
Pagi kedua aku berada di rumah nenek. Kubuka tirai jendela kamar saat cahaya di luar masih redup. Mentari bersinar malu-malu, belum sepenuhnya menampakan diri. Kokok ayam jantan terdengar di kejauhan. Rumah besar ini mulai terasa semakin sepi meskipun penghuninya bertambah. Sarapan pagi di meja makan hanya dihadiri nenek, paman dan aku saja. Anak dan istri paman tak terlihat. Aku jadi merasa bersalah, apakah kehadiranku yang membuat keadaan jadi seperti ini.
"Kemana Marlina?" tanya Nenek dengan wajah galak.
"Masih tidur, Mam. Katanya kepalanya pening. Mungkin masuk angin."
Nenek mencibir seolah tak percaya dengan jawaban itu. Ia mengambil garpu dan pisau untuk memulai sarapan roti isi daging dengan salad sayuran.
"Gufron?"
"Sudah pergi pagi-pagi sekali menemui kolega bisnisnya."
"Imron?" Nenek mengabsen anggota keluarga paman Hasan satu per satu.
"Masih tidur. Ia baru pulang menjelang subuh."
"Kau sebagai kepala keluarga harus tegas. Usahakan semua anggota keluarga sarapan jam 6.30 pagi."
Paman Hasan tak menjawab.
Aku memotong roti dagingku dengan cara yang sama dengan bagaimana nenek memotong roti dagingnya. Aku berusaha belajar cara makan dengan anggun seperti nenek. Semua sikap dan perilakunya kuperhatikan dengan baik. Tak terlalu peduli dengan reaksi paman ketika mendapat nasehat tegas dari nenek karena dianggap kurang bisa mendidik keluarganya. Heran. Padahal beliau seorang pendidik.
Tak ada kehangatan yang kurasakan dari keluarga ini selain dari nenek yang memang begitu mengharapkan kehadiranku. Aku mulai rindu pulang. Rindu masakan mama dan kebersamaan saat sarapan dan makan malam bersama. Rindu pada Aga dan burung-burung yang tak pernah bosan menghibur laraku.
Jam 8 pagi Andi Syarif telah tiba di halaman rumah dengan mobil sejuta umat berwarna hitam. Aku telah menunggunya di teras depan sejak selesai sarapan dan gosok gigi. Bosan berada dalam rumah besar yang dingin. Di teras aku bisa memandang taman dan merasakan sinar matahari yang mulai menghangat.
"Kau sudah tak sabar kah, Fifa?" Andi menyapa riang. Dia merasa sudah ditunggu kehadirannya.
"Biasa. Tunggu sebentar ya! Aku harus panggil nenek dulu karena beliau mau ikut."
Aku mempersilakan Andi Syarif duduk di sofa ruang tamu lalu pergi ke kamar nenek.
"Nek, jadi ikut nggak? Kak Syarif sudah datang."
Nenek memberi isyarat pada bi Ika untuk mendorong kursi rodanya. Aku mencoba mengambil kendali menggantikannya mendorong kursi roda itu tapi Nenek menolak.
"Biar Ika saja, Fifa."
"Bi Ika juga ikut jalan-jalan?"
"Harus."
Aku mingkem. Tak bicara lagi. Berprasangka baik saja. Mungkin nenek membawa asisten karena lebih tahu jadwal aktivitas harian nenek daripada aku. Bi Ika pasti lebih paham kebiasaan dan bagaimana memperlakukan nenek.
Ketika melangkah keluar rumah, sudah ada pak Rodi yang siap dengan mobil SUV putihnya. Beliau dengan sigap mengangkat kursi roda nenek. Andi berlari ikut membantu. Mobil SUV itu telah didesain khusus buat orang difabel seperti nenek. Ada ruang khusus buat kursi roda sehingga tak perlu repot melipat kursi roda saat naik mobil.
"Nak Syarif, ikut kami ya." perintah nenek saat ia telah berada di dalam mobil.
Aku dan Andi Syarif sama-sama bengong dan saling tatap. Apa maksudnya ini? Mau ikut kami jalan-jalan tapi harus ikut perintah nenek kemana arahnya.
Kusenggol bahu Andi dan mengerdipkan mata, "Kita turuti aja, Kak. Maklum, nenek-nenek itu selalu benar dan harus dihormati."
Andi memaklumi. Ia tersenyum tipis.
"Mungkin nenek jenuh di rumah. Harusnya kamu ajak nenek jalan-jalan pagi atau sore ke taman."
"Aku tak berani keluar rumah. Takut tersesat atau diculik orang."
Andi terkekeh mendengar jawabanku.
__ADS_1
"Kukira kau pemberani, ternyata jago kandang."
Aku nyengir kuda. Aku memang tak berani keluar rumah. Selain masih merasa asing di kota ini, aku tak suka keramaian. Kupikir di rumah lebih menyenangkan. Lagipula di rumah banyak pekerjaan yang akhirnya bisa kuselesaikan.
"Rumah nenekmu dekat kok dengan taman kota. Kau kan bisa ajak asisten untuk menunjukan arah dan membantumu menjaga nenek."
"Iya. Makasih sarannya."
"Kau harus jadi cucu yang baik agar karmamu baik. Nanti kalau kau setua nenek akan dibalas perlakuan manismu oleh cucumu kelak."
Tumben terdengar bijak. Sebagai cucu mungkin aku kurang perhatian pada nenek.
Mobil SUV yang dikendarai pak Rodi melaju ke tengah kota.
"Kira-kira tujuannya ke mana ya, Kak?"
"Mungkin ke apangan Karebosi atau alun-alun kota. Nenek-nenek biasanya suka jalan ke tempat bersejarah. Dulunya lapangan karebosi itu merupakan pusat pertemuan raja-raja, tempat silaturahmi dan sosialisasi antar kerajaan- kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. Di sana ada tujuh makam leluhur, mungkin beliau mau ziarah." jawab Andi santai.
"Biasanya kebiasaan nenek sebelas dua belas dengan cucunya." sindirnya sambil mengerdipkan sebelah mata.
Spontan aku memukul lengan atasnya. Andi selalu siap dengan kebiasaanku. Hasilnya tanganku yang nyeri dan dia tertawa terbahak-bahak.
"Makanya punya tangan disekolahin, biar nggak bodoh terus."
Aku meringis sambil mengelus-elus pelan tanganku yang sakit. Kesal. Mau marah tapi aku yang salah. Lain kali harus bisa mengendalikan kebiasaanku yang satu itu.
Mobil nenek berhenti pada sebuah ruko yang bertuliskan kantor notaris dan PPAT.
"Kenapa berhenti di sini?"
Andi angkat bahu. Kami sama-sama bingung. Ini jelas bukan tempat tujuan jalan-jalan. Bukan museum, bukan pusat keramaian dan bukan pula tempat wisata. Mana ada jalan-jalan ke kantor notaris. Setahuku kantor itu yang mengurus segala sesuatu yang berurusan dengan legalitas hukum.
Bi Ika mendorong kursi roda nenek masuk melalui jalan khusus difabel. Pak Rodi mengawal di belakangnya. Sementara aku dan Andi mengikuti langkah pak Rodi dengan ragu-ragu. Tak ada perintah atau pemberitahuan.
"Kenapa kita ke kantor ini, Nek?" Akhirnya aku tak sanggup menahan rasa penasaran.
"Kita buat surat legal untuk kamu"
Surat legal apa? Aku baru berurusan dengan notaris dibantu Jim untuk mengurus legalitas yayasan. Selain itu aku tak terlibat dalam masalah hukum apapun.
"Saya salah apa, Nek?"
Nenek tersenyum.
"Kau harus dapat bagianmu dari nenek dan warisan hak ayahmu dari kakek."
"Wah, kau bisa mendadak kaya Fifa." seru Andi keras yang membuat mataku melotot ke arahnya.
"Syarif dapat juga nggak, Nek?" tanya Andi sambil cengar cengir.
Nenek membalasnya dengan senyum yang sama nakalnya.
"Bagaimana biar harta keluarga tidak jatuh ke mana-mana nikahin aja Syarif dengan Fifa." Andi mendekati nenek dan bicara pelan di dekat telinga perempuan tua itu.
Aku melotot tapi Andi tak peduli. Lirikan matanya terus menggodaku.
"Boleh. Boleh. Itu ide bagus. Nenek setuju."
Semua penghuni ruangan tertawa riang, kecuali aku yang masih melotot kesal pada Andi.
__ADS_1
Hah? Apa-apaan ini? Benar-benar drama konyol yang tak pernah kuduga akan terjadi.
"Kau setuju, Fifa?" tanya nenek.
Aku menjawab dengan gelengan kepala.
"Jawab setuju saja, Fifa. Aku kan ganteng. Sudah diangkat jadi pegawai negeri pula. Masa depan terjamin. Kau bisa punya uang pensiun kalau aku mati nanti."
Suara tawa Andi terhenti ketika paman Hasan dan 2 orang berpakaian rapi masuk ke dalam ruangan. Satu orang berjas dan berkaca mata lebih dulu menyalami nenek. Diikuti seorang berkemeja rapi dengan dasi garis-garis yang membawa map besar dan tebal. Paman masuk belakangan menyalami semua orang yang hadir.
Hanya bi Ima yang berdiri di belakang kursi roda nenek.
"Kenalkan. Ini cucu perempuan saya, pak Agung. Anak dari putera kedua saya, Andi Ahmad Syarif yang tinggal di pedalaman Halmahera."
Pria berjas itu kembali menyalamiku, "Afifa Syarif." dengan tegas dan jelas kusebutkan namaku.
"Sangat mirip dengan bu Arifah." komentarnya sambil tersenyum.
Nenek terlihat tersenyum bangga. Notaris yang dipanggil dengan nama pak Agung itu meminta asistennya untuk mengeluarkan berkas-berkas yang katanya sesuai dengan permintaan nenek.
Aku tidak tahu dimana mereka mendapatkan nomor identitas kependudukanku sebab aku belum pernah memberikannya pada nenek atau anggota keluarga lain di Makassar. Tapi kubaca dalam surat-surat itu nama, nomor identitas, tanggal lahir dan informasi lainnya sudah sesuai dengan jati diriku.
"Nona tinggal tanda tangan di sini." Asisten notaris memanduku untuk paraf di setiap lembar yang kubaca dan membubuhkan tanda tangan pada halaman terakhir.
Andi Syarif, paman Hasan dan pak Rodi ikut tanda tangan sebagai saksi.
"Sekarang clear ya, Hasan. Mami telah memberikan hak warisan papi untuk keluarga kakakmu. Artinya mulai hari ini uang sewa rumah pesisir itu menjadi hak Afifa sekeluarga. Demikian juga saham pada PT Syam Agribisnis."
"Menurutku terlalu banyak, Mam. Anak kak Syarif yang masih ada semuanya perempuan."
"Itu hak kakakmu yang seharusnya diberikan setelah papi meninggal 5 tahun yang lalu. Ayahmu masih ada 5 tahun yang lalu kan, Fifa?"
Aku mengangguk membenarkan.
"Selama 5 tahun ini keluargamu sudah mengambil untung dari pengelolaan dan laba perusahaan itu. Apa itu belum cukup?"
Wajah paman Hasan memerah. Ia menunduk malu.
"Kau akan dapat rumah yang kau tinggali sekarang kalau aku mati nanti. Sebenarnya kalau dihitung-hitung kau sudah dapat warisan lebih besar dari kakakmu. Harga saham agro jauh lebih kecil dibandingkan dengan saham PT Syam Property dan PT Gunada yang dikelola Gufron itu."
Paman Hasan mengangguk.
Aku yang tak tahu menahu hanya bisa diam dan *******-***** tanganku sendiri.
"Karena cucuku perempuan, aku akan menghibahkan seluruh perhiasanku dan kedai kopi warisan keluargaku pada Fifa dan adiknya. Mana surat hibahnya, pak Agung."
Paman Hasan berdiri sebelum asisten pak Agung mengeluarkan lagi berkas dari dalam map besarnya itu. "Mami, ini tidak adil." protesnya.
"Pak Agung, tolong jelaskan pada anak bungsuku tersayang ini. Apa secara hukum saya tidak boleh menghibahkan harta yang saya dapatkan turun temurun dari keluarga saya pada cucu perempuan saya?"
Pak Agung meminta paman duduk lalu menjelaskan panjang lebar soal hukum hibah yang intinya membolehkan apa yang diinginkan nenek. Paman Hasan tak bisa menggugat karena status nenek masih hidup hingga harta miliknya tak bisa dibilang warisan. Hak nenek untuk memberikan pada siapapun selama nenek masih dalam keadaan sehat dan tidak berada dalam tekanan pihak manapun.
"Cucuku ini sejak lahir hidup sengsara di tengah hutan, pak Agung. Saya harus pastikan mulai sekarang hidupnya harus baik dan mendapatkan hak yang seharusnya dia dapatkan dari keluarga ayahnya. Pun yang saya akan hibahkan adalah harta dan bisnis perempuan. Saya sudah nazar sejak muda untuk urusan ini akan saya turunkan pada keturunan perempuan saya. Selain itu, kalau saya mati nanti sisa harta saya dianggap sebagai warisan. Silahkan dibagi menurut hukum islam."
"Mami ..."
"Semua yang di sini jadi saksi. Kalau ada apa-apa dengan saya dan cucu perempuan saya kalian harus bela kami."
Aku tak mengerti apa maksud nenek. Yang kutangkap dari ekspresinya sepertinya paman Hasan tak sepakat dengan keputusan nenek ini. Tapi paman tak berdaya. Nenekku tegas dan memiliki alasan tak terbantahkan untuk keputusannya itu.
__ADS_1
Suasana ruangan dingin. Aku tak suka berada dalam situasi ini. Sungguh bukan niatku datang ke sini untuk menuntut warisan atau pemberian dari keluarga ayahku. Aku justru sama sekali tak tahu menahu sebelumnya kalau keluarga ayahku memiliki harta sebanyak itu. Aku hanya ingin menjalin silaturahmi, terutama pada ibu dari ayahku.
Paman menatapku dengan mata yang merah. Aku tak berani membalas tatapannya. Tak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Aku masih syok sekaligus takut melihat tatapan paman yang memojokanku. Untunglah Andi menenangkan hatiku walau hanya dengan menggenggam hangat punggung tanganku.