
Hari ketiga di rumah nenek suasana makin dingin. Sarapan pagi aku hanya berdua dengan nenek. Paman Hasan pergi pagi-pagi sekali bersama Gufron. Tante Marina tak pernah menampakan diri di lantai bawah. Sedangkan Imron telah kembali ke Jakarta kemarin petang.
"Nenek sering sarapan sendiri?" tanyaku sambil mengambil nasi goreng seafood, menu sarapan pagi ini.
"Tidak sering. Kadang-kadang pamanmu punya janji dengan koleganya pagi-pagi sekali seperti hari ini."
"Tante Marina?"
"Dia jarang sarapan. Sehari-harinya lebih sering berada di rumah Jakarta bersama anaknya. Besok dia berangkat ke Jakarta bersama Gufron." jawab nenek lugas dan datar. Tak terlihat tendensi apapun dari jawaban itu.
Aku berprasangka baik saja. Mudah-mudahan hanya aku yang merasa suasana rumah ini tak hangat. Mereka yang berada dalam rumah sudah terbiasa dengan kondisi ini. Memang beginilah adanya.
Semalam sebelum tidur aku teringat akta kematian kakek yang menjadi lampiran surat serah terima warisan yang kutanda tangani di kantor notaris tadi. Kakek meninggal karena penyakit jantung dan gagal ginjal 3 bulan sebelum meninggalnya baba. Kenyataan itu yang dijadikan latar pembelaan nenek atas warisan hak baba yang diberikan padaku sebab saat kematian kakek baba masih dalam keadaan segar bugar. Aku tak tahu apakah baba tahu berita kematian kakek atau tidak. Tapi sebelum kematiannya, aku pernah mendapati baba termenung sedih di beranda mushola. Saat kutanya kenapa, baba bilang kangen pulang ke Makassar tapi tak punya cukup bekal uang. Mungkin sebenarnya waktu itu baba sudah dapat kabar tentang kematian kakek namun tak mau menceritakannya padaku. Atau mungkin juga baba punya firasat buruk tentang kakek.
Entahlah. Bertemu keluarga baba malah menambah masalah baru buatku. Ada misteri yang aku tidak mengerti.
"Nek, kemarin kan nenek bilang baba dan kakek berselisih. Fifa boleh tahu apa sebabnya?" Akhirnya kutanya juga unek-unek yang mengganggu pikiranku sejak 2 hari yang lalu dalam sarapan kali ini. Mumpung hanya berdua, aku bisa menanyakan hal yang sifatnya sensitif.
"Sebab ayahmu tak mau membantu mengurus perusahaan kakek."
Hanya karena masalah itu mereka berselisih? Rasanya kok aneh.
"Apa sampai akhir hayatnya mereka berselisih?"
"Tidak, Fifa. Kakekmu sudah lama menyadari kehidupan seperti apa yang diinginkan ayahmu dan mengikhlaskan pilihan hidupnya. Ayahmu itu pendakwah yang sederhana, jujur dan cinta damai. Dia juga lelaki yang mandiri dan pekerja keras."
Nenek benar. Begitulah baba semasa hidupnya.
"Kami pernah menyuruh orang menemui ayahmu dan memintanya pulang saat kakekmu sakit parah. Tapi orang itu tak pernah kembali."
"Menghilang?"
Nenek mengangguk.
Aku tak sanggup bertanya lagi. Kulihat mata nenek sudah mulai berkaca-kaca. Aku tak mau melihat nenek menangis lagi karena teringat baba.
"Nanti malam aku ijin mengundang seseorang ke kedai ya, Nek." kataku mengalihkan topik pembicaraan.
"Siapa?"
"Bos aku. Orang Jakarta. Kebetulan sedang ada kegiatan di Makassar dan ngajak kami bertemu."
__ADS_1
"Kau dan kak Syarif?"
"Iya. Siapa lagi rekanku di sini selain kak Syarif. Walau menjengkelkan tapi di sini atau di Lolobata aku akan selalu berurusan sama dia."
"Tidak makan gratis kan?"
"Masak bos makan gratis, Nek. Nanti kusuruh dia bayar tagihannya. Justru tujuanku mengundang ke kedai supaya dia ketagihan datang ke kedai dan merekomendasikan pada koleganya."
Nenek mengacungkan ibu jari. "Bagus. Ini baru cucu nenek. Keturunan suku Bugis tulen yang pintar strategi dagang."
Hatiku berbunga mendapat pujian itu. Hehehe aku tahu dari mana bakat licikku diturunkan.
Aku dan Andi memang telah sepakat bertemu Bray di kedai. Selain tempatnya ekslusif dan menu makanannya enak, penting memperkenalkan kedai pada pebisnis. Kedai ini punya ruangan yang bisa digunakan sebagai tempat pertemuan bisnis dengan suasana yang santai.
Aku berangkat diantar pak Rodi sejak siang hari karena ingin menyelesaikan pekerjaan sambil mencicipi menu-menu yang disajikan di kedai satu per satu. Kata nenek kalau mau sukses sebagai pebisnis kuliner lidahnya harus mahir membaca selera konsumen. Kemahiran itu harus melalui proses latihan. Tak ada orang yang tiba-tiba mahir tanpa melalui proses latihan. Lidahku harus dibiasakan peka mencicipi sesuatu dan bisa membedakan mana makanan enak yang disukai mayoritas konsumen yang biasa datang ke kedai. Kalau harus mengembangkan resep baru, bagian riset dan pengembangan produk harus peka terhadap hal yang satu ini. Sebagai owner kita tak boleh asal mengiyakan. Bagaimana pun selain kenyamanan dan pelayanan, hal terpenting dari bisnis kuliner adalah memanjakan lidah pelanggan.
Waktu sore meja di lantai dua penuh oleh pengunjung, terutama yang menghadap langsung ke pantai sebab dari dalam kedai orang bisa menyaksikan romantisme matahari tenggelam. Pada waktu ini para pekerja kantor yang belum ingin pulang ke rumah biasanya mampir bersantai sejenak menikmati lezatnya makanan sambil menatap pantai dan mendengar alunan musik populer.
Aku belajar dengan observasi langsung. Sebelum pengunjung penuh aku sempat mengajak ngobrol santai pegawai yang kebetulan sedang senggang. Hari ini aku mengobrol dengan seorang koki senior yang telah bekerja bertahun-tahun di kedai. Kami ngobrol santai sambil memotong sayuran dan menyiapkan bahan-bahan masakan agar tidak keteteran saat pengunjung penuh nanti. Gerakan tangannya cepat. Dalam sekejap satu pekerjaan selesai lalu beralih melakukan pekerjaan lain dengan sangat cekatan. Aku tak bisa mengimbangi kecepatannya memotong daging dan ikan. Pengalamannya sudah banyak. Sudah pernah bekerja di resto hotel juga.
"Kalau jago masak, kenapa bapak master chef tidak buka resto sendiri saja." tanyaku iseng.
"Jago masak saja tak cukup buat modal usaha kuliner, Non. Kalau kita tak jago marketing dan manajemen usaha kuliner sulit maju. Saya sudah senang jadi koki di sini. Gaji cukup. Kerjanya happy. Ini lebih tepat disebut hobi yang dibayar. Nggak perlu pusing mikirin karyawan, pemasok atau strategi marketing."
Andi memberitahuku akan datang terlambat karena harus menjadi pembawa acara pada kegiatan adat mappetuada kerabatnya, yakni acara peresmian pinangan dengan diberikan hantaran berupa perhiasan kepada pihak perempuan yang menjadi salah satu dari serangkaian adat pernikahan Bugis yang terkenal makan biaya mahal.
Menjelang senja aku kembali ke ruangan dan mencicipi menu kedai yang merupakan adaptasi dari western food, yaitu spagetti cakalang, salad buah dan secangkir espresso hangat. Aku sudah kirim pesan ke Bray bahwa sudah reservasi di VVIP Anoa 1 dan menunggunya di sini.
Seorang pelayan mengantarkan Bray masuk ruangan selepas azan maghrib. Masih mengenakan jas, dasi dan pakaian formal.
"Hai, Fifa. Aku titip barangku di sini ya. Mau shalat maghrib dulu." sapanya dengan suara berat dan tak bersemangat. Wajahnya terlihat lelah.
Bray membuka jas di depanku yang terpaku memandangnya. Perlahan ia menyampirkan jas di punggung salah satu kursi lalu menggulung kemejanya sampai siku. Walau terlihat lebih kurus dibandingkan pertama kali bertemu namun gayanya tetap keren dan elegan. Aku terus memperhatikan apa yang dilakukannya dengan mata tak berkedip seperti fans fanatik yang mendadak bertemu aktor idolanya. Terpukau. Hari ini ia bersikap bak maha bintang. Di mataku semua yang ada pada dirinya sempurna tanpa cela.
Bray tak peduli dengan tatapanku. Setelah melepas jam tangan dan menaruhnya di atas meja marmer, ia pamit pergi ke mushola dengan diantar pelayan dan pengawal pribadi yang mendampinginya.
Sepuluh menit kemudian ia kembali dengan wajah segar dan rambut yang masih basah oleh basuhan air wudhu. Tambah keren. Tapi aku sudah tak berani menatapnya dengan intens seperti tadi. Malu.
"Andi mana?"
"Ijin datang terlambat karena mendadak didaulat jadi pembawa acara di pesta adat kerabatnya."
__ADS_1
Bray menganggap jawabanku angin lalu. Ia mengambil daftar menu yang disodorkan pelayan lalu bertanya menu best seller di kedai. Tanpa melihat menu lain, ia langsung memesan sop konro dan es krim kopi Toraja.
"Kamu sudah pesan duluan ya?"
"Sudah hampir habis." kataku sambil tersenyum tipis memperlihatkan piring makanan yang ada di hadapanku.
Mata kami saling beradu pandang. Dia mengamatiku lebih detil kemudian berkomentar, "Penampilanmu berbeda malam ini, Fifa."
Aku tersipu karena senyumnya yang menggoda.
"Selama di sini aku harus memakai pakaian yang diberikan nenek." kataku jujur.
Hari ini aku pakai setelan kemeja dan kulot warna pastel yang dipadukan dengan hijab pashmina warna hitam. Nenek memilihkan untukku pakaian-pakaian dengan mode klasik katanya yang tak lekang oleh waktu.
"Selera nenekmu bagus. Menurutku penampilanmu sekarang jauh lebih elegan. Terlihat smart dan sporty."
Masak sih? Berarti selera Bray sama dengan selera fashion nenek dong. Klasik. Aku senang sekaligus bangga dengan komentarnya, tapi hati kecilku kecewa sebab penilaiannya berbeda dengan kesukaanku tampil sederhana. Masak sih demi pujian Bray aku harus beralih mengikuti selera fashion klasik nenek yang harganya mahal. Itu bukan Fifa. Tak sesuai dengan karakter dan identitasku selama ini.
"Bagaimana kabar nenekmu?"
"Baik. Beliau sudah sepuh, mas Bray. Ke mana-mana harus pakai kursi roda. Kakinya sudah rapuh karena digerogoti penyakit osteoarthitis. Tapi semangat hidupnya masih tinggi."
Bray tak berkomentar. Sikapnya yang sedikit cuek itu makin menggelitik rasa penasaran. Baru kali ini aku benar-benar berdua dengannya. Tanpa perantara. Tanpa didampingi asisten atau kawan lain. Pengawalnya duduk di luar ruangan.
Jantungku dag dig dug tak karuan. Mau begini takut salah. Begitu pun salah. Aku berkali-kali menenguk air mineral agar tidak terlalu tampak gelisah. Perlu banyak suplai oksigen agar aku tak kehabisan nafas karena pesonanya membuat jantungku bekerja terlampau keras.
Aroma parfum maskulinnya menguar ke udara. Dari dekat, Bray tampak lebih sempurna. Efek senyumnya lebih dahsyat. Hangatnya menjalar langsung ke jantung dan hatiku yang terdalam.
Aku membenarkan posisi duduk dan mencoba bersikap senormal mungkin, "Mas Bray ada bisnis apa di Makassar?"
"Besok ada pertemuan asosiasi pengusaha tambang nikel. Seharusnya hari ini rencananya ada yang mau jual beli perkebunan lada. Pembelinya sudah siap tapi gagal transaksi karena masalah legalitas."
Bray tersenyum kaku. "Belum rejeki." ucapnya kemudian.
Terus terang aku bingung mau ngobrol topik apa lagi dengan pria yang kelihatannya sedang dalam posisi tawar hati. Apa ya topik menarik yang ringan tapi bikin suasana hati membaik? Aku tak pandai menghibur. Pada saat seperti ini aku butuh Andi. Kalau ada dia, semua bisa cair seketika. Mungkin salju kutub utara pun bisa ditaklukan dengan kelakuan konyolnya. Kenapa saat dibutuhkan begini dia malah tak kunjung datang. Kesal sendiri jadinya.
Beberapa menit kami saling diam. Aku makin bingung harus bagaimana.
"Bagaimana kabar mbak Maudy?" Meski leherku tercekat ketika menyebut nama itu, kutanyakan juga pertanyaan pribadi yang bisa jadi bahan gibahku berdua Jim.
"Baik." jawabnya singkat.
__ADS_1
"Kapan kalian menikah?"