
Tahu dan sambal dabu dabu masakan mama tidak ada tandingan rasanya. Meski dimakan dalam keadaan dingin pun enaknya tak terkira. Apalagi disajikan saat nasi masih mengepulkan asap, sungguh istimewa. Nasi sepiring penuh ludes dalam sekejap.
"Kamu kelihatan kelaparan. Seminggu di hutan makan apa?"
"Apa saja yang bisa dimakan. Ada jamur dibakar. Ada buah disantap. Apa pun yang bisa dimakan ya Fifa makan. Tapi tadi pagi Fifa makan enak sebab bertemu orang kota yang sedang berlibur di hutan. Diberi roti dan makan nasi ikan bakar berbumbu sedap."
"Ohya? Ada orang kota berlibur di hutan?" Mama tampak tak percaya ceritaku. Kedengarannya aneh memang. Jarang sekali ada orang kota yang tertarik berlibur di hutan yang belum dijadikan tempat wisata populer.
"Mungkin bosan di kota."
Mama manggut-manggut.
Setelah selesai makan, mama mengemas rantang yang dibawanya. Selama aku menghilang ke hutan rupanya mama selalu datang ke rumah ini membawa rantang makanan buatku dan meletakkannya di meja buat jaga-jaga bila aku pulang kelaparan. Mama menukar rantang keesokan harinya dengan menu makanan yang berbeda.
"Mulai besok, jangan membuat mama khawatir lagi ya, Sayang. Tak perlu pergi berhari-hari cari damar di hutan."
Aku mengangguk.
"Kamu masih mau tinggal di sini?"
"Ya."
"Kalau begitu, biar nanti mama yang ambil pandan dan menjemurnya. Kalau sudah kering, Fifi akan antar kemari. Kamu jangan kemana-mana lagi ya."
Selesai membereskan rantang makanan, mama pamit kembali pulang ke rumahnya di kampung baru. Hari ini mama membawa pulang 2 rantang. Makanan dalam rantang yang kemarin pasti basi. Biasanya akan dijadikan makanan ternak ayam dan bebek.
Sepeninggal mama aku beres-beres dan membersihkan rumah. Tak ada suara yang menemaniku selain suara-suara benturan benda-benda yang sengaja kubuat sendiri buat melampiaskan sisa kesal yang masih ada. Suara burung berkicau yang biasa hinggap di pohon kenari tua di samping rumah tak dengar sama sekali. Entahlah. Mungkin telingaku tak peka sebab aku masih belum sepenuhnya mengendalikan emosi kecewaku. Aku tak tahu sampai berapa lama aku bisa berdamai dengan diriku sendiri.
KWAK KAK. Sekonyong-konyong terdengar jeritan keras nan memilukan dari arah pohon kenari tua di samping rumah. Itu jelas bukan nyanyian burung yang biasa kudengar. Kulempar sapu dari tanganku lalu bergegas keluar rumah menghampiri arah suara itu.
Aku terkejut mendapati nuri kesayanganku yang biasa hinggap di pohon kenari itu jatuh dari dahan pohon dengan anak panah menancap di tubuhnya. Sementara pada sisi yang lain aku melihat Bray tersenyum puas di atas kudanya memegang busur.
"KEJAM." Mulutku menghardik dengan keras dan lantang. Jantungku berdetak sangat kuat. Kepalaku seperti terbakar api.
Bray berhenti tersenyum. Wajahnya berubah pias. Sementara kak Hisyam berlari mendekati nuri yang terjatuh dan memeriksa tubuh burung pandai bicara yang berbulu merah hijau itu dengan seksama.
__ADS_1
"Mati." ucapnya sambil membopong tubuh nuriku dengan kedua tangannya.
Aku melihat wajah Bray makin pias. Entah kenapa. Apa dia takut melihat kemarahanku? Atau trenyuh melihat binatang buruannya mati? Kesan pertamaku yang memujanya mendadak luntur. Dia bukan bidadara lagi di mataku. Sekarang dia adalah monster pencabut nyawa yang sangat kejam.
Aku menghampiri kak Hisyam. Nuriku tak bisa bergerak. Diam. Tergeletak tak berdaya.
Kak Hisyam mencabut anak panah itu lalu darah kehitaman mengalir membasahi bulu hijau merah nan cantik itu.
"Kau pembunuh. Siaplah kau dengan karmamu. Orang yang kau cintai akan mati kena panah beracun." Aku mengutuk Bray dengan jari telunjuk dan mataku yang penuh api.
Wajah Bray berubah pucat bagai mayat. Ia tak bicara sepatah pun.
Ia turun dari kudanya lalu melangkah gontai menuju pohon kenari. Rupanya ia mengambil buah kenari yang jatuh dengan anak panah terhunus di bawah pohon itu.
"Kau salah paham, Fifa. Aku memanah buah kenari ini, bukan burung nuri itu." katanya membela diri menunjukan buah kenari yang masih terhunus anak panah.
Aku tak mau tahu. Dia satu-satunua orang yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri sedang memegang busur panah. Tidak ada orang lain di sini kecuali kak Hisyam yang sama sekali tak memegang busur. Tak mungkin pula ada kuda bisa melemparkan anak panah tanpa busur. Pasti dia yang membunuh nuriku.
Air mataku mengalir membasahi pipi. Dengan gerak cepat aku menyambar tubuh burung nuriku lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Aku harus menolongnya. Mana tahu nuriku masih bisa diselamatkan Tubuhnya masih terasa hangat. Aku akan berusaha semampuku menyelamatkannya.
Aku menunggu keajaiban detik demi detik. Tak peduli kak Hisyam mengetuk-ngetuk pintu rumahku. Mereka pembunuh. Aku tak sudi berteman dengan orang-orang kejam yang tak punya belas kasih pada sesama makhluk Tuhan.
Waktu berlalu. Nuriku tak kunjung bergerak. Lama-lama tubuhnya kaku dan dingin. Aku mulai sedih dan putus asa. Nuriku benar-benar tak terselamatkan. Dia mati dengan cara yang hampir sama dengan kematian baba.
Hatiku pilu. Sangat pilu.
Kenapa? Kenapa? Kenapa anak panah mengambil nyawa orang dan binatang kesayanganku?
Malam harinya Arfa, mama, dan Fifi datang dengan sepeda motor yang berbeda. Entah dapat kabar dari mana. Kemungkinan kak Hisyam yang menceritakan kejadian tadi sore pada Arfa lalu Arfa mengabarkan keluargaku. Mereka membantuku memakamkan Nuriku di bawah pohon kenari kesayangan kami tempat kami biasa berbincang-bincang.
"Setiap yang hidup pasti akan mati, Fifa. Kita pun akan mengalaminya pada saatnya nanti." ucap mama sambil mengusap-usap punggungku.
"Fifa tahu semua yang hidup pasti mati. Tapi sulit bisa ikhlas kalau yang kita cintai mati dengan cara tragis seperti ini." isakku sambil menghapus lelehan air mata yang jatuh.
Mama terus mengusap-usap punggungku. Lampu minyak yang cahayanya redup hampir mati tertiup angin kencang.
__ADS_1
"Kita pulang ke kampung baru saja, Fifa. Minyak lampunya sudah hampir habis. Mama tak tega meninggalkanmu sendirian di sini."
Mama terus mengusap-usap punggungku dan berusaha menghiburku.
Ada sepeda motor lain berhenti di dekat tempat kami memakamkan nuriku. Aku tak peduli.
"Hai. Rupanya ngana ada di sini. Arfa. Ayo pulang! Papa ngana sakit tak dijenguk. Gadis sombong keras kepala ngana jenguk. Ada apa malam-malam kumpul di sini? Ada kenduri kah?"
Tak ada yang menyahut. Aku tahu itu suara nyaring itu milik mama Arfa. Aku sudah hapal suara itu.
Hatiku masih berduka. Tak ingin berbasa-basi pada orang yang datang tanpa mengucapkan salam. Yang lain pun tidak.
Mama Arfa tak pernah menyukaiku. Dari dulu. Sejak baba masih hidup pun sebenarnya Arfa tidak diperkenankan bermain bersamaku atau keluargaku. Alasannya karena kami keturunan pendatang yang dianggap sombong karena lebih banyak tahu tentang teknik pertanian dan agama. Padahal kami tidak seperti itu.
"Pulanglah, Arfa! Jenguk papa ngana yang sedang sakit." Mama menepuk punggung Arfa dan berucap lembut.
"Apa yang kalian kubur di situ? Bayi?"
"Hanya seekor burung nuri, mama Arfa. Seseorang memanah burung kesayangan Fifa tadi sore." jelas mama dengan bahasa yang sopan dan nada yang lembut.
Mama Arfa mencibir lalu menarik tangan anaknya dengan kasar.
"Sudah mama bilang, jangan dekat-dekat gadis sombong keras kepala itu. Celaka ngana nanti. Dorang pembawa sial."
Arfa tak bergeming di tempatnya berdiri. Bagai patung, tubuhnya tak bergerak sama sekali walau mamanya terus menarik-narik tangan Arfa.
Mulut mama Arfa tak henti mengucap sumpah serapah buat Fifa. Suara sumbangnya tak enak didengar sama sekali. Untunglah Fifa sedang bersedih. Ia sama sekali tak peduli dan tak berminat membalas kata-kata yang membuat telinga terbakar itu. Semua dianggapnya angin lalu.
"Ngana jangan jadi anak durhaka. Ayo pulang! Manurutlah sama mama. Ngana bakal celaka kalau terus berteman dengan dia. Ngana tahu sendiri keluarganya saja mati tidak wajar. Ada yang dimakan buaya sungai. Ada yang kena penyakit aneh. Babanya pun mati kena panah baracun yang misterius. Sekarang orang kampung sudah tak ada yang mau menemani dia. Semua yang dekat dia pasti celaka. Ayo pulang! Papa ngana sakit gara-gara ngana tak mau turut kata kami."
"Pulanglah, kak! Kasihan kak Fifa dihina terus oleh ngana punya mama," Fifi berbisik lirih.
Risih sekali mendengar omongan buruk mama Arfa. Kami tak ingin ada keributan dalam suasana duka dan luka begini. Fifi mendorong-dorong Arfa agar segera ikut mamanya pulang.
Dalam hati aku bertanya-tanya, apa betul akulah yang membawa sial buat orang-orang terdekatku?
__ADS_1