Arfa.
Arfa menunduk. Tak berani menatapnya.
"Tega kamu melihat sahabat menderita dan sedih selama bertahun-tahun demi melindungi penjahat itu. Dimana hatimu, Arfa? Dimana? Kamu dapat pekerjaan dan uang sebagai penukar pengkhianatanmu pada keluarga kami."
Darahku naik ke ubun-ubun. Tangis dan marahku mengendap semua hingga kepalaku terasa mau pecah. Ingin rasanya keluar dari ruangan tapi Salman menaruh tangannya di pahaku. Ia memintaku bersabar sampai informasi yang ingin diketahuinya tuntas.
"Sa minta maaf kak Salman. Sa mengaku salah."
Salman mencibir.
"Waktu itu sa kebetulan lewat ladang baba Syarif. Sa lihat baba dipanah. Sa mau tolong baba. Sa suda berlari cepat panggil orang-orang kampung. Tapi baba memang sudah tak bisa ditolong sebab panah yang menancap di dadanya beracun. Tak ada orang yang bisa tolong." cerita Arfa dengan wajah memelas.
Perih hatiku dipaksa mengenang lagi saat jenazah baba dibawa pulang. Babaku pergi ke ladang dalam keadaan bugar diantar pulang sudah jadi mayat yang bersimbah darah. Aku sadar itu sudah takdir dan jalan kematian baba. Aku sudah berusaha ikhlas. Aku sangat menyayangkan ketidakjujuran Arfa dan tindakannya mengambil keuntungan dari statusnya sebagai saksi mata kejadian itu. Dia dapat pekerjaan karena tutup mulut dan melindungi kejahatan pelaku selama bertahun-tahun. Padahal dia tahu bagaimana lukanya hatiku saat itu. Dia tahu seberapa kerasnya aku berusaha menghidupkan baba dalam hatiku. Parahnya belakangan ia justru bergabung dengan orang bayaran untuk melakukan kejahatan yang sama pada Bray, suamiku.
"Kenapa kamu tak lapor polisi kalau tahu siapa pemanahnya."
"Kantor polisi so jauh, Kaka. Waktu itu tak ada warga kampung kami yang punya kendaraan. Bapa kepala kampung bilang tak usah lapor polisi karena lapor polisi butuh uang banyak. Kita tak punya uang. Tapi sa tetap pigi cari pemanah itu sendiri karena kasihan Fifa sedih terus. Bertemulah sa dengan dia."
Pandangan Salman beralih pada lelaki setengah baya yang ditunjuk Arfa. Wajahnya tampak kuyu dan dingin.
"Sa cuma menjalankan perintah nyonya Marlina dan tuan Hendrawan." jawab pria kumal itu datar. Tanpa rasa bersalah.
Salman memperhatikan orang itu dari ujung kepala sampai batas yang dapat dilihatnya. "Kamu kelihatannya orang asli sini. Bagaimana kamu kenal dengan nyonya Marlina, istri daeng Hasan?"
"Sa punya teman orang Bugis. Dia diutus keluarga daeng Syam untuk mencari anak kandungnya yang tinggal di kampung pedalaman sekitar hutan Lolobata. Dia menyebut orang yang dicarinya dengan sebutan daeng Syarif. Padahal di sini tak ada sebutan daeng. Kita pernah bertemu dengan daeng Syarif sebelum teman itu meninggal di puskesmas karena sakit malaria. Waktu itu daeng Syarif masih tak mau pulang. Tak punya ongkos dan berkeras tak mau menerima bantuan dari siapapun untuk pulang ke Makassar. Beberapa hari setelah kematian sa punya teman, datang anak nyonya Marlina yang bernama Gufron dan seorang bapa muda yang ternyata selama ini memata-matai sa punya teman. Di situ awal sa bisa kenal mama dan anak itu."
__ADS_1
Orang yang mengaku aktivitas kesehariannya berburu binatang di hutan itu kemudian dibayar untuk mengabarkan sesuatu tentang baba. Semula yang diminta hanya informasi tentang aktivitas keseharian baba saja. Sampai suatu ketika ada orang yang memberinya racun dan memerintahkan untuk merendam anak panahnya dengan cairan racun itu. Orang itu memberi uang banyak untuk memanah baba. Ada tambahan bayaran lagi setelah berhasil menuntaskan tugasnya.
"Kamu kenal dengan orang itu?"
"Sebelumnya tidak kenal. Tapi setelah operasional PT XY berjalan sa tahu dorang bekerja di sana."
"Kenapa bapak mau disuruh menghilangkan nyawa orang lain?"
"Karena bayarannya besar. Kerja berburu di hutan tak pernah dapa sebesar itu."
"Kamu bilang yang mengajari racun dan membayar kamu itu karyawan PT XY. Darimana kamu tahu kalau dalangnya adalah Marlina dan Hendrawan?"
"Sa pernah tak sengaja dengar percakapan mereka."
"Mereka itu siapa?"
"Karyawan PT XY yang sekarang sudah dipecat oleh direktur muda yang mau dibunuh itu."
"Apakah mereka orang yang sama dengan yang menyuruh kamu memanah Firdaus Sanjaya?"
"Ya. Sapa lagi yang suka suruh kita bagitu. Orang sini tak ada wang."
Aku ngeri mendengar orang itu bicara datar tanpa ekspresi takut atau merasa bersalah. Semua pernyataan Salman dijawab seenaknya.
Salman mengalihkan pandangannya pada Arfa. "Kamu kenal orang yang dimaksud?"
"Mereka berada di tempat terpisah?"
"Setahu saya begitu."
Salman memandang polisi yang berjaga memohon pendapat atau penjelasan.
"Kami sedang kerjasama dengan polisi setempat untuk memanggil yang bersangkutan, pak Salman."
"Apakah penyelidikan bisa dikembangkan?"
"Sulit. Kasus kematian bapak Ahmad Syarif sudah terlampau lama dan tidak ada laporan ke pihak kami. Tidak ada bukti otopsi atau visum. Berdasarkan kecukupan bukti sementara yang bisa diproses hanya kasus percobaan pembunuhan bapak Firdaus Sanjaya." Polisi muda itu menjawab dengan sopan.
Ternyata masalahnya tidak semudah ringkasan cerita yang kudengar. Kasus baba masih mengambang. Sudah terlalu lama untuk diusut dan digali kembali. Pelaku utama tidak secara langsung memerintahkan eksekutor. Bukti sudah tidak ada. Jasad baba pun sudah menyatu dengan tanah.
Pengakuan Arfa dan temannya saja tidak cukup menjadi bukti untuk menjerat pelaku utama yang telah menghilangkan nyawa baba. Biar Tuhan saja yang membalas. Pengadilan Tuhan jauh lebih adil daripada pengadilan manapun di muka bumi ini.
"Waktu berkunjung su habis. Kalian harus kembali ke tahanan." Polisi meminta kedua tersangka ke luar dari ruang khusus tempat pertemuan kami.
Arfa masih sempat menoleh ke arahku dan memohon, "Maaf, Fifa!"
__ADS_1
Aku melempar pandanganku ke arah lain. Kata maaf sudah tak berguna lagi mengobati rasa kecewa dan sakit hatiku.
Salman menepuk pundakku, "Kita pulang. Kasus baba sulit diusut. Kita hanya bisa ambil satu kesimpulan, harus lebih hati-hati pada Gufron dan ibunya."
Kalau itu aku sudah tahu. Sejak pertama kali menginjakan kaki di Makassar keduanya acuh padaku. Aku juga menyimpan bukti kelicikan Gufron dalam hal keuangan selama mengelola perkebunan. Aku belum sempat menceritakan kasus itu pada Salman karena aku tak mau ribut membahas kasus ini. Aku yakin paman Hasan tak berdaya diperalat istri dan anaknya. Semua harta warisan kakek ingin dikuasai mereka. Meskipun dengan cara keji menghilangkan nyawa saudara sendiri. Bersyukur masih ada nenek yang adil dan bijaksana. Perempuan lanjut usia itulah yang gigih memperjuangkan keadilan buat semua keturunannya.
"Perkebunan harus dipantau terus, Kak. Gufron hampir saja menjual perkebunan hak keluarga kita dengan alasan rugi dan cashflow negatif. Padahal dia yang curang mengambil uang perkebunan untuk investasi pribadi."
Salman melotot, "Kenapa kamu baru bilang sekarang?"
Mata Salman hampir copot. Wajahnya penuh bara api. Aku takut api amarahnya membakarku. Begitulah aku. Ketika emosi membajak otak, aku tak bisa berkata-kata. Semua memori verbalku lenyap. Tak mampu bicara.
"Kamu ada bukti?"
"A a ada." jawabku gugup.
"Kita harus tuntut Gufron." pekik Salman bersemangat. Wajahnya masih merah padam.
Aku mengisi paru-paruku dengan lebih banyak oksigen agar dadaku tidak sesak. Tarikan nafas panjang dan hembusan yang dalam sedikit membantuku untuk lebih tenang.
"Jangan! Kasihan paman dan nenek. Kakak ajak dia bicara baik-baik sebagai saudara. Kita beri kesempatan Gufron buat memperbaiki diri. Tak ada guna melanggengkan dendam. Baba pasti tidak mau anaknya bersengketa masalah harta dengan saudaranya."
"Tidak bisa. Dia sudah membunuh baba, Fifa. Baba salah apa? Kita punya dosa apa sama dia? Hah? Seumur hidup kita mengalah hidup seadanya tanpa bantuan kakek yang kaya raya. Pengorbanan keluarga kita sudah terlalu banyak sampai nyawa baba harus diambil paksa. Aku tidak terima baba dan keluargaku diperlakukan begini."
"Kita tak punya cukup bukti buat menuntut soal kematian baba. Pengakuan Arfa dan orang tadi saja tak cukup. Kukira teman Arfa yang tadi pasti menderita gangguan jiwa."
"Kita bisa menuntutnya dengan bukti penyelewengan uang perusahaan kita. Dia sudah terlalu jahat. Pokoknya dia harus mempertanggungjawabkan kejahatannya. Tidak bisa tidak."
Aku terpaku. Ngeri Salman yang meledakkan marahnya.
"Dimana kamu taruh bukti itu?"
Aku diam.
"Dimana, Fifa?" bentaknya lebih keras.
Aku harus mengambil nafas panjang dulu baru bisa bicara,
"Di dalam safe box bank swasta di Makassar."
"Kita harus segera ambil bukti itu."
"Jangan, Kak! Bicara dulu baik-baik. Kalau tak ada titik temu baru lapor yang berwajib."
"Tidak. Hari ini juga aku akan ijin Firdaus membawamu ke Makassar."
__ADS_1
Aduh, bagaimana ini? Kutepuk dahiku sambil meringis. Salah aku juga. Keceplosan. Seharusnya kusimpan saja rahasia itu. Aku tak mau saudaraku bersengketa. Kasihan nenek. Beliau pasti sedih kalau cucunya bersengketa.