LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
MUDAH


__ADS_3

Fifi sengaja berjalan di samping Bray saat masuk kamar yang dituju. Sementara aku memilih berada di antara mama dan Salman. Mungkin skenario kisah pengantin yang tertukar masih memenuhi benak Fifi. Berharap ada adegan "prank" pak Budhi salah menunjuk calon menantu.


Di dalam kamar besar yang berdesain minimalis itu seorang pria tua berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala yang ditegakkan setengah duduk. Di hadapannya ada layar televisi besar yang menayangkan film dengan bahasa asing.


"Assalamu'alaikum. Kita benar-benar kedatangan tamu spesial hari ini, Pa."


Dengan suara lirih pria tua itu menjawab salam. Ada suara lelaki lain yang ikut menjawab salam. Kulihat ada lelaki berseragam perawat yang tengah membereskan beberapa perlengkapan dalam ruangan besar yang udaranya segar dan wangi kayu cendana.


Pria tua itu menghentikan tayangan tv yang ditontonnya sebelum bicara dengan nada tenang, pelan dan diiringi dengan senyum ramah, "Selamat datang di rumah kami. Terima kasih sudah sudi datang menjenguk dari jauh. Apa kabar ibu Arifah?"


Aku mengamati wajah pria yang parasnya mirip dengan sosok Bray. Bisa dibayangkan kemungkinan besar seperti itulah kira-kira bila Bray telah berumur 60-an. Masih tetap tampak tampan dan berwibawa walau rambutnya telah beruban.


"Nenek titip salam, pak Budhi. Semoga lekas sembuh. Nenek sudah tidak bisa ikut perjalanan jauh. Sudah sepuh. Beliau juga sudah pernah operasi pemasangan ring jantung." Salman menjawab mewakili keluarga.


Pak Budhi mengangguk maklum seraya tersenyum. Pandangannya langsung beralih kepadaku. "Bagaimana lukamu, Fifa?"


Eh ternyata pria tua itu benar tahu dan peduli pada luka di wajahku. Aku menjawab sambil menunduk malu, "Alhamdulillah sudah membaik."


Seketika Fifi pindah posisi berdiri di samping mama dengan wajah menekuk. Aku menahan senyum. Skenario calon pengantin yang tertukar tak berjalan mulus. Fifi kurang cerdik. Tidak memikirkan kemungkinan pak Budhi mengenaliku justru karena teringat luka di pipiku akibat cakaran Maudy. Pria itu tidak amnesia.


"Kata kakak juga apa, gadis pendiam dan misterius itu lebih menarik." Salman berbisik di belakang ketika ia pindah posisi ke sisi tempat tidur yang lain. Dia inisiatif menemani Bray yang lebih dulu pindah berdiri di sana. Kami tampak seperti tim kuis televisi dimana tim cewek dan cowok yang berdiri berhadap-hadapan dibatasi ranjang pasien modern yang ditempati pak Budhi.


Bukan hanya itu keisengan Salman, ia menyenggol pinggang adik bungsu kami. Fifi menoleh sambil mendelik kesal. Menghentakan kaki pelan ke lantai diiringi lirikan tajam mengancam Salman. Lagi-lagi aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu.


"Maafkan saya ya! Kami yang bermasalah dengan mereka, jadi kamu yang kena batunya."


Aku mengangguk pelan sambil tersenyum. Tak ada kata dalam kepalaku yang bisa digunakan untuk menjawab. Kosong. Otakku sudah dibajak oleh perasaan yang campur aduk tak menentu berhadapan dengan calon mertua. Mulutku terkunci.


Pak Budhi terlihat lebih sehat dari yang kukira. Ingatannya masih baik.


Melihat kegugupanku, Bray mengambil alih pembicaraan. "Mereka semua ini keluarga inti Fifa, Pa. Ini ibu Mala, mamanya Fifa. Yang berada di sebelahnya adalah Fifi, adik bungsunya dan yang berdiri di sebelah Firdaus namanya Salman, kakak kandung Fifa." Bray memperkenalkan keluargaku satu per satu sambil menunjuk ke orang yang diperkenalkan. Pada Salman ia menepuk pundak sambil tersenyum sok akrab. Padahal baru kali ini mereka bertemu.


Pak Budhi tersenyum. Pandangan matanya berputar mengarah pada kami satu per satu.


"Senang ya punya banyak saudara." komentar pak Budhi yang terdengar pilu di telingaku.

__ADS_1


"Kami 5 bersaudara, pak Budhi. Dua saudara laki-laki saya meninggal waktu kecil. Punya banyak saudara menyenangkan namun pada kenyataannya keadaan tidak memungkinkan kami terus bersama-sama. Saya sudah belasan tahun meninggalkan rumah untuk sekolah di Bogor. Baru bertemu keluarga beberapa minggu yang lalu." jawab Salman.


"Salman ini lulusan sarjana terapan pertanian, Pa. Sekarang berkontrak jadi penyuluh pertanian. Dia yang akan mewarisi pengelolaan usaha perkebunan warisan daeng Syam." tambah Bray.


"Ohya? Perkebunan lada dan kakao daeng Syam yang urung dijual tempo hari itu rupanya sekarang dikelola Salman. Bagus. Prospek bisnis perkebunan tidak pernah sepi. Sepanjang hayat manusia butuh makan dan komoditas perkebunan. Tapi kenapa tidak fokus kelola perkebunan saja? Malah mendua dengan berkontrak jadi penyuluh pertanian."


"Panggilan hati, Pak. Sebagai wujud terima kasih saya sekolah dibiayai negara." Salman menjawab seraya memamerkan senyum bangga.


"Dinas di daerah mana?"


"Jailolo."


"Harus berjuang bolak balik Makassar-Jailolo dong."


"Tidak sejauh Jakarta-Lolobata, Pak." jawab Salman seraya tersenyum lebar dan mengerdipkan mata pada Bray.


Pak Budhi tersenyum samar sambil mengalihkan pandangannya pada anak semata wayangnya yang disindir Salman.


"Itu yang sering saya risaukan. Anak semata wayang saya ini memilih fokus mengelola PT XY dan berencana tinggal di dalam kawasan tambang. Padahal di sini lebih nyaman dan lebih banyak peluang bisnis."


Pak Budhi, Bray dan Salman tertawa bersama. Sekilas kulihat Bray mencuri pandang ke arahku.


Menyebalkan. Meskipun apa yang dikatakan Bray itu benar, tapi aku malu mendengarnya. Para lelaki lebih suka mengungkapkan sesuatu dengan terbuka dan santai. Sementara kami para perempuan hanya diam. Bingung mau menimpali obrolan mereka. Fifi sudah tampak bosan dan gelisah. Aku memilin ujung kemejaku mengusir resah. Hanya mama yang tampak sabar menjadi pendengar.


"Maafkan kondisi saya seperti ini, Salman. Padahal kami sudah berniat datang langsung melamar cucu daeng Syam ke Makassar minggu ini. Fir ingin cepat-cepat menghalalkan adik kamu."


Ucapan pak Budhi yang menyebut nama kakek membuat kepercayaan diriku melemah. Dia memandang aku bukan sebagai Fifa, melainkan sebagai cucu daeng Syam. Ini beban berat. Menyandang nama kakek yang tak pernah kutemui itu bukan hal yang mudah. Orang mungkin berekspektasi tinggi tentang seorang cucu daeng Syam dan aku tak bisa memenuhinya.


"Secara pribadi saya telah meminang pada ibu Arifah. Kami ingin pernikahan Fifa dan Firdaus dapat diselenggarakan dalam waktu dekat. Niat baik jangan ditunda-tunda. Saya sebagai orang tua lega bila sudah melihat anak saya bahagia menikah dengan gadis pilihannya. Jika terjadi sesuatu dengan saya, dia memiliki keluarga yang mendukung dan mencintainya."


"Jangan bilang begitu, Pa. Papa harus optimis sembuh."


"Papa sudah tua, Fir."


"Banyak orang yang sudah berumur 80 tahunan dan pasang ring jantung masih dapat hidup sehat bahagia. Perkembangan kesehatan papa sangat bagus. Yang penting papa rajin olahraga ringan, pikirannya tenang, dan diet rendah lemak. Insya Allah bisa hidup normal seperti kami."

__ADS_1


"Papa berjuang hidup demi kamu. Melihatmu bahagia adalah berlian terbesar yang papa temuai !di dunia ini. Papa akan selalu mendukung apa pun yang membuatmu bahagia."


Bray meraih tangan ayahnya dan mengenggamnya.


"Berjuang juga buat kebahagiaan papa sendiri dong." pinta Bray dengan suara lembut.


Pak Budhi tersenyum. Ia mempererat menggenggam tangan puteranya.


"Pak Budhi harus semangat. Pasti banyak orang yang menggantungkan penghidupan dari bisnis yang bapak kelola."


"Sebagian usaha sudah bukan milik kami lagi." ucap pak Budhi dengan raut kecewa.


"Papa kan sudah sepuh. Mungkin putusan itu adalah cara Tuhan untuk mengurangi tanggung jawab papa. Biar papa tak terlalu lelah dan lebih fokus pada urusan akhirat. Harus diikhlaskan, Pa. Semoga malaikat mencatat pemberian dan keikhlasan papa sebagai amal kebaikan."


Pak Budhi mengangguk. Lagi-lagi ia memandang penuh harap. "Kamu mau kan menikah dengan Firdaus?"


Aku melirik ke arah Bray sebelum menjawab dengan anggukan dan senyum malu.


Semua sepakat merestui rencana pernikahan kami. Proses menuju pernikahan terasa terlalu mudah. Tak seperti cerita cinta kebanyakan orang. Tak ada drama penolakan. Nenek dan keluargaku mendukung. Pak Budhi sebagai satu-satunya keluarga dekat Bray pun mendukung pilihan anaknya. Yang kutakutkan dari kemudahan ini justru kehidupan setelah kami menikah nanti. Selama ini kami tak memiliki banyak masalah karena hubungan kami masih berjarak. Bray belum kenal kebiasaanku. Begitupun sebaliknya. Sedangkan kami dibesarkan dalam lingkungan yang perbedaannya bagai langit dan bumi. Bray yang anak tunggal pengusaha kaya yang seumur hidupnya tinggal di kota besar. Sedangkan aku anak petani yang tinggal di kawasan pedalaman.


Tak banyak waktu yang bisa lani habiskan untuk mengobrol bersama pak Budhi. Hanya kurang dari satu jam. Perawat memberitahukan waktu bezuk sudah habis. Pdk Budhi masih harus lebih banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya.


Fifi justru senang perawat itu mengusir eh meminta kami meninggalkan kamar. Ia langsung mengajak mama ke mall. Bray memerintahkan salah seorang supir keluarga mereka mengantar keduanya ke mall yang dituju. Sementara aku dan Salman berencana kembali ke hotel untuk menyelesaikan pekerjaan kami. Bray sendiri yang mengantar kami berdua.


"Minggu depan perwakilan perusahaan Amerika itu akan melakukan penjajakan ke lokasi tambang dan meninjau kegiatan konservasi kita, Fifa. Rencananya aku akan stay di site."


"Pak Budhi?"


"Kondisinya sudah mulai membaik. Bisa ditinggal dengan tetap diawasi dari jarak jauh. Aku masih akan pulang ke Jakarta di hari libur."


"Dari sini aku juga akan pulang kampung bareng kak Salman. Aku harus siapin apa?"


"Siapin diri aja buat jadi istriku." jawabnya santai diikuti dengan tawa kecil Salman.


Ditanya serius malah bercanda. Padahal aku sangat ingin berperan dalam proses penjajakan investasi asing itu.

__ADS_1


__ADS_2