LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
MERDEKA


__ADS_3

Pagi-pagi sekali sebuah mobil hitam berlogo PT XY telah parkir di halaman rumah. Beberapa tetangga terlihat melongok dengan penuh selidik. Padahal tak ada yang aneh dengan rumahku. Sejak kemarin sore kami telah mengibarkan bendera merah putih, bukti bahwa kami cinta negeri ini. Seharusnya tak ada yang patut mereka curigai.


Gunjingan orang terhadapku dan juga mama belum jua berhenti. Hanya mereda sedikit karena akhir-akhir ini mereka kehabisan bahan pembicaraan. kami menganggap gunjingan hanya angin lalu. Sepertinya lama-lama mereka capek sendiri. Sementara dari hari ke hari kami hanya sibuk mengolah kebun, memelihara ternak dan membuat kerajinan tangan. Apa yang kami lakukan sama sekali tak menarik untuk dibahas. Mereka cuma berkomentar sinis saat beberapa anak tetangga datang melihat-lihat aviary dengan tatapan kagum. Maklum, hanya kami yang punya kandang burung besar dengan taman dan kolam air mancur alami yang indah.


Alhamdulillah kehidupan kami berjalan tanpa kendala walau mama tak lagi jadi istri kepala kampung. Semua kebutuhan harian kami tanggulangi bersama meski di rumah kami tak ada satupun laki-laki.


Pak Josi, sopir mobil dinas perusahaan itu kebetulan tetangga baik kami. Beliau membantuku memasukan kandang berisi sepasang burung nuri kepala merah di bagian belakang mobil. Sementara aku menyiapkan beberapa perlengkapan, dokumen dan persediaan makanan.


"Fi, aku pinjam kacamata hitam kamu dong."


"Nih. Awas jangan sampai hilang." Fifi menyerahkan kaca mata hitam yang biasa digunakan untuk berfoto dengan mata setengah mengancam.


"Kalau hilang beli lagi dong."


"Mana ada kaca mata macam itu di sini. Itu kaca mata orang kota."


"Aku lihat kaca mata macam itu murah di toko online."


"Harganya memang murah, tapi ongkirnya ke mari bisa sepuluh kali lipat dari harga." keluh Fifi dengan mulut manyun.


Aku nyengir. Benar. Barang-barang yang tampak murah di online shop jadi mahal buat kami sebab ongkirnya tak sebanding dengan harga barang. Bagusnya mungkin barang-barang impor dari Cina masuk saja langsung di pelabuhan dekat sini agar harganya tak jauh berbeda dengan harga di pulau Jawa.


Aku sengaja menggunakan topi dan kaca mata agar tak banyak orang mengenali. Apalagi kalau ternyata kak Bray datang. Aku bisa memandangnya secara sembunyi-sembunyi tanpa dikenali. Semua sudah kurencanakan dengan baik.


Sampai di lapangan, kak Hisyam menyambutku dan langsung memperkenalkan aku dengan Andi, seorang staf dinas lingkungan hidup yang sedang terlibat perbincangan dengannya.


"Ini Afifa Syarif, volunteer Avian keeper kami. Nona ini yang merawat burung-burung yang ngana titipkan tempo hari."


"Salam kenal Afifa. Saya Andi. Terima kasih telah merawat burung-burung yang akan kita kembalikan ke habitatnya."


"Kak Andi tergabung dalam komunitas pencinta burung paruh bengkok juga kah?"


"Belum," jawabnya dengan senyum sedikit tengil.


"Dinas lingkungan hidup tidak hanya fokus mengurus burung saja, tapi semua yang menyangkut lingkungan hidup tempat dia ditugaskan." sambar kak Hisyam sambil tersenyum lebar.


Eh, aku jadi malu.


"Kami baru saja menyita burung wake-wake jantan yang akan diperdagangkan di kawasan pelabuhan. Kondisinya agak stres. Nona bersediakah buat merawatnya?"


Aku langsung terbelalak. Wake jantan? Wow, aku sama sekali tak menyangka bakal diberi kesempatan untuk merawat burung impian yang tempo hari kucari sampai tersesat dalam hutan. Tawaran ini sangat menarik. Tentu saja refleks pun aku langsung menyetujuinya.


"Aku senang sekali kalau diberi kepercayaan buat merawat wake Jantan."


"Deal ya. Pak Hisyam nanti yang memfasilitasi ambil burungnya di kantor dinas."


"Siap" Kak Hisyam langsung sigap dengan mengangkat tangan hormat ala militer.

__ADS_1


Andi tertawa.


Andi pria yang murah senyum tapi matanya sedikit nakal. Perawakannya tergolong mungil untuk ukuran seorang laki-laki. Tingginya hampir sama denganku. Berkulit bersih dan berpenampilan rapi. Cocoklah jadi pegawai pemerintahan.


"Sudah lama dinas di Lolobata, kak?"


"Baru 3 bulan."


"Almarhum baba kenal dengan pak Doni, dulu polisi hutan Lolobata."


"Pak Doni sekarang sudah pindah tugas ke Ternate."


"Kak Andi orang asli Maluku?"


"Tidak. Saya lahir dan besar di Makasar."


"Orang Bugis kah?"


"Ya."


"Almarhum babaku juga orang Bugis."


"Ohya? Masih sedarah kita rupanya."


Kami tertawa bersama. Mungkin karena merasa sama-sama memiliki darah Bugis, Andi Ahmad Syarifuddin menjadi lebih akrab dan terbuka padaku. Dia ternyata lulusan sarjana biologi dari institut pertanian ternama di Indonesia dan baru tahun lalu diangkat menjadi pegawai negeri.


"Siapa nama babamu?"


"Ahmad Syarif."


"Tanpa Andi di depan?"


"Entahlah. Kurasa tidak."


"Kok kelihatannya ragu begitu. Apa kalian tak pernah tahu silsilah keluarga baba?"


Aku menggeleng. Entahlah. Selama ini baba hanya bercerita sedikit sekali tentang keluarganya dan belum pernah sekali pun memperkenalkan kami pada orang tuanya. Baba tak pernah pulang ke kampung halaman. Baba bilang, rumah kakek nenek kami amat jauh di seberang lautan. Kami tak pernah punya cukup uang untuk berkunjung ke kampungnya, tapi kami selalu berdoa untuk mereka.


"Tak pernah tahu siapa kakek nenekmu?"


Aku menggeleng lagi.


Kok jadi merasa miris ya? Andi tersenyum tipis. Kurasa ia kasihan padaku yang hanya tahu keturunan orang Bugis tapi tak paham silsilah keluarganya. Yah inilah aku, Afifa Syarif.


Upacara akan segera dimulai. Andi pamit karena harus mendampingi ibu wakil kepala dinas di barisannya bersama para pegawai pemerintahan yang lain. Ia mencatat nomorku dan berjanji akan menghubungiku terkait dengan burung wake jantan yang akan dititipkan untuk dirawat. Sementara aku melangkah masuk di barisan warga undangan.


Kandang Aga dan Ima terlihat telah berada di bagian depan dekat podium. Bagian atas kandang telah diikat pita merah putih. Entah bagaimana keadaan keduanya, aku tak bisa memperhatikan dengan jelas dari tempatku berdiri di tengah barisan warga sebab jarak kami terlampau jauh.

__ADS_1


Setelah mengikuti upacara dengan hikmat, acara langsung dilanjutkan dengan pelepasan sepasang burung nuri. Dag dig dug jantungku menunggu saat bersejarah itu.


"Yang terhormat bapak wakil bupati dan CEO PT XY mining bapak Firdaus Sanjaya dipersilakan ke depan podium untuk melepaskan masing-masing seekor nuri kepala merah atau yang lebih dikenal dengan nama nuri ternate. Burung dengan nama ilmiah loryus Garullus ini merupakan salah satu burung endemik di hutan Lolobata. Burung ini langka dan dilindungi sehingga tidak boleh diburu dan diperjualbelikan. Barang siapa yang melihat ada yang memburu atau memperjualbelikan tanpa sertifikat resmi, mohon agar segera lapor di dinas lingkungan hidup setempat. Dengan semangat kemerdekaan, marilah kita sama-sama menyaksikan pelepasan burung langka ini kembali ke habitatnya."


Pemandu acara telah mempersilakan kedua orang terhormat itu. Aku yang tadinya lupa pada sosok pembunuh itu makin tak dapat menguasai cepatnya debar jantungku ketika melihat langkah tegapnya maju ke depan podium. Langkahnya panjang dan pasti. Dia tersenyum penuh wibawa dengan pandangan mata yang menyapu seluruh hadirin yang masih berdiri di tengah lapangan, termasuk aku.


Kurasa dia tak menyadari keberadaanku. Mungkin dia sudah lupa pula siapa aku sebab aku bukan siapa-siapa dan tak penting untuk diingat. Teman bukan. Karyawan bukan. Tak ada alasan sama sekali bagi dia untuk mengingatku. Selain itu aku mengenakan topi dan berada diantara puluhan warga yang diundang ikut menghadiri upacara hari kemerdekaan ini.


Pandanganku terus mengikuti langkahnya. Dua orang anak SMU berseragam paskibra ditugaskan menyerahkan kedua ekor burung itu. Kak Bray menerimanya dengan senyum mengembang. Akh, walau tak hanya ditujukan padaku tapi rasanya senyum itu menusuk jantungku hingga bocor dan berdenyut-denyut lebih kencang. Padahal dia tak sedang pegang busur dan anak panah, tapi jantungku bagai terpanah.


Pria berambut lurus dengan senyum penuh pesona itu memegang Aga dengan kedua tangannya. Sementara bapak wakil bupati memegang Ima. Sesuai instruksi pemandu acara, kedua orang yang dihormati itu melepaskan nuri secara bersama-sama. Sepasang burung nuri kepala merah itu terbang diiringi riuhnya tepuk tangan puluhan hadirin yang memenuhi lapangan.


"Selamat jalan, Aga. Selamat jalan, Ima. Jangan lupa sesekali mengunjungiku ya," ucapku lirih sambil melambai-lambaikan tangan ke arahnya.


Sejenak aku lupa senyum itu. Pandangan mataku mengikuti kepak sayap Aga dan Ima sampai burung itu menghilang di balik pepohonan. Merdeka. Nikmatilah kebebasanmu, Aga, Ima!


Setengah jiwaku terbang melayang. Aku kehilangan minat menonton acara selanjutnya yang berupa lomba-lomba dan pentas seni. Aku memilih menghindari hingar bingar perayaan hari kemerdekaan yang menjadi ajang pesta rakyat tahunan nan meriah. Setapak demi setapak kaki melangkah pergi hingga sampai ke tepi sungai. Kurasa perlu menyendiri guna menetralisir perasaanku yang kacau balau.


Aku tak sadar ada orang yang membuntutiku, mungkin karena terlalu larut pada rasa hatiku yang tak karuan.


"Afifa." Seseorang memanggilku ketika aku telah duduk di atas batu besar di pinggir sungai.


Pria berambut lurus itu tersenyum menyodorkan satu kotak bertuliskan Mama Lolobata Catering.


"Makanlah! Aku temani kamu makan."


Aku masih tergugu. Kenapa dia membuntutiku? Aku menengok ke segala arah. Tak ada orang lain. Dimana para asisten dan pengawalnya? Masak CEO dibiarkan pergi sendirian tanpa pengawalan. Mimpi apa ini?


"Cari siapa?"


"Kak Hasyim." jawabku asal.


Kulirik kakinya masih menapak bumi. Berarti dia bukan hantu dan aku tidak sedang bermimpi.


"Dia sedang sibuk mengurus acara." jawabnya dengan wajah polos. Seperti tak punya salah dan dosa saja.


Dia menyodorkan lagi kotak yang belum mau kusentuh. Aku tetap tak bergeming.


"Kamu takut kuracuni?"


Tak kujawab. Sejujurnya ingin kujawab iya tapi bibirku tak sanggup mengatakannya.


Ia menukar kotaknya, "Sudah kutukar. Masih nggak mau juga?"


Aku masih diam. Dag dig dug, jantungku belum mau berdetak normal meski sekuat tenaga aku berusaha menetralisir diri.


"Kalau begitu, kita makan satu kotak ini dulu aja sama-sama. Biar kalau ada racunnya kita mati bareng-bareng." Kini dia tersenyum jahil. Tetap terlihat sama menawannya. Pokoknya lengkung bibirnya itu benar-benar mengandung magic di mataku.

__ADS_1


__ADS_2