
Ternyata memiliki alat komunikasi itu seru. Prinsipnya penggunaan suatu benda itu tergantung pada mentalitas penggunanya. Misalnya pisau tajam, bagi tukang daging adalah alat kerja penting untuk memudahkan pekerjaannya memotong daging. Tapi di tangan orang yang salah, pisau bisa jadi alat untuk menghabisi nyawa orang lain. Begitupun dengan gawai, bisa memiliki efek buruk atau baik tergantung pada penggunanya.
Melalui gawai pemberian kak Hisyam aku memperoleh banyak hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Selain dapat ilmu tentang perawatan burung dari konten dan tulisan para pencinta burung, melalui komunikasi dengan mereka aku menemukan komunitas tempat berbagi pengetahuan tentang burung. Dengan bergabung dalam kelompok itu aku kenal banyak teman baru sesama pencinta burung dari seluruh Indonesia. Karakternya beragam namun disatukan oleh kecintaan yang sama.
Duniaku makin berwarna.
Aku yang selama ini bisa dibilang kurang pergaulan, kini punya banyak teman maya yang bisa diajak diskusi dan berbagi. Khususnya yang berkaitan dengan dunia unggas.
Kak Hisyam salut dengan cepatnya progres kemahiran Aga dan Ima dalam hal bicara. Dalam waktu sebulan nuri kepala merah itu sudah berhasil melafalkan 2 kata, yaitu Assalamu'alaikum dan cantik.
Bangga nggak sih sekarang l tiap keluar dari pintu rumah langsung disambut ucapan, "Assalamu'alaikum, Cantik."
Diriku bagai melayang-layang di udara ketika mendengarnya. Rasanya bagai diberi tiara khusus bidadari surga.
"Wa'alaikumsalam, Ganteng." jawab kak Hisyam sambil bergaya melambai ala banci pinggir jalan.
Kami berdua langsung terkekeh.
Kehadiran kak Hisyam yang tiap minggu memantau perkembangan hewan yang dititipkannya tak luput dari pantauan biang gosip mama mama rempong. Padahal dia hadir hanya untuk mendokumentasikan perkembangan konservasi burung langka yang kami lakukan. Sama sekali tidak pernah masuk ke dalam rumah kami yang hampir sepanjang waktu hanya dihuni makhluk perempuan.
Minggu lalu kak Hisyam menambahkan seekor kakatua putih yang sebelumnya terluka kena tembak peluru angin sebagai penghuni baru aviary.
Kumpulan mama-mama rempong terus mengawasi kami dari halaman rumah mama Hika yang terletak persis di sebelah kiri rumah mama. Dari sejak datang, mengambil foto dan video sampai menjelang pulang kumpulan mama mama itu masih berada di sana mengawasi kami.
"Sstt, mama mama itu sejak tadi mengawasi kita."
"Mama mama kurang kerjaan."
"Pastinya."
"Kalau begitu, sa langsung balik pulang saja. Takut ada fitnah. Jangan lupa ngana lapor perkembangan penghuni aviary paling tidak seminggu 2 x lewat video. Sa tak akan sering-sering ke sini. Khawatir kumpulan mama mama itu salah paham."
"Baik. Siap, bos" Aku pasang badan tegap sambil menaruh tangan di dahi seperti tentara memberi hormat komandannya.
Kak Hisyam tergolong jarang berkunjung menjenguk aviary, tapi dasar mama-mama rempong gosip campur fitnah yang berkembang di masyarakat sangat liar sampai-sampai mama ditegur oleh bapak kepala kampung terkait masalah ini.
Kayu dinding rumahku jadi saksi bagaimana malam itu mereka berselisih tentang aku untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
"Fifa harus segera dinikahkan. Anak itu sudah cukup umur. Gadis-gadis yang lain seusianya sudah banyak yang punya anak." bapak kembali membuka percakapan pada masalah klasik yang telah mereka bahas pada malam-malam sebelumnya.
"Aku tidak setuju. Fifa belum ingin menikah. Janganlah kita paksa dia. Biar dia menikah dengan orang yang dicintai dan mencintainya dengan tulus." jawab mama terdengar lirih karena berusaha agar perselisihan itu tak terdengar orang lain.
Brak. Kudengar suara kayu dipukul dengan kencang. Aku nyaris jatuh karena terkejut.
"Aku sudah lelah dengar omongan warga tentang anak itu." kata bapak dengan suara keras bagai petir.
"Dia anak baik."
"Apa baiknya kalau jadi gula gula suami orang."
"Astagfirullah, kau tega menuduh anakku sekeji itu bapak." Suara mama terdengar tertahan. Berat sekali. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan mama sebab hatiku pun terasa disayat-sayat.
"Bukan aku yang menuduh, tapi orang-orang di luar sana."
Kini suara mama terdengar meninggi. Sayatan di hatinya pasti menghasilkan perih dan luka yang dalam. Aku belum pernah mendengar mama bicara dengan nada setinggi itu. Mama adalah perempuan paling sabar yang pernah kukenal. Suaranya lembut dan pandai menahan emosi.
"Kenapa fitnah kau percaya? Aku bersaksi Fifa anak baik. Tiap hari siang malam aku membersamai Fifa, tak sedikitpun aku melihat gelagat buruk yang melanggar norma dan etika. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, dia tak lepas dari pengelihatanku. Aku tahu betul baik buruknya."
Aku mengatur nafasku yang memburu, sementara mereka sejenak dalam diam. Mungkin mereka sama seperti aku, tengah mengatur emosi agar tidak meledak. Dinding kayu tak cukup baik jadi peredam suara. Apalagi ada sela antar satu papan kayu dengan lainnya. Angin bisa berhembus membawa suara dari dalam rumah keluar. Sementara kita tahu, tetangga sebelah rumah kami hobi bergunjing.
"Dari temannya yang bernama Hisyam." jawab mama tegas.
"Pekerja di perusahaan tambang itu kah?"
Belum ada suara mama yang kudengar buat menjawab pertanyaan itu, namun bapak telah memberondongnya dengan pertanyaan lain yang lebih menyakitkan hati.
"Atas dasar apa temannya itu memberi burung mahal dan memberi kandang besar dengan taman yang bagus di halaman depan rumah? Itu biayanya mahal. Kau tahu?"
"Mereka sedang melakukan percobaan konservasi burung dan meminta Fifa merawat burung yang akan dilepaskan di hutan. Sejak kecil Fifa sudah menyukai burung. Makanya dia sangat sedih waktu burung nuri sahabatnya mati kena panah beracun yang sama dengan panah yang membunuh babanya."
"Alasan. Pasti ada barter atas semua itu. Tidak mungkin ada orang memberi burung mahal, kandang mewah dan hp mahal dengan cuma-cuma. Pasti ada imbal baliknya. Aku yakin pasti itu adalah bayaran jadi gula-gula pekerja tambang itu."
"Diam! Kau tidak boleh menghina anakku sekeji itu. Aku yang melahirkannya. Aku yang membesarkannya. Aku yang tahu apa yang diperbuatnya hari demi hari. Dia bahagia jadi perawat burung-burung itu. Kau tidak berhak turut campur dan merusak kebahagiaannya." Pekikan mama terdengar memilukan. Telingaku seperti teriris.
"Dasar anak pembawa sial!"
__ADS_1
HIK. Jantungku nyaris berhenti berdetak. Tubuhku lemas bagai tak bertulang.
Aku? Pembawa sial? Bapak tiriku juga menganggap aku pembawa sial. Kenapa semua orang membenciku? Apa salahku?
"Jangan sekali-kali lagi kau katakan anakku pembawa sial. Kau sama sekali tak berhak atas dirinya. Kau bukan ayahnya. Kau tak pernah memberinya sesuap nasi pun. Sepenuh bumi aku tidak ikhlas kau hina anakku sekeji itu."
"Memang begitu kenyataannya kan? Sejak dia tinggal di sini kau berubah jadi istri pembangkang. Demi dia, kau putuskan sendiri keputusan besar atas rumah ini."
"Ini rumahku, bukan rumahmu. Rumah ini diberikan untuk menggantikan ladang almarhum suamiku, bukan pemberianmu. Aku berhak mengubah rumah ini tanpa ijin karena kau tak punya andil atas rumah ini." Mama semakin kalap. Tak peduli lagi pertengkaran malam itu didengar tetangga.
Plak. Plak. Pipiku ikut terasa nyeri membayangkan kedua belah pipi putih mamaku ditampar keras.
"Mulai detik ini kau kucerai."
"Alhamdulillah, aku terima perceraian ini. Mulai detik ini juga kau tak berhak menginjakan kaki di rumah ini."
Mama? Sosok sabar itu begitu berani menentang suami demi aku? Oh Tuhan. Kepalaku pening. Tolong aku! Tolong aku!
Aku merintih tanpa suara.
Brak. Suara pintu dibanting dengan kasar. Terdengar langkah kaki terburu-buru meninggal rumah kami.
Aku menunggu langkah kaki itu menjauh sampai tak terdengar sama sekali. Setelah tubuhku cukup normal, aku keluar kamar lalu pergi ke kamar mama yang terletak di sisi depan rumah kami. Kudapati perempuan cantik yang kini berwajah muram itu duduk di tepi ranjang dengan bersimbah air mata.
Aku segera memeluknya erat-erat, "Maafkan Fifa, Ma! Maafkan Fifa!"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan."
"Gara-gara Fifa mama bertengkar."
"Bukan gara-gara kamu. Bapak hanya cari perkara buat alasan menceraikan mama. Padahal aslinya ia akan menikah dengan janda muda dari kampung sebelah."
Benarkah?
Mama mempererat pelukannya. "Dari kamu mama belajar berani memilih apa yang membuat kita bahagia. Pernikahan ini memang pantas diakhiri sebab mama tak pernah bahagia dengan pernikahan ini," bisik mama lirih. Suaranya tegas, tak ada keraguan sama sekali di dalamnya.
_________
__ADS_1
Terimakasih telah menemani Afifa selama ini. Jangan lupa dukungannya ya.