
Bray memutuskan untuk membawa papanya kembali ke Jakarta setelah keadaan kesehatannya cukup stabil dan melanjutkan perawatan dengan menyewa tenaga medis di rumah. Akhirnya aku bisa menjenguk pak Budhi tanpa perlu membuat paspor. Mama dan Fifi yang heboh ingin tahu bagaimana kota Jakarta tak mau ketinggalan menyertaiku. Sementara Salman yang berangkat langsung dari Ternate akan menyusul kami ke hotel yang sudah dipesan Fifi melalui aplikasi agen perjalanan online.
Fifi mengaktifkan gawainya saat kami baru saja sampai di terminal bandara. Seperti biasa, dia mulai norak melakukan siaran live di media sosialnya. "Wellcome to Jekardah. Fifi sudah sampai di Jekardah ya, Guys." katanya sambil melambaikan tangan ke arah kamera dan pasang senyum.
Sebentar kemudian ia kembali menutup gawainya dan memasukan ke dalam tas selempang yang dibawanya. "Bandaranya besar banget ya. Kalau kita mau ke Korea apa lewat sini juga?" tanya Fifi sambil memutar tubuh dan merentangkan tangan.
"Ya enggaklah. Ini terminal khusus kedatangan domestik." jawabku sok yakin. Padahal kami sama-sama baru menginjakan kaki di bandara besar ini.
"Iya sih. Dari tadi bulenya cuma kelihatan satu orang doang. Kata mbah google ciri terminal penerbangan internasional ada banyak bule dan ada tempat pemeriksaan paspor." Fifi menimpali sambil senyum senyum sok tahu. Dia terlihat gembira.
Kami berjalan mengikuti para penumpang yang turun dari pesawat yang sama sambil memperhatikan setiap petunjuk arah. Pintu kedatangan ternyata jauh dari tempat kami diturunkan dari pesawat. Seandainya penumpang pesawat hanya kami bertiga mungkin sudah tersesat dalam gedung yang luas ini.
"Besok kita jalan-jalan ke mall ya, Ma. Fifi sudah catat ittenary kita selama 2 hari ini. Malam ini kita nongkrong di kafe yang lagi viral di sebelah hotel. Besok jam 10 kita jalan-jalan ke mall yang ada arena ice skating dan panggung pertunjukan musik atau fashion show yang biasanya diselenggarakan saat akhir minggu. Makan siangnya di restoran Dookki terus berburu barang yang lagi ngetren di butik-butik branded sampai puas. Hari minggunya kita ke kawasan Sudirman, nyoba naik MRT, dan ambil foto-foto di tempat yang viral sekitar sana."
Fifi sudah hapal luar kepala daftar tempat-tempat yang ingin dikunjunginya selama 2 hari ini. Matanya menerawang jauh ke tempat yang diangankannya.
"Tujuan utama kita ke Jakarta jenguk pak Budhi yang sakit. Kenapa malah nggak masuk daftar ittenary?" protes mama mengingatkan dengan santai.
"Itu mah tujuan kak Fifa. Tujuan Fifi mau healing lihat-lihat tempat hang out anak Jakarta yang lagi viral." seru Fifi sambil berjalan berjingkat-jingkat.
Fifi menoleh ke arahku dan tersenyum manja, "Maaf ya, kak. Kita beda tujuan."
Kubalas dengan mencebik. Waktu merengek minta ikut, janjinya sama nenek ke Jakarta buat menemani dan menjaga aku. Ternyata aslinya cuma mau ikut nimbrung supaya bisa jalan-jalan ke tempat yang dianggap viral di Jakarta.
"Nggak boleh begitu, Fifi." tegur mama pelan.
"Fifi nggak ikut jenguk pak Budhi karena kasihan sama kakak, Ma. Kalau nanti pak Budhi lihat Fifi takutnya terpukau dan berubah pikiran."
"Aduh, adiknya Fifa ternyata lebih cantik, ceria, dan fasionable. Kalau begitu saya tarik lagi aja deh ya lamarannya yang kemarin. Saya mau mas Bray nikah sama adiknya saja." ujar Fifi dengan menirukan gaya bicara dan suara pria dewasa.
Aku dan mama tersenyum. Rasanya ingin menoyor jidat anak cerewet yang suka berhalusinasi dan over percaya diri itu. Ada saja alasannya.
__ADS_1
"Nggak boleh begitu, Fifi. Kita harus menjenguk pak Budhi dulu. Kita bisa ke Jakarta kan karena kak Fifa." tegas mama.
"Eit, kita berangkat bukan pakai uang kak Fifa. Uang yang dipakai kak Fifa untuk membiayai kita itu didapat dari warisan kakek. Artinya itu uang aku dan mama juga."
Iya. Memang itu uang bersama. Tapi nenek, mama dan Salman sepakat mempercayakan pengelolaannya padaku karena aku dianggap amanah dan disiplin. Fifi belum terlalu paham akan hal itu hingga sering protes tentang uang warisan. Tidak ada yang menggubris protes itu. Sebab semua tahu kalau Fifi diberi uang banyak, sifat impulsifnya akan menghabiskan uang dalam sekejap buat membeli barang yang tak perlu. Bahaya.
"Kita janji sama nenek mau ke Jakarta untuk temani kak Fifa. Mama akan tetap pada tujuan awal. Kalau sikapmu begini lain kali kalau ada urusan ke Jakarta kamu nggak usah ikut aja. Ngerepotin."
"Yah, kok gitu Ma."
"Sana! Kamu pergi aja sendiri ke tempat yang kamu mau. Tapi jangan minta uang sama mama ya."
"Maaf deh! Kalau begitu kita jenguk pak Budhi dulu. Bagaimana kalau jenguknya pagi aja habis sarapan. Masih ada waktu kok. Biasanya mall baru buka jam 10." Fifi mencoba menawar solusi. Dia tahu kalau di kota segalanya tak berarti tanpa uang. Kalau mama sudah tak mau memberi uang sudah pasti dia mati gaya.
Mama menoleh padaku, "Bagaimana, Fifa?"
"Terserah mama."
"Pak Budhi dirawat di rumah kan?"
"Berarti tidak masalah kita ke rumah pak Budhi sekitar jam 8 pagi."
"Baik. Nanti Fifa kabari mas Bray."
Sifat Fifi memang bertolak belakang denganku. Dia banyak bicara dan spontan. Kadang bersikap norak dan menyebalkan namun mudah minta maaf dan memaafkan.
Lahir dari rahim dan benih yang sama. Dibesarkan bersama dalam pengasuhan kedua orang tua yang sama. Namun sejak kecil kami memiliki ketertarikan yang berbeda. Aku menyukai hidup damai dalam lingkungan alam yang natural. Sementara Fifi begitu takjub melihat hutan beton, keramaian dan modernitas kota. Bagi Fifi kunjungan ke Jakarta adalah kesempatan istimewa yang harus diabadikan lewat gambar dan video yang dibagikan ke publik. Sementara aku sama sekali tak tertarik. Aku lebih tertarik mengambil gambar keindahan alam.
Sejak di bandara, masuk hotel sampai suasana makan malam di kafe yang katanya sedang viral tak luput dari dokumentasinya. Padahal menurutku makanan di kafe itu biasa saja. Masih lebih enak masakan koki di kedai kami. Tapi herannya pengunjungnya sampai harus antri reservasi sehari sebelumnya dan duduk pun dibatasi waktunya maksimal satu jam. Heran. Tapi kehebohan pengunjung yang sebagian besar usia remaja itu justru yang menarik bagi Fifi. Sebagian liputan disiarkan langsung di media sosial. Sebagian foto dan video disimpan buat bahan posting hari berikutnya. Aku melihatnya seperti wartawan yang mengadakan liputan perjalanan.
Saat kami tiba di rumah Bray. Fifi tertegun melihat bangunan dua lantai berarsitektur minimalis modern yang berpagar besi tinggi dan tamannya tertata dengan rapi. Lebih megah daripada rumah nenek yang telah dijual paman. Matanya langsung menelisik setiap sudut dengan setajam-tajamnya. Insting menuntunnya mengambil gawai lalu jeprat-jepret di berbagai sudut. Anak itu bahkan sempat berbicara singkat layaknya reporter sedang meliput berita. Pasti sedang update live di media sosialnya.
__ADS_1
"Ck ck ck. Keren. Aku sampai di rumah kakak iparku ya, Guys. Kalian bisa lihat sendiri. Halaman rumah ini luas banget. Ada helipad dan helikopter yang sedang parkir di sana." Fifi menunjuk ke arah benda yang disebutkannya dengan takjub. Air wajahnya terlihat lebih cerah.
Salman menarik tangan Fifi saat seseorang telah membukakan pintu besar rumah itu untuk kami. Dia menyuruh Fifi memasukan gawainya kembali ke dalam tas dan memperingatkan anak itu bahwa tidak boleh ambil gambar di rumah orang tanpa ijin.
"Silakan masuk!"
Asisten berseragam hijau itu tersenyum ramah dan memandu kami untuk duduk menunggu tuan rumah di sebuah ruangan besar dengan lampu kristal raksasa yang tergantung tinggi dan mewah.
"Kita tukar peran aja yuk, kak. Aku mau jadi menantu pak Budhi."
Aku geleng-geleng kepala. Ingat kelakuan noraknya sejak kemarin di bandara.
"Mana bisa tukar peran. Mas Bray nggak bakal mau sama anak ingusan yang impulsif dan genit kayak kamu. Gadis pendiam dan misterius itu lebih menarik." komentar Salman sambil tersenyum dan memenuhi wajah Fifi dengan telapak tangannya.
"Ih, ngapain kak Salman ikut-ikutan." Gadis cerewet itu mengerucutkan bibir dan menepis tangan Salman dengan keras dan cepat.
"Lucu dan viral kali ya kalau kita jadi pengantin yang tertukar. Hihihi"
Fifi seperti sedang berimajinasi jadi lakon cerita drama Korea.
"Halah. Nggak bakal viral. Sudah banyak itu dicerita fiksi dan sinetron tv. Orang udah bosen."
Fifi menghentakan kakinya ke bumi. Kesal. Sedetik kemudian ia memperbaiki sikap duduknya semanis mungkin karena mendengar langkah kaki.
"Selamat datang di rumah kami!" Bray tampak turun dari tangga dengan rambut dan wajah yang masih basah.
Baru kali ini aku melihatnya mengenakan kaos oblong dan celana selutut. Terlihat santai tanpa mengurangi pesonanya. Bray menyalami kami semua dan sedikit berbasa basi sebelum mengantar kami ke kamar ayahnya. Senyum dan tatapan khusus tetap tertuju ke arahku. Aku hanya bisa tertunduk malu.
"Papa masih dimonitor perawat 24 jam. Harusnya belum bisa pulang dari rumah sakit tapi papa sudah nggak betah minta pulang. Karena kondisinya sudah cukup stabil, akhirnya boleh pulang dengan syarat."
"Masih dipantau dokter?"
__ADS_1
"Dokter sub-spesialis jantung datang tiap hari."
Fifi sengaja berjalan di samping Bray saat masuk kamar yang dituju. Cari perhatian. Mungkin skenario kisah pengantin yang tertukar masih memenuhi benaknya.