LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
TEMAN BARU


__ADS_3

Ini adalah kali pertama aku makan bersama orang yang masih asing. Cara makannya tak berbeda dengan cara makanku. Sebelum makan baca bismillah dan tak bicara selama makan. Cuma sebentar sih, sebab kami hanya memakan sepotong roti pisang coklat saja. Tak sampai 5 menit roti kami ludes. Pria berambut keriting itu mengambil lagi sisa roti yang tinggal satu lalu memotongnya jadi 3 bagian buat kami masing-masing potongan roti yang habis dalam sekali suap.


“Persediaan minum kita habis. Coba kak Hisy cek apa ada sungai dekat sini. Kita juga perlu cari ikan. Sepertinya teman baru kita masih kelaparan.”


Pria berambut lurus itu melirik sambil tersenyum sinis dan remeh. Aku tersindir tapi berusaha cuek. Memang kenyataannya perutku belum cukup kenyang hanya makan sepotong roti. Tak usahlah berpikir soal harga diri. Aku cukup tahu diri. Pemikirannya benar. Saat ini kami butuh air dan sungai adalah tujuan yang harus dicari. Apalagi aku didera rasa bersalah karena telah rakus menghabiskan sebotol air persediaan minum mereka hingga kami sarapan roti tanpa minum air setetes pun.


Pria keriting yang dipanggil dengan nama Hisy itu mengambil benda pipih dari dalam kantung celananya. Menghidupkannya lalu memencet tombol-tombol kecil pada bagian bawah benda itu sambil memperhatikan layar yang menyala.


“Sungai su dekat. Hanya sekitar satu kilo dari sini ke arah utara.”


Pria berambut lurus itu mengangguk sambil mengacungkan jempol kanannya dan tersenyum. Aduh mak, kenapa senyum terus sih. Hatiku makin tak karuan. Jantungku berdebar-debar lagi. Senyumnya mengandung kafein, seperti secangkir kopi yang memicu semangat dan jantung berdetak lebih kencang.


“Ayo beberes! Kita berangkat sekarang.” Pria itu langsung sigap beranjak dari tempat duduknya.


“Kamu sudah lebih segar kan, Fifa? Bisa ikut kami?” tanya kak Hisy


“Iya, kak.” Aku segera beranjak juga. Peningku sudah berangsur menghilang. Rinduku pada air tak bisa dibendung lagi. Aku ingin segera mandi dan membersihkan tubuhku yang kotor dan bau ini.


Keduanya membuka tali kuda yang diikat ke pohon besar itu dengan cepat. Mahir sekali.


“Naiklah kudaku, Fifa! Ngana bisa kendalikan kuda?” Kak Hisy menyerahkan tali kekang kudanya padaku. Ia tampak berusaha mengakrabkan diri dengan bicara bahasa cakap yang lazim di tempat tinggal kami.


Aku menggeleng.


Kulihat pria berambut lurus itu mencibir remeh. Entah kenapa sikap buruknya itu masih tampak mengagumkan buatku. Aku memang pantas diremehkan. Dia hebat.


“Pegang dulu tali kekangnya.”


Aku memegang tali kekang kuda gagah berwarna hitam kecoklatan itu. Kak Hisy berjalan mendekati pria berambut lurus itu untuk menyerahkan benda pipih yang menjadi penuntun arah menuju sungai.


“Jalan duluan, Bray. Kami ikut di belakang.”


Oh, jadi nama pria berambut lurus yang senyumnya mengandung kafein itu adalah Bray. Aku menyimpan nama itu dalam ingatanku yang paling dalam. BRAY.


Bray berjalan lebih dulu dengan kuda putihnya yang bersurai panjang. Tubuhnya yang tegap dan kelihaiannya dalam berkuda membuatnya tampak gagah dan tampan seperti pangeran dalam cerita-cerita dongeng yang pernah dibacakan para pengajar sekolah rimba. Setidaknya itulah kesan yang tertanam dalam benakku. Aku makin merasa tersihir menjadi pribadi yang berbeda pagi ini. Entah mengapa aku mengagumi pria asing itu. Apa karena merasa dialah dewa penolongku? Atau jangan-jangan dia membangunkan kesadaranku dengan sihir? Akh… bodoh. Bodoh sekali aku. Kenapa otakku isinya hanya tentang dia?


Kak Hisy sangat baik. Ia menyuruhku menaiki kuda sementara ia sendiri jalan kaki menuntun kudanya dengan langkah yang cepat setengah berlari. Ya Tuhan, aku sangat berterima kasih padanya. Entah harus dengan apa aku membalas budi baiknya ini. Ia mau berkorban demi aku sampai segitunya.

__ADS_1


“Kak Hisy tidak capek?”


“Enggak. Cuma lari sekilo itu ringan. Anggap saja olahraga.”


Aku tersenyum. Jadi teringat Arfa yang jago lari.


“Makasih ya.”


“Biasa saja, Fifa. Kita berteman.”


“Apa sungai benar-benar sekilo dari sini?” Aku masih khawatir kak Hisy kelelahan. Kuda ini berlari cepat mengikuti kuda putih tumpangan si Bray.


“Tentu saja. GPS tracking bisa dipercaya.”


“Benda pipih itu namanya GPS tracking?”


“Iya. Berisi peta dan update posisi kita pada peta. Jauh lebih canggih dan informatif daripada kompas.”


“Hebat. Kok bisa ya?”


“Bisa, karena terhubung dengan sinyal komunikasi via satelit.”


“Ngana masih tinggal di rumah lama ya?” tanya kak Hisy. Padahal aku enggan ngobrol lagi. Takut nafas kak Hisy terganggu mengingat ia sedang setengah berlari menuntun kuda agar posisi kami tetap tak terlalu jauh dari kuda putih tunggangan si Bray. Tapi kulihat stamina kak Hisy cukup kuat. Nafasnya terlihat biasa saja, tidak terengah-engah kelelahan.


“Iya. Kak Hisy tahu rumahku?”


“Tahu. Ngana itu terkenal. Karena cuma ngana yang masih keras kepala tinggal di kampung itu sendirian.” Kak Hisy tersenyum lebar.


Hahahaha. Menjadi orang keras kepala ternyata ada untungnya. Terkenal.


“Kenapa tidak ikut pindah? Memangnya enak tinggal sendirian?”


“Aku ingin jaga makam baba.”


“Bukannya 3 hari lalu makam baba ngana sudah dipindahkan ke kampung baru?”


“Dipindah?”

__ADS_1


“Oh iya. Ngana sedang tersesat di hutan, makanya ngana tak tahu kalau makam baba ngana su dipindah.”


Mama dan Fifi memang sudah berniat memindahkan makam. Tapi aku kan belum setuju. Kenapa mereka memindahkannya tanpa persetujuanku? Akh, aku jadi menyesal kenapa harus pergi ke hutan. Kenapa aku tidak tinggal saja di rumah untuk menjaga makam baba. Aku menggigit bibirku pelan. Walau geram, aku tak ingin kak Hisy tahu perasaanku.


“Kak Hisy tahu darimana kabar itu?”


“Saya teman baik Arfa.”


Owh, jadi dia tahu aku dari cerita Arfa bukan karena kenal dengan ayahku? Kak Hisy bukan warga kampung kami. Aku tak mengenalnya.


“Kak Hisy kerja di PT YX?” tebakku.


Kak Hisy mengangguk. Owh, dia ternyata teman kerja Arfa. Pantas aku tak mengenalnya.


“Arfa sering cerita tentang ngana dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Tak sangka bertemu ngana di hutan. Padahal sudah beberapa hari ini Arfa kelimpungan cari ngana.”


“Nyari aku?”


“Katanya ngana su berhari-hari menghilang.”


Aku hanya tersenyum. Tak ingin membahas masalah itu lebih lanjut. Bisa panjang urusannya.


“Saya su kirim foto ngana dan beri kabar Arfa kalau su tak sengaja bertemu ngana di hutan. Diorang gembira sekali. Mau dihubungkan telepon dengannya?”


Aku menggeleng.


“Kakak foto aku waktu pingsan?”


“Tidak. Saya foto ngana su ngana sebut nama Afifa Syarif.”


Bagus. Aku senang mendengarnya.


“Jangan beritahu kalau aku pingsan di hutan.”


“Beres. Rahasia ngana masih aman.” Kak Hisy tertawa. Aku senang punya teman baru yang baik dan menyenangkan.


"Sa bilang Arfa tak perlu jemput ngana. Ngana hanya cari damar dan sa jamin akan antar ngana aman sampai di rumah."

__ADS_1


Sip. Aku bersyukur dipertemukan dengan orang baik yang mau membantuku saat susah. Terima kasih, kak Hasy.


__ADS_2