
Aku terus bertanya-tanya, apakah aku yang membawa sial buat orang - orang terdekatku?
Perasaanku makin memburuk dengan kehadiran mama Arfa. Kalau sebelumnya aku menyalahkan kak Bray atas matinya nuri sahabatku. Kini aku mulai berpikir bukan orang lain yang disalahkan atas musibah ini, tapi diriku sendiri. Jika itu benar, mengapa tidak aku saja yang mati? Aku sudah tak berguna. Tak ada anak lagi yang mau belajar membaca dan mengaji di mushola peninggalan baba. Kampung ini sepi tanpa penghuni lagi. Burung nuri yang biasa menemani dan mendengarkan curahan isi hatiku sudah mati. Hidupku tak punya tujuan. Tak ada yang menginginkan aku hidup. Semua orang membenciku dan memberi stempel gadis sombong keras kepala.
"Jangan dengar apa kata mama Arfa ya, Sayang. Tak ada satupun makhluk pembawa sial di bumi ini. Semua ini sudah menjadi takdir. Sebelum kita lahir pun nasib kita sudah tertulis di lauhul mahfudz. Kamu masih ingat kan petuah baba itu kan?" ujar mama memberikan suntikan semangat untukku.
Aku mengangguk.
Srupp. Ingus cair yang mengalir ke luar hidung malah kuhirup seperti kelakuan anak kecil saja.
"Mama sayang kamu, Fifa. Jangan merasa sendirian. Bagaimana pun keadaanmu, mama selalu ada bersama kamu."
Aku membenamkan diri dalam pelukan mama. Rasanya ingin kembali masuk dalam rahimnya dan tak pernah terlahir lagi di dunia ini. Hanya mama tempat aku bersandar akan hidupku yang kosong ini.
"Malam ini kita tidur di sini temani kakak ya, Fi. Taruh sepeda motormu di dalam rumah dan tolong kabari bapak kalau kita menginap di sini."
"Mama saja yang temani kak Fifa. Fifi mau pulang. Ada tugas sekolah yang harus Fifi kerjakan." tolak Fifi dengan raut wajah sedikit masam.
Fifi enggan menemaniku. Adikku itu memang tak pernah mau lagi tinggal di gubuk sederhana yang kayunya sudah hampir lapuk. Tak ada listrik dan peralatan rumah yang memadai. Berbeda dengan rumah yang di kampung baru. Meski sama-sama terbuat dari kayu, namun masih terlihat kokoh. Rumah itu dilengkapi sambungan listrik, meja, kursi, lemari dan peralatan lain yang meskipun sederhana tapi lengkap selayaknya rumah pada umumnya.
Meski kakak beradik, kami memiliki karakter dan gaya hidup yang berbeda. Orang-orang lebih menyukai Fifi sebab ia gadis yang ceria dan bergaya modern. Cara berpakaiannya pun mengikuti tren orang kota. Berbeda dengan aku yang penampilannya dinilai kuno.
Sejenak mama terlihat bingung, menatapku dan Fifi bergantian. Namun akhirnya mama tetap memutuskan menemaniku. Mungkin beliau melihat keadaanku tampak sangat terpuruk dan lebih butuh perhatian. Atau masih kangen karena aku baru saja menghilang?
"Ya sudah, pulanglah! Hati-hati di jalan ya!"
__ADS_1
Malam itu Fifi pulang ke rumah kampung baru dengan mengendarai sepeda motornya. Baru kali ini mama lebih mengkhawatirkan aku daripada Fifi. Padahal anak manja itu harus naik sepeda motor sendirian di malam hari.
"Seharusnya mama pulang ke kampung baru saja. Aku nggak apa-apa sendirian. Sudah biasa. Hari sudah malam. Takutnya ada apa-apa sama Fifi di jalan."
"Fifi sudah biasa pulang malam kok. Insya Allah aman. Kita doakan saja." Mama menepuk punggungku lagi dengan tepukan lembut yang menentramkan.
Selanjutnya beliau membimbingku masuk ke dalam rumah yang gelap. Tak ada penerangan. Tak ada sambungan listrik di rumah ini. Aku kehabisan minyak jarak yang biasanya digunakan untuk pelita kecil yang cahayanya temaram dalam rumah kami.
"Gelap, Ma. Persediaan minyak jarak sudah tak ada sama sekali. Fifa lupa belum buat minyak jarak untuk mengisi blencong."
"Tak apa. Lebih bagus gelap biar kamu tak terus terusan menangis sepanjang malam. Biasanya gelap membuat kita bisa lekas tertidur."
Semoga saja bisa lekas tidur dam mimpi indah. Aku ingin tidur melupakan semua kejadian yang membuatku sedih dan terpuruk. Mudah-mudahan esok terbangun dalam keadaan bugar dan siap beraktivitas. Besok aku harus mencari biji jarak dan membuat minyak untuk penerangan rumah ini di malam hari.
"Kamu benar tak ingin menikahi Arfa, Sayang?"
Entah kenapa mama menanyakan hal itu lagi. Apa beliau lupa kalau anaknya ini terkenal keras kepala? Mana mungkin siang bilang begini lalu malam berubah bilang begitu. Plin plan itu bukan aku. Harus ada satu alasan kuat barulah aku bisa berubah pikiran.
"Dia sudah tunangan dengan Deya. Kenapa mama tanyakan itu lagi sih?" gerutuku.
"Pertunangan itu tidak sah. Yang terjadi sebenarnya hanya kesepakatan antar keluarga yang kebetulan mengundang orang banyak. Kata bapak, Arfa tidak hadir dalam acara itu."
Aku sebenarnya tak ingin tahu masalah itu. Masabodo. Toh pertunangan itu tak ada kaitan langsung dengan hidupku.
"Arfa masih setia menunggu jawabanmu."
__ADS_1
"Aku sudah berkali-kali bilang tidak. Aku tak punya perasaan lebih dari sekedar teman, Ma. Kebersamaan kami selama ini hanya sebagai teman."
"Lagipula sejak dulu keluarganya tidak menyukai kita." imbuhku. Aku benar-benar tak ingin membahas masalah ini. Aku ikhlas kok Arfa mau menikah dengan Deya atau gadis lain. Kalaupun tidak boleh berteman lagi dengannya, aku siap. Aku harus membiasakan diri melakukan semuanya sendiri.
"Tapi Arfa kelihatannya sangat serius dan tulus mencintaimu."
Lalu aku harus bagaimana? Mama bikin aku makin galau saja. Aku menggulingkan tubuh ke pinggir tempat tidur sebelah kiri. Menjauh sedikit dari mama yang berada di sisi kanan.
Capek. Obrolan menjelang tidur yang seperti ini terlalu berat buatku. Aku lebih suka didongengi cerita rakyat saja seperti kebiasaan baba waktu aku kecil supaya kami lekas tidur.
"Laki-laki itu memang harus berbakti pada ibunya sepanjang hayat. Tak bagus juga akhirnya kalau kalian menikah tanpa restu ibunya." Suara mama terdengar seperti sebuah desah penyesalan. Apa itu artinya sebenarnya mama ingin aku lekas menikah seperti gadis-gadis seusiaku di sekitar wilayah kami? Apa mama malu anaknya disebut perawan tua?
Pemikiran yang sama tentang keluarga Arfa telah lama bercokol di kepalaku. Arfa pria yang taat menjalankan agama dan bertanggung jawab. Sifatnya itu sebenarnya sangat layak dijadikan kriteria calon suami idaman. Aku tak menampik itu. Apalagi ditambah karakternya yang mandiri, pekerja keras, dan gigih memperjuangkan masa depan. Itu sebabnya banyak gadis yang mengidam-idamkan Arfa, bahkan ada yang tergila-gila macam Deya. Segala cara dilakukan untuk menarik perhatian Arfa. Sayangnya, Arfa tak pernah tertarik pada Deya.
Haruskah aku merasa beruntung mendapatkan perhatian Arfa selama ini? Salah satu sebab orang mencap aku gadis sombong adalah karena mereka tahu aku menolak menikahi orang sebaik Arfa.
"Tak usah lagi kita bahas masalah Arfa, Ma. Fifa jadi makin pusing. Suatu saat nanti dia pasti sadar kewajibannya yang lebih utama, yaitu berbakti pada orang tua."
"Mama juga berpikiran begitu." Suara mama diiringi dengan tawa kecil tanda setuju dengan jawabanku.
Syukurlah mama mengerti dan memiliki pemahaman yang sama denganku. Aku kembali berguling ke arahnya dan memeluknya erat-erat. Kehangatan tubuhnya mengalir dalam tubuhku. Kami saling berbagi energi positif dengan sentuhan fisik ibu dan anak. Sebuah energi dasyat yang menentramkan hatiku.
Kebersamaan malam ini menyadarkanku bahwa alasanku tetap hidup sekarang adalah untuk membahagiakan mama, satu-satunya orang tuaku yang masih hidup dan menyayangiku. Tak peduli orang membenciku, asal mama bersamaku di situlah aku yakin ada kebahagiaan untukku.
Baiklah, Mama. Mulai saat ini Fifa akan turut apa yang mama mau. Fifa akan membantu mama. Kalaupun besok pagi Fifa harus ikut mama, Fifa akan ikut ke mana pun mama mau.
__ADS_1