LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
DILEMA


__ADS_3

BRAK. Suara pintu yang dibanting dengan keras mengagetkan aku yang sedang membaca berkas-berkas yang diberikan oleh Jim. Aku sedang konsentrasi membaca detail kata demi kata akta pendirian Yayasan Bidadari Halmahera yang sudah mendapatkan pengesahan dari notaris. Kata Jim setiap kata dalam akta bisa berkonsekuensi dengan hak dan tanggung jawabku secara hukum. Oleh karena itu aku harus paham detail isi akta. Jangan sampai ada yang terlewat.


Sebagai orang awam, aku lakukan saja apa yang disarankan Jim selama itu logis dan baik untukku ke depannya. Dokumen legalitas belum lengkap semua. Beberapa dokumen perijinan sedang dalam proses pengurusan. Besok aku harus datang sendiri ke bank mengurus proses pembukaan rekening dengan membawa surat rekomendasi dari PT XY, akta pendirian yang sudah disahkan oleh notaris ini dan beberapa berkas lain yang sudah disiapkan Jim dengan rapi dan teliti.


Seorang perempuan cantik keluar terburu-buru dari ruangan berpintu kayu hitam nan kokoh yang olehnya dibanting keras hingga mengagetkan aku dan Jim yang tengah menekuni dokumen kami masing-masing.


"Mau kemana kamu, Maudy. Kita belum selesai bicara." Bray terlihat menyusul dan menarik tangan mulus gadis itu agar kembali masuk ke ruangan.


Gadis itu menepis dengan kasar. "Aku nggak bisa tinggal di tengah hutan begini, Fir. Nggak bisa. Aku bukan orang utan." pekiknya keras.


"Siapa yang bilang kamu orang utan. Aku cuma minta kamu mengerti aku sedang berjuang buat dapat kontrak dan berpartner dengan perusahaan baterai mobil listrik kelas dunia. Perusahaan ini harus berstatus green company. Kita punya cadangan bahan baku yang kalau kita proses jadi barang jadi di site lebih efesien. Proses sudah berjalan. Kita tinggal menunggu beberapa bulan lagi. Tim penilai mereka akan datang ke sini meninjau lokasi langsung. Aku harus di sini memastikan semua berjalan sesuai rencana."


"Dari awal tidak ada yang setuju dengan rencana idealis kamu. Ujung-ujungnya pasti rugi. Jual saja nikel mentah ke China seperti perusahaan lain yang beroperasi di pulau Obi. Base kita di Jakarta. Kita cari bisnis lain di Jakarta kalau mau mengembangkan usaha. Bukan di sini."


Aku tertegun. Rupanya itu percakapan bisnis strategis kelas tinggi di perusahaan. Gadis cantik itu pasti pemilik 20% saham yang tempo hari menyusul Bray dengan helikopter karena hendak memberikan surprise. Apa dia kekasihnya?


Bray melirik ke arahku. Perlahan ia melepaskan genggaman tangannya pada gadis cantik itu.


"Ya sudah. Terserah kamu. Dari dulu kita memang tidak pernah satu visi." ujarnya dengan suara merendah. Kelihatannya Bray sangat kecewa. Wajahnya terlihat lelah dan muram.


"Kamu yang dari dulu keras kepala dan sok kuasa." gadis itu balas menghardik Bray sambil menudingkan jari telunjuknya.


Bray angkat bahu dan mencibir.


"Lihat saja nanti. Kalau kamu bersikeras dengan mau kamu sendiri, perusahaan pasti rugi. Sudah 4 tahun perusahaan ini beroperasi tapi hasilnya masih jauh dari kata BEP. Itu karena kamu terlalu tolerir pada masyarakat yang tidak tahu hukum dan buang-buang dana banyak untuk program CSR."


Aku tergugu mendengar penuturan gadis itu. Jadi, intinya gadis itu tak setuju adanya pengeluaran dana untuk aktivitas CSR. Berarti ada hubungannya dong dengan pendanaan buat yayasan dan rencana pembangunan tempat konservasi burung endemik hutan Halmahera. Duh, kenapa aku jadi merasa bersalah ya. Mendadak aku tak punya konsentrasi lagi untuk membaca detil kata demi kata apa yang tertuang dalam akta notaris yang kini ada di tangan.


"Kalau keluargamu mau hengkang dari perusahaan ini nggak masalah. Katakan berapa yang perlu kubayar. Aku akan coba menghubungi teman-temanku. Banyak teman yang setuju dengan ideku dan bersedia investasi." Kini Bray membalas dengan dagu terangkat. Jelas sekali dia menantang dengan sombongnya.


Gadis itu membuang muka lalu melangkah menjauh dengan cepat namun anggun. Wajahnya memerah dan berlipat-lipat. Sangat marah pada Bray.

__ADS_1


Tak tok tak tok. Sepatu tingginya yang berujung lancip itu berbunyi nyaring saat beradu dengan lantai keramik yang mulus dan kinclong. Penatnya tumit menopang beban tubuh seakan tak menghalanginya melangkah. Aku yakin, kalau aku yang pakai sepatu itu sudah pasti akan jatuh terjungkal. Dia gadis hebat.


Bray berdiri menunggu gadis itu tak terlihat lagi sebelum menghampiriku yang masih duduk termangu di depan meja Jim sang sekretaris.


"Selamat siang, Fifa. Apa kabar?" sapanya ramah.


"Baik, Kak."


"Jim, tolong bantu Fifa mendapatkan laptop. Coba tanya tim IT mungkin ada cadangan laptop yang sementara bisa digunakan olehnya sebelum laptop yang dipesan kemarin tiba. Dia bisa berkantor di sini dulu. Kamu ajari sampai mahir mengoperasikan laptop dan beberapa aplikasi penting. Kamu tidak keberatan berlatih komputer dari Jim kan, Fifa?"


Aku tak berani menatap Bray tapi kepalaku mengangguk. Aku selalu senang jika mendapat kesempatan mempelajari sesuatu yang baru. Di sisi lain rasa ragu dan tak enak hati mengusik pikiranku. Aku sama sekali tak ingin posisiku di sini memberatkan bagi perusahaan yang kata gadis tadi masih dalam posisi belum BEP. Apa itu BEP? Apa itu artinya perusahaan ini masih merugi? Aku tak tahu pasti. Aku hanya bisa menduga posisi keuangan perusahaan sepertinya belum stabil sehingga gadis itu marah karena Bray dianggap menghambur-hamburkan uang untuk suatu hal yang belum pasti.


Apa konflik yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Perselisihan pendapat atau ada bumbu masalah pribadi yang turut andil di dalamnya. Apa pun itu kehadiranku di sini pasti akan membuat gadis itu makin marah pada Bray.


Lalu aku harus bagaimana? Gadis yang keluarganya memiliki saham di perusahaan ini tak setuju Bray buang uang untuk program CSR. Ini akan jadi masalah baru buatku. Apa lebih baik aku mundur saja? Toh aku masih mampu merawat sendiri burung-burung langka dalam aviary yang telah dibangun di halaman depan rumah. Sekecil apapun peranku, yang penting aku sudah berusaha menyelamatkan kehidupan burung-burung cantik itu. Itu lebih baik daripada menghamburkan dana besar tanpa persetujuan pemilik saham perusahaan yang lain.


"Besok, tolong antar Fifa ke bank untuk buka rekening." Bray bicara sambil mengetuk meja Jim.


Bray beralih memandangku. "Seminggu ini Jim akan membantumu, Fifa. Kalau laptop barumu sudah datang, kamu bisa bekerja dari rumah dan belajar secara otodidak di rumah. Sekarang banyak tayangan dan konten tertulis yang bisa digunakan untuk mempelajari sesuatu yang kita ingin pelajari. Tinggal semangat dan kerja keras kita yang perlu dijaga agar kita bisa cepat mahir sesuatu. Saya yakin kamu pasti bisa."


Aku mengangguk dan tersenyum mendengar kalimat dukungan dan motivasi yang keluar dari mulut manisnya. Di kantor ini sikap Bray terlihat bijaksana dan mengayomi. Berbeda sikap dengan sebelumnya saat bertemu di luar kantor. Suasana tampak formal. Tampangnya serius. Tak ada senyum jahil menghias bibirnya. Benar-benar seperti layaknya eksekutif muda yang pernah ada dalam bayanganku. Namun satu yang tak berubah, senyumnya tetap mengandung magis.


"Minggu depan mungkin progres pembangunan aviary dan kantor yayasan sudah hampir rampung. Kita akan tinjau bareng."


"Soal rekrutmen?"


"Semua masalah ecek-ecek itu koordinasikan dengan Jim ya. Dia ahlinya."


Aku mengangguk. Dalam hati ada rasa penasaran ingin menanyakan soal perdebatan dengan gadis tadi apakah akan berdampak terhadap rencana kerja yayasan atau tidak. Tapi daripada tambah pusing memikirkan urusan orang lain lebih baik aku pendam saja keinginan itu. Saat ini jalani saja sesuai rencana. Kalau di tengah jalan harus berubah arah karena konflik ini, aku tinggal berpikir bagaimana cara menyesuaikan dengan situasi.


"Yang tadi itu mbak Maudy, tunangannya mas Bray." Jim memberitahuku dengan suara pelan saat Bray sudah kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya yang ekslusif.

__ADS_1


Aku hanya mendongak sebentar untuk menanggapi Jim dengan senyum. Selanjutnya aku kembali mempelajari aplikasi microsoft word untuk membuat surat-surat bisnis sebagaimana yang dicontohkan Jim. Aku sekarang duduk di samping Jim. Petugas kantor menaruh meja dan kursi kerja tepat di sebelah meja kerja Jim agar memudahkanku belajar banyak hal dari Jim.


"Cantik." Lidahku tiba-tiba saja melontarkan kata itu tanpa kendali.


"Banget. Udah kayak artis. Perawatannya mahal, makanya kulitnya bisa kinclong kayak mutiara putih grade A." Jim tertawa sambil menutupi mulutnya. Tingkahnya terlihat tertata lebih anggun daripada wanita.


Aku menoleh dan tersenyum lagi padanya.


"Mbak Maudy nggak setuju dengan adanya CSR. Apa jadinya ya kalau dia tahu diam-diam ada yayasan konservasi yang dibiayai perusahaan. Dia pasti marah besar."


Deg. Aku tersentak namun berusaha untuk bersikap normal. "Kalau menurut kak Jim aku harus bagaimana?"


"Ya nggak gimana-gimana juga sih, Fif. Kan ini inisiatif dari mas Bray biar posisi perusahaan sebagai green company lebih kuat karena didukung bukti otentik kalau perusahaan peduli HAM, lingkungan, dan melaksanakan reklamasi pasca tambang dengan baik."


"Berarti Fifa dan yayasan hanya akan dijadikan alat dalam kasus ini ya, Kak?"


"Aku nggak bilang begitu lo, Fifa. Jangan berpikir kayak gitu. Orang kecil kayak kita mah yang penting kerja dengan baik dan benar. Nggak usah mikirin intrik orang besar. Capek. Bikin stres."


"Setuju." kuacungkan jari jempol untuk Jim.


Jim tersenyum lebar.


"Padahal menurut aku yang boros itu mbak Maudy. Sejak mas Bray menetap di sini, dia sering banget bolak balik ke sini. Padahal di sini dia nggak kerja apa-apa. Tiap ke sini naik pesawat bisnis atau sewa pesawat privat ke Ternate, lalu sewa helikopter buat sampai di sini. Tagihannya minta dibayar perusahaan. Dia juga sering minta dibayarin tagihan fashion, tas branded dan biaya perawatan kecantikannya yang mahal banget."


Ya ampun, ternyata sekretaris Bray ini orangnya rempong juga seperti mama mama kampung. Ia menunjukan salah satu contoh bukti tagihan sewa helikopter yang akan dikirimkan ke divisi keuangan dalam sebuah map plastik bertuliskan 'finance'. Jumlahnya fantastis. Butuh jual sekitar 5-6 ekor sapi buat membayar satu trip perjalanan. Ocehan Jim kuanggap radio. Suaranya lumayan menghibur.


"Kalau mas Bray mah sederhana. Sering makan di kantin bareng kita. Bajunya juga nggak mahal-mahal amat."


Benarkah? Aku tak mengenal Bray dengan baik, tapi aku pernah dengar Arfa cerita makan bareng dengan anak pemilik perusahaan di kantin.


Dengan lirikan mata kuperhatikan gerak gerik Jim yang gesit. Meski sambil ngoceh tapi Jim tetap bekerja dengan cekatan. Mengangkat telepon, menyiapkan berkas sampai dengan mengorganisir orang dapat dilakukannya dengan rapi di sela obrolan ringan soal bosnya.

__ADS_1


__ADS_2