
Nenek menatap mataku dan Andi bergantian. Entah apa yang ada dalam benaknya. Sebentar kemudian beliau menarik nafas lalu meminta Andi Syarif agar mendekat.
Aku tetap diam dengan posisi yang sama, yakni duduk bersandar dengan tangan dilipat di dada. Pura-pura melihat tayangan televisi yang beritanya tak menarik perhatian. Hatiku diliputi rasa kesal namun tak tahu harus berbuat apa. Di depan nenek aku tidak mau bersikap kasar atau pun sembarangan. Padahal hatiku diselimuti kesal setengah mati pada sikap Andi.
"Kak Syarif, kamu cucu nenek kan?" Nenek bertanya untuk menegaskan sebuah kepastian tentang hubungan kekerabatan mereka.
Andi mengangguk pasti. Matanya melirik tajam ke arahku.
"Kamu sayang nenek?"
"Dari dulu Syarif sayang nenek. Sama seperti Syarif sayang nenek Hamidah." Andi menyebut nama nenek kandungnya yang merupakan saudara ipar nenek Arifah agar lebih meyakinkan.
Nenek meraih tangan kanan Andi dan menggenggamnya dengan kedua tangannya yang keriput. "Kamu cucu kakakku daeng Yusuf yang paling baik. Namamu pun hampir sama dengan nama ayahnya Fifa. Nenek mohon sampai kapan pun tolong lindungi Fifa dari orang-orang yang berniat jahat atau menyakitinya!"
Andi mengangguk dan tersenyum bangga dengan kepercayaan itu. Matanya melirik ke arahku. Kubalas hanya dengan tatapan mata yang dingin. Ingin rasanya aku berteriak, "Aku tak butuh dilindungi. Apalagi oleh orang yang apa apa mengharapkan pamrih." Namun kalimat itu tertahan dalam benakku. Lebih baik menunggu kalimat nenek selanjutnya.
"Nenek titip Fifa. Jangan sakiti hatinya dengan cara seperti tadi. Kemarin kamu yang menyalahi janji. Seharusnya kamu menemani dia bertemu Firdaus kan?"
Andi mengangguk. Tumben ia tak banyak bicara atau memplesetkan kata-kata semaunya. Aku kagum dengan cara nenek bicara. Dengan suara lembut dan tenang beliau mengangkat lawan bicaranya ke langit lalu dijatuhkan ke bumi sehingga hentakannya terasa lebih keras karena cepatnya dorongan gravitasi. Itulah yang sedang dirasakan Andi sekarang. Tak bisa menyangkal salahnya dan kehilangan kata untuk membela diri.
"Kalau terjadi sesuatu di antara mereka, berarti kejadian itu atas andilmu yang lalai menjaga adikmu."
Aku melihat Andi terhenyak mendengar ucapan nenek yang tegas dan bermakna sangat dalam.
"Kamu tidak pantas menuduh adikmu dengan ucapan kotor seperti tadi. Apalagi kamu tak tahu kebenarannya. Nenek ikut sakit hati mendengarnya."
Andi mulai menunduk. Tak berani menatap mata nenek.
"Iya, Nek. Syarif minta maaf. Tadi itu hanya bercanda."
"Kau harus dihukum."
Bibirku mulai mengembangkan senyum. Pandai nian nenek membaca situasi. Aku makin bangga memilikinya. Seorang perempuan tua yang sudah tak mampu berdiri dengan kakinya yang rapuh namun memiliki kebijaksanaan dan cinta yang luar biasa. Caranya memecahkan tiap masalah tidak dengan suara tinggi atau kekerasan fisik, tapi dengan gaya bicara yang lembut dan kecerdasan yang luar biasa. Aku suka dengan sikapnya yang elegan dan bijaksana.
"Syarif hanya bercanda, Nek."
__ADS_1
"Candamu keterlaluan. Bagaimana mungkin nenek percaya kamu bisa menjaga dan melindunginya kalau sikapmu seperti ini."
Andi makin menunduk. Baru terlihat merasa bersalah atas sikapnya yang tidak bertanggung jawab. Sebelumnya ia merasa sebagai korban yang tak berdaya. Bahkan mengibaratkan diri seperti katak yang siap mati dalam percobaan di laboratorium biologi. Padahal tak ada yang berniat menyakitinya.
"Kau siap menerima hukumanmu?"
"Siap, Nek." jawab Andi dengan lemah dan pasrah.
Siapa sanggup melawan nenek-nenek paling berkuasa di rumah ini. Aku harus belajar bagaimana bisa bersikap lembut dan bijaksana seperti nenek.
"Sekarang pulanglah dan renungkan kata-kata nenek dengan baik! Kalau kamu sayang nenek dan Fifa, jangan berlaku seperti itu lagi. Jangan merasa tersakiti padahal kamulah yang menyulutkan akar masalahnya. Kamu boleh ke sini lagi kalau hati Fifa telah lapang memaafkanmu."
"Fifa nggak marah kok, Nek. Kami sudah biasa bercanda." Andi masih mencoba membantah.
Nenek kini menatapku. "Bagaimana Fifa?"
Aku menggeleng pasti. Aku sadar telah berhutang budi karena jasanya telah mempertemukan aku dengan nenek. Selamanya aku akan berbuat baik untuknya. Tapi bukan berarti aku harus tunduk pada semua keinginannya.
Dalam hati aku tertawa puas. Nenek benar-benar pahlawan buatku. Aku berharap esok, lusa dan selanjutnya Andi sadar dan bisa memperbaiki sikapnya.
"Perlu Syarif antar, Nek?" usulnya menawarkan diri.
"Kami diantar pak Rodi saja. Tugasmu merenungi kesalahanmu, menjemput Fifi, dan melindungi cucu perempuan nenek itu agar sampai di rumah ini tanpa kekurangan sesuatu apapun. Jangan sampai kau lukai seperti kau lukai hati Fifa."
Andi sudah membuka mulut seperti ingin membantah lagi tapi urung dilakukan setelah melihat tatapan mata nenek yang mengancam.
"Baik, Nek." Itu yang keluar dari mulutnya sebelum akhirnya ia meninggalkan rumah kami.
Aku bahagia sekali punya nenek yang memahami hatiku dan berusaha membelaku dengan langkah bijak. Sepeninggal Andi aku langsung memeluknya dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
Meskipun status abadinya sampai saat ini sebagai ibu rumah tangga namun nenek ternyata ahli negosiasi dan analisa bisnis. Dalam rapat manajemen di kantor perusahaan agrobisnis keluarga yang terletak di pinggir kota, nenek menunjukan taringnya dengan cara yang anggun berwibawa.
Masalah strategi bisnis, keuangan dan permasalahan teknis khas perusahaan agrobisnis dikuasai nenek dengan baik. Pada awal sampai pertengahan rapat pertamaku dengan direksi dan tim manajemen perusahaan aku hanya jadi pendengar. Sepanjang rapat aku berusaha menyimak dan mencerna isi pembicaraan semampuku. Pelajaran yang diberikan Jim sebagai asisten pro bono tempo hari sangat membantu. Dengan berbekal catatan risalah rapat yang kutulis sendiri dalam buku agenda, aku mendapatkan beberapa poin penting yang aku garis bawahi dan aku dalami dengan pertanyaan. Itu membuatku tak tampak seperti anak kampung pedalaman yang lugu dan bodoh.
Di akhir rapat aku mengajukan beberapa pertanyaan yang membuat nenek tersenyum bangga. Dengan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman aku masih bisa menjaga wibawa keluarga di depan tim manajemen yang berpengalaman dan berpendidikan tinggi.
__ADS_1
Dalam 3 jam rapat aku menyimpulkan bahwa terlepas dari semua permasalahan operasional yang dikemukakan manajemen, hasil usaha perkebunan kami pada semester ini sangat memuaskan karena produksi sedang tinggi dibarengi dengan harga komoditas lada dan kakao yang kebetulan sangat bagus.
"Terima kasih atas kerja keras kalian. Semua ini tak lepas dari doa kita bersama sehingga kita dianugerahi keberuntungan semester ini. Jangan lupa sebagai wujud dari rasa syukur sisihkan 10% keuntungan semester ini buat zakat dan 20% buat bonus karyawan."
Semua yang hadir otomatis tersenyum dan bertepuk tangan riuh mendengar keputusan nenek.
"Kapan bisa cair, bu Arifah?" tanya bu Yurika dengan senyum malu-malu.
"Segera setelah kita menyelesaikan masalah pembayaran dari LC-LC yang sudah diterbitkan. Untuk penjualan hasil panen tahap berikutnya, usahakan semua rekanan yang order memiliki Sight LC ya. No debat. Kalau ada yang menawarkan pembayaran versi lain, abaikan saja." jawab nenek tegas.
Sambil mendengar aku mencatat beberapa istilah yang masih asing di telingaku untuk kupelajari makna dan bagaimana aplikasinya. Kami sudah terbiasa mengelola kebun tapi biasanya hasil panen kami dibeli oleh tengkulak. Dulu dibayar dengan uang tunai pada saat barang diserahkan. Sekarang sudah ada tengkulak modern yang membayar melalui transfer bank. Mungkin suatu saat tengkulak punya berbagai metode pembayaran seperti yang berlaku di perusahaan perkebunan ini. Menurut keterangan manajer pemasaran, selain menerima pembayaran melalui transfer bank saat barang diterima, perusahaan rekanan yang membeli hasil panen biasanya menegosiasikan berbagai metode pembayaran seperti pembayaran bertahap, melalui LC, atau berupa penjaminan dari lembaga keuangan dan bank. Semua metode itu ada resiko, imbal hasil, dan konsekuensinya yang harus dipertimbangkan dalam negosiasi. Berdasarkan riwayat pembayaran sebelumnya, Nenek memutuskan semua rekanan harus punya sight LC agar ada penjaminan bank dan tagihan dapat lebih cepat dicairkan.
"Sekarang penandatangan cek dan bilyet giro adalah Afifa. Dia juga yang pegang token corporate banking. Jadi semua urusan permohonan pembayaran efektif mulai hari ini koordinasi langsung dengan cucu saya ini. Kalian siapkan saja perhitungan bonus karyawan dan dokumen pendukungnya. Mudah-mudahan tagihan dan LC bisa cair minggu ini, jadi bonus bisa dikeluarkan dengan segera."
"Baik, Bu."
"Mulai hari ini update laporan mingguan kirim tiap hari senin ke email Afifa."
Rapat selesai. Tim manajemen keluar ruang rapat dengan wajah semringah. Demikian pula pak Taqi sang direktur operasional yang sudah puluhan tahun menjadi orang kepercayaan keluarga dalam mengelola perusahaan agrobisnis yang memiliki puluhan hektar perkebunan lada, kopi dan kakao.
"Bagaimana kalau pak Gufron minta update laporan, Bu?" tanya pak Taqi setelah semua manajer keluar ruangan menyisakan kami bertiga; aku, nenek dan pak Taqi.
"Tolak saja." tegas nenek.
"Kiriman honornya?"
"Tidak ada honor lagi. Kemarin itu honor terakhir. Statusnya sebagai pejabat sementara direktur utama otomatis telah gugur. Seharusnya ada acara serah terima jabatan hari ini, tapi Gufron keberatan hadir."
Gufron mungkin marah padaku gara-gara penghasilan dan kekuasaannya berkurang karena statusnya sebagai pejabat sementara direktur utama perusahaan perkebunan ini otomatis gugur sejak surat waris itu kutandatangani di kantor notaris. Awalnya aku hanya menyayangkan sikapnya yang kekanakan. Tapi setelah ngobrol banyak dengan pak Taqi aku mulai membaca kelicikan Gufron. Adik sepupuku itu buru buru memasarkan kebun yang seharusnya menjadi hak keluarga baba demi kepentingan pribadi. Untung nenek dan pak Taqi berhasil mencegah transaksi itu.
"Alhamdulillah non Fifa hadir tepat waktu. Kalau saja kebun sudah berhasil dijual, mungkin sekarang saya dan kawan-kawan sudah kehilangan pekerjaan." keluh pria paruh baya yang sebagian rambutnya telah beruban itu.
"Lho bapak kan masih bisa bekerja pada pemilik kebun yang baru." ujarku spontan.
"Tidak semudah itu, Fifa. Biasanya pembeli sudah menyiapkan tim dan karyawan sendiri." jelas nenek seraya tersenyum bijak.
__ADS_1
Hah? Aku baru paham ternyata dampak penjualan kebun bukan sekedar pindah kepemilikan dari penjual ke pembeli saja. Posisi karyawan juga terancam begitu perusahaan dan asetnya pindah tangan. Pantas semua peserta rapat terlihat lega dan semringah hari ini. Rupanya selain kabar akan mendapat bonus, sebelumnya mereka sempat ketar ketir terancam kehilangan pekerjaan.