
Aku bergegas menghampiri SUV hitam yang baru saja masuk ke area parkir. Bray mengikutiku dengan langkah yang lebih cepat. Begitu mobil yang dikendarai pak Rodi berhenti, aku segera menarik handel pintu tengah lalu masuk ke dalam mobil. Sementara Bray mengetuk pelan jendela supir hingga pak Rodi membuka jendela itu.
"Maaf, Pak. Saya ijin ikut bapak ya. Mau bertemu neneknya Fifa." kata Bray dengan suara yang tenang dan ramah.
Pak Rodi sempat melirik ke arahku. Tapi aku tak bereaksi apa pun.
"Saya Firdaus Sanjaya, temannya Fifa."
Tanpa menunggu jawaban pak Rodi, Bray membuka pintu mobil lalu duduk di sebelahku.
Pak Rodi terlihat kebingungan "Bagaimana, Non Fifa?" tanyanya sambil menoleh ke arahku.
"Jalan saja, Pak!"
Pak Rodi kembali manuver parkir kendaraan menuju keluar halaman kedai.
"Nggak apa-apa kan aku ketemu nenek dan pamanmu?"
"Buat apa?"
"Ingin kenal saja. Bukankah rejeki kita akan lebih banyak kalau kita menjalin silahturahmi?"
Alasan klasik. Bray seperti nenek, suka hal yang berbau klasik. Selera orang tua.
"Lebih baik mas Bray istirahat. Besok ada pertemuan penting."
"Pertemuan malam ini lebih penting."
Entah harus ngomong apa lagi. Aku tak bisa tegas menolak atau mengijinkan Bray bertemu nenek.
Banyak dugaan beredar di kepalaku. Aku yakin Bray pasti penasaran siapa keluarga ayahku. Dia sudah bisa menilai seperti apa keluarga ayahku dari pakaian yang kukenakan, juga fasilitas yang kuterima saat ini. Soal pernyataan cintanya, aku tak menanggapi dengan serius. Bisa jadi dia mengungkapkan itu karena tahu aku bukan gadis miskin biasa yang dulu ditemuinya di hutan Lolobata. Status yang baru kuketahui ini cukup membuatku sulit jadi diri sendiri.
Kuakui dia pria sempurna tapi aku tak pernah berkeinginan memilikinya. Aku hanya suka melihat senyum dan parasnya yang menawan. Sama seperti fans suka pada aktor pujaannya. Cukup sampai di situ saja. Aku tak mau terlibat masalah dalam hubungan yang rumit. Menghirup udara pagi, makan makanan yang baru diambil dari sumbernya dan mendengar nyanyian burung-burung sudah cukup membuatku bahagia.
"Kamu kelihatan tidak nyaman, Fifa. Apa aku membuatmu takut?"
"Ya."
"Kenapa? Apa kamu mengira aku akan mencelakakan kamu?"
"Mungkin saja. Nuri itu mati di hadapanku. Sementara yang ada di lokasi dan memegang busur dan anak panah hanya mas Bray."
"Kamu lihat sendiri anak panahku mengenai buah kenari, bukan burung itu. Ada anak panah lain yang melesat bersamaan." bantahnya dengan alibi yang sama.
"Sudahlah. Aku tak mau bahas masalah ini lagi. Aku sudah mengikhlaskan kematian nuri itu. Siapapun pembunuhnya, pasti terjadi atas kehendak Tuhan. Tapi aku yakin pembunuhnya adalah orang yang sama dengan pembunuh baba."
__ADS_1
Bray terdiam. Pak Rodi kelihatan kaget dengan obrolan kami yang di dalamnya tersimpan misteri besar berkaitan dengan kematian anak majikannya.
"Demi Allah bukan aku pembunuh nuri itu. Aku juga masih sekolah di Amerika saat babamu terbunuh 4 tahun yang lalu. Tolong percaya aku, Fifa! Aku tidak sekeji itu."
"Aku tidak menuduh mas Bray."
"Kamu menuduhku membunuh nuri itu. Itu artinya kamu menuduhku membunuh baba juga."
"Sudah. Lupakan! Tidak perlu merasa bersalah kalau tidak berbuat salah."
Bray merobohkan tubuhnya di jok dengan kasar. Kulihat ia menarik nafas panjang dan mengucapkan istigfar berkali-kali. Terlihat seperti kesal. Kalau bersalah kenapa tak mengaku saja biar hidupnya lebih tenteram. Toh aku juga tak bisa menuntut karena tak punya bukti.
"Bukankah selama ini hubungan kita tetap baik? Kalau aku punya bukti valid, tentu kasus pembunuhan itu sudah kulaporkan ke polisi."
"Kamu selalu bilang ikhlas, tapi buktinya kasus nuri itu masih jadi ganjalan buat hatimu."
Tentu saja. Sampai kapanpun selama aku tidak menemukan siapa pembunuh ayahku hal itu tetap jadi ganjalan. Untuk mencari siapa pembunuhnya rasanya sudah tak mungkin. Peristiwa itu sudah terlalu lama terjadinya. Jasad ayahku sudah menyatu dengan tanah. Yang tersisa hanya tulang belulang. Tak ada saksi di tempat kejadian. Dari segala aspek sudah tak mungkin diusut lagi.
"Boleh aku cerita jujur tentang sesuatu?" pinta Bray dengan suara pelan.
"Tentang pekerjaan?" tebakku.
Bray tak langsung menjawab.
"Konservasi burung itu akan tetap berlangsung ada atau tidak ada dukungan dari mas Bray. Terima kasih telah memberi aku kesempatan untuk belajar dan memulai upaya ini."
"Waktu kecil baba pernah menggendongku masuk ke hutan untuk mencari damar. Waktu itu kami butuh uang untuk pengobatan kakakku yang sakit. Kami masih menjumpai banyak jenis burung, termasuk bidadari halmahera."
Bray duduk tenang mendengarkan ceritaku tanpa interupsi.
"Selama 3 hari kami di dalam hutan selalu disuguhi nyanyian burung yang berbeda jenis tiap pagi dan sore. Semakin ke sini keberadaan beberapa jenis burung makin jarang ditemui. Makanya aku mendukung gagasan mas Bray tentang konservasi itu meski mungkin tujuan utama kita berbeda."
Kupikir Bray akan menyanggah atau membela diri dengan pernyataan terakhirku. Ternyata tidak. Ia lebih tertarik dengan cerita anak kecil yang diajak ayahnya masuk hutan. "Hebat. Masih kecil sudah belajar teknis survive di hutan." sanjungnya antusias.
Aku tersenyum.
"Kamu dan ayahmu tidak pernah menangkap burung-burung liar untuk dipelihara atau dijual?"
"Kata baba, nyanyian mereka tiap pagi dan petang adalah bentuk rasa syukur dan ungkapan tasbih pada Tuhannya. Biarlah mereka bebas di bumi Allah. Kami ke hutan hanya untuk mengambil getah damar dan kayu gaharu. Itu pun kalau terpaksa ada kebutuhan yang mendesak. Waktu itu baba ingin membawa kakak ketigaku yang sakit panas ke puskesmas atau dokter di kota kecamatan."
Bray mengangguk.
"Mas Bray tahu apa yang terjadi pada waktu itu?"
Bray menggeleng. Aku memang bertanya dengan pertanyaan retoris. Tentu saja Bray tak mungkin tahu karena ia tak ikut mengalami kejadian itu.
__ADS_1
"Baba menggandengku sambil membawa banyak ikatan kayu gaharu dan kantung-kantung damar di tangan dan punggungnya. Anjing kami mengikuti di belakang. Aku berusaha tak mengeluh walau kakiku pegal dan perih. Semua kulakukan karena aku melihat sendiri beban baba sangat berat."
Bray meringis seolah melihat atau merasakan sendiri bagaimana seorang anak kecil yang dibawa ayahnya ke hutan. Berjalan jauh menembus semak, terantuk batu atau menginjak sesuatu yang mungkin melukai kaki bukan suatu yang mudah. Apalagi bagi seorang anak perempuan kecil.
"Kenapa baba tega membawamu ke hutan? Kenapa kamu tidak tinggal di rumah saja?" ucapnya dengan nada miris mengasihani anak kecil itu.
"Supaya mama tidak terlalu repot menjaga anak-anaknya. Di rumah mama harus mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus Afan yang sakit dan Fifi yang masih bayi. Waktu itu usiaku baru sekitar 5 tahun."
Bray mengangguk mengerti kalau baba sebenarnya juga tak ingin menyusahkan gadis kecilnya. Semua dilakukannya karena terpaksa. Dan terbukti karena tempaan hidup aku tumbuh menjadi perempuan mandiri yang gigih memperjuangkan apa yang ku mau.
"Baba dapat cukup banyak uang dari hasil penjualan kayu gaharu dan damar itu. Tapi ketika dalam perjalanan membawa kak Afan ke puskesmas, nyawanya tak tertolong."
"Kenapa babamu tidak pinjam uang dulu untuk bawa Afan ke dokter?"
"Baba tidak mau merepotkan orang lain. Lagipula warga kampung kami kehidupannya sama sederhananya. Kami jarang bertransaksi dengan uang. Kak Afan sudah dirawat oleh tabib. Kebiasaan warga kampung kami orang sakit biasa diberi obat tradisional dari dedaunan atau minyak atsiri oleh keluarga atau tabib. Dokter dan puskesmas jauh di kota kecamatan. Itu pun peralatan dan obatnya katanya kurang lengkap. Pergi ke puskesmas adalah inisiatif terakhir baba karena panas Afan sudah seminggu tak kunjung sembuh dan saat itu beberapa anak lain yang menderita penyakit yang sama tak bisa terselamatkan dengan obat tradisional."
"Daeng Syarif tak pernah minta bantuan bapak atau ibunya. Bu Arifah pasti sedih sekali kalau mendengar cerita ini, non Fifa." Pak Rodi ikut berkomentar.
"Begitulah kehidupan kami, pak Rodi."
"Daeng Syarif meninggal tak wajar?"
"Terkena panah beracun." jawabku singkat.
Pak Rodi tak bertanya lagi sebab kami telah tiba di halaman rumah nenek. Aku melangkah masuk diikuti Bray dan pak Rodi.
"Silakan duduk, mas Firdaus. Saya akan panggilkan nenek Fifa. Mudah-mudahan beliau masih berkenan menerima tamu.
Tak lama setelah kami berdua duduk di sofa ruang tamu, Gufron datang. Dia terkejut melihat Bray.
"Hai, Firdaus. Ada apa gerangan ke mari? kenal dengan Fifa?" Gufron lebih dulu menyapa.
Bray mengulurkan tangan. Kedua pria itu bersalaman.
"Ya. Aku ada kerjasama dengan Fifa mengelola konservasi burung di Halmahera."
Gufron tersenyum tipis. "Fifa ini anak daeng Syarif, kakak papiku. Sorry soal yang tadi pagi ya. Kayaknya kamu sudah menemukan orang yang tepat. Lebih baik berurusan langsung dengan Fifa saja. Sejak kemarin pagi, status kebun lada itu miliknya."
Oh jadi transaksi jual beli kebun lada yang tak jadi itu ada kaitannya dengan Gufron?
"Tak apa. Aku sudah minta maaf dan memberi pengertian pada Juno. Masalah close."
Gufron melirikku sinis. Sedetik kemudian ia menepuk bahu Bray dan mohon diri.
"Aku istirahat ke atas dulu ya. Silakan lanjut ngobrol dengan kakak sepupuku. Malam ini kau tamunya."
__ADS_1
Masalah apa lagi ini. Gufron sudah berencana menjual kebun kopi itu, sementara nenek memberikan hak atas saham perusahaan agrobisnis pemilik lahan perkebunan itu padaku sehari sebelumnya. Baru 3 hari berada di rumah nenek konflik keluarga ini sudah bikin kepalaku mau pecah. Aku yang tak tahu apa-apa dipaksa terlibat dalam pusaran konflik mereka.