
Tantangan dan kesempatan selalu datang bersamaan jadi teka-teki dalam hidup. Aku tak pernah berencana membeli kebun kelapa seluas ini yang akhirnya memaksaku membuka usaha perkebunan di kampungku sendiri. Sungguh. Bermimpi pun tidak. Kini aku memiliki usaha sendiri yang mesti dirintis dari awal. Bukan warisan. Walau uang yang kugunakan untuk investasi besar itu berasal dari usaha nenek mendapatkan ganti rugi dari keluarga Maudy. Pemulihan wajahku tak perlu dana sebanyak itu. Meski terbilang mahal untuk ukuran orang pedalaman, tapi cukup dilakukan di klinik kulit dan kecantikan dalam negeri. Hasilnya pun tidak mengecewakan untuk standar perempuan sederhana yang lebih menghargai sesuatu yang natural seperti aku.
Awalnya aku hanya bertindak spontan karena risih mendengar keluhan petani yang terjebak dalam kehidupan berbasis uang pada masa harga komoditas yang rendah. Mereka tumbal sistem perkebunan masyarakat monokultur yang rentan gagal bila diterapkan pada sistem perkebunan tradisional dengan harga pasar komoditas yang dikendalikan oligarki di pasar internasional. Bukan mauku membeli lahan mereka. Menjadikan mereka buruh juga bukan kehendakku, melainkan keinginan mereka sendiri.
"Istriku hebat." puji Bray ketika tahu keputusanku itu.
Entah dari mana letak hebatnya. Bagiku menjadi istri direksi perusahaan terbesar di daerah pedalaman adalah beban. Semua warga kampung berharap bantuanku. Bukan hanya meminta beras atau sagu untuk makan sehari-hari tapi memindahkan beban hidup mereka di pundakku. Coba saja bayangkan saat harga komoditas kopra sedang jatuh, aku tetap harus bayar gaji pekerja yang mengelola kebun yang kubeli. Sudah pasti panen pun tak cukup buat nombok.
"Kamu beruntung dapat bisnis spontan, Sayang. Ini pasti rejekinya si dede. Perkebunan kelapa bisnis menjanjikan kok. Aku yakin." Bray hadir dengan senyum bijak membesarkan hatiku yang ragu dengan keputusanku sendiri.
"Aku tak sepenuhnya yakin."
"Harus yakin, Sayang. Kamu harus segera buat ijin usaha perkebunan dan mengurus legalitas status kepemilikan tanahmu. Jim akan dengan senang hati bantu kamu."
Jim memang baik dan dapat diandalkan. Masalahnya aku belum sepenuhnya yakin membuka bisnis sendiri begini.
"Mereka jual kebun karena harga kopra jatuh. Hasil panen tidak cukup buat biaya pengolahan dan kehidupan mereka sehari-hari. Bagaimana bisa untung?" sanggahku bingung.
"Mereka rugi karena berkebun di bawah skala ekonomis. Kebun kamu kan luas dan Salman mendirikan pabrik pengolahan kelapa. Kalian bisa olah kelapa dengan konsep "zero waste". Artinya semua hal tentang kelapa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis. Berbeda dengan petani tradisional yang hanya mengandalkan pendapatan dari menjual kopra saja. Sabut dan batok kelapa dibakar untuk pengasapan dan limbahnya dibiarkan begitu saja tanpa nilai."
Secara konsep Salman telah menerangkan panjang lebar tentang bagaimana mengelola kebun kelapa secara intensif yang menghasilkan lebih sedikit sampah. Nilai ekonomis produk pun lebih tinggi. Tapi itu baru sekedar konsep. Prakteknya aku siapa yang bisa jamin.
"Kalau harga jual kopra di pasar internasional tidak berubah kan sama saja. Yang ada aku harus selalu keluar uang untuk bayar gaji pegawai." keluhku.
"Yakinlah! Meski tipis, pasti masih ada untung kalau dikelola intensif. Lagipula suatu saat ada masanya harga komoditas naik lagi. Selain berusaha, kita harus berdoa supaya tangan Tuhan mendorong semesta mendukung kita."
__ADS_1
Aku mengangguk. Malas berpikir. Terserah nanti. Toh tak ada beban sama sekali dalam hidupku apakah usaha itu akan untung atau rugi. Uang yang kugunakan untuk investasi adalah uang nganggur yang aku sendiri tak tahu buat apa. Dengan kehidupan kami yang tergolong minimalis, penghasilan Bray jauh dari cukup. Banyak lebihnya. Kelebihan penghasilan kami digunakan untuk membiayai operasional yayasan konservasi burung, bersedekah dan menambah tabungan. Gaya hidupku begitu begitu saja. Tak berubah. Bray pun ternyata hidup dengan sederhana. Tak ada kemewahan di rumah mungil kami. Namun hati kecilku mengakui usaha baru ini menambah rasa percaya diri. Setidaknya aku merasa bangga dihargai dan dielukan sebagai 'dewa penolong' bagi banyak warga kampung di tengah kesulitan.
Bray bukan tak pernah mengeluh tentang hidup kami yang relatif stagnan. Dia menunda bahkan melewatkan beberapa pertemuan bisnis karena menemaniku yang rewel dan perasa.
"Kamu tak mau bulan madu atau pergi ke suatu tempat yang berbeda, Sayang? Kehamilan kamu sudah masuk tri semester kedua. Kayaknya dede cukup kuat buat diajak traveling. Aku sih kepikiran karena kamu masih takut matahari akhir bulan ini cocok kalau kita pergi ke negeri malamnya lebih panjang dari siang."
"Maksud mas ke kutub utara?" tanyaku spontan sambil menatap wajahnya yang berseri.
Bray tersenyum. Tangannya merangkum tubuhku lalu memanduku agar duduk berdampingan dengannya di sofa.
"Kapan sih kamu berhenti takut matahari?"
Aku mengerucutkan bibir yang langsung disapu dengan telapak tangan Bray sambil tersenyum. "Nggak tahu." jawabku ketus.
"Aku ada urusan bertemu kolega bisnis di Canada minggu depan. Bagaimana kalau kita pergi melihat fenomena polar night di Canada? Di sana ada kota yang namanya Inuvik memiliki malam yang panjang dikala musim dingin dari 6 Desember sampai 5 Januari."
"Rumah ini mau direnovasi sedikit dengan menambahkan kamar buat tamu dan dede. Kalau perjalanan ke Canada masih berat buat kamu dan dede, kita ke Jakarta aja." Bray menawarkan alternatif lain sebab aku diam tak memberi respon atas tawarannya.
"Mas pulang aja sendiri. Aku nggak apa-apa kok ditinggal." jawabku sambil memilin ujung kemeja.
Mulutku mengkhianati hati. Meski kadang masih menyimpan rasa kesal pada suami, tapi aku nggak mau jauh darinya. Terbayang bagaimana saat jauh dari pengamatanku dia leluasa bertemu dengan banyak gadis yang lebih menarik daripada istrinya yang kampungan ini.
"Maunya berdua, Sayang. Suami istri itu harus selalu sama-sama."
"Halah. Nanti aku di sana ditinggal ke club house lagi sampai pagi." tepisku mengungkit kesalahannya.
__ADS_1
Bray tersenyum. "Enggak, Sayang. Janji nggak akan ninggalin kamu lagi."
Aku pasang wajah cemberut tanpa komentar.
"Ada kolega dari Canada yang perlu bertemu untuk tanda tangan kontrak kerjasama bisnis. Alternatifnya, kalau tidak bisa ketemuan di Canada ya di Jakarta."
"Bisnis apa lagi?"
"Masih soal pabrik baterai, Sayang. Perusahaan Amerika yang tempo hari datang penjajakan kerjasama dengan kita menggandeng perusahaan lain dari Canada."
Ribet amat sih. Persiapan kerjasama mendirikan pabrik saja butuh waktu berbulan-bulan. Apa mahal sekali investasi pabrik baterai sampai harus melibatkan kerjasama dengan 2 perusahaan dari benua lain. Lagipula buat apa? Sekarang saja kami tidak hidup kekurangan.
"Ke Jakarta aja ya? Kita kan sudah lama tidak jenguk papa. Kehamilan kamu juga perlu dikonsultasikan ke dokter spesialis kebidanan. Nanti kamu kuantar ke rumah sakit ibu dan anak paling baik di Jakarta. Di sana alatnya lebih lengkap. Perkembangan bayi kita bisa dilihat dari layar monitor seperti televisi."
Aku tersenyum. Melihat perkembangan bayi kami di monitor pasti menyenangkan. Bagaimana keadaan bayiku ya? Apa dia sempurna? Tapi aku enggan berangkat ke Jakarta. Aku merasa lebih nyaman berada dalam lingkungan terbatas di pedalaman. Di sini aku merasa berharga. Sementara orang-orang di kota besar tak pernah menganggapku. Aku juga belum siap bertemu dengan kolega dan teman-teman Bray yang kadang menatapku dengan remeh.
"Apa nggak bisa dokter dan alatnya dibawa ke sini saja?" tawarku sambil menyusupkan kepalaku di dada bidang Bray.
Bray membelai rambutku dengan lembut, "Terlalu mahal biayanya, Sayang. Lagipula aku nggak mau ninggalin kamu sendirian di sini. Kalau kamu nggak mau ikut, kugagalkan kerja sama investasi itu. Buat apa dapat bisnis baru kalau harus ninggalin istri tercinta."
Aku menatap wajahnya. Kalimatnya terdengar manis sekali. Tapi segaris kecewa terukir di wajahnya yang oval. Aku tahu ia sudah lama memperjuangkan pendirian pabrik baterai mobil listrik itu. Sejak sebelum kami menikah. Bahkan mungkin sebelum pertemuan kami di hutan itu.
Benar segala kebutuhan kami tercukupi dari penghasilan Bray. Namun yang namanya kepuasan tak bisa diukur dengan berapa besarnya penghasilan, namun seberapa tinggi pencapaian atas apa yang selama ini kita impikan dan perjuangkan. Mana tega aku membiarkan Bray menggagalkan impian yang diperjuangkannya hanya demi egoku.
"Aku mau ke Jakarta saja." putusku dengan seulas senyum.
__ADS_1
Bray memelukku dengan erat seraya mengucapkan terima kasih. Senyum optimisme mengembang penuh.
Kalau dia selalu mendukungku, aku pun harus mendukungnya. Tidak ada kata tidak. Orang kampung bilang, suami istri tak hanya baku cinta tapi harus baku dukung.