LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
SAMBARAN PETIR


__ADS_3

Bray dan aku sama sama memiliki sifat tertutup dan tak pandai memulai pembicaraan. Cukup lama kami saling diam. Dia menyibukan diri menikmati sop konro yang baru saja disajikan. Sementara aku pesan makanan tambahan berupa puding dan secangkir teh jahe. Aku berharap Andi segera datang agar kebisuan diantara kami terpecahkan. Tidak enak rasanya duduk berdua saling diam begini.


"Bagaimana kabar mbak Maudy?" Meski leherku tercekat ketika menyebut nama itu, kutanyakan juga pertanyaan pribadi yang biasa jadi bahan gibahku berdua Jim. Semoga dia tidak marah.


"Baik." jawabnya singkat.


"Kapan kalian menikah?"


Bray malah menatapku tajam seperti hendak menerkam. Aku langsung merasa bersalah dan menunduk. Kami bukan teman dekat. Mungkin pertanyaanku terlalu masuk ke wilayah pribadi. Betapa lancangnya mulut ini.


"Kak Andi ... Tolong datanglah!" jeritku dalam hati. Aku benar-benar mengharapkan kedatangannya.


"Maaf!" Hanya kata itu yang bisa keluar dari bibirku. Aku menunduk penuh rasa bersalah.


Kulirik bibirnya menahan senyum. Mungkin sudah cukup puas melihatku kalah.


"Aku berusaha keras agar tak menikah dengan Maudy." jawabnya datar.


Aku ingin bertanya kenapa tapi takut membuatnya tak nyaman dan marah lagi. Bray memang cuma enak dipandang saja. Tidak cukup menyenangkan buat dijadikan teman. Harusnya kan berdua bisa ngobrol lebih akrab, syukur-syukur bisa romantis.


Sayang sekali. Aku tak dapat bahan gibah dengan Jim tentang Maudy. Masih ada jarak diantara kami yang membuatnya menutup urusan pribadinya. Padahal kami hanya berdua. Kalaupun tak boleh gibah juga aku akan tutup mulut. Aku hanya penasaran dengan perkembangan hubungannya dengan Maudy yang menurut Jim tidak berjalan dengan baik.


Aduh, ngomongin masalah apa lagi ya. Canggung banget. Apalagi diam diam ternyata dia mencuri-curi pandang memperhatikanku. Sudah beberapa kali kami saling beradu lirikan yang berakhir dengan menunduk menahan malu.


Tut tuuttt tuuuuuut gawaiku berdering. Segera kuangkat telepon dari Andi.


"Fifa, aku dibajak kawan-kawan di pesta ini. Bagaimana? Sudah ketemu dengan mas Firdaus?"


"Sudah. Beliau sudah datang dari habis maghrib. Kapan kakak ke sini?"


"Sampaikan maafku ya. Aku nggak bisa ke sana sekarang."


"Kakak gimana sih. Janjinya nggak konsisten." gerutuku kesal. Hampir kubanting gawaiku sendiri. Untung saja aku segera ingat ini gawai pemberian kak Hisyam. Dia pasti sangat kecewa kalau tahu aku membantingnya di hadapan Bray.


Daripada memintakan maaf untuknya, lebih baik kuberikan saja gawaiku pada Bray agar Andi bicara langsung ke orang yang bersangkutan. Sebal. Saat dibutuhkan untuk mencairkan suasana, dia malah tak datang. Giliran tak dibutuhkan nongol sebagai perusuh.


Bray memaklumi alasan Andi dengan senyum bijak. Tak tampak ada kekecewaan sama sekali. Padahal kelakuan Andi bikin kesal. Janji ketemuan sejak lama, tapi pada waktunya justru mengutamakan urusan dengan teman yang lain.


"Andi nggak bisa datang karena dibajak teman-teman SMUnya." Bray mengulang alasan yang sudah aku ketahui lebih dulu tanpa raut kecewa.


"Kak Andi memang selalu bikin kesal."


"Kalau sudah lama tak bertemu teman-teman, kadang memang suka begitu. Nggak bisa nolak."


Loh? Kenapa Bray jadi bela Andi? Seharusnya dia kesal sebagai tamu yang datang dari jauh namun kehadirannya tak dihargai.


Tapi, ee ... jangan-jangan aku yang salah. Aku tidak pernah mengalami bagaimana dibajak teman-teman karena memang dari dulu jumlah temanku hanya sedikit sekali. Aku juga tak pernah pergi jauh dari kampungku. Aku sekolah mandiri tanpa teman, kecuali Arfa. Sejak kecil aku dekat dengan keluarga. Setelah hubungan dengan Deya merenggang dan Arfa pindah ke pulau Obi, aku tak memiliki teman kecuali yang berkaitan dengan pekerjaan. Satu-satunya teman curhat hanya Aga, nuri jantan berkepala merah.


"Mas Bray juga suka begitu?" tanyaku

__ADS_1


Bray mengangguk.


Berarti aku yang belum paham bagaimana kondisi bertemu teman lama setelah lama merantau. Entah seseru apa.


"Rumah nenekmu jauh dari sini?"


Bray mulai sedikit mencurahkan perhatian. Ia terlihat mencoba membaca kegelisahanku karena ketidakhadiran Andi di sini.


"Sekitar 30 menit perjalanan."


"Tadi ke sini sama siapa?"


"Diantar supir."


"Masih menunggu supirnya?"


"Tidak. Kusuruh pulang karena tadinya kupikir akan pulang bersama kak Andi."


"Kamu hapal jalannya?"


Aku menggeleng. Di sini aku jadi anak manja. Aku terlalu tergantung pada orang lain karena merasa tak tahu apa-apa di kota besar yang asing dan dimanjakan oleh fasilitas yang disedikan nenek.


"Coba tanya alamat rumahmu pada nenek. Biar pulangnya kuantar dengan mobil sewaan kami."


"Nggak usah repot. Aku telepon nenek saja biar supirnya jemput ke mari."


Segera aku telepon nenek menceritakan kelakuan Andi yang tak datang menemaniku malam ini. Saudara tua macam apa dia. Janjinya tidak konsisten.


Bray tersenyum. "Kamu tiba-tiba berubah jadi manja dan tergantung pada orang lain."


"Itu karena aku masih asing di sini. Ini perjalanan pertamaku ke luar Lolobata." bantahku membela diri.


"Makanya jadi orang jangan hanya jadi katak dalam tempurung. Lihat dunia! Jangan cuma jadi jago kandang." Bray tersenyum lebar. Gigi geliginya tampak rapi berjejer bak biji mentimun.


Aku nyengir kalah dan membiarkan Bray tersenyum penuh kemenangan. Memang begitulah adanya aku. Tak perlu ditutupi sebab itulah kenyataannya. Lagipula aku turut senang melihat senyum Bray saat aku menganggap diriku kalah. Yang boleh angkuh hanya dia. Aku sih apa adanya saja.


"Kamu tidak diminta nenek tinggal di sini?"


Dia yang kini jadi kepo masalah pribadiku. Tapi biarlah. Daripada hanya diam dan salah tingkah, ini sudah suatu kemajuan.


"Sebenarnya iya. Aku diminta kuliah sambil ngurus bisnis keluarga di sini. Tapi kubilang aku lebih suka ngurus burung. Sekarang aja aku sudah kangen banget sama Aga."


"Burung nuri yang di lepas di hari kemerdekaan lalu balik lagi ke aviarymu itu?"


"Iya. Makin hari ia makin pintar bicara dan pintar juga membaca perasaanku."


Kulihat Bray menelan ludah. Entah apa yang disembunyikannya. Apa ia sedang merasa bersalah karena telah membunuh nuriku.


"Aku berharap kamu tetap jadi Fifa yang dulu."

__ADS_1


Perlahan Bray meraih tanganku dan menggenggamnya di atas meja. Perlakuannya membuatku was was. Jantungku makin berdegup kencang tanpa kendali tapi hatiku dipenuhi oleh bunga-bunga.


Aku tersihir oleh sorot matanya yang teduh hingga membiarkan kedua tanganku diangkat dengan kedua tangannya. Bray mendekatkannya ke bibir lalu mencium punggung tanganku dengan lembut berkali-kali. Darah hangat mengalir ke seluruh tubuhku menciptakan sensasi untuk merasakan lebih dari itu.


Apa apaan ini? Bayangan baba berkelebat di depan mata. Aku kembali teringat pesan baba untuk menjaga diri dan martabat keluarga. Begitu tersadar aku langsung menarik kedua tanganku.


Bray terkejut dengan reaksi spontanku.


"Maaf!" Bray langsung menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.


Aku masih berusaha menetralisir perasaanku yang tak karuan. Ingin berbuat lebih demi memuaskan hasrat yang telah tersulut api tapi takut dosa. Sungguh. Ini bukan sesuatu yang mudah.


"Aku khilaf."


Dia pasti terbiasa melakukan ini pada gadis lain dan kali ini mau coba-coba denganku. Orang kota sudah terbiasa melakukan itu, bahkan mungkin lebih nakal lagi. Tapi tidak denganku.


"Aku ke sini bukan untuk menggoda bos besar anak pemilik perusahaan tambang."


"Maaf! Aku yang tergoda."


Aku senang melihatnya mengaku bersalah. Padahal tadi aku juga ikut menikmati sensasi indah berkat sentuhannya.


"Mas Bray harus ingat sudah punya tunangan. Jangan suka main api."


"Jujur aku tidak mencintai Maudy. Aku mencintai kamu, Fifa. Aku jatuh cinta sejak pertama kali menemukanmu di hutan itu."


Aku menggeleng tak percaya dengan pengakuannya. Tidak. Ini mustahil. Aku sudah cukup senang menjadi pengagum rahasianya saja. Tidak berharap lebih.


"Aku ingin segera menyelesaikan masalah hubunganku dengan Maudy. Tunggu aku ya! Aku pasti akan datang melamarmu."


Bagai disambar petir. Aku sama sekali tak mempercayai ucapannya. Kota Makassar ini adalah kota petir bagi hatiku. Dua kali aku syok sampai jantung hendak meledak saking cepatnya dipaksa memacu darah berlari ke seluruh tubuh.


Aku merapikan laptop dan barang-barangku lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan.


"Tunggu dulu, Fifa! Jangan marah!"


"Mas Bray bayar tagihannya ya. Aku mau pulang. Aku takut ada setan di antara kita."


Bray hanya melirik pengawal memberi isyarat untuk menyelesaikan tagihan. Sementara ia mengikuti langkahku turun ke lantai satu.


"Fifa, sorry!"


"Aku sudah memaafkan soal adegan tadi."


"Tapi kamu belum mengungkapkan perasaanmu padaku."


"Aku tak mau ada affair. Mas Bray selesaikan dulu masalah dengan Maudy."


"Tapi kamu bersedia menunggu, kan?"

__ADS_1


Aku menggeleng. Aku cinta damai. Tak mau terlibat dengan sebuah hubungan yang rumit.


__ADS_2