
Awal perjalanan pernikahan kami begitu manis meski tanpa momen khusus bulan madu. Bray masih sibuk dengan pekerjaan dan rencana-rencana pengembangan bisnisnya. Aku pun sibuk dengan tugas lamaku mengawasi aktivitas keuangan perkebunan dan mengurus yayasan konservasi burung. Kadang tanganku masih sempat iseng menganyam sisa-sisa pandan kering menjadi tas yang rencananya akan kupakai sendiri. Ekslusif dan tanpa dikejar target.
Sehari-hari hanya berdua di rumah yang mungil. Ketemunya dia lagi dia lagi. Tapi namanya pengantin baru tetap saja tidak bosan. Kami tak banyak obral kata. Komunikasi paling intens hanya berbalas senyum dengan berbagai ekspresi yang berbeda. Kadang spontan aku menemukan gaya senyum baru yang lebih menarik perhatian.
Bray bukan orang yang suka keramaian, pesta atau sejenisnya. Aku baru tahu kalau sebenarnya kami berdua memiliki kesamaan, yaitu suka menyendiri. Bray suka kesunyian mungkin karena sudah terbiasa hidup sendiri sebagai anak tunggal. Hubungan dengan orang lain kebanyakan sebatas komunikasi bisnis dan formalitas belaka. Berkumpul hanya untuk memenuhi undangan tertentu dan menutup diri jika menyangkut urusan pribadi. Itu sebabnya dia betah tinggal di rumah dinas karyawan yang berada dalam lingkungan kantor. Padahal kehidupan di dalam lingkungan kantor terbilang statis, sunyi, dan bagi sebagian orang membosankan karena minim fasilitas hiburan. Bagi kami yang sama-sama bersifat tertutup hiburan paling menyenangkan adalah menikmati suara alam dalam kesunyian.
Kami selalu melakukan aktivitas bersama. Minggu ini kami sibuk di perjalanan mengikuti ritme hidup baru. Rabu subuh kami berangkat ke Makassar menyelesaikan urusan kami masing-masing di kota itu. Setelah mengambil dokumen di safe box aku mampir mengunjungi keluargaku. Malamnya menginap di hotel dan pulang kembali pada hari berikutnya. Jum'at siang kami sudah bersiap terbang lagi untuk menjenguk papa mertua di Jakarta. Perjalanan kali ini sudah terencana dan santai sehingga cukup menggunakan transportasi penerbangan komersial publik kelas ekonomi. Kami telah sama-sama sepakat tidak akan sewa pesawat kecuali saat kondisi mendesak atau sedang genting.
Di rumah papa mertua yang begitu megah aku merasa canggung. Kamar pribadi Bray lebih besar daripada rumah dinas perusahaan. Terletak di lantai 2 dengan dinding dan lantai marmer yang mengkilat. Kamar itu memiliki balkon yang menghadap ke taman. Fasilitasnya lebih mewah dari hotel. Ada banyak pelayan yang siap membantu Kapan pun kami butuh bantuan. Keadaan ini agak timpang dengan kehidupanku sebelumnya dan membuatku kikuk.
"Aku ada pertemuan bisnis di club house X di Pantai Indah Kapuk. Ikut yuk!" Bray mengajakku ikut bertemu koleganya.
Aku menggeleng.
"Ikutlah! Biar kamu tahu suasana club house di sini."
"Aku mau santai di rumah saja."
"Kalau ke club house itu lebih nyaman sama istri. Biar ada alasan cepat pulang."
"Aku capek, Mas."
Bray tak memaksaku. Aku tidak tahu club house itu tempat apa dan tak tertarik ingin mengunjunginya. Menurut informasi yang kubaca di internet club house itu adalah tempat fasilitas olahraga terpadu yang biasanya diselenggarakan sebuah perumahan modern untuk penghuni. Aku malas berolahraga. Perjalanan panjang beberapa hari ini membuatku penat. Inginnya di kasur leyeh-leyeh mengusir penat. Mungkin duduk di kursi malas yang digeser ke balkon sambil minum teh dan menikmati pemandangan sekitar lebih menyenangkan daripada pergi bertemu orang yang belum kukenal.
"Kamu nggak apa-apa ditinggal sendiri kan?"
"Siapa bilang sendirian. Ada papa di kamar bawah. Pelayan dan satpam juga banyak."
"Tapi mereka tidak punya hak masuk ke kamar ini." tegas Bray sambil mengangkat alis.
Aku yakin sebenarnya Bray juga malas pergi ke club house. Tapi karena ada pertemuan informal dengan kolega bisnis tetap harus dijalani. Peluang dan kesempatan bisnis tidak hanya didapat dari jalur formal. Pertemuan santai sambil berolahraga juga sering jadi sumber informasi dan inspirasi.
Aku tak mau cerewet. Menikmati senja di balkon kamar Bray asyik juga. Duduk di kursi malas sambil baca novel ditemani teh hangat dan sepiring kecil pisang rebus saus coklat.
Bray pulang larut malam. Entah jam berapa. Saat aku masih terjaga sekitar jam 11 malam, Bray belum tampak. Namun ketika bangun jam 1 pagi, pria itu telah terkulai dengan dada terbuka di sampingku.
Aku bangun untuk minum dan memanjatkan sedikit doa tengah malam.
Setelah kembali ke kasur, aku tak bisa langsung tidur. Kutatap wajah lelah suamiku dalam tidurnya. Dia menyungging senyum. Kukira dia sadar atau pura-pura tidur. Nyatanya ia masih terlelap. Lucu. Aku baru tahu orang tidur juga bisa tersenyum. Kira-kira dia mimpi apa ya? hihihi.
Aku berguling ke kanan, berdoa dan mengulang kalimat-kalimat tasbih berkali-kali. Sengaja tak menghitung berapa kali kalimat tasbih kuulang sampai bosan dan lelah. Biasanya dengan begitu akan lebih cepat tidur.
Suara azan subuh terdengar samar-samar di kejauhan. Bray masih tertidur. Aku membangunkannya sebab mungkin ia akan shalat berjamaah di masjid seperti kebiasaannya di rumah kami. Ternyata ia memutuskan shalat di mushola rumah saja.
__ADS_1
"Masjidnya jauh. Kalau mau shalat berjamaah harus berangkat sebelum azan."
Ooh, ternyata untung juga kami tinggal di rumah kecil dekat masjid. Bray jadi lebih rajin shalat berjamaah. Kalau tinggal di rumah besar ini pasti jarang ke masjid.
"Jadwalnya apa hari ini?"
"Hanya sarapan bareng papa. Jam 8 kita sudah harus berangkat ke bandara."
"Berarti sekarang aku beresin koper dan barang bawaan kita ya."
"Hm."
Bray terlihat lebih pucat dari biasanya. Matanya terlihat agak merah. Dia terlihat lelah sekali.
"Mas istirahat aja kalau masih capek. Semalam ngapain aja? Kok lama banget nggak pulang-pulang? Aku nunggunya sampai ketiduran."
"Berdebat panjang. Kebetulan ketemu Gufron juga di club house."
"Gufron?"
Bray mengangguk pelan. Ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Bersyukur aku tak ikut ke sana. Aku masih enggan bertemu Gufron. Bingung kalau harus berbasa-basi dengan sepupuku itu.
"Mas Bray gimana menanggapinya?"
"Nggak aku tanggapi. Nggak ada juga urusannya sama kolega bisnis aku. Mau istri jelek atau cantik, itu kan urusan pribadi. Lagipula cantik itu relatif. Apa yang menurut dia cantik, belum tentu cantik menurutku. Aku heran, kenapa dia begitu benci sama saudara sepupunya sendiri. Padahal kamu baik sama dia."
Oh, ternyata begitu kelakuan Gufron. Menurutku yang dilakukannya itu mempermalukan dirinya sendiri. Memang sih istri Gufron itu fotomodel terkenal. Anaknya juga cantik. Tidak sebanding dengan aku. Tapi nggak etis kalau sampai menghinaku di depan teman-teman Bray.
"Aku setuju langkah Salman membawa kasus Gufron ke jalur hukum. Sebaiknya jangan kamu halang-halangi. Gufron itu jahat sama keluarga kalian."
Aku tak bisa komentar. Sebenarnya aku tidak marah Gufron bilang begitu. Aku sadar mungkin banyak orang kota yang menilaiku tak pantas buat Bray. Aku tak secantik perempuan kaya yang rajin perawatan di salon atau klinik kecantikan. Wajahku tidak super bening dan glowing.
Aku tak peduli soal Gufron. Terserah Salman saja. Toh Salmanlah yang memimpin perkebunan sekarang. Hak dia untuk memperkarakan penyelewengan dana perkebunan itu ke ranah hukum. Yang terpenting bagiku keluarga kami tetap damai dan sejahtera.
Minggu sore kami sudah kembali lagi ke rumah mungil kami dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Perjalanan pernikahan kami menjadi lebih berat ketika bulan berikutnya aku dinyatakan hamil. Semua bergembira mendengar berita itu, terutama papa mertuaku yang memang menginginkan hadirnya penerus dinasti keluarganya. Tapi aku tidak. Aku merasa tertekan. Belum siap punya anak.
Emosiku naik turun. Sering marah dan menangis hanya karena masalah yang sepele. Aku berharap dimanja, tapi Bray sibuk dengan pekerjaannya. Sementara kami hanya berdua di rumah ini dan aku enggan minta bantuan orang lain sekalipun hanya tinggal mengangkat gagang HT.
"Apa kamu mau ajak mama tinggal di sini sementara? Buat mengajari kita bagaimana mengatasi awal kehamilan."
__ADS_1
"Bayi dalam perutku ini bukan anak mama, Mas. Anak kita. Masak mama yang harus repot." protesku.
Bray garuk-garuk kepala.
"Terus solusinya gimana, Sayang? Kamu kan tahu aku sering panik nggak tahu harus berbuat apa. Aku juga nggak bisa tiap saat sama. Sementara kamu ditemani Santi nggak mau. Ditemani mama juga nggak mau."
"Maunya ditemani Mas."
Bray mengangguk pasrah. Tapi di belakangku ia menggerutu.
Aku sendiri bingung kenapa aku cenderung rewel, banyak menuntut, dan keras kepala. Perasaanku sering tak menentu. Kadang segar. Kadang pusing dan mual. Tapi Bray selalu memaksaku menghabiskan makanan yang dimasak mama catering.
"Dihabiskan makannya, Sayang. Kamu sekarang harus makan untuk dua nyawa. Harus lebih banyak dari biasanya."
Aku membanting sendok dan garpu di atas piring. Sebal. Orang pusing dan mual disuruh makan banyak. Mana bisa.
"Makanannya nggak enak."
Bray kembali menyuap makanannya ke mulut dan dirasakannya tiap kunyahan makanan yang masuk di mulutnya. "Enak kok."
"Nggak enak." bantahku.
"Apanya sih yang nggak enak? Aku bingung, kenapa kamu sekarang berubah jadi begini. Serba salah." Bray mengeluh dengan nada tinggi dan raut wajah putus asa.
Jahat. Dia membenciku setelah aku mengandung anaknya. Aku menyesal. Seharusnya aku tidak terjebak dalam hipnotis cintanya. Aku ingin jadi Fifa yang dulu. Aku belum mau punya anak. Bagaimana ini? Air mata mengalir di pipiku.
"Kenapa malah menangis?"
"Mas nggak sayang sama aku dan bayiku."
Lagi-lagi Bray garuk-garuk kepala kebingungan menghadapiku.
"Justru aku mengkhawatirkan kamu karena aku sayang. Sudah berapa hari ini kamu tak pernah menghabiskan makanan. Kalau begini terus, nanti kamu dan bayi kita kurang gizi. Kamu mau apa tinggal bilang, nanti akan aku usahakan. Tapi please, tolong makan yang cukup. Susunya diminum. Jangan dibuang. Harus dipaksakan makan demi kesehatan kamu dan bayi kita." ucapnya dengan nada rendah memohon.
"Aku pusing banget, Mas. Mual. Mas nggak ngerasain sih gimana rasanya jadi aku." ujarku sambil menghentakkan kaki keras-keras ke lantai
"Maaf, Sayang. Nanti aku belajar deh tanya-tanya bapak-bapak yang istrinya pernah hamil. Sekarang bilang, mau makan apa?"
"Nggak mau makan. Aku mau tidur."
Aku meninggalkan meja makan tanpa membereskannya. Pusing kepalaku makin menjadi.
Bray membereskan sendiri meja makan di tengah kebingungannya pada sikapku. Aku mendengar ia memesan jus mangga kesukaanku. Tapi sekarang aku tak mau makan atau minum apapun.
__ADS_1