LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
BAHASA KALBU


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Cantik. Selamat pagi."


Ucapan Aga dan Ima tiap pagi membuat hatiku selalu bersemangat dan berbunga-bunga. Pasangan nuri berwarna bulu mencolok itu makin hari makin pandai menceriakan suasana hatiku dengan kemahirannya berbicara dan sikapnya yang makin jinak.


"Wa'alaikumsalam, Manis," jawabku sambil menaruh semangkuk biji jagung dan melepas beberapa ekor jangkrik dan belalang yang baru saja kutangkap dari kebun belakang.


Sengaja aku tak menaruh banyak makanan di dalam aviary agar mereka lebih pandai beradaptasi dengan terbiasa memakan tumbuhan dan serangga yang ada di sekitarnya. Serangga yang merupakan hama perusak tanaman kebun adalah makanan kesukaan burung murai yang pandai bernyanyi dengan suara melengking tinggi. Sesekali aku menangkap serangga yang merusak kebun mama lalu kulepaskan begitu saja dalam aviary agar dapat berkembang biak secara alami diantara pohon maupun semak-semak di dalamnya. Serangga itu akan menjadi persediaan makanan bagi burung-burung yang tinggal di dalamnya. Daripada dibiarkan berkembang biak dan merusak tanaman kebun mama, lebih baik kutangkap dan dibiarkan dimangsa predatornya dia dalam aviary.


Sebagai bentuk pertanggungjawabanku pada kak Hisyam, aku merekam sendiri video kegiatan harianku merawat dan melatih burung di dalam aviary. Gawai yang ditopang oleh tripod kuletakkan di salah satu sudut aviary lalu aku melakukan kegiatan sebagaimana biasa. Setelah melihat hasil video amatirku, Fifi dengan senang hati menawarkan diri mengedit hasilnya lalu mengunggahnya di akun media sosial miliknya dan di kanal video vlog dalam bentuk tayangan edukatif. Awalnya tak banyak yang mengunjungi kanal itu. Tapi setelah aku minta kak Hisyam melihat laporan perkembangan burung-burung itu lewat kanal video vlog dan sosial media Fifi, beliau membantuku promo agar lebih banyak yang menginjungi kanal itu. Teman-teman komunitas pencinta unggas banyak bantu share ke kawan-kawannya untuk jadi subscriber dan penonton. Lama-lama penontonnya makin banyak. Walau belum menghasilkan adsense tapi jumlah penonton terus bertambah setiap harinya. Dalam sebulan sudah ada ribuan subscriber dan penonton. Fifi senang sekali. Tak jarang dia yang mengusulkan konsep dan menawarkan diri mengambil gambar untuk video-video berikutnya.


Kegiatan itu membuat rasa percaya diriku bangkit. Aku merasa hidupku lebih berguna. Aku mulai percaya tak pernah ada kesialan atau kepedihan yang abadi. Kuharap selanjutnya hidupku menjadi lebih baik lagi.


Sebagaimana kepedihan, bahagia pun tidak abadi. Saat kepercayaam diri dan bahagiaku bersama burung paruh bengkok itu tumbuh makin membesar, hatiku justru semakin dihantui rasa takut kehilangan. Sebuah kerisauan terselip di hati. Rasa itu semakin menguat mendekati hari perpisahanku dengan sepasang burung nuri kepala merah yang sudah terlanjur mencuri hatiku. Tak terasa lusa aku harus berpisah dengan pasangan Aga dan Ima yang rencananya akan segera di lepas bebas di hutan Lolobata. Rasanya hati berat sekali melepaskan mereka yang sudah kuanggap sebagai sahabat yang setia.


Burung-burung penghuni aviary selalu menghibur dan menemaniku melalui hari-hari yang berat. Hubungan batin antara kami sudah terjalin semakin erat. Hati yang sedih, gundah atau marah bisa sirna seketika setelah aku masuk ke dalam aviary dan bercengkrama dengan mereka. Kadang-kadang aku masuk ke aviary tanpa bicara. Aku menyibukan diri dengan merapikan tanaman, sementara burung-burung itu menghibur dengan menyanyikan lagu cintanya yang begitu dalam masuk ke dalam kalbu. Lagu itu membuat perasaanku menjadi jauh lebih baik. Sungguh ajaib. Begitulah cara kami berinteraksi, yakni dengan bahasa kalbu yang sulit digambarkan dalam bentuk kata dan dijelaskan dengan logika. Hanya hati yang bisa merasakannya.


Aku baru menyadari bahwa perasaan itu adalah bahasa tersendiri yang bisa terkoneksi dengan makhluk lain melalui gelombang metafisika. Aku sendiri tak mengerti bagaimana bentuk dan logika gelombang itu. Cara bekerjanya pun tak bisa kujelaskan, namun hasilnya dapat kurasakan. Kondisi psikologisku makin baik. Aku tak pernah lagi menyalahkan diri sendiri atau berpikir negatif tentang nasibku. Justru aku berterima kasih pada Tuhan yang telah mengirimkan teman-teman baik meski kami hanya bisa bicara dengan bahasa kalbu.


Perkembangan pelatihan nuri itu dianggap bagus dan cepat. Aku mencatat setiap detil perkembangan sejak keduanya belum bisa bicara sampai jadi pandai berucap beberapa kata penting yang selalu jadi penyemangat hidupku tiap hari. Mereka juga sudah lihai terbang maupun hinggap di batang-batang pohon yang ada dalam aviary. Selain itu mereka sudah pandai memilih buah kenari dan pepaya yang telah masak di pohon. Sebagian besar keahlian adaptasi yang dibutuhkan untuk hidup di alam bebas telah dikuasai pasangan burung cerdas itu.


Apa jadinya jika besok aku tak lagi bisa mendengar suara sapa khas mereka dan melihat tingkah lucunya. Aku pasti sangat kehilangan. Akh .... Hidupku mungkin akan terasa hampa lagi.

__ADS_1


Kata assalamu'alaikum, cantik, selamat pagi dan apa kabar telah fasih diucapkan oleh burung paruh bengkok itu dengan suaranya yang serak-serak basah. Aku tak pernah bosan meski mereka mengulang-ulang kata yang sama tiap saat. Kedengarannya malah lucu. Kurasa semua orang pun akan terpesona dan gemas jika melihat burung cantik nan jinak pandai berucap bahasa manusia.


"Aga dan Ima, besok kalian akan dilepaskan di hutan. Apa kalian sudah siap?" tanyaku lembut.


Padahal hatiku berteriak, bukan kalian yang tidak siap tapi aku yang takut kehilangan. Hik hik hik ...


"Kalian akan dilepaskan bersamaan dengan pesta perayaan HUT kemerdekaan sesuai dengan rencana," tambahku mencoba menyemangati namun yang keluar adalah suara pelan tanpa semangat yang mirip dengan keluhan.


Aku sangat mendukung kegiatan pelepasan satwa endemik hutan setempat. Kegiatan itu akan menjadi atraksi tambahan setelah upacara bendera HUT kemerdekaan yang kali ini diadakan di lapangan yang berada tepi hutan Lolobata.


Menurut kak Hisyam kegiatan itu akan dihadiri beberapa tokoh penting seperti kepala dinas lingkungan hidup, wakil bupati, dan direktur PT XY yang pada saat yang sama akan melakukan serah terima 5 hektar pertama lahan pasca tambang yang telah direklamasi. Pihak perusahaan telah melakukan tugasnya menanam kembali tanaman tropis yang sebelumnya ditebang untuk kepentingan pembukaan lahan tambang.


Diam-diam aku berharap Bray yang katanya anak pemilik perusahaan itu datang. Meski pria berambut lurus itu memiliki dua wajah yang bertolak belakang, tapi hati kecilku tetap ingin memandangnya lagi dan lagi. Aku tak ingin terlibat masalah dengannya. Cukup melihat sosoknya dari jauh saja. Itu mungkin bisa mengobati penyakit gilaku yang kadang datang tak kenal waktu. Aku sama sekali tak berharap lebih dari itu.


"Cantik. Cantik. Apa kabar." Aga dan Ima mengulangi kata-kata yang sama.


Aku tersenyum lagi untuk mereka berdua. Kakatua putih yang mulai bisa berucap assalamualaikum pun aku abaikan. Hari ini aku hanya ingin fokus menghabiskan sisa waktu kebersamaanku dengan sepasang nuri kepala merah yang akan segera dilepas ke alam bebas.


Kebersamaanku dengan sepasang nuri kepala merah itu terasa terlalu singkat. Aga dan Ima baru bisa merespon kalimatku dengan sedikit kata yang telah dikenalnya. Padahal aku ingin mereka bisa seperti nuriku yang pandai mengucapkan banyak kata. Ingin rasanya menunda hari pelepasan mereka, namun aku tak kuasa. Momen hari kemerdekaan adalah hari yang paling tepat sebab hari itu mudah diingat dan akan menjadi simbol kebebasan yang hakiki.


Aku mengelus-elus bulu kepala Aga yang berwarna merah terang. Nuri jantan itu hinggap atas inisiatif sendiri di lenganku. Entah karena memang terbiasa manja sejak kecil, setiap kali aku masuk Aviary Aga hampir selalu mencari perhatian dengan hinggap di lenganku.

__ADS_1


"Besok, kamu dan Ima akan dibawa ke pinggir hutan untuk dilepas. Aku harap kalian lebih bahagia hidup bebas di alam yang sesungguhnya. Apa kamu sudah siap?"


Aga mematuk-matuk lengan kemejaku dengan paruhnya yang bengkok walau tak ada makanan di sana. Kuanggap tingkah itu adalah caranya menunjukan perhatian. Ia lebih suka bermain dulu sebelum makan pagi. Berbeda dengan Ima yang langsung lahap mematuk satu persatu jagung pipilan yang kusediakan di atas mangkok plastik.


"Cantik. Cantik. Apa kabar?" ucapnya berulang kali.


Entah apa maksud perkataannya. Hatiku berbunga-bunga walau kata-kata yang diucapkannya sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaanku. Apalagi Ima menghentikan aktivitas makannya sebentar untuk mengucapkan kata yang sama.


"Aku pasti akan merindukan kalian. Datanglah kemari sewaktu-waktu! Kapan pun kalian sempat, jangan sungkan kunjungi aku ya! Kita akan bersahabat selamanya."


Kepala Aga terantuk-antuk seperti paham apa maksudku, namun yang terucap masih kata yang sama, "Cantik. Cantik. Apa kabar?"


Hahahaha. Bagaimana tidak tersenyum melihat tingkah lucunya. Entahlah. Apa orang lain yang melihat juga menganggap hal itu lucu atau aku yang memang sudah gila. Masabodo dengan anggapan orang lain. Yang penting hatiku terhibur tiap kali melihat tingkah burung paruh bengkok yang jinak itu.


"Katakan, apa kamu sudah siap. Di hutan kamu harus mencari makan sendiri dan beradaptasi dengan semua makhluk dan ekosistem besar di dalamnya. Kamu harus lebih kuat menghadapi kemungkinan bertemu predator alam."


"Cantik. Cantik. Apa kabar?" sahutnya.


Hahahaha. Lagi-lagi apa yang dikatakan Aga dan Ima sama sekali bukan jawaban atas pertanyaanku. Sepasang nuri yang kini sama-sama hinggap di lenganku memangut-manggutkan kepala sambil mengoceh mengulang-ulang kata yang sama sesuka hati.


Aku yakin gerak-geriknya menunjukan bahwa sepasang nuri itu sama-sama merasakan apa yang kurasakan saat ini, yaitu rasa takut kehilangan.

__ADS_1


Apakah nuri itu telah siap hidup liar di hutan? Meski telah melatihnya sesuai petunjuk, aku masih merasa mereka sudah terlalu nyaman tinggal dalam aviary dimana ada aku yang memperhatikan apakah keadaannya sehat dan makanannya cukup atau tidak. Mereka mungkin butuh waktu penyesuaian yang lebih lama lagi.


Tidak. Mungkin aku yang terlalu terbawa perasaan takut akan kehilangan. Mereka pasti akan kuat. Kalau dituruti perasaan itu sampai kapan pun aku akan menganggap mereka tidak siap, sebab aku sudah terlanjur sayang pada pasangan yang bahkan belum sempat bereproduksi di aviary itu. Aku harus menguatkan hatiku sendiri. Yakin saja, setiap makhluk butuh kebebasan dan ini adalah kesempatan baik buat Aga dan Ima mengenyam kebebasan.


__ADS_2