
Makananku belum habis ketika Adnan masuk ke ruang klinik bersama 2 orang berseragam polisi. Satu orang polisi membawa tas besar. Yang lain menenteng dokumen beserta anak panah yang telah dibungkus dalam plastik bening. Melihat kedatangan mereka, nafsu makanku mendadak menguap.
"Kami bertiga yang ada di TKP, Pak. Bapak Direktur, saya dan kak Fifa." jelas pak Adnan tanpa basa basi.
Rupanya dia telah menjalani pemeriksaan polisi di laboratorium. Polisi tiba saat dia sedang menyerahkan anak panah pada petugas laboratorium kimia perusahaan.
Polisi meminta kartu identitasku dan mencatatnya. Kedua polisi itu mengajukan banyak pertanyaan yang kadang dibolak balik logikanya. Tentu saja kujawab jujur dan konsisten berdasarkan fakta yang kuketahui.
Interogasi itu berlangsung selama lebih dari 2 jam. Menurut polisi interogasi itu tergolong singkat sebab aku bersikap koperatif dan apa adanya. Untuk kasus berat, interogasi bisa dilakukan seharian bahkan lebih.
"Sementara ini keterangan cukup. Saya akan cetak semua keterangan anda. Tolong anda baca dan tanda tangani BAP hari ini ya. Sewaktu-waktu kalau dibutuhkan informasi tambahan anda akan dimintai keterangan lagi di kantor polisi."
"Saya siap, Pak."
Satu orang polisi mencetak keterangan yang tadi kusampaikan. Yang lain masuk ke ruang VIP klinik menjumpai Bray yang akan jadi terperiksa berikutnya.
Setelah membaca cepat dan menandatangani BAP, aku minta ijin ikut masuk ke dalam ruangan VIP Klinik.
Bray terbaring santai dengan selang infus yang menancap pada punggung tangannya. Ia telah berganti baju mengenakan kemeja biru lengan pendek. Sementara kemeja putih yang sebelumnya dipakai telah dimasukan ke dalam plastik bening dan akan dibawa polisi sebagai salah satu barang bukti. Luka pada lengannya telah dijahit dan dibalut dengan rapi.
Dia tersenyum melihatku masuk ruangan itu. Wajahnya tak lagi pucat. "Maaf tak bisa mengantarmu pulang, Fifa. Nanti kak Hisyam yang akan mengantarmu."
"Tak perlu minta maaf. Aku yang salah. Seharusnya mas Bray tak perlu mengantar aku pulang tadi."
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini namanya musibah. Terima kasih sudah menolongku hingga terhindar dari sasaran anak panah yang sesungguhnya."
Aku baru mau membuka mulut, namun Bray sudah melanjutkan kalimatnya.
"Hasil pemeriksaan darah dan urinku sudah keluar. Kadar arsenik agak tinggi tapi masih di batas normal. Semua aman dan akan baik-baik saja." Sekali lagi ia meyakinkan aku kalau dirinya baik-baik saja.
Ia menunjukan luka di lengannya. "Sudah dijahit dan diberi obat. Beberapa hari lagi lukanya pasti kering kok. Tak ada yang perlu dikhawatirkan." ucapnya sambil menebar senyum. Ada sedikit kegetiran yang tampak pada senyumnya.
"Baiklah. Aku pamit pulang sekarang ya. Sudah hampir maghrib. Mama pasti sudah menunggu."
"Kak Hisyam, tolong antar Fifa sampai rumah ya. Pastikan semua aman."
"Siap." sahut Hisyam cepat dan tegas.
"Situasi aman terkendali, Pak Firdaus. Sudah ada anggota kami yang berjaga-jaga di sekitar rumah ibu Mala." Polisi dengan badge nama Doni itu memberitahu Bray kondisi terkini. Rumahku dalam pengawasan polisi tanpa seragam.
Bray memberikan acungan ibu jari dan senyum lebar. Kedua polisi itu bersiap menjalani sesi pemeriksaan selanjutnya terhadap Bray sebagai saksi korban. Agar tak mengganggu tugas penyidik, aku segera keluar dari ruangan itu. Kepentinganku hanya memastikan kondisi Bray saja. Alhamdulillah keadaannya jauh lebih baik dari yang kubayangkan sebelumnya.
Sungguh ini hari yang sangat melelahkan. Tubuhku terasa remuk. Tulang-tulang rasanya mau rontok. Benar-benar lelah secara fisik dan mental.
__ADS_1
"Ngana terlihat lelah sekali, Fifa."
"Ya. Sangat lelah."
"Ngana harus tenang. Jangan takut. Polisi pasti akan segera menangkap orang yang mencelakakan kalian. Sampai di rumah nanti, istirahat ya. Besok akan ada petugas keamanan dari kantor yang akan mengawal ngana ke mana pun."
"Sa tara butuh pengawal."
"Mas Bray mau semua aman. Selama pemanah misterius itu belum tertangkap hidup ngana masih terancam."
Aku tak yakin pemanah itu mengancam hidupku. Kalau pun iya, aku sudah ikhlas. Seharusnya kalau orang itu berniat membunuh tentu lebih mudah membunuh saat aku tinggal sendirian di rumah peninggalan baba. Kurasa orang itu hanya ingin membuatku sedih, takut atau tertekan dengan membunuh orang dan binatang kesayanganku. Yang terancam saat ini mungkin adalah mama dan Aga.
Aku kangen mama dan Aga. Semoga keduanya aman dan baik-baik saja.
Keletihan membuatku malas bicara, malas berpikir dan malas bergerak. Selama perjalanan dari kantor PT XY ke rumah aku hanya menyandarkan tubuh di kursi mobil.
Matahari hampir tenggelam namun mega merah belum tampak menghiasi langit yang berawan. Aku turun dari mobil yang mengantarku sampai di depan rumah. Hisyam telah pamit tidak bisa mampir karena pekerjaannya di kantor belum selesai. Mobil diperintahkan berhenti sampai aku masuk ke dalam rumah demi memastikan keamananku.
Dua orang lelaki tak dikenal duduk berbincang di beranda depan rumah sambil menikmati secangkir kopi dan penganan yang ditaruh dalam toples.
"Assalamu'alaikum, cantik. Apa kabar?" Aga lebih dulu menyapaku sebelum aku mengucapkan salam untuk penghuni rumah dan tamu yang tengah duduk di beranda depan rumah.
Aku menoleh dan tersenyum. Senang melihat keberadaan Aga baik-baik saja. "Wa'alaikumsalam, Aga ganteng." jawabku sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Antara gemas dan kangen, sebelum menyapa tamu dan orang rumah aku memilih masuk dulu ke aviary bertemu Aga sahabatku.
Begitu masuk, Aga terbang rendah lalu hinggap di lenganku. Inilah kebiasaan manja Aga yang kurindu. Dia begitu jinak dan pintar. Burung paruh bengkok berwarna mencolok itu tetap mengenaliku walau berhari-hari tak bertemu. Tampaknya ia pun merindukan aku.
"Maafkan aku pergi terlalu lama. Aku habis bertemu nenek dan paman di Makassar, Aga." Kuelus-elus bulu kepala Aga dan mengurutnya sampai ke punggung dengan sentuhan yang lembut.
Bulu Aga kian halus. Penampakan nuri ternate jantan ini makin berwibawa. Aku harus berterima kasih pada mama yang telah merawatnya dengan penuh cinta selama aku pergi. Burung kesayanganku ini tampak sehat dan gagah.
"Apa kabar. Apa kabar." Aga menyahut dengan mengulang kata yang sama.
"Kabarku tak terlalu baik, Aga." laporku jujur. Kuhempaskan nafas yang memberati dada agar bisa tersenyum lega.
"Cantik. Cantik. Apa kabar." Aga bergerak lincah di lenganku. Kepalanya menoleh ke kanan kiri tak beraturan seperti orang yang sedang kebingungan mencari sesuatu. Pijakan kakinya berpindah dengan jarak yang pendek-pendek. Nuri tak pandai menari seperti Bidadari Halmahera. Jarang sekali terlihat mengepakan sayap dan bermanuver dengan gerakan indah. Keahlian terbaiknya adalah ngoceh dan bersiul dengan suara nyaring.
"Kau tahu, Aga. Kata orang aku ini pembawa sial. Gara-gara aku orang-orang terdekatku pasti bermasalah atau celaka. Minggu ini ada 2 kejadian buruk. Nenek terpaksa harus jual rumah dan sewa rumah yang lebih kecil imbas dari kedatanganku. Hari ini mas Bray hampir terbunuh saat hendak mengantarku pulang. Kira-kira apa salahku ya, Ga? Kenapa orang-orang yang ada di dekatku jadi celaka?"
"Cantik. Cantik." Kepala Aga terantuk-antuk. Mata belonya menatapku dengan tatapan iba.
"Aku sayang kamu, Aga. Aku harap kamu tidak celaka karena aku. Kamu boleh pergi sesukamu." kataku setengah frustasi. Aga adalah sahabat terbaikku. Aku tak ingin kehilangan dia.
__ADS_1
"Tidak. Tidak."
Ah, kamu punya kosa kata baru Aga. Kamu bisa bilang tidak meski suaramu samar. Semoga saja kamu tidak akan pernah celaka karena aku. Tetaplah jadi sahabatku.
"Kamu sudah kenyang kan, Aga? Aku sangat lelah dan belum bertemu mama. Aku masuk dulu ke rumah ya. Besok pagi kita ngobrol lagi."
Aga paham apa yang harus dilakukan. Burung paruh bengkok berbulu warna merah terang bercampur hijau stabilo dan kuning itu mengepakan sayap untuk bisa berpindah tempat berpijak dari lenganku ke dahan pohon kenari. Meski belum bisa bicara banyak tapi Aga burung yang sangat pintar. Dia selalu mengerti apa maksudku dan bagaimana suasana hatiku.
"Assalamu'alaikum, Cantik." Aga kembali mengucap salam dengan suara cempreng sebelum aku keluar dari aviary.
Kutengok lagi dahan pohon kenari muda tempat Aga bertengger. Meski senja telah mengantar bumi pada keremangan Aga selalu dapat dicari dengan mudah sebab bulu tubuhnya sangat mencolok. Aku selalu tergoda memberikan senyum untuknya. Warna bulu yang cantik dan tingkah lakunya selalu menggemaskan.
"Wa'alaikumsalam." jawabku sambil melambai-lambaikan tangan ke arahnya.
"Kau sudah pulang, Fifa."
Aku terkejut mendengar suara mama menyapaku. Tanpa kusadari beliau sudah berdiri di depan pintu aviary. Mama langsung memeluk tubuhku dengan sangat erat dan menciumi ubun-ubunku berkali-kali. Padahal aku belum mandi sejak bangun tidur tadi.
"Fifa bau ya, Ma?"
Mama tertawa dan melepaskan pelukannya, "Sebau apapun kamu tetap berharga buat mama, Fifa. Alhamdulillah kamu pulang dengan selamat. Cuma itu yang membuat mama bahagia." Mama mencubit hidungku seraya tersenyum.
Giliran aku yang terharu dan kembali memeluk mama tanpa peduli bau tubuhku.
"Bagaimana kabar mas Firdaus?"
"Masih dalam perawatan dokter di klinik perusahaan."
"Keadaannya?"
"Baik."
"Alhamdulillah. Allah masih melindungi kalian berdua."
Mama merangkul bahuku dan membawaku ke beranda lalu memperkenalkan 2 orang tamu yang duduk di kursi bambu itu. "Bapak-bapak ini polisi yang ditugaskan berjaga-jaga di sini. Mama suruh jaga di beranda saja biar kita lebih aman."
Aku tersenyum dan menganggukan kepala pada dua tamu yang kata mama polisi itu.
"Selamat sore menjelang malam, Pak. Saya Fifa."
"Selamat malam, kak Fifa. Malam ini kami berjaga-jaga di sini atas perintah komandan."
"Terima kasih atas bantuannya, Pak. Mohon ijin masuk ke dalam dulu."
__ADS_1
"Oh, silakan!"