LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
ANALOGI


__ADS_3

Di dalam kantor aku menyusun draf profil organisasi sendirian. Sepi. Sesekali saja terdengar obrolan atau suara ketukan palu tukang yang sedang merapikan beberapa bagian bangunan. Tadi aku menghabiskan banyak waktu untuk mengambil foto di beberapa sudut aviary dan membuat video aktivitas pak Koli menyiapkan makanan burung, termasuk upayanya beternak larva serangga dan ulat untuk persediaan makanan burung. Cukup banyak gambar yang kuambil dengan kamera saku. Pindah sana pindah sini mencari sudut terbaik untuk membidik bidadari halmahera jantan yang akan menjadi ikon yayasan kami.


Tak terasa matahari sudah tinggi, utusan kak Hisyam datang membawa kotak-kotak makanan untuk tukang, keluarga dokter Fahira dan tentu saja aku.


"Terima kasih, pak Bin. Menunya apa hari ini?"


"Ayam kecap, kak Fifa."


"Pak Bin sudah makan?"


"Sudah. Sebelum pergi ke mari pak Hisyam sudah suruh sa makan dulu."


"Masih sibukkah beliau?"


"Sibuk sekali, kak. Titip salam saja buat kak Fifa."


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Sa permisi dulu, kak Fifa. Mau kembali lagi ke kantor. Nanti ada orang cari."


"Silakan. Terima kasih." kataku sambil mengangkat kotak makananku sambil tersenyum.


Setelah makan siang aku tetap otak atik kata dan gambar profil organisasi dalam template yang telah disediakan aplikasi. Pekerjaan ini cukup mengasyikan hingga tak terasa matahari telah hampir tenggelam. Aku segera mengirim 3 desain profil yang telah jadi ke Jim untuk mendapatkan review.


KLIK. Pesan terkirim. Tak ada lagi yang harus kukerjakan selain kembali menjenguk aviary. Biasanya sore hari waktunya burung-burung bernyanyi melagukan tasbih dan keriaan hari ini. Aku mengemas laptop dan barang-barang pribadiku ke dalam ransel. Kupikir Andi tidak jadi datang sore ini. Ternyata bersamaan dengan aku keluar pintu dan mengunci kantor, Andi memarkir mobil bak terbuka di halaman.


Seperti biasa, yang dipamerkan pertama kali adalah senyum nakalnya. "Halo adik Fifa. Ngana makin hari makin cantik saja. Betah ya di kantor PT XY? Sa pikir ngana sudah ambil alih kerja sekretaris kak Firdaus di kantor itu." ucapnya seenaknya sambil melompat ke luar mobil.


Tak menunggu jawabanku, dengan sigap ia menarik tali temali di bak mobil yang fungsinya untuk memperkuat posisi kandang agar tidak banyak gerak dalam perjalanan. Setelah tali temali lepas, ia dan rekannya menurunkan kandang-kandang hewan yang di bawanya dari atas mobil bak terbuka.


"Bawa masuk mereka dalam kandang besar di belakang sana!" perintah Andi pada rekan yang membantunya.


Aku menghampiri dan ikut membantu menurunkan kandang kasuari. Kuperhatikan yang dibawanya tidak hanya kasuari dan ayam hutan, namun ia membawa serta seekor rusa timor yang terlihat tak berdaya karena kandangnya terlampau kecil. Kasihan sekali binatang itu terlihat sedih tak dapat bergerak bebas. Kupikir rusa itu akan dibawa ke tempat lain. Ternyata dengan Andi menurunkan kandang rusa itu dan membawanya menuju aviary.


"Hei, kak Andi. Kenapa pula bawa kandang rusa ke sini? Kami tak punya kandang rusa." protesku yang dibalas dengan senyum mengejek.


"Sementara saja ditaruh di aviary, Fifa. Aku sudah bertahu dokter Hans dan dokter Fahira. Kasihan rusa ini terluka. Akan lebih baik kalau sementara tinggal di sini dalam perawatan dokter hewan."

__ADS_1


Aku mencebik kesal. Orang-orang sekitarku selalu bertindak seenaknya. Tidak Andi. Tidak pula Bray. Keduanya sering seenaknya memutuskan sesuatu tanpa mengajakku diskusi terlebih dahulu. Yayasan ini bergerak di bidang konservasi burung. Seharusnya hewan mamalia tidak dititipkan di sini. Gawat kalau dibiarkan. Hari ini Andi titip rusa, bisa jadi besok atau lusa serigala atau babi juga akan dibawanya ke mari supaya pekerjaannya lebih ringan. Ini curang namanya.


"Kak Andi tak bisa semena-mena begitu. Kami hanya terima burung saja."


"Cobalah lihat dulu! Ngana tak iba lihat rusa ini?"


"Kasihan. Tapi rusa itu bukan jenis unggas, kakak. Janganlah semua tugas kak Andi dialihkan pada kami. Kami hanya terima penitipan unggas. Tidak hewan lainnya."


"Cuma sementara, Fifa. Lagipula aviarymu itu luas dan masih kosong. Koleksi burungnya masih sedikit. Tak masalah kalau rusa ini menumpang sementara. Kasihanilah rusa ini." jawab Andi tanpa merasa bersalah sama sekali. Agaknya ia sudah terbiasa berbuat semena-mena begini.


Andi mengeluarkan rusa itu dari kandangnya yang sempit di dalam aviary. Rusa itu tak mau berdiri. Terkulai saja di tanah. Tulang rangkanya tampak menonjol sebab hanya sedikit daging yang menyelimuti tubuhnya. Matanya sayu. Perutnya terlihat buncit. Apa mungkin sedang mengandung? Aku langsung jatuh iba. Mata sayunya seolah memintaku agar diijinkan tinggal. Kalau sudah begini, mana mungkin aku berkeras mengusirnya.


Dokter Hans datang menghampiri kami dengan membawa perlengkapan prakteknya. Ia ikut masuk ke dalam aviary, langsung menghampiri rusa itu, dan memeriksa keadaannya tanpa banyak bicara.


Ide liarku muncul. Kuambil kamera dan tripod untuk mengabadikan momen ini. Mana tahu berguna di kemudian hari.


"Rusa ini sedang mengandung." kata dokter Hans pelan sambil menurunkan stetoskop dari telinga. Senyum tipis tersungging di bibirnya.


Andi mengangguk. "Alhamdulillah. Polisi hutan mendapatinya dalam patroli hari ini. Rusa itu terpisah dari kawanannya dekat sungai, Dokter. Kakinya pincang. Kami baru membidai saja sebagai pertolongan pertama buat rusa ini."


"Apa patah tulang?"


"Entahlah, dokter. Ada memar. Kami kira hanya trauma karena berbenturan dengan benda tumpul."


Dokter Hans membuka balutan pada kaki rusa itu. Kulihat wajah rusa betina itu meringis. Aku turut merasakan kesakitannya.


Setelah memeriksa luka dan memberinya obat semacam salep, dokter Hans kembali membuat bidai dan membalut bidai itu dengan sangat hati-hati.


"Apa ada patah tulang, Dok?" Andi kini balik bertanya.


"Tidak. Benar dugaan kalian. Dia hanya trauma karena benturan benda tumpul. Semoga lekas pulih. Justru yang harus lebih kita perhatikan adalah kehamilannya. Rusa ini butuh nutrisi tambahan sebab dia tengah mengandung empat ekor janin. Kita harus usahakan menambah suplemen dalam pakannya nanti."


Sekurus itu mengandung 4 janin? Aduh, kasihan sekali. Pantas sejak tadi dia tak mau berdiri. Selain kakinya terluka, mungkin tubuh ringkihnya tak kuat menahan beban 4 janin yang tengah berkembang dalam rahimnya.


"Kita akan merawatnya dalam aviary, Dok?" tanyaku.


"Sepertinya begitu, Fifa."

__ADS_1


Andi tersenyum riang. Dia menyenggol bahuku dengan bahunya. "Ngana jangan pelit, Fifa. Rusa juga makhluk Tuhan yang perlu perlindungan. Apalagi rusa itu sedang hamil."


Iya. Tahu. Aku juga trenyuh melihat nasib rusa kurus itu.


"Ngana manusia penyayang, apa tega menyia-nyiakan rusa hamil yang kakinya terluka?"


Aku membelai rusa yang sejak kedatangannya hanya bisa tidur-tiduran dengan wajah memelas dan mata yang sayu. Tampak sekali berat beban hidupnya. Seekor induk binatang yang kurus dan terluka sedang memperjuangkan hidup 4 ekor anak dalam rahimnya. Sungguh itu perjuangan yang sangat luar biasa. Tentu saja aku harus membantunya.


"Dia makan rumput seperti kambing, Dok?"


"Ya. Rumput dan dedaunan. Nanti saya akan berikan suplemen yang ada di puskeswan dulu sambil order suplemen khusus yang lebih baik untuk menyelamatkan kehamilan rusa ini."


Dokter Hans ikut membelai bulunya yang kasar. Rusa itu diam saja menikmati belaian tangan kami. Kasihan.


"Suatu saat ngana akan hamil seperti induk rusa itu, Fifa. Ngana harus belajar jadi ibu dari dia."


Aku meninju bahu Andi yang terbahak menggodaku. "Ngana pikir sa tak punya otak mau hamil tanpa tanggung jawab pejantan macam rusa tu. Mana rusa jantannya? Kenapa dia biarkan istri dan calon anaknya menderita begitu?"


Entah kenapa yang terbayang di mataku sekarang adalah wajah Bray. Dia selalu cocok diumpamakan dengan pejantan berparas menawan yang tak bertanggung jawab macam burung bidadari halmahera dan rusa timor jantan. Semua mata terpesona pada eloknya rupa, merdunya lagu dan indahnya tarian bidadari halmahera jantan. Siapa sih yang tidak mengagumi pesona rusa timor jantan yang tampak gagah dengan tanduk bercabang di kepalanya. Dengan tanduknya mereka bertarung untuk mendapatkan hati sang betina. Tapi setelah hati dan tubuhnya didapat, si betina ditinggalkan dalam kesulitan mengandung anak yang dihasilkan dari proses perkawinan mereka. Sungguh miris. Mengapa sang jantan tidak mendampingi kehamilan betina yang dikawininya? Apa mereka diciptakan Tuhan tanpa rasa belas kasih pada darah dagingnya?


Otakku terus membuat analogi tentang hewan jantan yang berpenampilan menarik tapi tak bertanggung jawab. Semua analogi itu tertuju pada satu nama yang senyumnya selalu terkenang dalam memoriku. Siapa lagi kalau bukan Bray, bos muda yang penampilannya super menarik itu.


Argh. Aku benci semua ini. Aku benci kenapa otakku kini dipenuhi oleh bayangan dia, dia dan dia seorang. Kenapa otakku bisa lumpuh begini? Apakah aku telah jatuh cinta padanya? Ya Tuhan. Kalaupun harus jatuh cinta, aku tak ingin jatuh cinta padanya. Lebih baik aku jatuh cinta pada Arfa sahabat kecilku yang telah terbukti setia menemaniku pada saat masa-masa sulitku. Bukan dia yang hanya pandai tebar pesona. Bukan dia yang ternyata memperalat aku untuk ambisi bisnisnya. Bukan dia yang kuduga telah membunuh ayah dan burung kesayanganku dengan panah beracunnya. Bukan dia yang telah bertunangan dengan orang yang jauh lebih pantas dariku. Bukan. Bukan. Pokoknya aku tidak mau jatuh cinta pada pria itu.


Andi memukul pundakku sambil tersenyum tengil. "Ngana kenapa? Melamunkan apa?"


Sesaat aku terperangah kaget. Kukembangkan senyum untuk menormalkan keadaan.


Enyahlah semua pikiran tentang Bray. Aku tak boleh terlalu banyak berkhayal dan memikirkan sesuatu yang tak beguna.


"Ngana masih memikirkan kemana rusa jantan yang menghamilinya?" desak Andi lagi yang tak henti menaburkan senyum tengil.


Dokter Hans ikut senyum-senyum melihat kebodohanku. Aku jadi menunduk malu.


"Tak semua jantan meninggalkan betina yang sedang hamil. Ada pejantan yang justru bertambah sayang dan perhatian saat pasangannya mengandung benihnya. Contohnya saya. Tanyakan pada dokter Fahira! Saya selalu menemani dan memanjakannya saat ia hamil Pras. Sampai melahirkan pun saya turut mendampingi walaupun kulit saya jadi baret-baret gara-gara dicakar singa betina yang melahirkan. Hahahaha."


Entahlah. Apa dokter Hans hendak memberitahuku bahwa tidak semua laki-laki tak peduli pada pasangannya atau ia sedang memuji dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2