LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
PERTIMBANGAN


__ADS_3

Aku menjalani seminggu ini sebagai hari-hari yang sangat panjang dan membosankan. Banyak rindu yang membelenggu jiwaku. Rindu pada seseorang yang tengah bersedih di seberang sana. Rindu pada damainya gemericik air sungai yang mengalir, suasana hutan, dan kicau burung bernyanyi lagu kehidupan. Terutama rindu pada tingkah Aga yang mungkin telah melupakan aku. Aga telah nyaman berada dalam rengkuhan orang tua yang telah membidani kelahirannya. Aku jadi merasa tak berguna dan terabaikan. Apalagi dokter Farhana terlalu sibuk minggu ini hingga jarang ngobrol atau mengirim video hasil pengamatan burung.


Semalam Bray mengabarkan papanya sudah keluar dari ruang ICCU dan dirawat di ruangan perawatan pasien biasa. Aku bersyukur atas berita baik itu. Namun pada saat yang sama pikiranku bertambah ruwet oleh rencana mereka melamarku. Terus terang aku belum siap mental.


"Papa sudah mulai bisa bicara. Yang pertama kali beliau menanyakan adalah kamu."


"Aku?"


"Ya. Kamu. Beliau menyuruhku segera meminta kesediaanmu menikah denganku."


Aku melangkah mundur. Takut. Bolehkah tidak aku jawab saja permintaan itu? Rasanya ingin lari menjauh. Tapi kupikir lagi, apakah aku sanggup bila jauh darinya. Rasanya tidak. Aku akan kesepian. Aku sudah ketergantungan obat tidur yang disuguhkannya hampir tiap malam. Mana bisa aku tidur tanpa mendengar suaranya. Mana bisa.


Kalau aku menolak lamarannya, dia pasti akan kecewa dan mungkin akan memutuskan menjauh dariku seperti Arfa yang tak pernah lagi terdengar kabarnya. Siapa lagi yang mau peduli padaku? Siapa yang mau membantuku menuntun untuk maju dan percaya diri? Siapa yang sudi menolongku saat aku celaka dan terpuruk? Siapa? Andi Syarif? Dia tak pernah menghubungiku lagi kecuali yang berkaitan dengan masalah yayasan. Lagipula Andi Syarif tak pernah ada saat aku membutuhkan pertolongannya. Saat ini Bray adalah teman terbaikku.


"Aku menyanggupi seluruh syarat yang diajukan nenek."


"Syarat apa? Uang panai?" tanyaku panik.


Aku belum ingin menikah. Aku juga tak setuju dengan tradisi uang panai yang biasa diminta sebagai syarat meminang gadis secara adat. Perempuan tak selalu ingin dihargai dengan uang. Aku menyadari posisiku sebagai gadis berdarah campuran yang tidak berpendidikan tinggi. Meski ayahku keturunan bangsawan, aku belum bisa berperilaku seperti bangsawan pada umumnya. Apa mungkin nenek meminta uang panai dalam jumlah yang banyak demi harga diri keluarganya?


"Nenekmu nggak pernah bicara soal uang panai."


Tidak bicara uang panai? Semakin bingunglah aku. Kalau bukan uang panai, lalu apa syarat yang diajukan nenek? Selentingan berita yang pernah kudengar masalah yang sering diperbincangkan dalam rencana pernikahan adalah tradisi penetapan uang panai. Nenek tak pernah mendiskusikan syarat itu denganku. Katanya hanya ingin menunda karena aku masih terlalu muda dan kurang berpengalaman. Kupikir itu bahasa halus nenek untuk mengatakan bahwa cucunya agak bodoh. Nenek ingin menunda pernikahan sebab saat ini aku belum bisa dihargai dengan uang panai yang tingginya sesuai dengan kedudukan keluarga nenek dalam adat. Aku harus melanjutkan pendidikan dan belajar mempercantik diri.


"Kalau bukan uang panai, lalu apa syarat yang diajukan nenek?"


Bray tertawa kecil. "Hanya permintaan standar seorang nenek."


"Iya. Apa?" Saking penasarannya aku menekan nada suaraku hingga melengking.


"Mau tahu atau tempe banget?"


Bray masih tersenyum santai. Sama sekali tak terlihat terbebani. Sementara aku kesal dan penasaran pada apa yang disyaratkan nenek. Dalam benakku hanya ada satu kemungkinan, yaitu uang panai.

__ADS_1


"Nenek minta cucunya dicintai dan dihargai sebagai perempuan yang bermartabat sepanjang hidupnya, tetap harus disokong melanjutkan pendidikan, tidak dianggap sebagai mesin pembuat anak, diberikan kesempatan untuk berkembang, dan diberikan penghidupan yang layak."


Hah? Abstrak sekali persyaratannya. Hanya syarat terakhir yang dapat diukur indikatornya. Tak ada alat ukur yang menjamin syarat itu terpenuhi sepanjang hidup. Apalagi oleh seorang lelaki yang dilihat dari sudut manapun posisinya di atas angin. Itu syarat yang naif. Persetujuannya hanya berupa janji. Kita semua tahu kenyataannya hati bisa berbolak-balik. Sekarang cinta, besok berpaling.


Meski begitu secara prinsip aku sepakat dengan isi persyaratan naif itu. Dalam hati menyesal telah berburuk sangka pada nenekku sendiri. Kuakui nenekku pintar. Beliau tidak menentukan uang panai dalam mengukur martabat, tapi lebih mengkhawatirkan kehidupanku sebagai perempuan setelah menikah.


"Aku boleh jujur nggak sama mas Bray?"


"Boleh banget."


"Aku belum ingin menikah."


"Ehm..."


Sulit menata hati yang plin plan. Aku menelan saliva mengusir keraguan yang mengusik hati. Tak ada lain yang mengusik hati kecuali senyum magis yang tak mau lepas dari bibir Bray. Satu sisi mau berpaling tak melihat agar tak kena efek magisnya. Namun aku tak bisa mengabaikan keindahan yang menghipnotis itu.


"Kalau papa mas Bray ingin segera punya cucu, mungkin mas Bray bisa menikah dengan orang lain yang lebih pantas dan lebih baik dari Fifa."


"Ya nggak sembarangan juga. Mas Bray pasti kenal banyak orang yang ..."


"Yang cantik, pintar dan menarik itu banyak. Tapi hatiku sudah mentok sama kamu." potong Bray tegas sambil memamerkan senyumnya yang menggoda.


"Aku maunya menikah sama Fifa. Bukan yang lain." tambahnya yakin.


"Tapi pak Budhi mengharapkan keturunan."


Ups. Aku menutup mulutku. Kenapa aku berpikir seserius itu? Tidak bisakah aku seperti Fifi yang berpikir sederhana bahwa dilamar Bray adalah suatu keberuntungan. Kesempatan diajak menikah dengan orang kaya, ganteng dan baik hati bagai menang lotere. Kemungkinannya sangat kecil. Oleh karena itu tangkap saja dulu kesempatan ini, jangan mikir resiko. Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Kenapa aku harus cemas begini?


Bray menjawab dengan senyumnya yang menular. Entah kenapa bibirku ikut melengkungkan senyum saat melihat dia tersenyum.


"Aku pernah dengar petuah ustadz bahwa menikah itu menyempurnakan agama. Dengan menikah kita tak terjebak dalam dosa zina. Masalah keturunan itu hak Tuhan. Papaku baru mendapatkan aku setelah lebih dari 10 tahun menikah. Dari pernikahan keduanya pun tak dikaruniai anak. Tidak akan ada yang bisa menuntut kita harus segera punya anak. Aku yakin papa hanya ingin aku tidak hidup sendirian. Beliau akan lebih tenang jika anaknya punya pasangan dan memiliki keluarga baru yang saling mendukung.


Aku menunduk.

__ADS_1


"Namaku Firdaus. Mama berharap aku jadi orang baik yang mengantarkan keluarga ke surga tertinggi sesuai namaku. Meskipun aku belum seperti harapan mama, tapi aku ingin memuliakanmu sebagai perempuan muslim yang bermartabat. Itu satu alasan kuat aku ingin menikahimu."


Aku menatap matanya yang mendamba dalam diamku.


"Aku tidak bisa menahan diri tidak menyentuhmu, Fifa. Kita pacaran yang halal aja yuk! Supaya kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Kalau kamu sedih aku bisa peluk kamu. Begitupun sebaliknya."


Aku masih tak bergeming namun menikmati senyum indahnya.


"Setelah menikah kita akan tinggal di rumah dinas di kawasan tambang yang keamanannya lebih terjaga. Hanya rumah semi permanen yang kecil, tapi cukup nyaman buat kita berdua. Kamu boleh ke aviary tiap hari. Kamu boleh ambil kuliah apapun jurusan yang kau mau. Kamu tetap boleh melakukan apapun yang kamu mau. Kita bisa berlibur bersama masuk hutan saat senggang atau sekedar duduk mencari inspirasi di tepi sungai. Sebagai pasangan kita bisa melakukan banyak hal bersama-sama tanpa ada sekat yang memisahkan."


Berlibur masuk hutan saat senggang. Duduk di tepi sungai mencari inspirasi. Sesuatu yang biasanya kulakukan sendirian semenjak baba tiada. Kini aktivitas itu ditawarkan Bray sebagai suatu kemewahan hati. Bersama melakukan sesuatu yang bisa membuatku merasa damai dan bahagia.


"Aku ingin melihat bidadari halmahera menari di dalam hutan Lolobata." ucapku spontan. Keinginan tersembunyi itu muncul tanpa kendali.


"Kamu boleh bawa kamera untuk mengabadikannya."


"Tapi itu tak mudah. Bisa makan waktu berhari-hari."


"Tidak masalah. Kita bisa berkemah atau pasang harmok di pohon. Kan dalam rencana kegiatan kita tidak harus tiap hari melakukan pengamatan langsung di alam. Dokter Farhana dan dokter Hans pasti berminat kalau kita ajak bergabung."


"Burung liar tidak akan merasa nyaman kalau ada banyak orang yang mengintai." protesku.


"Apa itu artinya kita hanya akan berdua saja?" Bray kembali mengembangkan senyum menggoda.


Aku tak menjawab. Pikiranku lebih suka berkelana membayangkan bagaimana rasanya bulan madu berdua di hutan. Jangan-jangan Bray tidak bisa survive di hutan. Saat pertama kali bertemu di hutan ia bawa kuda, peralatan lengkap, serta kak Hisyam sebagai pemandu.


"Bagaimana Fifa? Maukah kamu menikah denganku?"


Aku masih diam.


"Bukan buat papa, nenek atau siapapun. Tapi demi kebahagiaan kita berdua. Menikahlah denganku! Kita sama-sama belajar mengenal satu sama lain dalam ikatan yang halal."


Secara agama hubungan dalam ikatan pernikahan lebih bermartabat. Aku pun tak punya alasan untuk menolak.

__ADS_1


__ADS_2