
"Assalamu'alaikum, Cantik. Selamat pagi." Ucapan Aga tiap pagi merupakan booster tersendiri buatku. Aku merasa berharga buat burung-burung cantik yang mendiami aviaryku. Tentu saja aku berharap ijin segera keluar dan Aga bisa lebih lama bersamaku. Dialah penyemangat hidupku. Mungkin Tuhan sengaja mengirimkannya untukku hingga diantara kami ada tautan hati. Makanya Aga belum ingin merdeka hidup di alam bebas.
Kuhidupkan penyemprot air otomatis yang menyebarkan air seperti hujan buatan. Biasanya burung-burung lebih riang ketika aviary ini dalam kondisi yang lebih lembab. Tanaman juga terlihat lebih segar. Cukup 5 menit saja. Aku kembali ke dapur untuk mengambil semangkuk jagung pipilan makanan mereka lalu kuletakkan begitu saja di tempat biasa.
Hari ini aku tak buat video. Sedang hilang mood untuk bicara. Setelah menaruh jagung dalam aviary, aku memilih duduk di beranda sambil menganyam tikar.
"Kamu tak pergi ke mana-mana hari ini kan, Fifa?"
"Tidak, Ma. Kan Fifa sudah janji akan bantu mama di kebun."
Alamak, padahal bos muda itu menyuruhku datang ke kantornya. Masabodo lah. Mama lebih penting dari segalanya. Aku masih harus bantu mama pengolah hasil kelapa kebun kami menjadi kopra dalam beberapa hari ini.
"Jangan lupa sebelum berangkat kasih makan dulu ayam dan kambing di kandang belakang ya. Seharian ini mama akan pergi panen kelapa di kebun. Mudah-mudahan hasil panen kita banyak dan bagus. Kata orang harga kopra sedang naik."
"Alhamdulillah. Nanti Fifa akan menyusun ke kebun."
Baru kali ini kami panen kelapa dari kebun yang dibeli mama dari uang kerahiman yang diberikan perusahaan. Status kebun itu akan jadi milik Salman seandainya ia masih hidup dan kembali ke Lolobata. Seharusnya sejak kemarin aku ikut membantu mama bekerja di kebun. Kamarin sibuk peringatan hari kemerdekaan. Pagi ini harus menunggu mama Moly datang mengambil tas pesanannya. Aku bertekat berangkat ke kebun meski lebih siang.
Mama berangkat diantar Fifi dengan sepeda motor membawa sekeranjang makanan. Sejak sebelum subuh mama telah sibuk di dapur masak banyak makanan untuk bekal makan siang 3 orang pekerja kebun yang akan membantu kami memetik kelapa dan mengolah kelapa di kebun. Mereka berangkat pagi-pagi sebab Fifi akan ke sekolah setelah mengantar mama ke kebun. Itu sebabnya kenapa mama tak sempat memberi makan ternak kami. Sementara aku melanjutkan anyaman tikar sambil menunggu mama Moly datang.
"Selamat pagi, Fifa."
"Selamat pagi, mama Moly."
"Su jadikah tas pesanan mama?"
"Su jadi, mama. Silakan duduk dulu. Sa ambil mama punya tas di dalam."
Aku mengambil tas pesanan perempuan tetangga kampung yang berpenampilan modis itu di meja yang terletak di dalam rumah.
__ADS_1
"Bagus. Anyaman ngana so rapi, Fifa. Bolehkah mama pesan lagi dengan model lain?"
"Bisa, tapi tidak buru-buru mama. Sa tara tidur semalaman buat menganyam ini mama punya tas."
Mama Moly tersenyum. Diperiksanya dengan teliti anyaman tas itu. Dia tampak puas dengan tas pandan yang kuanyam sendiri dengan tanganku.
"Mama pesan satu lagi yang seperti ini. Tapi mama bayar kalau su jadi."
"Baiklah, Mama. Nanti sa kabari lagi."
"Mama kembali pulang ya, Fifa. Terima kasih. Akhirnya nanti siang mama su bisa barangkat pesta ke Buli dengan tas baru."
Mama Moly memberikan sedikit tip karena puas dengan layanan dan anyamanku. Alhamdulillah cukup untuk beli 2 kilo jagung kering pipilan makanan burung. Dia istri orang kaya yang murah hati kalau hatinya sedang senang. Tak salah aku lembur semalaman, karena pagi ini hasil kerjaku dihargai dengan senyum, pujian dan sedikit uang. Suka dengan pelanggan seperti ini. Meski ordernya memaksa tapi imbal baliknya seimbang.
Setelah menyerahkan tas pada mama Moly, aku segera pergi memberi makan ternak di kandang belakang sesuai pesan mama. Usai menjalankan amanah mama, aku pun bersiap dengan sepedaku menuju kebun kelapa.
"Fifa, kamu dimana? Kenapa tidak datang ke kantor?" Lepas ashar dia menelponku lagi.
"Sibuk bantu mama panen kelapa dan buat kopra."
"Kamu nggak tertarik buat konservasi burung?"
"Aku akan melakukan semampuku, kak Bray. Bantu mama lebih utama buatku."
"Ehm, baiklah. Aku yang akan ke rumahmu nanti malam. Pastikan habis maghrib kamu sudah sampai rumah ya." katanya dengan suara lembut namun kalimatnya yang ambigu. Kedengarannya seperti mengalah karena memahami pekerjaan kami tapi ujungnya menetapkan waktu seenaknya tanpa bertanya kesanggupanku.
Aku tak bisa berkata tidak. Tak ada alasan untuk menghindar. Tak masuk akal seorang perempuan di kebun sampai malam. Mama pun akan pulang ke rumah pada sore hari. Memang biasanya ada orang yang jaga perapian dan hasil panen yang masih ada di kebun. Api untuk pengasapan cukilan daging buah kelapa harus dijaga agar selalu menyala selama sekitar 2 hari lamanya atau sampai daging buah kelapa itu menjadi kering sempurna. Tingkat kekeringan kopra menentukan harga jual, jadi kami sebagai petani selalu mengupayakan pengeringan kopra berlangsung sesuai standar agar dapat hasil yang terbaik. Namun pekerjaan menjaga kebun itu biasanya dilakukan pekerja laki-laki. Mama meminta tolong orang yang dipercaya untuk jaga hasil panen kami selama beberapa hari ini dengan imbalan 30% dari hasil kopra kering. Orang itu juga yang membantu memetik dan mengolah hasil kebun kelapa kami. Mereka tinggal di kebun selama beberapa hari dan kami menyiapkan makan dan minum untuk mereka.
Aku mengiyakan agar bos muda itu segera menutup telepon. Terus terang semakin dia memburu, keinginan dari dalam hatiku untuk mengulur waktu semakin kuat. Entahlah. Aku belum bisa percaya padanya meski Arfa dan kak Hisyam memastikan dia orang baik dan bukan dia yang membunuh baba dan nuri kesayanganku. Selain itu aku takut kegemaranku merawat burung dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau perusahaannya. Aku malas berdialog dengannya karena sering kalah mental tiap kali berhadapan dengan kekuatan magis yang dimilikinya. Aku terlalu terpesona oleh senyumnya hingga tak bisa berpikir normal tiap kali berada di dekatnya.
__ADS_1
Aku juga tak butuh dibayar untuk hobiku dan belum terpikir untuk membuat aviary yang lebih besar untuk konservasi dan penangkaran burung yang lebih banyak. Semua kulakukan hanya demi cinta dan terima kasihku karena burung-burung itu yang menghiburku dengan nyanyian khas masing-masing yang terdengar merdu di telinga dan damai di hati. Kata orang-orang komunitas pencinta burung, nyanyian burung adalah lagu yang dikirim langsung Tuhan dari surga.
"Sebaiknya kamu ambil kesempatan itu, Fifa. Jarang ada orang yang seberuntung kamu dapat tawaran kerja sama dengan perusahaan besar." begitu saran Andi ketika ia mengantar sepasang bidadari halmahera ke rumah sepulangnya dari kantor.
Ternyata Andi menitipkan sepasang bidadari halmahera atau wake karena baru pagi tadi BKSDA mendapat burung wake betina yang kakinya luka.
"Aku takut tidak mampu melaksanakan tanggung jawab, kak Andi. Aku memang suka burung sejak kecil tapi belum punya pengetahuan dan pengalaman yang cukup buat perawatan atau pengembangbiakan."
"Iya juga sih. Alasanmu logis."
"Aku curiga bos muda itu punya niat buruk. Kalau memang niat mau buat yayasan konservasi, kan dia bisa cari orang lain yang lebih berpengalaman. Tidak harus aku."
Andi manggut-manggut. Ia memberitahukan bagaimana cara merawat sepasang wake-wake itu. Sebaiknya beberapa hari ini mereka ditaruh dalam kandang besi terlebih dahulu untuk adaptasi dan mempermudah perawatan, terutama untuk wake betina yang kakinya luka. Kami menaruh kandang itu di dalam aviary.
"Mungkin dia pilih kamu karena diam-diam naksir kamu, Fifa."
Aku langsung memukul lengan Andi. "Jangan ngawur! Tara mungkin begitu. Kita tara tahu dia di kota sudah punya pacar, tunangan atau mungkin sudah beristri."
"Kayaknya sih belum beristri tapi kalau pacar mungkin banyak hahahaha. Siapa sih yang tidak tertarik sama bos ganteng, muda, kaya dan pintar macam dia. Aku pun kalau jadi gadis, bakal rela nikung pacarnya. Hahahaha."
"Ah picik sekali ternyata otakmu, Kak. Menikung itu macam yang mama mama sering bilang, namanya pelakor. Ngana bisa dihujat mama-mama sekampung kalau kelakuan macam itu."
"Tak apa dihujat, yang penting dapat pacar ganteng dan kaya." Andi terkekeh dengan ucapannya sendiri yang kuyakin hanya bercanda.
"Kalau dia naksir, sikat aja Fifa. Pokoknya jangan sia-siakan keberuntunganmu. Kamu itu cantik dan penyayang. Bukan tidak mungkin bos XY memilihmu karena alasan itu. Aga saja sampai tak mau bebas karena ingin tiap saat mengucapkan salam dan memujimu,"
Aku tergelak mendengar analogi itu, "Kakak pikir bos PT XY itu sebelas dua belas dengan Aga?"
Andi ikut tertawa sambil menaikan bahu, "Siapa tahu." ujarnya.
__ADS_1