LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
SEBUAH RENCANA


__ADS_3

Dokter Hans memasukan kembali gawainya ke dalam saku sambil tersenyum. Aku diuntungkan bisa menutupi malu karena hari sudah hampir gelap. Kami meninggalkan aviary besar setelah menutup dan mengunci pintunya. Suara burung-burung masih ramai. Mereka bernyanyi bersahut-sahutan dengan nada dan irama yang berbeda. Terdengar riuh layaknya sebuah pesta alam.


"Langsung balik pulang, Fifa?" tanya dokter Hans.


"Iya, Dok." jawabku sambil membenahi letak tas ranselku yang merosot dari bahu kanan. Kami berjalan sama-sama ke kantor yang berada di tepi jalan raya.


"Mau kuantar?" Andi langsung menawarkan diri.


"Tara. Sa bawa sepeda."


"Gampang. Taruhlah sepeda ngana di bak belakang."


Dokter Hans pamit masuk ke rumahnya. Sementara Andi mengambil sepeda yang teronggok di bawah pohon Ulin lalu menaikannya ke atas mobil bak yang dibawanya.


Kami duduk berhimpitan di kepala mobil bak; aku, Andi dan rekan kerjanya yang ikut mengantar hewan ke tempat kami. Namanya pak Yos.


"Jadi ngana ikut ke Makasar?"


"Tentu jadi. Kapan kakak mulai cuti?"


"Hari senin minggu depan. Kita harus berangkat sabtu subuh supaya kita bisa langsung terbang tanpa perlu menginap di Ternate."


Aku hampir lupa kalau sudah janji akan ikut ke Makasar untuk mengunjungi nenekku. Padahal mama sudah menelpon paman Hasan begitu Andi sudah mendapatkan nomor telepon adik baba itu dari ayahnya. Mama telah memberitahukan rencana perjalananku tempo hari. Nenek bahagia sekaligus sedih mendengar kabar kami. Bahagia karena dapat terhubung lagi dengan menantu dan cucunya yang telah lama tak berkabar. Sedih karena anak kandungnya ternyata tak berusia panjang. Begitupun yang dirasakan paman Hasan. Sedih dan haru bercampur aduk jadi satu. Beliau pasti telah menunggu-nunggu kedatanganku.


"Sa pesan tiket dari sekarang ya. Kalau beli mendadak sering berubah mahal harganya."


"Berapa harga tiketnya?"


"Tak usah ngana pikirkan berapa harganya. Sa yang bayar harga tiketnya. Ngana hanya perlu keluarkan sa punya honor dari yayasan." jawab Andi ringan sambil tersenyum tengil dan mengerdip-ngerdipkan matanya mirip anak cacingan.


"Iya. Besok sa transfer." jawabku malas. "Kirim ngana punya nomor rekening. Nanti sekalian transfer sa punya tiket." lanjutku kemudian.


"Tara, Fifa. Tiket tetap tanggung jawab saya. Sa sudah menabung buat pulang kampung sejak belum jumpa ngana, Fifa. Sa hanya bergurau soal honor itu. Janganlah ngana bikin pusing. Santai saja."


"Ada anggarannya kok. Apapun yang sudah tertera di anggaran pasti bisa dibayar."


"Tara. Sa paham ngana perlu bayar biaya pembuatan kandang rusa yang tak ada dalam anggaran. Pakai saja uangnya buat bikin kandang. Maaf tak ajak ngana diskusi dulu soal rusa tadi. Prinsipnya sa cuma ingin rusa itu dapat perawatan yang lebih baik dan dokter Hans antusias ingin merawatnya. Tak ada motif lain."

__ADS_1


Aku menatap matanya, Andi memang konyol dan kadang sikapnya menjengkelkan tapi dia tak berbohong. Dia peduli dengan kesehatan rusa betina yang malang itu.


"Sudahlah, Fifa. Jangan lah ngana terlalu serius. Kitorang basaudara. Sa tak perlu uang, cuma perlu kartu identitas ngana buat pesan tiket pesawat." Andi kembali tersenyum lebar. Benar-benar tulus dan tak terlihat terbebani. Tetap santai dan ceria.


"Nanti sa foto dan kirim lewat pesan singkat kalau sudah sampai di rumah. Tiket pulangnya biar beli sendiri saja. Sa akan pulang sendiri."


"Kenapa begitu? Kenapa tidak kembali sama-sama saja?"


Aku tak memiliki jawaban yang tepat untuk itu. Aku sebenarnya cuma tak ingin merepotkan Andi saja.


"Sa tak bisa tinggalkan mama terlalu lama."


"Mama tak ikut?"


"Tidak. Tara tega tinggalkan Fifi sendirian, sedangkan anak itu ada ujian sekolah. Lain waktu kalau Fifi libur dan ongkosnya cukup kami bisa berlibur ke Makasar. Sekarang cukup Fifa saja sebagai perwakilan keluarga."


"Kita pergi berduaan dong." Andi melonjak gembira. Ia menatap wajahku dengan tajam seperti memperhatikan tiap detail garis wajahku.


"Maksudnya apa?"


Apa yang lucu? Aku tak mengerti selera humor Andi. Selalu ada yang membuatnya ceria seakan hidup isinya hanya kegembiraan. Tak kuhiraukan tatapannya.


"Seminggu itu tidak lama, Fifa. Kita bisa jalan-jalan keliling Makasar. Pulanglah sama-sama lagi."


"Pentingnya cuma jumpa nenek dan paman. Lain waktu saja keliling Makasar."


"Sayang sekali, Fifa. Kitorang berangkat dan pulang lah sama-sama. Biar ada teman ngobrol. Lagipula ngana bisa jumpa banyak kerabat di acara pernikahan sa punya sepupu. Konon pestanya 3 hari dengan adat lengkap. Tidak maukah ngana tahu dan ikut dalam upacara adat keluarga almarhum baba?"


Aku menanggapinya dengan senyum tipis. Bujukan Andi terakhir itu terdengar menarik sebab dikaitkan dengan orang yang paling kucintai di dunia ini. Aku belum mengenal keluarga almarhum baba dan bagaimana adat kebiasaan mereka. Mungkin dengan mengenal mereka, rasa kangenku pada baba bisa terlampiaskan. Lagipula selama Salman belum tahu rimbanya, bukankah paman Hasan yang seharusnya menggantikan baba sebagai waliku.


Aku bukan orang yang suka keramaian pesta. Tadinya kupikir cukup hadir pada acara inti akad nikahnya saja. Aku ragu apakah aku bisa betah berada di kota besar yang situasinya pasti sangat berbeda dengan kampungku yang berada di tepi hutan. Kata orang Makasar itu kota besar paling modern di kawasan Indonesia bagian timur. Segala sesuatu pasti mahal. Masalahnya, uangku tak banyak dan aku tak mau mengandalkan kebaikan Andi. Aku tak mau berhutang budi terlalu banyak meski ia masih terhitung kerabat kami.


Ya. Sudahlah. Terserah bagaimana nanti saja.Tak ada guna mengira-ngira sebelum tahu dan mencoba sendiri bagaimana rasanya berada di kota besar. Seumur hidup aku tinggal di kampung kecil yang berada di tengah hutan dan jauh dari hingar bingar kota. Bahkan hampir 4 tahun aku bertahan sendirian di rumah peninggalan baba dengan sedikit tetangga sampai akhirnya semua pergi dari kampung lamaku karena sudah diklaim masuk dalam wilayah konsesi tambang PT XY. Aku sudah biasa sendiri dalam sunyi. Tapi beberapa bulan ini aku sudah mulai berusaha menyesuaikan diri hidup di kampung yang lebih modern dan sedikit tahu bagaimana memanfaatkan dunia teknologi informasi dan komunikasi. Pemikiranku mulai terbuka sebab ternyata dunia itu luas dan pengetahuanku masih sangat minim.


Aku sengaja memandang lurus ke depan memperhatikan jalan yang dilalui mobil yang kutumpangi dengan lebih seksama. Tak ada lampu penerangan jalan. Situasi ini persis dengan gambaran hidup yang seharusnya kujalani. Aku harus fokus menatap ke depan untuk memastikan arah jalan yang kutuju. Kalau terlalu banyak menengok kiri, kanan atau ke belakang perjalanan mungkin tak sesuai harapan. Masa lalu adalah sejarah. Tak akan terlupa sebab akan jadi pelajaran hidup.


Mobil mulai memasuki jalanan berbatu tanpa aspal yang gelap. Itu tandanya kami sudah hampir sampai rumah.

__ADS_1


"Belok kanan, Pak. Rumah saya 4 rumah dari belokan itu. Sebelah kanan jalan."


"Yang ada aviarynya, pak Yos." tambah Andi memperjelas ciri rumahku yang membedakan dari rumah-rumah lain yang hampir sama bentuk dan luasnya. Semua rumah di kampung kami terbuat dari kayu ulin dan kayu kelapa dengan desain yang sangat sederhana.


Andi melompat turun lalu mengulurkan tangannya padaku agar aku lebih mudah turun dari jok mobil yang tinggi. Setelah memastikan aku turun, dengan sigap ia menurunkan sepedaku dari bak belakang mobil lalu menyerahkannya padaku.


"Terima kasih, kak Andi."


"Sa tara mampir ya. Harus balik ke kantor lagi mengembalikan mobil. Salam buat mama dan Fifi."


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Kalau ada masalah ceritalah pada kakakmu ini, Fifa. Jangan diam dan cemberut terus. Nanti kecantikan ngana bisa luntur dan Aga bakal ganti sapaannya dengan ucapan, 'Assalamu'alaikum, muka asem' Hahahaha." Andi masih tetap menggodaku dengan gayanya yang santai dan ceria.


Terpaksa aku tersenyum tipis. Sementara Andi membalas dengan senyum lebar dan lambaian tangan. Ia segera naik ke atas jok di samping supir lalu mobil pun berjalan meninggalkan jalan depan rumahku.


Setelah mobil menghilang dari pandangan di kelokan jalan, aku menuntun sepedaku masuk ke halaman rumah. Seperti biasa, Aga menyapa dari dalam aviary, "Assalamualaikum, Cantik. Apa kabar?"


"Wa'alaikumsalam, Aga. Aku baik."


"Baik baik baik." balasnya dengan kepala terantuk-antuk. Warna bulunya yang terang membuatnya tetap tampak cantik di malam hari walau hanya diterangi cahaya rembulan yang masih berbentuk sabit. Sisa pendar lampu beranda yang redup cahayanya membuat suasana menjadi lebih syahdu.


Aku tersenyum ke arah Aga. Perlakuan manis nuri jantan itu selalu menyuntikan semangat baru pada tubuh letihku. Sapaannya menghibur hati. Setiap perempuan pasti merasa bangga dan bahagia disapa dengan pujian cantik.


Aku menaruh dan mengunci sepeda di samping rumah lalu kembali ke aviary untuk sekedar menyapa Aga. Burung itu langsung hinggap di lenganku.


"Kau sudah kenyang hari ini, Aga?" tanyaku sambil mengelus-elus bulunya yang cantik.


"Baik baik baik."


Rupanya hari ini dia sedang belajar kata baru, yaitu baik. Sudah jadi kebiasaan nuri itu mengulang-ulang kata yang baru dihapalnya.


"Aku masuk dulu ya. Mau mandi dan shalat maghrib dulu. Sudah hampir isya ini. Takut telat."


"Baik baik baik."


Paham maksudku, Aga kembali terbang lalu bertengger di dahan pohon kenari. Sungguh aku beruntung dipertemukan kembali dengan nuriku. Kulambaikan tanganku pada Aga sambil tersenyum. Ia masih mengulang-ulang kata baik berkali-kali.

__ADS_1


__ADS_2