LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
JIM


__ADS_3

Kuabaikan saja obrolan sampah dengan mantan bapak tiriku. Aku tak menceritakan masalah ini pada mama. Satu yang perlu kupastikan, mama tidak akan rujuk dengan lelaki yang tak pernah dicintainya. Hanya permohonan itu saja yang kusampaikan pada mama saat kami sedang senggang di kebun kelapa tadi. Masalah lain kusimpan sendiri agar tidak jadi beban pikiran mama.


Sore harinya bapak kepala kampung kembali datang ke rumah kami. Aku sengaja tak mau menemuinya. Mama menemuinya di beranda depan dengan ditemani Fifi. Sementara aku menguping obrolannya dari ruang depan tempat aku menggelar pandan dan menganyamnya menjadi tikar.


"Sa mau rujuk pe ngana, Mala. Sa janji tak akan ikut campur urusan Fifa mau nikah kapan dan dengan siapa."


Itu jelas kebohongan. Tadi pagi juga dia ngomong begitu tapi berselang beberapa menit dia mengatakan berharap aku jadi gundik bos tambang supaya hidupnya makmur. Mana bisa mungkir lagi. Sudah jelas lelaki itu berniat ingin menjualku pada lelaki kaya.


"Maaf, saya tak ingin rujuk. Lebih baik bapak menikah dengan orang lain saja yang lebih baik daripada saya."


"Tapi sa masih sayang pe ngana, Mala. Tarada yang bisa gantikan posisi ngana di hati. Tiap malam sa menyesali keputusan malam itu. Rindu dan kesepian rasa menyiksa." Suara bapak terdengar mengiba.


Omong kosong. Aku justru tersenyum mendengar omong kosong pembual itu. Mana ada sayang, rindu dan kesepian. Bohong. Tiap malam dia masih bisa tidur dengan istri-istrinya. Aku lebih percaya ucapan mama Wen. Dia mau rujuk dengan mama karena ditolak janda muda kampung sebelah. Hahaha. Semoga kapok. Sudah makin tua, tak cukup uang tapi ingin punya banyak istri dan gundik.


"Maaf, saya mau menghabiskan sisa waktu hidup saya bersama anak-anak saja. Saya tak bisa mencintai bapak. Kalau dipaksakan pun tetap tak bisa jadi istri yang baik. Banyak perempuan lain yang lebih cantik, lebih muda dan lebih baik dari saya."


"Tapi mereka bukan sa punya Mala."


Aku ingin terbahak-bahak mendengar orang tua itu merayu mama. Gombal semua.


Bersyukur mamaku tak lagi bisa termakan rayuan gombalnya. Cintanya hanya untuk baba. Selamanya hanya untuk baba. Tentu saja aku bahagia mendengar mama terus menolak rujuk dengan bapak kepala kampung.


Bapak kepala kampung pulang dengan tangan hampa. Tak hanya sekali. Tiap sore ia mampir ke rumah membawakan berbagai macam makanan. Roti, kacang, jagung dan makanan lain dibawanya sebagai oleh-oleh untuk merebut hati mama. Aku, mama dan Fifi tak pernah mencicipinya. Biasanya pagi harinya makanan itu dibawa ke kebun untuk sarapan orang-orang yang bekerja mengolah kopra. Kadang kuambil pula untuk makanan burung atau ternak kami. Pokoknya kami tak sudi makan makanan pemberiannya. Meski kami di hadapannya menerima, tapi tak mau mencicipi.


Pengasapan kopra telah selesai. Mama telah menjual hasil kopra pada pengepul dan membayar gaji para pekerja yang membantu panen dan mengolah menjadi kopra. Mama juga telah mengirim beras untuk mama Wen sebagaimana janjinya. Sekarang para pengepul tidak membayar kopra secara tunai, namun langsung transfer ke rekening bank. Kebiasaan baru ini lebih menguntungkan buat kami yang dilanda risau masalah penyimpanan uang. Belakangan ini sudah ada beberapa kali kasus pencurian saat orang baru menerima uang hasil panen di kampung.


Fifi sekarang berperan sebagai kasir mama. Ia memberitahu setiap transaksi bank yang informasinya masuk ke gawainya dan mengambilkan uang di mesin ATM dekat sekolahnya apabila dibutuhkan. Uang di tabungan itu hanya digunakan untuk membayar listrik, dan biaya sekolah Fifi saja. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari kami mengandalkan hasil kebun di halaman rumah, ternak dan penjualan hasil kerajinan tangan.


Hari ini aku bersiap pergi ke kantor Bray dengan kemeja rapi, celana panjang dan kerudung warna senada. Semalam aku sudah buat pemberitahuan pada kak Hisyam mengenai rencana kedatanganku.

__ADS_1


Menurut kabar yang selalu diperbaharui kak Hisyam, akta notaris sudah keluar dan proses pembuatan aviary besar sudah mulai berjalan. Begitupun dengan rekrutmen dokter hewan dan keeper.


Fifi mengantarku dengan sepeda motor sampai di pos satpam. Di sana aku harus menyerahkan kartu identitas. Mereka menukarnya dengan kalung bertuliskan visitor dan perlengkapan pengaman standar proyek seperti helm, safety shoes dan rompi khusus sebagaimana yang dikenakan para pekerja di kawasan ini. Sambil memilih sepatu yang pas, aku diminta menunggu sampai kak Hisyam menjemputku di pos satpam.


"Hai, Fifa. Apa kabar?" kak Hisyam berjalan tergopoh-gopoh menghampiriku. kelihatan sekali wajah lelahnya siang ini. Udara panas. Kelihatannya ia berjalan cukup jauh menuju pos satpam.


"Baik, Kak"


Aku sedikit canggung dengan protokoler perusahaan. Kuikuti saja apa alur petunjuk yang tadi diberitahukan petugas satpam. Semua orang yang berada di lingkungan ini tampak hilir mudik mengenakan standar pengaman yang sama. Sebagian besar mengenakan seragam yang sama dengan yang saat ini dikenakan kak Hisyam yaitu, sebuah baju panjang warna biru dengan garis silver di lengannya. Mereka tersenyum dan menundukkan kepala saat berpapasan dengan kak Hisyam. Itu membuatku turut membalas dengan senyum pula. Hanya satu dua orang yang melambaikan tangan dari jauh atau menyapa kak Hisyam dengan pertanyaan basa basi.


"Beginilah aktivitas di kantor kami." kata kak Hisyam sambil membuka pintu kaca sebuah gedung 2 lantai berdinding tembok dengan banyak kaca yang memperlihatkan dengan jelas aktivitas orang di dalamnya. Gedung itu tampak mungil jika dibandingkan dengan gedung dengan cerobong asap yang terletak di belakangnya. Meski begitu, desainnya tampak lebih estetis daripada bangunan besar yang di atasnya terdapat tangki-tangki besar dan cerobong asap. Ada taman tropis di depan gedung. Di dalam pun ada pot-pot tanaman yang terlihat menyegarkan mata.


"Di dalam ruangan kantor perlengkapan safety boleh dibuka, tapi kalau keluar tetap harus dipakai lagi ya. Ngana bisa menaruhnya di loker visitor yang ada di sana. Jangan lupa ambil kuncinya biar aman."


Aku ikut saja protokoler yang berlaku di kantor ini. Kulihat beberapa karyawan kantor memang tak menggunakan alat pengaman standar proyek. Berbeda dengan orang yang hilir mudik di luar gedung tadi. Semuanya mengenakan alat pengaman standar proyek. Aku menaruh helm, safety shoes dan rompi di dalam loker yang ditunjukan kak Hisyam, menguncinya lalu kumasukan anak kuncinya di dalam kantung celana yang kukenakan.


Tapi eh ... kenapa kak Hisyam tidak melakukan hal yang sama?


"Sa hanya antar ngana ke ruangan mas Bray. Selanjutnya harus kembali bertugas mengawasi aktivitas furnace di pabrik. Sa ini orang lapangan, Fifa. Yang ada di kantor ini hanya manajemen, personalia, bagian umum dan keuangan saja."


"Berarti kak Hisyam tidak menemani aku ketemu kak Bray?" tanyaku ragu. Aku berharap tidak sendirian bertemu dengan lelaki itu.


"Tara, Fifa. Nanti ada sekretaris direksi yang bisa bantu kamu kalau butuh sesuatu. Berkas administratif dan lamaran dokter hewan dan keeper semua masih ada di sekretaris itu."


Owh begitu ya. Aku pikir kak Hisyam itu asisten yang mengurus apapun kepentingan Bray dan mengikutinya ke mana pun pria itu. Ternyata ia karyawan lapangan yang bertugas di pabrik pengolahan nikel yang letaknya terpisah dari gedung ini.


Aku melangkah ragu mengikuti kak Hisyam yang melangkah dengan tegap dan langkah yang panjang. Rasa tidak percaya diri dan takut menyelimutiku. Apa sanggup menghadapi kekuatan magis bos muda itu sendirian?


"Selamat siang, kak Jim. Kenalkan ini Afifa, yang akan mengurus yayasan konservasi burung yang baru itu."

__ADS_1


Kak Hisyam memperkenalkan aku dengan lelaki berkulit bersih yang berpakaian rapi. Tak ada garis kusut sedikit pun di pakaian yang dikenakannya. Rambutnya juga ditata sangat rapi. Karena kerapiannya yang tanpa cela itulah ia sangat cocok menyandang status sebagai sekretaris direksi. Pekerjaannya pun mungkin sangat tertata serapi penampilannya.


"Saya Jim, sekretaris pak Firdaus Sanjaya."


"Saya Afifa Syarif."


"Silakan duduk! Mohon ditunggu sebenar ya, kak Fifa. Pak Firdaus sedang ada tamu. Kita bisa ngobrol dulu soal lamaran buat personalia yayasan yang kebetulan masih saya yang pegang."


"Saya kembali dulu ke furnace ya, Jim. Titip Fifa." Kak Hisyam langsung pamit kembali ke lokasi kerjanya.


"Terimakasih, kak Hisyam." ucapku. Memandangnya dengan tatapan tak rela. Rasa cemas dan tak percaya diri membuat tubuhnya lemas. Rasanya ingin ikut menyusul kak Hisyam saja.


"Baik-baiklah ngana sama Jim." kak Hisyam menepuk bahuku sambil tersenyum.


Aku mengangguk.


"Kenapa ngana kelihatan pucat? Belum makan siang?"


"Sudah. Mungkin hanya belum terbiasa di ruangan dingin."


"Ngana harus membiasakan diri di ruangan AC. Jim ini hidup macam beruang kutub saja. Tara pernah doi kena matahari." Hisyam tertawa sambil melangkah pergi meninggalkan kami.


"Kamu benar kedinginan, Fifa?" tanya Jim ramah.


Aku tersenyum mengalihkan pandangan mataku dari kak Hisyam ke arah lawan bicaraku sekarang, Jim. "Tidak. Mungkin hanya butuh penyesuaian diri saja. Maklum di luar udara panas sekali."


"Tunggu sebentar! Saya akan pesankan teh hangat pada OB. Mudah-mudahan membantumu menyesuaikan diri dengan udara di sini. AC juga saya disesuaikan di suhu normal 24 derajat."


Jim mengambil benda pipih yang digunakan untuk menyetel penyejuk ruangan. Ia menunjukan padaku, suhu telah disesuaikan menjadi 24 derajat. Sebentar kemudian ia menelpon seseorang memesan teh hangat dan biskuit.

__ADS_1


Aduh, jadi tak enak hati. Ucapanku malah merepotkan Jim. Aku tak tahu apa wajahku benar-benar pucat hingga dia harus repot memperlakukan aku sebaik ini. Yang kupuji dari kerja sekretaris Bray ini adalah cekatan tapi rapi tanpa cela. Salut.


__ADS_2