
Berangkat menjenguk papa Bray ke Singapura nggak ya? Sejak menutup telepon semalam aku terus bertanya-tanya dalam hati. Rasanya seperti mimpi aneh. Dalam kondisi luka wajahku yang masih setengah kering harus melakukan perjalanan antar negara. Itu bukanlah sesuatu yang mudah kubayangkan. Apalagi untuk bertemu Bray dan papanya.
Saat selesai membersihkan luka pagi tadi aku memberanikan diri menatap detail wajahku di cermin. Pada pipi bagian atas bekas luka terlihat sebagai garis-garis berwarna kecoklatan. Terasa gatal. Tapi aku bertahan tidak menyentuhnya kecuali ketika membersihkan luka dengan kain kassa yang dibasahi alkohol dan mengoleskan salep bening yang diresepkan dokter. Sementara luka pada pipi bagian bawah yang membentuk bidang-bidang asimetris masih berwarna merah dan terasa nyeri. Walau begitu tak ada tanda-tanda inflamasi atau pembengkakan di sekitar luka. Secara keseluruhan wajahku masih tampak menyeramkan. Aku ngeri melihat wajahku sendiri.
Besok beberapa garis mungkin sudah mengelupas tapi tetap saja belum bisa dikatakan sembuh. Aku belum ingin ke mana-mana. Saat mama, Salman dan Fifi memilih jalan-jalan keliling kota Makassar diantar pak Rodi, aku berdiam diri di rumah saja. Mereka maklum dengan alasanku menemani nenek yang sibuk membuat rangkaian bunga dari plastik bekas pakai.
Bukan sekedar alasan. Aku memang benar-benar membantu nenek membuat kerajinan tangan berbahan plastik bekas pakai itu. Dari memilih warna-warna plastik yang cocok untuk berbagai bunga sampai merangkainya menjadi satu karya seni yang sedap dipandang mata. Kuperhatikan dan kutiru dengan baik bagaimana cara nenek mencetak pola, menggunting, membentuk dan menatanya menjadi sebuah rangkaian bunga yang indah. Di tangan nenek benda yang dianggap sampah yang mencemari lingkungan itu berubah menjadi kriya cantik yang digunakan untuk menghias meja dan beberapa tempat lain di kedai. Agaknya aku mulai menyadari darimana bakat membuat aneka kerajinan tanganku diturunkan.
"Besok pak Rodi janji mau mencarikan dahan pohon kering yang agak besar dan bercabang-cabang. Nenek mau buat pohon bunga Sakura." kata nenek sambil memilin kawat yang akan dibentuknya menjadi ranting.
"Mau ditaruh di mana, Nek?"
"Di pojok ruangan. Nanti dililitkan dengan lampu-lampu kecil biar tambah menarik."
Terbayang di dalam imajinasiku cantiknya pohon Sakura yang nanti akan dibuat nenek. Hasil karya tangannya rapi dan menarik. Tapi kalau membuat pohon bunga sakura yang dahannya besar, tinggi dan rantingnya banyak tidak tahu akan selesai dalam waktu berapa lama. Mungkin sebulan, 2 bulan atau malah setahun. Tidak ada target. Membuatnya sesuai mood dan waktu luang nenek. Namanya membuat karya seni murni memang tak bisa ditarget. Yang penting nenek bahagia dan karyanya dapat memperindah ruangan serta mengurangi sampah anorganik yang sulit diurai oleh alam.
"Pak Budhi sanjaya kena serangan jantung 2 hari yang lalu, Nek."
"Papanya Firdaus?" tanya nenek sambil melirikku dengan raut curiga.
Aku mengangguk. Kutunggu reaksi nenek dalam beberapa saat. Biasa aja. Nenek tetap fokus melanjutkan aktivitas membuat dan merangkai bunga.
"Kalau misalnya aku mau jenguk beliau di Singapura kira-kira boleh nggak, Nek." Aku mencoba mengemukakan kegelisahanku pada nenek yang sedang asyik menata bunga-bunga plastik buatannya dalam sebuah wadah kayu berbentuk seperti gentong.
"Kamu punya paspor?"
"Enggak. Tapi kata mas Firdaus bisa diurus di kantor imigrasi. Sehari langsung jadi."
"Boleh. Tapi nenek tidak mau kamu berangkat sendirian. Ajak Salman menemanimu."
"Kak Salman kan kembali ke Jailolo nanti sore. Besok harus kembali dinas."
Nenek tersenyum samar. Bagiku syarat nenek sama artinya dengan tidak boleh. Kalau mama yang diminta nenek menemani masih mungkin. Tapi kalau Salman, rasanya mustahil. Kakakku itu cinta dengan pekerjaannya sebagai penyuluh pertanian. Sebagai pegawai baru pasti tak bisa terlalu banyak cuti. Apalagi urusannya nggak bisa dibilang penting banget.
__ADS_1
"Nanti nenek deh yang ngomong ke Salman. Anak gadis tidak baik pergi jauh sendirian. Apalagi kamu belum sembuh betul."
Aku mengerti. Kuhempas saja harapan bertemu mas Bray dan papanya. Cukup mendukung dengan doa dan komunikasi dari jauh saja. Apapun yang terjadi aku tak berani melawan ibu dari ayahku.
"Kamu kenapa sih nggak mau jujur sama nenek."
"Tentang apa?"
"Tentang apa lagi kalau bukan tentang Firdaus. Kita sedang membicarakan Firdaus kan?"
"Fifa sudah jujur kok sama nenek. Bukan Fifa yang menyebabkan putusnya tunangan mas Firdaus dengan mbak Maudy."
"Memang bukan kamu. Kamu hanya korban kesalahpahaman. Keluarga mereka sedang bersengketa." jawab nenek ringan. Sepertinya nenek sudah tahu inti permasalahan keluarga itu yang sebenarnya.
"Nenek pernah komunikasi dengan pak Budhi ya?"
Nenek tersenyum remeh. Ia meletakkan gunting lalu mengambil catokan rambut untuk membentuk plastik yang telah digunting menjadi kelopak bunga mawar agar tampak bergelombang pada ujungnya.
"Ngobrol apa nenek sama pak Budhi?" tanyaku penasaran.
Oh, mereka sudah saling kenal rupanya.
"Kenapa ngobrolin aku sama mas Firdaus?" tanyaku meminta kejelasan.
"Pak Budhi sempat bilang ingin melamarmu. Tapi nenek tak mengiyakan karena cucu nenek masih terlalu muda dan kurang pengalaman."
Hah? Melamar? Kenapa nenek tak membicarakannya padaku? Kenapa diputuskan sendiri tanpa sepengetahuanku?
"Kamu tidak jujur sama nenek masalah hatimu. Kamu mencintai Firdaus?"
Aku menunduk. Tak berani menatap nenek lagi. Kubiarkan pertanyaan nenek mengambang begitu saja.
"Firdaus anak tunggal dari kedua orang tua yang sudah tak memiliki saudara lagi. Pak Budhi sudah lama sakit-sakitan. Dia sangat berharap Firdaus segera menikah dengan gadis baik yang dicintainya agar mereka segera mendapatkan pewaris garis keturunan keluarga. Dia bilang senang mengetahui ternyata gadis yang dicintai anaknya masih keturunan orang yang telah dikenalnya baik dan memiliki darah bangsawan." Nenek mengucapkan itu dengan nada sinis.
__ADS_1
Aku melirik wajah nenek yang sinis. Tidak ada api kemarahan di gurat wajah dan sorot matanya. Ia masih fokus membentuk gelombang pada ujung kelopak mawar agar terlihat seperti mawar asli.
"Apa itu artinya nenek menolak permintaan pak Budhi?" tanyaku takut-takut.
"Menolak sih tidak, hanya menangguhkan. Momennya tidak pas. Bisa merugikan nama baik keluarga kita. Nenek nggak mau kamu celaka lagi karena dianggap terlibat sengketa keluarga mereka."
Oh, benar. Nenekku pintar. Dengan kalimat itu nenek ingin mengingatkan aku bahwa luka di wajahku adalah imbas dari sengketa keluarga mereka. Selama sengketa mereka belum final, lebih baik aku berdiri jauh di luar lingkaran keluarga mereka.
"Kalau mau jenguk pak Budhi tidak usah buru-buru. Minggu depan saja menunggu Salman libur."
"Iya, Nek."
"Nenek tidak mau foto paspor kamu jelek begini." Nenek tersenyum sambil memencet hidungku.
Aku tersipu malu. Benar juga. Masak foto paspor dalam keadaan muka rusak begini.
"Tapi kemungkinan minggu depan juga masih jelek, Nek. Luka yang sebelah sini bakal lama sembuhnya." ujarku sambil menunjuk pipi sebelah bawah.
Nenek tersenyum lebar. Tanpa diberitahu nenek sudah tahu luka itu butuh waktu agak lama untuk pulih, terutama di bagian bawah pipi dimana terdapat luka yang lebar dan cukup dalam.
"Nenek yakin pak Budhi akan sembuh?"
"Itu urusan Allah, Sayang. Masak nenek bisa sombong mendahului kehendakNya. Kita berdoa saja buat kesembuhannya dan diberi jalan yang terbaik."
Aku sedikit kecewa dengan jawaban nenek yang klise. Tak sengaja kulampiaskan kesalku dengan menggunting plastik yang telah dibentuk menyerupai bentuk daun.
"Kenapa kau gunting daun itu, Fifa?" tegur nenek.
"Maaf! Nggak sengaja, Nek."
Bukannya marah nenek malah tersenyum.
"Tenanglah! Nenek nggak mungkin membuat cucu kesayangan nenek nggak bisa tidur gara-gara menunggu orang yang mengucapkan 'selamat tidur' tiap malam. Nenek merestui hubunganmu dengan Firdaus, tapi tetaplah jaga marwah keluarga. Kamu adalah cucu daeng Baharudin Syam. Ingat itu!" Nenek menghujamku dengan jari telunjuk dan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
Aku tak mengerti sama sekali apa yang dimaksud marwah dalam perspektif nenek. Apakah marwah dipandang dari sudut agama atau adat istiadat. Aku tak paham bagaimana adat keluarga ayahku yang tampaknya rumit. Kupikir nenek agak kolot. Beliau mungkin ingin hubungan kami diresmikan secara adat. Untuk yang satu ini aku kurang sepakat dengan nenek. Aku tak tahu apakah nenek sedang bernegosiasi minta uang panai yang banyak sebagai syarat sebuah pernikahan. Sebab kudengar pernikahan menurut adat Bugis itu terkenal berbiaya tinggi.