
Malam-malam terakhirku di Makassar tetap dipenuhi oleh sisa pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Selama 10 hari di kota besar ini tak ada waktu buat jalan-jalan melihat-lihat suasana kota seperti yang dilakukan Fifi seharian ini. Setelah bertemu kawan-kawan sebayanya di pesta kemarin sore Fifi sudah buat janji bertemu mereka di pusat perbelanjaan buat makan, nonton film dan jalan-jalan. Anak itu gesit dan ramah menyapa semua orang hingga mudah mendapatkan kawan baru. Berbeda dengan aku yang sepanjang pesta sibuk mendampingi nenek, mendorong kursi rodanya, dan menemaninya berbincang dengan kerabat serta kolega yang rata-rata usianya tidak lagi muda. Langkahku tak sebebas Fifi. Tapi aku tak pernah mempermasalahkan itu sebab memang karakterku berbeda dengan Fifi. Menghadiri pesta hanya formalitas. Aku tak suka keramaian dan tak berniat mencari kawan baru.
"Kenalkan, ini Afifa cucuku. Puteri dari anakku yang kedua." Nenek memperkenalkan aku dengan bangga pada hampir semua kerabat dan kolega yang ditemuinya di pesta.
Aku harus pasang senyum dan anggukan kepala buat mereka demi sopan santun. Pipiku sampai hampir kram karena harus membuat tarikan senyum untuk mereka yang disapa nenek. Entah tulus atau basa basi semua yang disapa nenek memujiku cantik.
"Wow, ini puteri daeng Syarif rupanya." Seorang perempuan setengah baya yang mengenakan baju bodo lengkap langsung menyambutku dengan pelukan dan cium pipi kanan dan kiri. "Kamu yang kemari bersama Syarif kah?"
"Benar. Namanya Afifa. Cantik seperti neneknya kan?" Malah nenek yang menjawab sambil bergurau.
"Ya. Cantik." jawabnya sambil memperhatikan detail wajahku dengan raut kagum hingga membuatku tertunduk malu. Kenapa harus sedetail itu sih. Risih.
"Panggil saya bunda Hilya, Fifa. Saya bundanya kak Syarif yang membawamu kemari."
Oh, pantas perempuan setengah baya ini sok akrab. Mungkin Andi Syarif telah bercerita banyak pada ibunya tentang aku.
"Salam kenal, Bunda. Maaf belum sempat mampir ke rumah Bunda." jawabku agak kagok.
Bunda Hilya menepuk-nepuk pundakku. "Tak apa. Kata Syarif kamu sibuk sekali mengurus usaha nenek yàng selama ini terbengkalai. Lamakah kamu di sini, Fifa?"
"Saya kembali senin pagi."
Perempuan itu membelalakan matanya yang dibubuhi bulu mata panjang anti badai. Terlihat sangat senang dan antusias mendengar jawaban sederhana itu. "Bareng kak Syarif lagi kan?"
Aku mengangguk.
"Baguslah. Bunda ingin kalian berjodoh. Biar dekat lagi kekerabatan keluarga kita."
Ups. Gawat. Jangan sampai ada perjodohan antara aku dan Andi Syarif. Ya Tuhan, aku ingin dia selamanya sebagai kakak saja.
Aku tak menanggapi ucapan bunda Hilya kecuali dengan senyum tipis. Untunglah kami tak sempat berbincang lama sebab bunda Hilya kembali sibuk menyapa tamu-tamu yang baru datang. Dari pakaian adat lengkap yang dikenakannya sudah dapat ditandai kalau ia merupakan bagian dari penerima tamu dalam pesta itu.
Aku mendorong kursi roda nenek ke tempat ekskusif yang diperuntukan bagi tamu penting dan kerabat dekat. Suasananya lebih nyaman, tak hiruk pikuk seperti di gedung utama.
Nenek langsung disambut dengan uluran tangan tamu-tamu di ruangan itu. Semua tamu berpenampilan modis dan glamour. Tak lupa nenek tetap memperkenalkan aku pada semua tamu yang menyalaminya dengan hormat. Beberapa diantara mereka tersenyum ramah padaku. Sebagian memandangku dengan tatapan remeh. Bukan karena pakaian. Mereka pasti tahu gaunku koleksi butik ternama langganan nenek. Kurasa aku dianggap remeh karena tidak menghias wajahku dengan make up. Aku memang ingin tampil natural. Yang melekat di wajahku hanya krim pelembab, ulasan bedak tipis dan lipbalm warna natural. Mungkin penampilanku dianggap terlalu sederhana untuk ukuran pesta resepsi mewah ini.
Suka atau tidak pesta memang ajang pamer atau menunjukan jati diri. Aku tak terlalu ambil pusing dengan persepsi orang. Kebetulan kami tak lama berada di pesta itu. Hanya makan sekedarnya, memberi selamat pada pengantin, lalu berfoto bersama dengan keluarga pengantin. Tak sampai satu jam kami telah kembali ke rumah. Sementara Fifi memutuskan untuk tinggal lebih lama karena sibuk mencicipi aneka hidangan dan menikmati musik bersama teman sebayanya. Dia menunggu pesta usai dan akan pulang diantarkan Andi Syarif yang jelas pulang setelah pesta usai sebab hari itu dia dan keluarganya sibuk menjadi bagian dari panitia pesta.
__ADS_1
Sampai di rumah paman dan bapak notaris telah menunggu kami di rumah. Nenek langsung menandatangani semua berkas yang disodorkan padanya tanpa banyak bertanya.
"Besok kami akan pindah." ucapnya datar setelah menandatangani seluruh dokumen yang dibawa notaris.
"Sebenarnya pembeli rumah memberi waktu satu bulan kok, Mam. Kita masih bisa menempati rumah ini."
"Aku sudah dapat tempat tinggal yang mudah-mudahan lebih nyaman daripada rumah ini. Kau bayarlah pesangon asisten dan pekerja rumah selain Ika, Siti dan Rodi. Aku masih akan tetap mempekerjakan mereka bertiga."
"Baik, Mam. Hasan minta maaf harus buru-buru jual rumah ini."
Nenek menepis udara dengan tangan kanannya. Menarik nafas sebentar lalu berbicara dengan bibir gemetar, "Kau kasih tahu Gufron kalau aku sekarang sudah tak punya apa-apa selain tabungan pensiun. Semua hartaku sudah kubagi dengan adil, begitu pula warisan dari ayahmu. Pak Agung saksinya. Kalau dihitung-hitung keluarga kalian sudah dapat lebih banyak dari yang seharusnya. Jangan menuntut apa-apa lagi. Tabunganku hanya cukup buat biaya berobat dan gaji asisten selama beberapa tahun. Selain itu aku akan menggantungkan sisa hidupku dari pemberian anak cucu."
Paman menoleh ke arahku dan menatapku tajam seolah ingin berkata bahwa ini semua adalah salahku. Nenek adalah tanggung jawabku.
"Nenek masih berhak atas keuntungan kedai dan perkebunan kok. Pak Taqi dan pak Tristan akan tetap transfer ke rekening nenek seperti biasa." jelasku agar paman tidak salah paham bahwa aku akan menguasai semua yang secara legal telah diserahkan nenek padaku.
"Bagus. Kau pasti senang sudah dapat bagian warisan dan hibah dalam jumlah besar. Sebagai cucu perempuan kebanggaan, sudah sepatutnya kau urus nenekmu baik-baik." kata paman setengah berbisik dekat telingaku.
Aku mundur selangkah. Meskipun yang dikatakannya itu benar tanggung jawabku namun aku merasa penyampaiannya agak berlebihan. Nadanya terdengar seperti sebuah ancaman.
Paman menunduk. Aku tak tahu apa arti yang tersirat dibalik kalimat nenek. Aku hanya menggaris bawahi kata terakhirnya, jangan tamak dan menyakiti saudara sendiri.
"Aku sudah tua. Pesanku hanya satu, kau sebagai lelaki pemimpin keluarga ini harus bisa bertindak bijak dan adil. Kau bukan hanya berperan sebagai ayah dari anakmu, tapi harus bisa melaksanakan kewajiban sebagai wali bagi anak perempuan kakak kandungmu. Kau akan dipertanyakan tanggung jawabmu di hadapan Allah."
Paman tak menjawab sepatah pun. Ucapan nenek itu sangat dalam menyentuh hati.
Tak banyak pembicaraan yang terjadi malam itu. Nenek minum obat lalu istirahat di kamarnya. Sementara aku melanjutkan pekerjaanku mengedit video konten website yayasan sampai larut malam.
"Editan kakak sudah semakin rapi dan kreatif." komentar Fifi ketika melongok tampilan video di laptopku. Ia baru pulang dari pesta jam 10 malam.
"Lekas bersih-bersih lalu tidur. Jangan biasakan pulang malam. Kalau kakak tidak ada, kamu harus jaga nenek."
"Siap, Kak. Ini tadi Fifi nggak nunggu kak Syarif kok. Katanya masih ada acara lanjutan sampai jam 12 malam. Ngantuk. Fifi pulang sendiri aja naik taksi online."
Fifi pergi ke kamar mandi buat membersihkan diri dan ganti baju tidur. Sementara aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
Tak lama Fifi kembali dengan mengenakan baju tidur. "Tadi Fifi jumpa paman di beranda depan."
__ADS_1
"Sedang apa?"
"Minum kopi sambil merokok."
Hm. Aku masih fokus pada obyek gambar yang kuedit.
Fifi merebahkan dirinya di kasur. "Aku dinasehati supaya jangan pulang malam." ucapnya dengan mata menerawang ke langit-langit kamar.
"Bagus itu. Malam itu waktunya istirahat. Tidak baik masih berkeliaran di luar rumah."
"Aku kan cuma ingin tahu aja, Kak. Besok-besok enggak lagi kok."
"Paman juga ada pesan buat kakak." lanjut Fifi masih dengan gaya serius tapi santai.
Seketika aku menghentikan fokusku pada laptop. "Pesan apa?"
"Jangan mempengaruhi nenek."
Pesan yang aneh. Sejak kapan aku bisa mempengaruhi nenek? Selama ini aku hanya patuh apa kata nenek. Sama sekali tak membantah atau mempengaruhi nenek. Kenapa paman bisa berkesimpulan aku yang mempengaruhi nenek ya? Apa nenek berubah sejak kedatanganku? Sumpah. Aku bingung apa makna pesan paman itu.
"Memangnya ada apasih dengan keluarga ini?" tanya Fifi penasaran. Tampaknya ia sudah mulai merasakan hawa dingin dan kejanggalan dalam rumah ini.
"Entahlah."
"Apa karena memberi warisan kepada kita nenek jadi bangkrut sampai harus jual rumah? Kakak morotin nenek sampai segitunya?"
"Kamu pikir kakak seburuk itu?" Kubalik saja pertanyaan Fifi untuk memancing pendapatnya.
"Enggak. Kakak niat ke sini awalnya kan hanya ingin silaturahmi. Mana kita tahu kalau keluarga baba ternyata kaya dan ada warisan yang telah disiapkan untuk kita. Menurut Fifi, kalau misalnya membuat nenek jadi kesusahan kita kembalikan aja sebagian warisan yang diberikan nenek."
"Sebagian keuntungan kedai dan perkebunan masih ditransfer ke rekening nenek kok, Fi. Mungkin paman salah paham karena nenek ingin buru-buru pindah dari sini sebelum kakak pulang. Rumah ini hak paman. Sudah dijual karena anaknya butuh uang."
"Mungkin paman kasihan sama nenek harus tinggal di rumah sewa yang lebih kecil."
"Mungkin begitu. Tapi semua ini murni keputusan nenek, Fi. Kakak hanya ikut saja apa kata nenek."
Fifi manggut-mangut. "Kayaknya keluarga ini jarang ngobrol dari hati ke hati." Begitu kesimpulan Fifi sebelum membalikan tubuh dan mapan tidur.
__ADS_1