
Tut tut tuuut gawaiku berbunyi lagi. Panggilan video dari Bray.
Aku melihatnya sangat terkejut ketika gambarku muncul dengan Salman yang masih merangkul mesra pundakku.
"Assalamu'alaikum." Aku dan Salman mengucapkan salam bersamaan.
"Wa Wa'alaikumsalam." Bray menjawab dengan gugup lalu terdengar dering yang panjang menandakan sambungan telepon telah terputus.
Aku dan Salman baku pandang.
"Sepertinya dia salah paham."
Dengan sedikit panik aku segera memencet gambar gagang telepon warna hijau pada nomor Bray. Panggilan tersambung tapi tak kunjung diangkat sampai operator yang menjawab memerintahkan agar aku meninggalkan pesan suara.
Entah apa yang terjadi pada Bray. Aku takut dia marah melihat pemandangan tadi. Raut wajahnya menegang dan gugup saat menjawab salam. Aduh bagaimana ini. Dia pasti salah paham. Seharusnya tadi kulepas dulu rangkulan Salman baru menerima telepon darinya.
Sebaiknya kutulis pesan singkat saja buat klarifikasi.
"Selamat malam, mas Bray. Kenapa teleponnya ditutup? Marah? Maaf ya. Tadi yang sedang bersamaku itu kakak kandungku; Salman. Maaf aku belum cerita soal Salman yang sekarang sudah lulus kuliah dan dinas di Jailolo. Kami baru bertemu hari ini."
Pesan terkirim hanya centang satu. Kutunggu beberapa menit pesan tetap belum sampai. Padahal kuotaku masih banyak. Kemungkinan gawainya telah dimatikan.
"Gimana?"
"Telepon tak diangkat. Chat centang satu. Kayaknya langsung dimatikan."
Salman tersenyum getir. Tubuhku melemas. Tak ada yang bisa kulakukan buat memperbaiki keadaan. Lebih baik pergi tidur. Hari sudah hampir pagi.
"Aku naik dulu ya, kak. Sudah hampir pagi."
Salman mengangguk. "Kirim nomornya ke aku, Fif. Biar aku yang hubungi kalau sampai besok dia masih tak mau dihubungi."
__ADS_1
"Tidak perlu. Ini masalah pribadiku. Aku bisa selesaikan sendiri." Berprasangka baik saja. Mungkin baterai gawainya sudah habis.
Peristiwa itu membuatku sulit tidur. Lampu sudah dimatikan. Doa tidur sudah kupanjatkan. Namun mataku sulit terpejam. Terus saja kupanjatkan doa dan dzikir. Kuhalau pikiran-pikiran buruk yang mampir dalam benakku. Entah berapa lama aku melakukan itu sampai akhirnya lelah membuatku tertidur.
Aku bangun kesiangan lagi. Azan subuh tak terdengar. Jam 6 baru bisa membuka mata dan memulai aktivitas harianku dengan tubuh yang terasa kurang segar. Kepalaku agak berat dan malas melakukan apa pun.
Jam 9 pak Taqi menjemput kami untuk rapat manajemen di kantor perkebunan. Aku sebenarnya tak ingin hadir karena sudah ada Salman yang mewakili keluarga kami sebagai pemilik. Pengetahuan dan ilmunya tentang perkebunan sudah pasti lebih tinggi dibandingkan aku. Tapi Salman memaksaku menemaninya. Selain itu pak Taqi bilang, ada beberapa dokumen keuangan dan perjanjian kerja sama yang harus aku periksa dan tandatangani.
"Saya ikut prihatin atas musibah yang menimpa kak Fifa. Menurut saya sih itu kayaknya pertanda kalau kak Fifa sebaiknya tinggal di sini saja menemani ibu Arifah."
"Dia masih berat meninggalkan burung dan makam baba." Justru Salman yang menjadi juru bicara.
Salman dan pak Taqi berbicara banyak tentang masalah-masalah seputar perkebunan. Aku tak merespon sama sekali. Isi pembicaraannya tidak ada yang singgah di kepala. Sebagian besar menguap ke angkasa bercampur dengan karbondioksida yang keluar dari mulut pembicara.
Sepanjang jalan aku hanya diam, begitupun saat rapat manajemen di kantor. Hanya ada sebagian kecil kesimpulan rapat yang mengendap di kepala. Sisanya menguap di udara. Otakku hanya mencatat kesimpulan inti kesepakatan manajemen bahwa Salman akan menjadi direktur dan ia akan ke kantor 2 hari dalam seminggu, yakni sabtu dan minggu. Untuk itu libur kantor ditetapkan hari senin. Hari kerja staf kantor berubah jadi berbeda dengan kebiasaan kantor lain. Kecuali ada agenda khusus dan bersifat penting Salman akan ambil cuti dari tugas kedinasannya sebagai penyuluh pertanian di Jailolo. Sementara kontrol keuangan seluruhnya ada di tanganku. Transaksi keuangan mulai menggunakan corporate banking yang token otorisasi transaksinya di tanganku dan Salman. Kasir perkebunan hanya memegang dana operasional harian 50 juta dengan sistem impres. Pengisian kembali dana tersebut berdasarkan laporan yang berisi jumlah penggunaan dana periode sebelumnya sehingga nominalnya tetap sama.
Berkali-kali kutengok gawaiku. Pesanku masih centang satu. Kondisi ini membuatku semakin gelisah. Pikiranku makin liar menerka-nerka ada apa dengan Bray. Tidak biasanya dia seperti ini. Tak mungkin kalau baterainya habis. Sepuluh jam sudah berlalu. Mana mungkin baterai gawai membutuhkan waktu pengisian kembali selama itu. Kemungkinan besar Bray marah dan memutuskan tidak akan menghubungiku lagi. Nomorku sudah diblokir. Aku takut Bray akan selamanya tidak menghubungiku lagi. Kenapa jadi begini? Kenapa sikapnya jadi kekanakan? Kalau marah melihatku dirangkul Salman, kenapa dia tak mengijinkan aku buat klarifikasi? Atau jangan jangan mendadak Bray mengalami kecelakaan hingga gawainya rusak dan sampai kini Bray tak sadarkan diri.
Banyak pertanyaan yang membajak otakku hingga tak dapat berkonsentrasi penuh pada rapat penting ini.
"Mas Bray sudah balik Jakarta kemarin pagi. Mendadak dijemput dengan pesawat pribadi oleh temannya Steve di bandara Buli. Doi tara kasih kabar ngana?" tutur Hisyam lewat sambungan telepon aplikasi.
"Semalam telepon tapi mendadak terputus dan tidak bisa dihubungi. Sa takut ada masalah."
"Sebentar. Ngana tunggu dulu ya. Sa coba hubungi mas Bray."
Aku menunggu dengan resah. Kalau misalnya Hisyam berhasil menghubungi Bray berarti nomorku yang diblokir. Duh malu. Mau ditaruh di mana mukaku. Kalau kenyataannya begitu kira-kira aku harus ngomong apa alasannya ya supaya kesan aku tetap baik di hadapan Hisyam.
"Nomornya tidak aktif."
Aku sedikit lega. Berarti Bray tidak marah dan memblokir nomorku. Namun masih adanya kemungkinan lain yang membuatku belum bisa tenang. Bagaimana kalau ternyata dia kecelakaan? Aku belum siap mendengar berita buruk tentang Bray. Aku ingin segera memastikan bagaimana kabarnya.
__ADS_1
"Coba Ngana tanya Jim. Jim yang tahu agenda mas Bray. Mungkin mas Bray dalam perjalanan ke luar negeri jadi nomornya tak aktif dalam waktu lama."
"Terima kasih, kak Hisyam. Saya akan segera telepon kak Jim."
Bray tidak pernah cerita kalau mau melakukan perjalanan ke luar negeri. Jika bukan itu alasannya, lantas kenapa?
Aku lantas menghubungi Jim menanyakan agenda Bray agar hatiku lebih tenang. Mana tahu Bray lupa tidak bercerita padaku atau mau cerita tapi terhalang oleh tingkah Fifi semalam. Sementara waktu telepon aku pesawatnya sudah mau berangkat. Semoga saja begitu kejadiannya.
"Sa tak pernah tahu jadwal mas Bray di hari libur. Kemarin hanya bilang mau balik ke Jakarta menyelesaikan pekerjaan di sana selama seminggu."
"Ada agenda pigi ke luar negeri?"
"Tara."
"Semalam mas Bray telepon tapi mendadak mati. Sa kirim pesan sampai sekarang cuma centang satu. Nomornya belum aktif lagi. Apa ada nomor lain yang mungkin bisa kita pakai telepon?"
"Ngana tunggu sabantar ya. Sa telepon dulu ke rumah keluarganya." Jim kedengaran ikut panik mendengar penjelasanku.
Duh. Kecemasanku jadi merepotkan orang di hari libur. Rasanya tak enak hati. Tapi bagaimana lagi. Aku harus tahu keadaan Bray dan hanya merekalah orang dekat Bray yang kukenal.
Aku menunggu Jim agak lama. Sekitar 10 menit kemudian, Jim baru menelponku.
"Ayah mas Bray anfal tengah malam. Sempat dibawa ke rumah sakit terdekat namun tadi pagi dirujuk ke rumah sakit langganannya di Singapura. Berangkat sekitar jam 9 dengan pesawat khusus. Belum ada kabar lagi bagaimana kondisinya. Kata asisten rumah tangganya mas Bray sedang tidur sebab dia tidak tidur semalaman menunggui ayahnya. Tunggu beberapa jam ke depan mungkin mas Bray akan aktifkan kembali hpnya."
Kuhempaskan nafas panjang. Sekali lagi prasangka burukku tak ada yang terbukti. Kejadian yang sebenarnya tak seperti yang kubayangkan. Semoga ayahnya lekas diberi kesembuhan.
"Terimakasih, kak Jim. Sa bedoa semoga pak Budhi Sanjaya lekas sembuh."
"Amin."
Meski bukan kabar yang baik namun aku cukup lega mendengar penjelasan Jim. Ada kemungkinan Bray tidak marah seperti yang kukira. Teleponnya tidak aktif karena sedang panik mengkhawatirkan keselamatan ayahnya.
__ADS_1
Aku kembali ke ruang rapat manajemen. Pak Taqi, Salman dan beberapa manajer sudah berangkat kunjungan ke perkebunan coklat. Sebagian staf pulang setengah hari sebab begitulah peraturan kerja di hari sabtu. Berbeda dengan pekerja kebun yang bekerja dengan hari libur bergantian satu sama lain.
Aku masuk ke ruang direksi dan menunaikan tugasku di ruangan itu ditemani Sofia, staf keuangan yang menjelaskan hal-hal penting yang kuanggap janggal dan merapikan berkas yang telah kutandatangani. Banyaknya pekerjaan cukup mengalihkan kecemasanku. Meski begitu sesekali aku tetap melongok apakah pesanku sudah centang dua dan berwarna biru.