LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
HIPOTESA


__ADS_3

Pagi harinya aku mengemas pakaian dan barang-barang pribadiku. Aku sudah bulat memutuskan untuk tinggal bersama mama dan adikku di kampung baru. Tak ada lagi yang bisa kuperjuangkan selain kebahagiaan keluargaku, terutama mama.


Di kampung baru aku tak perlu membuat minyak jarak karena sudah ada listrik PLN yang menerangi rumah kami. Aku tak perlu pergi mandi ke sungai sebab sudah ada pompa air dan kamar mandi di dalam rumah. Segalanya lebih mudah di kampung yang baru.


Hari pertama kujalani dengan membuntuti mama. Memasak di dapur aku ikut. Berkebun aku turut. Kami berdua pergi ke ladang mengambil daun pandan yang sudah tinggi untuk dijemur. Kalau sudah kering, sebagian akan diwarnai dengan larutan buah pinang. Sebagian akan langsung dianyam dijadikan tikar, tas dan barang kerajinan dari pandan yang lain.


Kuperhatikan banyak lalu lalang orang melintasi jalan lebar berbatu di depan rumah dengan sepeda motor. Mereka melintas begitu saja tanpa menoleh apalagi menyapa. Semua terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Kebersamaan yang dulu kurasakan di kampung lama tampaknya kini mulai memudar. Waktu dan kondisi mengubah pola dan kebiasaan hidup masyarakat.


"Akhirnya de menyerah juga. Harusnya de tahu diri. Tidak usah sombong dan keras kepala. Apalagi sok merasa paling benar. Hidup di kampung baru itu lebih enak. Kita harus berterima kasih pada perusahaan yang bermurah hati memindahkan kita ke kampung ini." Mama Hika -tetangga kami- memperkeras suaranya saat melintas di jalan depan rumahku bersama serombongan ibu-ibu yang membawa keranjang belanja di sore hari.


Aku yang sedang asyik berkebun di halaman rumah jadi menoleh ke arahnya. Ucapan itu tertuju jelas buatku. Lirikan matanya memandangku dengan sinis dan remeh.


"Iya. Kasihan de pasti jadi perawan tua. Biar cantik kalau sombong dan keras kepala mana ada lelaki yang sudi meminang."


Aku menunduk dan menelan salivaku sendiri. Tanganku mencabut rumput dengan kasar.


"Salah sendiri sombong. Arfa yang bukan main baiknya saja ditolak. Tara tau de maunya lelaki yang macam mana. Mungkin de masih bermimpi. Anak kampung rimba bermimpi dilamar pesohor atau artis ibukota hihihihi." Mama lain yang tak kukenal namanya menimpali sambil terkikik yang kemudian diikuti oleh kikik mama-mama lainnya.


Mama Hika segera melambaikan tangan lalu masuk pekarangan rumahnya di sebelah kiri rumah mama. Sementara mama-mama lain meneruskan perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Tak banyak obrolan yang kudengar, tapi tawa dan obrolan mereka masih tersisa di telingaku. Terngiang-ngiang bagai serangga masuk dan menggigit-gigit bagian dalam telingaku. Rasanya sakit dan panas sekali.


Begitulah pandangan mereka terhadapku. Tak ada baiknya sama sekali.


Akh, sudahlah. Aku tak perlu pedulikan mereka. Lebih baik aku masuk rumah dan mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan dengan tangan dan anggota tubuhku yang lain. Mulai besok aku tak akan lagi beraktivitas di halaman agar tak mendengar gunjingan-gunjingan itu. Beraktivitas di dalam atau di belakang rumah saja mengurus ternak dan mengurus kebun bagian belakang.


Aku ingat pesan mama untuk tetap bersabar. Biarkan saja mereka bicara dengan prasangkanya. Tak perlu marah atau membalas. Cukup menghindar, tahan emosi dan tebalkan daun telinga. Mudah-mudahan kedzoliman mereka menggibah dan memfitnahku bisa jadi pengurang dosaku di hari pembalasan nanti.

__ADS_1


"Marah hanya akan menyakiti diri sendiri, Sayang. Biarkan saja mereka bicara sesukanya. Jangan ambil hati ya." Mama menasehatiku saat kami sama-sama duduk di beranda menikmati secangkir teh dan kue sagu bersama malam itu.


"Sejak dulu kan mereka sudah terkenal suka bergunjing. Kamu belum lupa kan?"


Aku tersenyum tipis. Memang tetanggaku yang satu itu sejak dulu memiliki kebiasaan bergunjing. Kalau sudah jadi tabiat bakal sulit berubah. Di mana pun mereka akan terus bergunjing. Kalau ditanggapi dengan emosional malah akan memicu bahan gunjingan baru.


"Assalamu'alaikum." Arfa menghentikan sepeda motornya di depan beranda.


"Wa'alaikumsalam."


"Hai, Arfa. Silakan duduk! Mari kita ngeteh bareng. Mama ambilkan cangkir dulu ya. Kebetulan kami sedang santai sambil minum teh."


Arfa mengangguk dan tersenyum lebar. Sementara mama langsung masuk ke dalam rumah mengambil tambahan cangkir untuk minum Arfa.


"Apa kabar, Fifa?"


"Iya."


Rupanya dengan adanya benda pipih itu Arfa jadi intens berkomunikasi dengan adikku.


"Kamu sudah ijin mamamu mau berkunjung ke sini?"


"Tidak perlu. Mama tahu aku tinggal di mess."


"Banyak mata-mata. Aku khawatir nanti mamamu nyusul ke mari dan marah-marah lagi. Malu kita sama tetangga."

__ADS_1


Arfa tak mempedulikan pendapatku. Ia duduk dengan santai di kursi bambu yang berada di hadapanku seolah apa yang kutakutkan bukan suatu masalah.


"Sa dari tempat kerja. Tadi bersama kak Hisyam sengaja mampir ke rumah pak Buma yang ahli racun. Ternyata racun dalam anak panah yang mematikan nuri itu sama jenisnya dengan racun dalam anak panah yang menewaskan baba ngana."


DEG. Darahku kembali mendidih. Jantungku berdegup sangat keras. Tak tahu bagaimana rupa wajah dan mataku. Kurasa sudah semerah bara api. Kabar dari Arfa malam ini kembali membangkitkan api dendam dan kemarahanku.


Terbayang lagi wajah tampan pria berambut lurus itu tersenyum penuh kemenangan. Cih, Aku makin benci dan muak padanya. Tak kusangka di balik wajah menawannya ternyata dia orang yang sangat kejam.


"Dia benar-benar iblis pencabut nyawa." seruku geram. Tanganku terkepal kuat. Kalau dia sekarang ada di depanku, sudah pasti sudah kucakar wajahnya dengan kuku-kuku tanganku.


"Tidak ada iblis yang bisa mencabut nyawa, Fifa. Yang mencabut nyawa itu malaikat Izrail atas perintah Allah." Mama muncul dengan membawa cangkir dan setoples kue bagea. Suaranya lembut dilengkapi senyum yang menyejukan.


Mulutku langsung kicep mendengar koreksi mama. Sebenarnya aku tak ingin mama tahu masalah ini. Tapi ... aku tak sanggup meredam emosiku untuk kasus ini sebab berkaitan dengan masalah orang dan binatang yang amat kucintai.


"Ngana menyangka kak Firdaus yang memanah nuri itu?"


"Siapa lagi kalau bukan dia. Hanya ada dia yang pegang busur di TKP. Kak Hisyam tak pegang busur. Kuda juga tidak. Mana mungkin ada hantu pegang busur di belakangnya buat membunuh nuri itu." sahutku kesal. Aku saksi mata. Aku yang melihat sendiri dia tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil menancapkan anak panah pada targetnya.


"Kalau jenis racunnya sama, berarti pasti dia juga yang membunuh babaku." tambahku sambil mengepalkan tangan.


Mama terbelalak heran mendengar hipotesaku. Entah setuju atau tidak dengan hipotesa itu.


"Tidak mungkin, Fifa. Kata kak Hisyam, kak Firdaus hanya menargetkan buah-buahan. Tak ada makhluk hidup yang pernah jadi target latihan panahnya. Lagipula panah yang digunakannya tak beracun. Tak jarang ia makan langsung buah yang jatuh kena target anak panahnya. Katanya bukti target buah kenari sudah ditunjukan langsung di depanmu. Dia memanah buah kenari kan?"


Benar. Dia menunjukan buah kenari yang jatuh terhunus anak panah. Tapi bukan alibi yang bisa kupercaya begitu saja. Bukan tidak mungkin dia melesatkan lebih dari 1 buah anak panah dari busurnya. Aku tidak melihat ada orang lain di TKP. Siapa yang bisa jadi tertuduh kecuali dia.

__ADS_1


Kepalaku pusing. Bayangan senyumnya bercampur darah dan luapan kemarahan yang meletup. Tak kusangka, orang yang senyumnya kupuja ternyata pembunuh baba dan nuri kesayanganku.


__ADS_2