
Kami naik sepeda motor pelan melalui jalan setapak di pinggir sungai. Bukannya lebih cepat, justru lebih melelahkan dan makan waktu. Berkali-kali aku harus turun sebab ban motor kejeblos masuk dalam tanah merah yang berair. Percuma pakai sepeda motor melintasi jalan setapak yang jarang dilewati orang begini. Tanahnya tidak padat dan lengket hingga sering kali roda sepeda motor Arfa sulit berputar.
Aku tertawa melihat kesulitan Arfa. Bagiku usaha Arfa menahan setang motor sambil mengendalikan gas, rem dan gigi terlihat lucu. Pria itu tetap gigih memperjuangkan laju sepeda motornya walau apapun tantangannya.
"Sudahlah. Ngana kembali saja ke mess. Biar saya pulang jalan kaki saja. Tak tega saya lihat ngana penuh peluh begini. Rumah su dekat."
Arfa malah mendorong sepeda motornya dan menyejajariku jalan kaki sambil menuntunnya.
"Macam orang bodoh saja kita. Ada motor tapi didorong. Lelah sangat ngana nanti."
Arfa tersenyum. Ia tak banyak bicara dalam perjalanan selanjutnya. Justru aku yang menertawakan kebodohan kami sepanjang jalan.
Kami berpisah di jalan setapak dekat rumahku. Sesuai janjinya, Arfa tak mampir ke rumahku. Ia mematung memandangku dari jalan itu guna memastikan aku masuk rumah. Aku melambaikan tangan di pintu rumah dan tersenyum padanya, "Terima kasih."
Arfa membalas dengan senyum lebar. Ia masih diam menaiki sepeda motor yang mesinnya mati saat aku masuk lalu menutup pintu rumah rapat-rapat.
Aku menukar pakaian, merapikan ransel lalu berbaring di atas tempat tidur kayu buatan tangan baba. Tanpa kasur. Bantalnya berupa kain dan pakaian yang kutumpuk rapi dan kuikat dalam satu kain panjang.
Tak ada lemari pakaian dalam kamarku. Begitu sederhana kehidupan kami namun aku terbiasa selalu merasa cukup dengan apa yang diberikan Tuhan.
Kini aku bingung menentukan hidupku selanjutnya. Aku tak dapat hidup sendiri di tempat yang kini bukan lagi milikku. Meski kata Arfa aku masih bisa tinggal selama 2 tahun lagi, tapi buat apa. Tak ada lagi tetangga, semua sudah pindah. Kehidupan tak lagi sama seperti ketika baba masih hidup. Buat apa bertahan di sini. Makam baba telah dipindahkan. Mama telah pula terima uang kerahiman tanda kami tak berhak lagi atas tanah ini.
Akh... hidupku terasa hampa. Haruskah aku pergi melanjutkan sekolah ke kota atau mencari pekerjaan untuk mengisi hariku yang tanpa tujuan? Atau bantu mama mencari nafkah di kampung baru dengan mengelola ladang, menenun dan beternak? Bagaimana pun sepertinya mau tak mau aku harus ikut arus perkembangan jaman.
Krek. Pintu rumah terbuka.
"Alhamdulillah, kamu sudah pulang Fifa. Mama tak bisa tidur nyenyak mengkhawatirkanmu."
Sudah kuduga pasti mama yang datang. Aku sigap bangun lalu duduk di tepi tempat tidur. Mama langsung menghampiri, memeluk dan menciumiku yang masih duduk di atas tempat tidur. Kamarku adalah ruangan tanpa pintu. Setiap orang yang masuk pasti langsung tahu apakah aku ada di rumah atau tidak.
"Darimana saja?" tanya mama sambil mengelus kedua pipiku. Tampak sangat besarnya rindu pada anak gadisnya yang keras kepala ini.
__ADS_1
"Dari hutan. Cari getah damar."
"Dapat?"
Aku mengangguk, "Su titip Arfa buat dijual." ungkapku ketika melihat mata mama berputar-putar mencari damar sebagai bukti ucapanku.
"Kenapa harus ke hutan cari damar? Kurang makanan kah?"
"Bosan. Aku tak ada kerja. Benang sudah habis kutenun. Pohon kapas tak berbunga." keluhku. Padahal bukan itu saja alasannya. Aku butuh menenangkan diri karena banyak masalah bercokol di kepalaku.
"Kau mau buat tikar pandan? Tanganmu terampil membuat apa saja. Kita bisa ambil daun pandan di pinggir ladang yang berbatasan dengan hutan. Mama tanam tahun lalu. Kelihatannya sudah tinggi dan siap panen."
Aku mengangguk lemah. Aku tak ingin jadi anak pembangkang. Mama tahu betul tanganku terampil membuat kerajinan apa saja dan otakku cukup brilian untuk memodifikasi kerajinan dengan kreasi-kreasi baru yang lebih unik dan menarik. Mana mungkin aku menampik tawaran itu. Tinggal mama satu-satunya orang tua yang kupunya. Tentu saja aku selalu ingin membuatnya bahagia.
Pelan mama mulai melepaskan pelukannya dan bicara dengan nada yang sendu, "Mama minta maaf telah pindahkan makam baba ke pemakaman umum kampung baru 3 hari yang lalu. Kata orang itu hari baik untuk pindahkan makam, jadi mama suruh orang kampung untuk pindahkan makam baba dan Afan."
Akhirnya pengakuan itu keluar juga dari mulut mama tanpa kupinta. Hatiku sedikit lega.
"Mama juga sudah terima uang kerahiman atas tanah ini. Maafkan mama ya!"
Aku tak berdaya membantah ucapannya. Apalagi mendengar suara mama yang sendu dan lirih.
Aku paham bagaimana perasaan mama. Keputusan itu bukan hal yang mudah. Mama pasti mempertimbangkan keinginanku mempertahankan peninggalan baba. Anak mama tak hanya aku seorang. Mama juga pasti ingin membuat semua anaknya bahagia. Tak ada ibu yang ingin menyakiti anaknya sendiri, bukan?
Tubuhku terasa tak bertulang. Lemas. Pupus sudah harapanku untuk tetap bertahan di tanah peninggalan baba ini.
"Masih ada waktu 2 tahun untuk bernostalgia di tanah ini."
Aku hanya bisa menatap wajah mama yang sendu dan mencoba menautkan hatiku pada hatinya. Mulutku terkunci. Tak ada kata yang dapat melukiskan perasaan hampaku.
"Mama sudah bagi uang kerahiman itu jadi 3: untukmu, Fifi dan Salman kalau dia pulang nanti. Uang Fifi akan digunakan untuk biaya sekolahnya. Uang Salman mama belikan kebun kelapa milik eks-transmigran di SP 6. Uangmu mama taruh di rekening bank atas namamu sesuai saran Arfa dan Fifi."
__ADS_1
"Untuk mama?"
"Mama sudah tua, tak butuh apa-apa lagi. Rumah dan kebun di kampung baru sudah cukup buat mama bekal hidup mama sampai baba menjemput mama kembali ke haribaan Tuhan. Justru kalian yang butuh uang sebab masa depan kalian masih panjang."
Apa aku butuh uang untuk masa depanku yang masih panjang? Benarkah? Usiaku 18 tahun. Bulan lalu aku dan Arfa lulus ujian persamaan paket C setara SMU. Selama ini kami belajar otodidak bersama dari buku-buku paket C yang diambil Arfa dari sebuah yayasan pendidikan tempat kami mendaftarkan diri di kota kecamatan. Bukankah aku punya peluang untuk mengembangkan diri sama seperti rencana Arfa?
Apa aku pergi saja ke kota untuk cari kerja atau melanjutkan kuliah? Tapi kuliah jurusan apa? Aku sama sekali tak punya cita-cita. Tak pernah berani bermimpi muluk-muluk menjadi orang yang berbeda dari Afifa yang sekarang.
Akh ... usah dipikirkan sekarang. Pening kepalaku. Jalani saja apa yang bisa dijalani sekarang.
"Kamu mau apa, sayang? Kuliah, cari kerja atau menemani mama di kampung baru?"
Kutatap mata mamaku mencari kira-kira jawaban apa yang diinginkan mama. Aku tak menemukan jawaban apa pun di matanya. Mama benar-benar tak punya harapan apa-apa selain kebahagiaanku. Semua tentang hidupku harus aku yang putuskan sendiri. Sementara aku belum tahu mau apa dan bagaimana. Bingung.
"Atau kamu mau menikah?" Mama bertanya dengan senyum menggoda.
Aku menunduk. Gadis seusiaku memang sudah banyak yang menikah dan punya anak.
Mama membelai rambutku dengan jemarinya yang mulai tampak kehilangan zat kolagen. Belum keriput, tapi sudah tampak garis-garis halus pada permukaan kulitnya yang berwarna terang. Sejak kepergian baba dan menikah dengan bapak kepala kampung, mama terlihat mulai menua. Langkahnya masih energik, tapi jiwanya tak lagi bugar dan ceria seperti saat masih bersama baba. Binar-binar seperti bintang yang dulu kulihat memenuhi sinar matanya kini telah padam.
"Aku belum ingin menikah." jawabku pasti.
Mama mengangguk pelan dan tersenyum, "Tak apa. Menikahlah dengan orang yang kamu cinta dan tulus mencintaimu. Mama ingin melihat kamu bahagia, Sayang."
Aku merebahkan kepala di atas pangkuan mama. Aku masih ingin jadi gadis kecil yang meringkuk manja di pangkuan ibunya. Aku menikmati tiap belaian tangan mama pada permukaan kulit dan rambutku. Kenapa semua harus berubah?
"Mama bawa nasi sambal tahu untukmu. Ayam-ayammu mama sudah pindahkan ke kandang yang di rumah kampung baru."
Aku tak ingin berkomentar apapun. Kunikmati nyamannya belaian tangan mama yang menyapa rambut dan tubuhku dengan sentuhan lembut dan penuh cinta.
Baba telah bahagia di surga. Aku harus benar-benar mengikhlaskan kepergiannya. Tugasku di dunia ini sekarang adalah membahagiakan mama dan membuatnya meridhai langkah hidupku agar aku kelak bisa menyusul baba di surga.
__ADS_1
"Ayo makan."
Aku mengangkat tubuhku bangkit dari pangkuan mama. Perutku lapar. Sejak dulu yang kumengerti kebutuhanku hanya makan untuk bertahan hidup.