
Pertemuan para petani kelapa di rumah kami berjalan dengan lancar menghasilkan kesepakatan pembentukan komunitas petani dan rencana pembentukan pabrik pengolahan minyak VCO untuk menambah nilai komoditas kopra. Aku senang diskusi yang difasilitasi Salman dan Bray bisa memberi sedikit harapan buat mama mama yang saat ini kerap menjadikan aku sebagai tempat curahan hati tentang apapun. Tidak hanya seputar gosip yang sedang trending, mama mama sering mengeluh tentang keluarganya sendiri. Sebenarnya tak ada yang berubah dari seorang Fifa. Aku masih lebih suka mendengar daripada bercerita dan menutup diri soal masalah pribadiku. Kukira mereka lebih menghargaiku karena nasib mengantarku pada stereotip baru. Bukan lagi sebagai gadis miskin pemurung yang tak punya masa depan. Tapi sebagai gadis keturunan bangsawan Bugis yang punya warisan harta. Menyadari posisiku tak terlalu nyaman, aku berusaha menempatkan diri hanya sebagai teman yang pasif. Tidak berusaha memancing masalah baru.
Sabtu pagi aku dikejutkan dengan kedatangan mama, Fifi, nenek dan paman Hasan. Tiba-tiba saja mereka sudah berada di depan rumah diantar oleh supir PT XY. Padahal rencananya aku dan Salman yang akan berangkat ke Makassar. Jadwal pesawat di bandara Buli hari ini hanya satu penerbangan dan waktunya masih nanti siang.
"Kakak ..." Fifi yang pertama kali keluar dari mobil berteriak sambil berlari. Aku yang sedang duduk menikmati teh hangat bersama Salman di beranda langsung berdiri. Gadis itu langsung melebarkan tangannya dan memelukku dengan erat.
"Makasih ya, Kak. Seneng banget deh hari ini. Tadi kami dijemput helikopter dari bandara Makassar. Nanti nanti kalau liburan sekolah Fifi boleh sering-sering menginap di rumah kakak di Jakarta ya." bisiknya dengan gaya manja.
Eh, apa-apaan ini. Siapa yang mau beli rumah di Jakarta. Aku menatap wajah mama, paman, dan Salman bergantian satu persatu. Semua menahan senyum. Ada kejutan apa hari ini. Ini pasti ada hubungannya dengan perubahan rencana Bray yang tak pernah disampaikannya padaku.
"Tadi Fifi sudah update status di helikopter. Lain kali Fifi boleh pinjam mobilnya keren warna merah strip hitam yang logonya kuda jingkrak ya, Kak."
Aku melihat Fifi dari atas ke bawah. Pagi-pagi dia sudah ngomong agak ngelantur. Apa mungkin dia masih setengah bermimpi?
Penampilan Fifi tampak cantik dan elegan dengan baju kemeja merk Zara dan jeans Lea yang minggu lalu dibeli di Jakarta. Wajahnya terlihat semringah. Luar biasa gembira. Tapi ketika dicubit pelan lengannya dia mengaduh dan langsung mendorong tubuhku menjauh. Dia masih merasakan sakit, berarti dia sadar. Hehehe.
Aku beralih mendekati nenek yang baru saja diturunkan dari mobil lalu didudukan di atas kursi rodanya. Bi Ika kelihatan kesulitan mendorong kursi roda di jalan tanah berbatu yang permukaannya tidak rata. Mama dan paman Hasan membantunya. Kasihan sekali. Tempat ini sama sekali tidak cocok buat nenek.
Kucium tangan nenek yang sudah keriput sambil berlutut di depan kursi rodanya. Nenek selalu wangi dan tampak berwibawa meski harus duduk di kursi roda. Aku selalu suka berdekatan dengannya. Nenek membelai kepalaku yang tertutup pasmina dengan lembut. Perlahan beliau membawa kepalaku mendekat, lalu mencium ubun-ubunku dengan hangat.
Aku merasa dipuja dengan bentuk fisik dari cinta nenek padaku. Bersamanya terasa damai. Tapi ....
"Beginilah rumah kami, Nek." ujarku malu-malu.
Mungkin keadaan rumah kami di luar ekspektasi nenek. Aku akan meminta Bray agar nenek dipulangkan hari ini juga. Aku tak tahu nenek akan tidur dimana jika harus menginap di sini. Tak ada hotel di sekitar kampung kami. Rumah kami juga jauh dari kata layak buat nenek. Tak ada fasilitas kesehatan yang mendukung buat orang lanjut usia yang seumur hidupnya tinggal di kota besar.
Nenek tersenyum maklum. Dalam hati aku mengutuk Bray yang telah lancang membawa nenek kemari. Kasihan nenekku.
"Tadi nenek sudah ziarah ke makam ayahmu."
__ADS_1
Oh, nenek ternyata ke sini didorong oleh keinginan ziarah ke makam anak kandungnya. Untuk alasan ini rasanya aku bisa memahami alasan nenek memaksakan diri datang ke kampung ini. Jangan ditanya bagaimana dukanya seorang ibu yang anaknya pergi lebih dulu menghadap Tuhan. Sekali seumur hidup pasti ingin mengunjungi makam buah hatinya.
"Kata mamamu, kamu sendiri yang membuat nisannya. Apa betul?"
Aku mengangguk.
"Tidak bagus, tapi unik."
Entah itu ungkapan pujian atau kecewa karena nisan baba tak sebaik nisan kakek atau kerabat lain yang dimakamkan di satu kawasan pemakaman keluarga. Aku menunduk. Memang tak bisa melakukan yang terbaik untuk ayahku. Segitulah batas kemampuanku dan aku menatah batu kali besar itu dengan kerja keras sepenuh hati. Wujud cintaku hanya sesederhana itu.
"Fifa yang paling kehilangan atas kepergian kak Syarif, Mam. Sebagai anak perempuan pertama, sejak kecil dia begitu dekat dengan ayahnya. Sampai sering diajak ke hutan. Dia sempat menolak pemindahan makam ayahnya. Empat tahun dia bertahan tinggal sendirian di rumah warisan mendiang kak Syarif dengan alasan menunggu dan merawat peninggalan serta makam ayah dan kakak lelakinya."
"Prinsip Fifa bagus. Kalau bukan kita yang merawat makam leluhur, siapa lagi. Semua anak harus berbakti pada orang tuanya. Kedengarannya sepele. Namun merawat makam termasuk wujud cinta dan bakti anak pada banyak kebudayaan dunia."
Komentar nenek membuat hatiku membesar. Nenek benar. Berada dekat makam baba adalah satu upaya untuk tetap menghidupkan baba dalam hatiku. Tak ada yang bisa menukar cinta kami.
Setelah menyalami dan memeluk mama, aku menyalami paman yang kelihatan tak terlalu senang melihat keadaan lingkungan rumah kami. Ekspresi wajah paman datar. Pandangan matanya sejak tadi terlihat berkeliling melihat situasi di sekeliling rumah kami dengan sedikit resah. Entahlah. Mungkin paman tak menyangka kalau ternyata keluarga kami di tanah rantau semiskin ini.
Paman memaksakan senyum tanpa berkata apa pun.
"Tante Marlina dan sepupuku tidak ada yang ikut?"
"Mereka sibuk di Jakarta. Nanti kalau kalian bikin resepsi di Jakarta mungkin mereka akan datang."
"Resepsi apa?"
"Pernikahanmu dengan Firdaus."
Aku tersenyum kecil. "Belum ada rencana ke sana, Paman."
__ADS_1
"Belum ada rencana bagaimana? Pak Budhi sudah ada di sini sejak kemarin. Mereka akan melamarmu sore ini. Katanya sekaligus akad nikah."
Ha? Kenapa sih untuk acara ini aku tidak diberitahu? Kalau acara lamaran, Bray memang sudah rencana akan berlangsung minggu ini. Rencananya di Makassar. Bukan di sini.
Aku menoleh pada Salman yang terlihat senyum-senyum.
"Maaf, Fa! Aku dan Firdaus yang mengubah rencana ini tanpa memberitahu. Semoga ini kejutan yang menyenangkan."
"Ah. Nggak suka. Kejutan macam apa ini. Kasihan nenek dan paman. Di rumah kita tidak ada fasilitas standar orang kota. Harusnya sebelum nenek dan paman datang ke sini fasilitasnya disiapkan dulu."
"Fasilitas terbaik adalah di sini ada cinta kita para cucunya. Nenek bilang ingin sekali bisa ziarah ke makam baba. Mumpung waktunya pas, kita fasilitasi dong."
Aku kesal Salman tak mengerti maksudku. Sebagai tuan rumah aku malu. Aku tak menyiapkan apapun untuk kedatangan nenek dan paman. Kalau diberitahu lebih awal mungkin aku bisa pesan penganan dari mama-mama kampung yang ahli buat kue khas kampung sini. Aku juga bisa minta tolong belikan kasur yang nyaman untuk nenek beristirahat. Menurutku itu harusnya jadi standar menerima kedatangan nenek dan paman.
Mama membantu supir mengeluarkan barang-barang bawaan mereka dan memasukannya ke dalam rumah.
"Kau tak perlu siapkan apa-apa untuk menyambut tamu kita. Aku sudah pesan mama Hiya tetangga samping yang cerewet itu buat memasak makanan khas yang biasanya dimasak warga kampung."
"Kau?"
"Bukan aku yang pesan, tapi Hisyam. Bukan aku juga yang bayar, tapi ..."
Salman tak melanjutkan kalimatnya. Tak perlu dilanjut atau diberitahu. Pelakunya pasti Bray. Aku menatap Salman dengan tajam tapi kakak lelakiku itu masih senyum-senyum setengah mengejek seolah menikmati kebingunganku. Pindah tempat acara lamaran bukan hanya soal transportasi menuju lokasi, tapi menyangkut banyak hal yang perlu dipersiapkan. Tanpa persiapan matang yang tentu saja aku sebagai tuan rumah kelimpungan. Apa yang harus disiapkan? Aku harus melakukan sesuatu agar kedatangan tamu menyenangkan. Apalagi nenek dan paman yang mungkin hanya akan berkunjung sekali saja ke tanah ini.
"Kamu nggak usah mikir apapun. Cukup dandan yang cantik." kata Salman sambil menyolek pipiku.
Aku menatapnya kesal.
"Kau akan jadi ratu hari ini." bisik Salman pelan dekat telingaku.
__ADS_1
Entahlah. Aku merasa bingung sendiri. Harus bagaimana dan melakukan apa. Kejutan ini membuatku senewen.
"Jangan cemberut! Ratu itu harus tampak selalu cantik dan bijaksana. Apapun keadaannya harus selalu tersenyum."