
Setelah lelah bergelut dengan masalah Maudy, sore harinya kami berkumpul di ruang tengah menikmati teh melati hangat dan kue bagea kenari bersama-sama. Kepalaku sedikit pening. Luka di wajahku juga masih terasa nyeri. Aku memilih duduk bersandar di pojok sofa mendengarkan percakapan ringan antara Fifi, mama dan nenek. Nenek berkisah tentang masa kecil baba. Sementara mama bercerita tentang suka duka kehidupan kami selama tinggal di pinggir hutan. Fifi yang biasa cerewet hanya menimpali sesekali sebab fokusnya mendua antara ngobrol dan nonton drama korea di gawainya.
"Terakhir kau kemari bersama Syarif membawa 2 anak laki-laki; Sofwan dan Salman. Sekarang yang ada 2 anak perempuan. Kalian tak pernah berkunjung atau berkabar sejak Syarif berselisih dengan papanya karena tak mau kembali ke Makassar untuk membantu mengurus bisnis keluarga. Suamimu itu benar keras kepala kalau sudah menyangkut pilihan hidup. Sebenarnya ada orang yang kami utus mencari kalian saat papa sedang kritis. Namun orang itu tak pernah kembali. Kupikir tadinya takdirku tak punya ke!turunan perempuan!" Nenek berkomentar sambil tersenyum dan menghirup teh melati tawarnya dengan anggun. Aku suka memperhatikan gerak gerik nenek yang tertata apik dan enak dilihat. kurekam dalam ingatan dan akan kutiru pada lain kesempatan.
"Dua anak lelaki kami lebih dulu dipanggil Tuhan. Sofwan dimakan buaya saat bermain di sungai dan Affan meninggal karena sakit panas. Sedangkan Salman nekat ikut orang karena ingin sekolah di Jawa. Sempat bertahun-tahun tanpa kabar dan kami anggap hilang tapi 4 hari lalu alhamdulillah Salman pulang dalam keadaan sehat. Dia sudah lulus kuliah dan mendapatkan penempatan dinas di Jailolo. Sebenarnya tempat dinasnya masih berada di pulau Halmahera tapi sebagai pegawai baru kehidupannya belum mapan jadi baru sempat jenguk kami. Dia sudah janji akan menyusul kami ke sini."
Nenek memperlebar senyumnya, "Alhamdulillah."
"Fifa, tolong telepon Salman ya. Kita lupa belum tanya apa dia bisa dapat cuti atau tidak." pinta mama.
Kekacauan pikiran kami sejak peristiwa kemarin menyebabkan kami lupa menghubungi Salman. Padahal sempat ada beberapa panggilan tak terjawab yang tercatat di riwayat panggilan dari nomornya tapi aku mengabaikannya.
Tanpa bicara aku langsung mengambil gawai, memencet nomor Salman lalu kuserahkan pada mama agar bicara langsung dengan putera kesayangannya.
Mama selalu bersemangat tiap kali bicara dengan Salman. Aku bahagia melihat binar mata mama yang menyala saat bicara dengan Salman. Pemandangan itu jarang sekali kulihat semenjak baba tiada. Banyak harapan mama yang seolah muncul setelah Salman kembali.
Semula mama menanyakan kabar dengan suara telepon biasa. Selanjutnya mama membuka isi pembicaraan dengan menekan tombol pengeras suara luar agar percakapan mereka bisa kami dengar bersama.
"Bagaimana Salman? Kamu bisa cuti?"
"Ya. Salman boleh cuti sehari di hari jum'at. Senin harus kembali dinas karena ada hal penting yang mengharuskan semua pegawai hadir."
__ADS_1
"Kalau begitu kamu berangkat sendiri kamis sore ya. Adikmu Fifa dapat musibah lagi. Kami sudah berada di Makassar sekarang."
"Innalillahi. Musibah apa, Ma? Bukannya tempo hari yang kena panah teman baiknya? Apa Fifa kena panah beracun juga?" Nada suara Salman meninggi. Dia cemas mendengar kata musibah. Pikirannya mungkin menduga-duga hal yang lebih buruk dari kenyataannya.
"Bukan kena panah. Fifa dicakar orang gila." Mama menjawab dengan suara yang tertahan oleh emosi yang masih menyelimuti hatinya.
"Boleh Salman bicara sama Fifa?"
"Jangan diajak bicara dulu! Kasihan sejak tadi dia sudah banyak bicara. Lukanya cukup dalam dan masih basah. Sakit kalau dibuat bicara. Lagipula mentalnya belum cukup stabil. Besok saja kalau kamu sudah sampai sini kamu bisa dengar ceritanya langsung dari Fifa. Sekarang dia harus banyak istirahat."
Seusai kembali dari kedai aku memang tak ingin bicara. Cukup mendengar saja untuk melatih telinga dan perasaanku agar tak terlalu sensitif terhadap bunyi-bunyian yang terbaca otak bawah sadarku sebagai sesuatu yang "mencurigakan". Aku tak ingin ketakutan terus menghantui alam bawah sadar yang nyata-nyata mengganggu aktivitasku.
Aku diam tapi tidak sendirian. Di sini aku bersama orang-orang yang kucintai dan menyayangiku. Perasaanku lebih tenang dan nyaman. Kesempatan seperti ini jarang terjadi sehingga aku tak ingin melewatkan kebersamaan ini. Sebentar lagi Salman akan bergabung bersama kami. Suasana pasti lebih menyenangkan. Satu-satunya lelaki dalam keluarga inti kami sangat kami harapkan kehadirannya.
Tidak. Aku menolak dalam diam. Aku tetap ingin tinggal dalam kesederhanaan dekat dengan makam baba. Aku ingin melanjutkan aktivitasku di bidang konservasi dan penangkaran burung. Aku masih ingin sesekali bermain di sungai dan pergi mengasingkan diri di hutan buat menenangkan diri. Aku masih ingin menghidupkan kenangan masa kecilku yang hidup sederhana di tepi hutan bersama baba. Kalau kata Fifi aku masih menolak move on.
Meskipun mengakui ada gangguan mental tapi aku tidak takut mati. Alam bawah sadarku hanya memaksa agar selalu waspada. Justru aku penasaran ingin menemukan pemanah yang telah membunuh baba dan nuri kesayanganku. Aku ingin tahu apa alasannya membunuh orang dan hewan kesayanganku.
"Mala, kamu kan suka masak. Di sini kamu bisa bantu urus kedai bersama pak Tristan. Sementara Fifa akan membantu mengurus perkebunan sambil melanjutkan kuliah."
Mama terlihat masih canggung dan kurang percaya diri dengan apa yang ditawarkan nenek. "Saya masih bingung, Mam. Cara masak di sini berbeda dengan di kampung kami."
__ADS_1
"Sama saja. Nanti juga terbiasa. Soal masak di kedai sudah ada chef ahlinya kok. Tugasmu lebih pada mengawasi dan kalau bisa mengembangkan menu baru yang disukai pelanggan. Kalau kamu mau tetap menganyam bisa ambil kursus keterampilan menganyam atau kursus lain yang kamu suka."
Mama masih tampak meragukan kemampuannya sendiri. Tapi kelihatan tertarik mengembangkan diri mengikuti kursus keterampilan.
Mengelola kedai bukan impian mama. Mungkin tak pernah terpikir dalam hidupnya selama ini. Hidup mama mengalir begitu saja mengikuti konsep hidup sederhana yang pernah diajarkan baba. Mimpinya hanya masuk surga bersama suaminya.
"Anakku Ahmad Syarif sudah meninggal terbunuh panah beracun. Aku tak mau menantu atau cucuku mengalami hal yang sama. Menurutku, peristiwa percobaan pembunuhan tempo hari bukan Firdaus sasarannya. Mungkin saja Fifa."
Mama mengangguk. Dugaan nenek logis dan mungkin saja benar. Tapi aku yang jelas-jelas melihat arah anak panah itu melesat sangat yakin Braylah sasarannya. Bukan aku.
Peristiwa kemarin ternyata bukan hanya menimbulkan trauma bagi diriku, tapi juga keluargaku. Mereka menjadi lebih protektif. Terutama nenek. Peristiwa itu jadi penguat keinginannya agar keluarga kami bisa tinggal bersamanya di Makassar. Berkumpul bersama keluarga memang menyenangkan tapi aku belum siap meninggalkan Lolobata, kampung halaman yang kucintai. Aku masih punya mimpi yang belum selesai.
"Iya. Tinggal di Makassar aja. Lebih ramai. Semua fasilitas ada. Kakak bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan melakukan apa yang kakak mau. Apalagi kan sekarang kakak banyak uang." Fifi ikut merayuku sambil melirik dan tersenyum nakal. Sesaat kemudian ia sudah kembali terpaku pada gawai yang dipegangnya.
"Besok kita jalan-jalan atau shopping di Mall ya, Kak. Jangan kerja melulu. Kakak butuh healing. Kebanyakan kerja itu bikin stres dan cepat tua." tambah Fifi dengan mata masih tertuju pada gawainya.
Aku melirik ke arah nenek sambil tersenyum. Maksudku biar nenek saja yang membalas ocehan Fifi dengan nasehat bijak. Ternyata nenek malah ikut tersenyum tanpa berkata apapun. No comment.
"Kalau masih malu, pakai cadar nggak apa-apa kok."
"Benar. Tidak apa jalan di mall pakai cadar. Di sini orang sudah tidak terlalu asing lihat orang bercadar. Beberapa orang kelompok agama tertentu pakai cadar dalam setiap aktivitasnya di luar rumah."
__ADS_1
Eh, kenapa nenek kesannya ikut mendukung anak cerewet itu? Pasti ini salah satu cara membujuk agar aku mau tinggal di sini. Orang beda generasi dan beda karakter bisa kompak saling mendukung kalau tujuannya sama.