LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
PERJALANAN LAUT


__ADS_3

Tut tuuut tuut gawaiku berbunyi nyaring. Aku segera mengambilnya dari dalam tas selempang kecil yang kupakai. Kukira mama yang telepon menggunakan nomor Fifi. Ternyata bukan. Nama yang tertera adalah Firdaus Sanjaya.


Entahlah. Aku selalu berdebar-debar tiap kali dapat telepon dari bos besar itu. Ada perintah apa lagi?


"Halo. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Sudah sampai dimana Fifa?"


"Di dermaga speedboat Sofifi."


Diam-diam hatiku menghangat. Rasanya tersanjung mendapat sedikit perhatian dari Bray. Tapi Andi datang menyela. Bukan Andi namanya kalau tidak kepo dan berusaha membajak obrolan telepon orang lain. Andi melongok menunjukan kepalanya arah ke kamera, "Halo, Bos." sapanya riang sambil melambaikan tangan.


Bray terdengar memaksakan batuk untuk menyembunyikan emosinya. Mungkin kesal obrolan kami disela Andi namun ia berusaha bersikap ramah. "Halo, Andi. Bagaimana perjalanannya? Lancar?"


"Lancar jaya, Bos."


"Jaga Fifa baik-baik ya."


Aduh, apa aku tidak salah dengar? Bray mengucapkan kata yang sama dengan pesan inti dari mama. Apa diam-diam dia juga mengkhawatirkan aku?


"Pasti, Bos."


"Saya ada jadwal pertemuan bisnis di Makasar hari Selasa, An. Bagaimana kalau kita ketemuan, nongkrong dan ngopi bareng?"


"Siap. Saya tunggu kabar baiknya." jawab Andi antusias.


Drt drt drt Andi gelagapan gawainya ikut bergetar. Ia buru-buru merogoh sakunya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya melambai ke arah Bray.


Aku melihat Bray senyum-senyum menyaksikan tingkah Andi. Sejurus kemudian ia kembali pasang wajah serius seperti hendak menerkamku. Ada apa ya? Rasanya aku tak berbuat salah.


Sedetik kemudian sinar mata galaknya meredup. Pria itu malah garuk-garuk kepala. Tampak ragu dan bingung sendiri. "Saya lupa mau bilang apa ya tadi."


Ingin menertawakan ekspresi bodohnya tapi takut dia marah. Bray tampak lucu ketika salah tingkah begitu.


Apa intermezo Andi barusan membuatnya amnesia? Aku sengaja tak merespon apapun. Kutunggu saja sampai ingatannya kembali. Mungkin dia sedang mencari-cari sesuatu yang bisa membuatku sengsara.

__ADS_1


"Eh eeeee saya lupa mau ngomong apa, Fifa. Selamat jalan aja deh. Hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa nanti di Makasar."


Tuuttt telepon tertutup. Apa apaan ini? Nggak penting banget seorang direktur perusahaan besar yang super sibuk menelponku hanya untuk mengucapkan selamat jalan dengan sedikit gugup. Tadinya kupikir dia mau menyiksaku dengan memberi tugas tambahan dalam perjalanan. Ternyata hanya ingin memberitahu kalau dia juga akan ada kepentingan di kota yang sama. Begitu aja kok canggung.


Sementara Andi menerima telepon dari nomor Fifi dengan dahi berkerut. Sebagaimana tadi pagi, pesan-pesan panjang mama kembali diulang. Kudengar Andi hanya menjawab 'iya mama' berulang-ulang. Kelihatannya Andi sudah bosan mendengar kalimat yang sama. Tanpa diulang mungkin dia sudah hapal di luar kepala apa inti pesan itu.


Melihatku nganggur, Andi menyerahkan gawainya padaku sambil tersenyum licik.


"Halo, Ma..."


"Fifa, jangan lupa obat anti mabuk dan minyak anginnya disimpan di tempat yang mudah dijangkau. Angin laut itu kencang dan jahat. Apalagi kapal cepat biasanya melaju sangat cepat seperti kilat. Mama dulu mabuk berat. Pusing dan muntah muntah sampai harus istirahat lama untuk memulihkan kembali."


"Iya, Ma."


"Sweeternya dipakai ya. Itu bisa melindungimu dari angin."


Benar saja deretan panjang pesan pesan mama tampaknya masih akan bertambah panjang lagi kalau Andi tidak segera menarikku masuk pintu dermaga.


"Sudah ya, Ma. Fifa harus cepat-cepat naik ke kapal. Kalau tidak, nanti lama lagi nunggunya. Kami bisa ketinggalan pesawat."


"Ya. Hati-hati di jalan. Jangan lupa berdoa dan ingat mama menunggumu di rumah."


Aku tak menyangka mama bisa begitu mengkhawatirkan perjalananku kali ini. Di satu sisi aku bosan mendengar pesan-pesan panjangnya. Tapi di sisi lain, aku merasa kehadiranku dibutuhkan keluarga. Aku merasa hidupku berharga.


Dulu aku sering keluar masuk hutan sendirian. Tak pernah ada pesan panjang dari mama. Berhari-hari tidak pulang dianggap hal biasa. Padahal resiko perjalanan di hutan pasti lebih besar daripada di kota sebab di hutan ada binatang buas, tak ada petunjuk arah yang bisa jadi petunjuk saat tersesat, kalau lapar dan haus belum tentu bertemu makanan serta air, dan kalau kecelakaan sulit mencari bantuan darurat. Sementara dalam perjalananku kali ini ada alat komunikasi yang memungkinkan bisa minta tolong jika terjadi apa-apa di jalan. Di kota juga tak ada binatang buas berkeliaran. Banyak petunjuk arah dan ada orang yang bisa ditanya jika tersesat. Selama ada uang ada warung makan yang siap menyajikan aneka hidangan kalau kita lapar dan haus.


Meski ini perjalanan pertama melintasi pulau, tapi aku tidak sendirian. Ada Andi yang jadi guide dan siap menjagaku. Seharusnya mama tidak perlu khawatir berlebihan begitu.


Andi melompat terlebih dulu ke dalam kapal yang dituju. Ia mengulurkan tangannya membantuku melompat ke kapal yang penumpangnya sudah hampir penuh. Selain penumpang dan awak kapal speedboat berkapasitas 15 penumpang ini telah dipenuhi berbagai muatan barang.


Awak kapal memberi kami pelampung. Andi mengajarkan aku bagaimana cara memakai pelampung sambil mengenakan rompi gembung itu pada tubuhnya. Lalu kami berdua duduk di sisi belakang speedboad yang siap melaju.


"Ngana pandai berenang, Fifa?"


"Tara."

__ADS_1


"Katanya ngana sering main di sungai."


"Main di sungai tidak harus berenang. Hanya untuk mandi, mencuci atau mencari ikan. Baba sudah beritahu tempat-tempat yang aman dari buaya sungai."


"Baba ngana juga pernah beritahu cara menghindari buaya darat?" Sikap jahil Andi kumat lagi.


"Kalau bertemu itu buaya darat pilihannya hanya dua: lari atau bunuh dia." jawabku tegas dan polos.


Andi terkekeh mendengar jawabanku. Begitu penumpang kapal lain yang duduk di hadapan kami.


"Tegas kali, Nona. Tenang saja. Selain buaya darat di samping ngana tak ada bahaya menyeberang laut. Tara perlu bisa berenang, yang penting kitorang pakai pelampung." seorang pria bertopi hitam ikut mengomentari obrolan kami sambil menepuk-nepuk pelampung yang dikenakannya. Sementara perempuan di sebelahnya senyam senyum ke arahku dan Andi.


Suara mesin diesel kapal cepat telah berderu kencang. Kapal melaju dengan cepat meninggalkan buih yang membentuk bidang lurus seolah sedang membelah lautan. Makin ke tengah aku merasa sedang melintasi hamparan air yang tak terlihat tepinya. Selain hamparan air, yang terlihat hanya kapal lain yang melintas berlawanan arah dan burung-burung yang terbang di angkasa.


Tadi aku sempat terpukau menyaksikan atraksi sekawanan burung camar yang terbang di laut. Mereka menari-nari di udara sambil memperhatikan mangsanya yang berada di dalam air. Sesekali camar itu mencelupkan diri ke dalam air dengan cepat lalu terbang membawa sesuatu di paruhnya. Entah apa yang disantap burung putih itu. Mungkin udang, ganggang laut atau ikan. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas dari kejauhan. Menurutku burung camar memiliki kepandaian khas yang tak dimiliki jenis burung lainnya. Burung penghuni pantai itu memiliki keahlian menyelam dan berenang namun hanya bisa dilakukannya dalam waktu singkat. Slup. Masuk ke air, menangkap mangsa lalu berusaha terbang lagi.


Semakin ke tengah situasi laut makin mencekam. Ombak semakin besar. Mereka datang bergulung-gulung menyertai angin kencang. Kecepatan kapal dengan 4 mesin diesel ini juga luar biasa. Kadang aku merasa seperti terbang melintas ombak besar yang datang bergulung lalu terhempas dengan hentakan yang kuat. Hups, ngeri. Sesuatu kondisi yang menantang adrenalin namun kita tak bisa punya kendali apapun. Hanya bisa pasrah. Aku berdoa dalam hati semoga kapal tidak terbalik karena hantaman ombak besar dan angin kencang.


Mama benar. Hentakan-hentakan kuat dan angin kencang mulai membuat perutku mual dan kepala berdenyut-denyut. Dunia rasanya jungkir balik. Lemas tubuhku.


"Pucat sekali wajah ngana, Fifa. Apa ngana ada rasa Mual dan pening?"


Aku menggeleng. Ingin mengingkari kenyataan tapi tak sanggup. Akhirnya aku mengeluarkan minyak angin yang telah disiapkan mama dalam tas selempangku. Kuoleskan minyak angin beraroma campuran jeruk dan minyak kayu putih itu di tengkuk, belakang telinga, dan perut.


"Ngana mabuk laut, Fifa."


Aku menggeleng. "Tara."


Kutepis tangan Andi yang mencoba membantu memijat tengkukku.


Andi sedikit panik dengan reaksiku. Ia mengambil kantung plastik dari saku ranselnya. Mungkin bersiap-siap jika mabuk lautku sampai harus mengeluarkan isi perut. Aku menarik nafas panjang-panjang dan menyandarkan kepala. Dengan tangannya Andi meraih kepalaku dan membawanya bersandar di bahunya. Setelah aku nyaman bersandar ia menggesek-gesekan telapak tangannya pada punggung tanganku yang dingin.


Perlahan ombak mulai bersahabat. Gunung-gunung dan pulau-pulau kecil di tengah lautan mulai tampak menunjukan keanggunannya. Aku mencoba menegakan tubuhku dan melihat keindahan pesona di sekitar laut yang airnya mulai tenang.


"Sebentar lagi kita sampai. Nanti kita istirahat minum teh hangat dulu di pelabuhan."

__ADS_1


Aku mengangguk. Merasa kalah. Ternyata perjalanan mengarungi lautan itu tidak mudah dan aku belum bisa menghadapinya dengan baik. Perjalanan kali ini membuatku mengerti bagaimana rasanya mabuk perjalanan dan apa yang menyebabkan orang mabuk laut.


"Makanya lain kali pertimbangkan dulu nasehat orang tua yang lebih berpengalaman. Jangan keras kepala." Andi menasehatiku dengan diiringi senyum. Kali ini dia terlihat lebih bijaksana layaknya saudara tua, tidak licik seperti biasanya.


__ADS_2