
Mama mengantarku sampai di sebuah rumah di kawasan pertambangan. Letaknya dekat dengan kantor. Tepatnya berada di samping masjid. Ada beberapa paviliun yang setahuku ditempati oleh manajer perusahaan yang berasal dari luar kota. Selain itu karyawan PT XY bisa tinggal di mess karyawan yang merupakan bangunan 2 lantai yang terdiri dari kamar-kamar yang biasanya dihuni 2 atau 3 orang karyawan setiap kamarnya. Arfa pernah tinggal di mess itu. Banyak cerita tentang suka duka tinggal di dalam kawasan tambang yang sudah kuketahui dari Arfa jauh sebelum aku mengenal Bray.
Rumah kami terbuat dari kayu mahoni dengan satu kamar tidur dan furnitur lengkap. Sofanya empuk dan terlihat sangat elegan. Ada seorang pelayan yang menyambut kami dan menyiapkan kami kopi serta cemilan dalam toples.
"Kenalkan! Ini Mama Lis yang bertugas sebagai house keeping beberapa rumah di sini. Kerjanya sesuai jam kerja kantor 8 jam perhari. Jika butuh bantuan untuk pemeliharaan rumah, bisa hubungi mama Lis dengan menggunakan HT." Bray menunjuk benda kotak berantena yang diletakkan di atas meja kecil di samping sofa.
Mama Lis menunduk hormat lalu tersenyum manis pada kami.
"Selamat malam, Nona. Semoga betah tinggal di sini. Semoga kehidupan keluarga bersama pak Firdaus sakinah mawaddah warohmah. Bahagia dan langgeng dunia akhirat."
"Terima kasih, mama Lis."
"Sudah malam. Mama Lis sudah bisa pulang sekarang. Terima kasih ya."
"Baik, Pak."
Selama ada keluargaku suasana hatiku sedikit santai. Fifi sidak ke setiap sudut rumah dan komplain secara terang-terangan tentang hal yang di luar ekspektasinya. Kubiarkan Bray yang menjawab kecerewetannya.
"Kakak akan tinggal di rumah sekecil ini?" tanyanya heran.
"Rumah sementara, Fi. Nanti kita akan bangun rumah yang lebih besar."
"Kenapa nggak tinggal di Jakarta aja?"
"Entah ya. Dipikirkan nanti saja. Sementara ini cukup buat tinggal kami berdua. Malah bisa lebih akrab."
Fifi tak bertanya lagi. Ia terlihat kecewa.
Tak lama mama berada rumah kami. Hari sudah malam. Tujuannya pun hanya sekedar mengantar. Asal tahu dimana anak perempuannya tinggal. Lagipula tak ada yang bisa dilakukan di rumah kecil ini. Jalan ke sana mentok. Ke sini mentok lagi. Yang dilihat hanya itu-itu saja. Mereka pun pasti penat ingin segera istirahat karena hari ini luar biasa sibuk.
Kecanggungan sangat terasa ketika kami tinggal berdua dalam rumah kecil itu. Aku bingung harus bagaimana. Diam mematung saja di sofa.
"Kamu kelihatan tidak bahagia hari ini. Maaf ya!"
Bray meraih tangan kananku lalu mencium punggung tangan dan menggesek-gesekan ke pipinya yang halus. Bidadari Halmahera sedang memasang perangkap dengan tariannya.
"Mas Bray yang mengadu ke mama soal Arfa?"
__ADS_1
Ia mengangguk.
Aku menarik tanganku lalu melipatnya di depan dada. Cemberut.
"Aku sangat khawatir sama kamu Fifa. Kita pernah hampir mati karena panahnya Arfa."
"Arfa sahabatku. Tidak mungkin membunuhku." bantahku.
Hik, baru beberapa jam menjadi istri sudah berani bicara dengan nada tinggi pada suamiku. Ada rasa bersalah mengusikku namun aku bertahan dengan egoku. Hari ini aku butuh pelampiasan kesal dan lelahku pada orang menjadi sebab semua ini, yaitu Bray.
"Kamu lihat sendiri anak panah itu melesat ke arah kita berdua. Panah itu mengandung racun yang sama dengan racun pada anak panah yang menancap di dada ayahmu dan burung nuri kesayanganmu." Bray bicara dengan nada yang sangat rendah.
Aku menghunuskan tatapanku setajam mungkin tanpa membuka mulut.
Bray tetap tenang. "Tadi siang aku dapat kabar dari kapolsek kalau Arfa sudah tertangkap. Dia bersama seorang temannya kedapatan melintas di ujung jalan depan rumahmu dengan membawa busur dan anak panah."
"Benarkah?"
"Tak percayakah kamu dengan suamimu yang bijaksana ini?" Bukannya dijawab. Bray malah balik bertanya sambil menunjukan senyumnya.
Aku memijit-mijit jari jemariku sendiri. Senjata makan tuan. Bukan dia yang terhunus oleh tatapanku. Melainkan hatiku yang tertusuk mendengar berita itu. Aku tak menyangka Arfa nekat muncul di kampung dengan membawa busur dan anak panah. Padahal dia tahu polisi sedang memburunya. Orang-orang kampung juga tengah ramai membicarakannya.
"Sekarang terbukti, Arfa masuk tahanan polisi bukan karena upaya kamu membuat dia mengaku bersalah dan menyerahkan diri. Melainkan tertangkap karena berniat melakukan kejahatan yang sama."
Bray menyeringai diiringi senyum kemenangan. Baru kali ini aku benci melihat senyumnya. Aku yakin kejadian ini pasti imbas dari pengaruh akal licik dan kekuasaannya. Bukan sebuah kebetulan. Bray mungkin terlibat dalam perencanaan yang menjerat Arfa agar tertangkap polisi.
Aku terus menatap Bray mencari tanda kejujuran pada sorot matanya. Bray berusaha merangkulku tapi kuhempas.
"Fifa, seharusnya ini hari bahagia kita. Jangan diam dan marah dong! Aku minta maaf buat semua kesalahanku hari ini."
Aku masih mengunci mulutku rapat-rapat.
"Maaf kalau aku belum bisa memberi apa yang kamu mau."
Memangnya pernah tanya mauku apa? Rasanya tidak. Bray selalu melakukan apa yang dia mau menurut pikirannya sendiri. Dalam beberapa hal aku setuju. Tapi tidak semua tindakannya benar. Aku ingin protes. Tapi perasaan yang bercampur aduk ini membuat lidahku terasa kelu.
"Malam ini kita nggak usah bicara soal Arfa ya. Kita kan pengantin baru. Harus belajar saling mengenal dan memahami satu sama lain. Lebih baik kalau bicara tentang kita aja. Tentang kamu, aku dan rencana hidup kita ke depan. Biarkan Arfa membuktikan sendiri pada polisi apakah dia bersalah atau tidak." Matanya yang sendu seolah memohon padaku. Bray sudah mulai lelah dengan diamku.
__ADS_1
"Mas Bray harus janji tak melakukan intervensi apapun terhadap kasus Arfa." jawabku yang mulai bisa membuka mulut.
Bray mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf 'V'. Ia mengembangkan senyum magisnya. Bahagia sekali melihatku mau membuka mulut.
"Janji. Demi Allah. Selama ini pun sejujurnya aku nggak pernah intervensi pada kasus Arfa."
Aku tak percaya namun tak hendak membuat suasana hati kami memburuk.
Bray mendekat dan merangkulku lagi. Aku merasa sangat canggung berada sedekat ini dengan lelaki asing. Ingin menghindar namun aroma parfum mewah yang terhirup di penciuman lebih dulu menghipnotis aku. Wanginya begitu segar dan mendamaikan. Aku tak berdaya saat tangannya menuntun aku merebahkan kepala pada pundaknya. Aroma wangi itu semakin membuat pikiranku mengambang.
"Maaf kalau kejutan ini tak membuatmu bahagia!"
"Makanya jangan sok tahu nebak-nebak sendiri apa yang membuatku bahagia. Aku tak suka kejutan. Aku bahagia kalau orang-orang terdekatku bahagia. Sementara hari ini pak Bhudi yang masih sakit dan nenek yang sudah lanjut usia harus berkorban datang ke pesta pernikahan dadakan di kampung pedalaman. Kenapa sih harus menikah hari ini dan di sini? Kenapa tidak menunggu papa mas Bray sembuh?"
Bray mempererat rengkuhannya.
"Apa kamu melihat mereka tidak bahagia? Aku kok malah melihat mereka sangat bahagia hari ini. Nenek bahagia bisa ziarah ke makam anak kesayangannya sekaligus menyaksikan cucu tersayang menikah. Papa bahagia karena keinginannya cepat punya menantu telah terkabul. Aku beri mereka fasilitas perjalanan yang cukup nyaman dengan keterbatasan mereka."
Lagi-lagi aku kalah. Bray memang lebih cerdas. Pak Budhi memang mendesak Bray agar cepat menikah. Nenek memang sangat ingin mengunjungi makam baba. Salahnya dimana? Aku yang memandangnya dari sudut yang berbeda.
"Aku minta maaf tidak meminta persetujuanmu. Kukira bakal menjadi kejutan yang indah. Kalau kamu kecewa dengan pernikahan yang mendadak dan sederhana ini, bulan depan kita adakan resepsi di hotel paling bagus di Makassar."
"Aku lebih suka pendapatku dihargai. Aku nggak suka pesta. Buang-buang uang saja. Lebih baik uangnya digunakan untuk hal produktif dan bermanfaat bagi orang banyak dalam jangka waktu yang lebih panjang."
Bray memelukku erat dan mencium keningku berkali-kali. "Aku setuju. Nggak salah aku pilih kamu jadi istriku."
Kutatap bola matanya yang hitam kecoklatan. Rasanya masih belum percaya dia jadi milikku hari ini.
"Aku suamimu. Boleh buka kerudungmu malam ini?"
Aku merasa ada banyak aliran darah mengalir ke pipi. Entah bagaimana rupa wajahku saat itu. Malu dan takut mendominasi perasaanku. Tak ada yang bisa kulakukan selain mematung.
Perlahan tangannya bergerak membuka kain kerudungku. Bibirnya tak henti menciptakan magis yang menghipnotisku untuk pasrah. Sementara sinar matanya mengulitiku dengan intens.
Dia membuang kain katun paris itu sembarangan. Tangannya mulai membelai rambutku dengan lembut. Tubuhku meremang berharap sentuhan yang lebih membuai. Namun Bray meletakkan tangan kanannya tepat diubun-ubun.
“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih. Amin.”
__ADS_1
Kuaminkan doanya sambil menyusupkan kepalaku di dadanya yang luas dan wangi. Kuberanikan diri menuruti insting yang mulai liar dengan mengalungkan tangan di lehernya dan menggelayut manja. Kekecewaanku padanya mendadak hilang. Jantungku mulai berdetak dengan kecepatan tinggi memompa darah yang mulai panas menggelora. Makin cepat dan cepat menuntut pelampiasan hasrat yang menggebu.