
Bray menggandengku masuk poliklinik kebidanan sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak. Gedungnya tampak megah dan bersih. Berbeda dengan klinik atau puskesmas yang pernah kukunjungi.
Hari masih teramat pagi. Suasana rumah sakit masih tampak sepi. Tak banyak orang yang kami temui dalam gedung ini. Hanya ada resepsionis dan petugas pendaftaran di lobi depan. Selanjutnya yang terlihat hanya bangku kosong berderet-deret di depan ruang praktek poliklinik.
"Dokter Chisara telah menunggu di poliklinik kandungan dan kebidanan. Silakan bapak dan ibu langsung ke sisi kiri ruang poli ke-3. Kami akan bantu administrasinya."
"Terimakasih, Sus."
Bray mengajakku berjalan ke poli yang dituju. Kami pasien dengan reservasi khusus. Pagi ini dokter Chisara SPOG hanya menyempatkan waktu melayani satu pasien poliklinik sebelum beliau ke ruang bedah untuk melaksanakan operasi caesar pasien yang sudah direncanakan sejak jauh hari. Pasien istimewa itu adalah kami.
Dokter Chisara salah satu spesialis kebidanan perempuan yang jadi favorit banyak pasien. Selain cerdas dan ramah, dokter kandungan itu ternyata cantik. Penampilannya tidak kalah cetar dengan artis korea. Berkulit putih dan bermata sipit. Sosok gambaran perempuan sempurna yang membuat perempuan lain bakal iri dengan pesonanya, termasuk aku.
"Bayinya sehat, Fir." jelas dokter Chisara sambil tersenyum ke arah Bray.
Aku menelan salivaku sendiri sambil mengepalkan tangan. Aku benci senyumnya. Meskipun dia merasa telah kenal dekat dengan Bray, seharusnya sebagai seorang dokter lebih fokus perhatian pada ibu bayi. Bukan cari perhatian pada ayahnya.
Untunglah emosiku masih terkontrol. Perhatianku teralihkan pada gambar di layar monitor USG 4 dimensi. Ada sosok makhluk kecil yang bergerak seperti tengah melakukan peregangan tubuh terekam di sana. Gerakannya lambat dan sederhana. Detak jantungnya berbunyi nyaring dengan irama yang stabil.
Ya Allah, makhluk kecil yang kepalanya masih lebih besar dari tubuhnya itu adalah anakku. Sungguh. Tak tergambar bagaimana rasa bahagia dan syukurku melihatnya. Tanpa sadar aku tersenyum.
"Denyut jantung, gerakan, kondisi plasenta, air ketuban dan tali pusar janin dalam kondisi normal." dokter Chisara menerangkan sesuai dengan hasil analisa USG yang sebagian telah tertera pada layar monitor dalam bentuk informasi yang masih harus diterjemahkan dokter.
Aku tak peduli dia masih tersenyum pada Bray. Seluruh perhatian kucurahkan untuk melihat gambar di layar monitor USG. Tak peduli yang lain.
"Ukuran panjangnya kurang lebih sekitar 13 cm dan berat janin 140 gram. Coba lihat! Lucu ya. Kelopak matanya sudah bisa membuka dan menutup."
Benar. Mata dan mulut mungil dalam reka gambar 4 dimensi itu bisa bergerak membuka menutup. Gerakannya yang gemulai membuatku gemas. Aku menoleh ke arah Bray yang terpana melihat layar yang sama. Bibirnya tersenyum bahagia. Berkali-kali ia mengucap alhamdulillah.
"Mari kita lihat sisi lainnya. Jari jemari mulai terbentuk dan tangannya sudah bisa mengepal. Organ tubuhnya semua tumbuh sempurna." Dokter menggerak-gerakan alat yang menempel di kulit perutku untuk memperlihatkan bagian tangan. Pada titik yang dituju dokter memperbesar ukuran gambar agar terlihat lebih jelas.
Aku dan Bray kembali baku pandang dan melempar senyum. "Alhamdulillah, bayi kami tumbuh dengan baik."
__ADS_1
Belum terlalu terlihat bayi itu mirip siapa. Bagiku yang terpenting pernyataan dokter yang memastikan bayi kami tidak ada cacat bawaan dan tumbuh sehat sebagaimana mestinya. Itu saja cukup. Namun dokter memberi kami bonus. Jenis kelamin janin sudah dapat terlihat. Dia laki-laki.
Bray tak henti-henti tersenyum dan berucap syukur. Aku pun begitu. Hari ini aku dapat suntikan semangat dan kebahagiaan yang berkali-kali lipat banyaknya. Bertemu bayiku meski hanya lewat gambar di layar elektronik berbentuk kotak itu. Kalau pada masa awal aku menyesali kehamilan yang terlalu cepat, hari ini semua sesal itu hilang tanpa bekas.
Ting. Semua berubah. Bayi ini benar-benar anugerah terindah buat kami.
Tak lama kami berada di ruang poli kebidanan itu. Dokter Chisara menuliskan resep vitamin dan obat untukku. Sementara asistennya menyerahkan 3 lembar hasil print USG 4 dimensi untukku.
"Bulan depan datang untuk kontrol lagi ya, Mam. Jadwal praktek saya tiap hari Senin sampai kamis jam 10 pagi sampai jam 12 siang. Semoga Heliophobianya tidak berlanjut sampai triwulan berikutnya."
Aku mengangguk saja.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktu buat kami, dokter Chisara."
"Tidak masalah, Fir. Rumah sakit memang menyediakan jasa reservasi khusus. Tentunya ada biaya khusus juga. Hehehe."
Ups. Tidak ada layanan khusus yang gratis. Kami harus bayar mahal untuk layanan pemeriksaan kehamilan di luar jam praktek normal. Persetan dengan semua itu. Perhatianku hanya tertuju untuk bayiku.
Aku tak bosan memandang dan mengagumi gambar bayi mungil yang tercetak dalam kertas yang permukaannya licin. Aku elus-elus perutku yang bila diraba terdapat gerakan halus. Aku membayangkan di dalam sana bayi kami masih sebesar anak kucing yang baru lahir. Betapa menggemaskan.
"Anak mas?" tanyaku sambil menengadahkan kepala memandangnya memperlihatkan wajah cemberut.
Bray garuk-garuk kepala. Terlihat sedikit bingung dengan reaksiku. "Salah ya?"
"Anak kita." ralatku.
Bray tertawa kecil. "Iya. Anak kita." katanya sambil mengulurkan tangannya agar aku berdiri.
Enak saja dia mengklaim sebagai anaknya. Memangnya aku tidak punya berkontribusi.
Kusambut uluran tangannya lalu berdiri untuk beranjak meninggalkan rumah sakit yang masih sepi.
__ADS_1
"Kita harus rayakan hari bahagia ini. Mau sarapan apa?"
Aku tak punya ide. Aku jarang rewel masalah jenis makanan. Asalkan tidak dalam kondisi mual, apapun bisa kusantap.
"Kita sarapan di kantor aja ya. Nanti makan siang di resto masakan Gorontalo yang tempatnya cozy."
Aku menurut saja. Untuk pertama kalinya aku menginjakan kaki di kantor pusat Sanjaya Corporation. Semua orang menyambut kami dengan ramah. Setidaknya mereka menundukkan kepala, tersenyum sambil mengucapkan selamat pagi.
Selesai sarapan roti croisant dan susu kotak, aku ikut menemani Bray rapat istimewa pemegang saham dengan direksi dan tim manajemen. Rapat itu diselenggarakan mendadak karena Bray sedang ada di Jakarta. Dewan direksi mendesak Bray harus hadir dalam rapat luar biasa yang konon akan membahas agenda penting dimana pendapat Bray akan sangat mempengaruhi hasil rapat. Katanya agenda rapat ini sebenarnya sudah diselenggarakan berkali-kali. Hasilnya deadlock tanpa keputusan berarti.
Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan mantan istri muda papa, seorang yang pernah menjadi top model dan sampai saat ini masih dikenal sebagai selebritas tanah air. Perempuan cantik berusia hampir 40-an tahun itu memandangku dengan tatapan remeh.
"Oh jadi untuk orang hutan ini kamu buat kecewa Maudy, Fir." ujarnya sinis.
Dadaku langsung panas. Aku mempererat genggamanku pada lengan Bray. Sorot mata perempuan cantik itu mengintaiku setajam sinar laser yang menembus daging dan mengoyak-otak sel tubuh sampai hancur.
Bray tak peduli. Ia merangkulku lalu menarik salah satu kursi di meja besar itu dan memanduku untuk duduk di sana. Sedangkan Bray duduk tepat di sebelah kananku.
"Jangan dengar apa katanya. Penyakit gilanya makin menjadi setelah dia dicerai papa." bisik Bray dekat telingaku.
Anggukan saja cukup sebagai jawaban bahwa aku telah paham siapa perempuan itu.
Perempuan itu menarik kursi di sebelah kiriku lalu duduk di sana dengan angkuh. Matanya melirikku tajam.
"Kamu belum sadar, Fir. Perempuan ini sebenarnya siluman monyet yang menyihir ibu Arafah agar mengakuinya sebagai cucu. Dia bukan keturunan daeng Syam. Daeng Syam tak punya keturunan perempuan. Dia itu siluman monyet. Kamu menemukannya di hutan kan?"
Perempuan itu masih berusaha memprovokasi Bray yang tengah sibuk mempelajari setumpuk berkas yang diberikan sekretaris direksi.
"Jaga mulut tante! Status tante di perusahaan ini ditentukan dalam rapat hari ini. Daripada sibuk memfitnah istri saya, bersiaplah untuk menangis dan kehilangan semua fasilitas." Bray mengancam dengan nada santai sambil memperhatikan berkas yang ada di depannya.
Perempuan itu menutup mulut, memamerkan senyum sinis dan melirikku dengan pandangan remeh. Cih. Menyebalkan.
__ADS_1
Dilihat dari dekat perempuan itu masih terlihat sangat cantik di usianya yang tak lagi muda. Kulitnya putih dan bening tanpa noda. Tubuhnya langsing dan tinggi semampai. Pakaian hitam yang melekat ditubuhnya begitu pas memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Cocok dengan sepatu dan tas kulit buaya yang dikenakannya. Mungkin perempuan serupa dia yang dianggap pas untuk mendampingi seorang Firdaus Sanjaya. Bukan aku.
Kuelus perutku dengan hati yang mengkerut. Aku tak habis pikir. Sayang sekali orang yang fisiknya sebaik dia ternyata hatinya busuk dan pikirannya picik. Bisa-bisanya dia memfitnahku dengan sebutan paling keji dari semua kata yang pernah kudengar selama hidupku. Padahal aku tidak kenal dia. Bertemu pun baru hari ini. Namun kebenciannya padaku tampak telah mendarah daging. Apa dia melakukan ini untuk Maudy? Atau ...