
Satu hal yang aku suka dari Arfa adalah kegigihannya memperjuangkan hubungan pertemanan kami. Walaupun orang tuanya jelas tak suka, tapi ia masih tetap berteman baik dan menjaga komunikasi dengan tetap menghubungiku. Dia tak segan meminta maaf atas sikap orang tuanya. Hubungan kami tetap terjalin lewat video call saat kebetulan Fifi sedang ada di rumah.
Arfa tak lagi nekat datang ke rumahku sejak peristiwa perdebatan yang berakhir jadi bahan gunjingan para tetangga. Kami yakin ada mata-mata yang selalu melapor pada keluarganya tiap kali Arfa berkunjung ke rumahku. Entah siapa, tapi pasti salah satu diantara tetangga yang dengki atau orang suruhan Deya yang tak menghendaki pertemanan kami.
Arfa tak pernah lagi membahas hal sensitif mengenai panah beracun dan sesuatu yang bisa membangkitkan emosiku. Dia mengerti seberapa dalam luka hatiku karena kehilangan baba dan nuri sahabatku. Kami lebih banyak membahas tentang rencana kuliah dan kepindahan tugasnya ke pulau Obi atau hal remeh yang membuat kami tertawa bersama. Rayuannya agar aku memiliki gawai sendiri sehingga mudah dihubungi sewaktu-waktu tak pernah kugubris. Aku masih bersikeras tak mau memiliki benda pipih yang tiap bulannya butuh suntikan pulsa yang jumlahnya cukup banyak bagi orang kampung yang hanya mengandalkan hidup dari bertani dan ternak skala kecil. Aku tak mau merepotkan orang lain. Cukup Fifi saja yang memiliki benda itu. Aku tidak menginginkannya.
Sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja membantu mama dan menutup diri dari pergaulan. Tak perlu banyak bicara, yang penting kerja, kerja dan kerja. Bersyukur hasil kerajinan pandanku selalu laris terjual, ternakku bahagia dan tanamanku subur. Setidaknya hasil kerja kerasku bersama mama bisa cukup untuk membayar biaya sekolah Fifi, listrik, dan kebutuhan sehari-hari. Kami hidup dengan nyaman sejahtera dalam kesederhanaan.
Menjelang kepindahannya ke pulau Obi, tiba-tiba Arfa berkunjung ke rumah. Tidak sendirian. Kali ini ia mengajak kak Hisyam. Mereka datang dengan mobil perusahaan membawa 2 pasang burung dalam sangkar yang indah.
Betapa cantik warna bulunya. Aku gemas sekali melihatnya. Rasanya ingin memeluk dan menciuminya bertubi-tubi. Entahlah, aku jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap sepasang burung paruh bengkok berwarna merah hijau yang seolah memiliki senyum ramah dan menawan.
"Fifa, ngana tak marah pada kak Hisyam kah?" Kak Hisyam bertanya dengan diiringi senyum nakal saat aku sedang terpukau melihat burung-burung yang dibawanya.
"Kak Hisyam baik, tara bikin salah. Mana mungkin sa marah." jawabku diplomatis sambil senyum malu-malu. Padahal aku sempat menyimpan sedikit kesal karena dia selalu berpihak pada anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Kak Hisyam mau titip rawat sepasang burung nuri dan sepasang murai batu ini. Bisa kah?"
"Sa tara pernah piara burung dalam sangkar begini. Burung hewan bebas. Liar. Tara suka dikurung bagini." komentarku spontan. Jujur, aku memang tak suka burung dikurung dalam sangkar sebab aku pun tak ingin diperlakukan seperti itu.
"Jangan salah paham. Dorang ini burung hasil penangkaran, Fifa. Rencananya akan dilepaskan ke alam bebas. Mereka butuh penyesuaian. Butuh dilatih dulu sebelum dilepas ke alam bebas." jelas kak Hisyam bijak.
__ADS_1
Eh, begitu ya? Jadi malu. Aku paham sedari bayi burung-burung itu hidup di penangkaran. Tiap hari mereka disediakan bahkan disuapi makanan. Mana bisa langsung dilepas ke alam bebas. Mereka sudah terlanjur manja. Bisa mati kelaparan karena tak pandai cari makan kalau dipaksakan langsung lepas ke alam bebas tanpa tahap pembelajaran.
Kak Hisyam mengeluarkan 4 lembar kertas yang isinya sertifikat resmi yang ditandatangani dan distempel oleh dinas lingkungan hidup. Burung-burung yang dibawanya bukan burung liar yang diambil dari hutan, tapi burung langka yang sengaja dibudidayakan orang agar tidak punah.
Aku tak bisa menghentikan senyum melihat keindahan bulu burung-burung itu. Tingkahnya begitu ceria. Berjalan mondar mandir ke sana sini. Sesekali terbang berputar-putar hanya di dalam kandang. Kasihan. Tidak bisa bebas terbang tinggi menari-nari di angkasa sebagaimana burung liar yang kutemui di hutan.
"Sa senang lihat burung-burung ini, tapi tak tahu cara merawatnya." kataku jujur.
Kak Hisyam mengambil sebuah buku dari dalam tasnya lalu menyerahkannya padaku bersamaan dengan sertifikat burung-burung itu.
"Ngana bisa baca buku ini. Selain dari buku dan ngana juga bisa cari informasi praktis cara perawatan burung dari pengalaman para penangkar burung di internet dan youtube. Banyak praktisi yang mengulas seputar teknis perawatan burung di sana. Sa punya hp buat ngana pakai cari informasi tentang burung."
Aku mengernyitkan kening. Ada maksud apa ini? Kenapa kak Hisyam beri benda pipih itu menjelang Arfa pindah ke pulau Obi? Apa ini akal-akalan Arfa agar mudah menghubungiku saat kami berjauhan?
Kak Hisyam pandai membaca situasi. Rupanya ia tahu Arfa sudah lama membujukku agar mau menerima benda pipih sebagai alat komunikasi dan selalu aku tolak. Ia tersenyum bijak dan berkata, "Bukan Arfa yang beli hp. Ini hp bekas sa punya istri. Tara pakai lagi dia sebab su punya yang model baru. Sa pikir ngana butuh. Benda ini banyak manfaatnya, segala pengetahuan bisa cari. Apa saja yang ngana mau tahu bisa dicari melalui hp ini."
Aku mendengar dan paham ucapan kak Hisyam tapi masih menatap Arfa dengan tatapan curiga.
"Lihatlah! Tara bagus seperti baru, tapi fungsinya masih aktif semua. Pulsanya juga masih banyak. Sayang kalau tidak terpakai," Kak Hisyam menyodorkan benda pipih itu agar aku mau melihatnya.
"Masih bagus. Kurasa ini lebih bagus dari punya Fifi." Aku membolak-balikan benda pipih berlogo apel kroak diujungnya seperti buah yang telah dimakan codot.
__ADS_1
Kak Hisyam menyalakan benda itu dan menjelaskan dengan santai fungsi-fungsinya kepadaku. Persis dengan apa yang sering dijelaskan Arfa saat membujukku untuk menerima gawai pemberiannya.
"Kalau ngana mau kerjasama buat penangkaran sementara, besok sa bisa kirim tukang supaya buatkan kandang yang lebih besar di sini."
Aku melihat lagi sepasang nuri itu. Entah kenapa aku terpesona oleh warna bulunya yang cantik dan pembawaan burung paruh bengkok itu yang mempesona. Akh, aku jatuh cinta pada mereka pada pandangan yang pertama. Tak mungkin kutolak tawaran kak Hisyam. Jujur aku membutuhkan teman ngobrol tapi enggan bergaul dengan orang-orang yang kebanyakan tak menyukaiku. Sepertinya mereka bisa menjadi teman ngobrol yang menyenangkan seperti nuri sahabatku yang telah mati.
"Mereka masih muda, belum pandai bicara."
"Fifa pasti bisa latih bicara. Nuri liar yang biasa hinggap di pohon kenari sebelah rumahnya saja bisa bicara dan diajak curhat sampai jadi satu hati dengan Fifa." Arfa mengangkat wajahnya memberanikan diri ikut bicara mendukungku. Mungkin karena sudah melihat kecurigaanku padanya telah mereda akibat jatuh cinta pada burung paruh bengkok yang dibawa kak Hisyam.
Saat ini aku tak punya banyak teman karena kurang percaya diri dan tak juga mudah percaya orang lain. Berbincang dengan hewan akan lebih nyaman buatku sebab mereka tak suka bergunjing seperti para tetangga itu.
"Sa tanya dulu sa punya mama. Apa boleh sa rawat burung-burung ini di sini. Masuk dan duduklah dulu di beranda. Sa akan cari mama di kebun belakang."
Aku bergegas mencari mama yang sedang merawat tanaman sayur, cabai dan tomat di kebun belakang. Tak kusangka mama langsung setuju dengan tawaran itu.
"Apapun yang membuat kamu bahagia, mama pasti setuju." ucap mama dengan mata yang berbinar-binar.
"Kamu sudah terlalu lama bersedih. Mama senang sekarang kamu punya harapan baru. Tak apa berteman dengan burung-burung. Mereka makhluk Tuhan yang tak lupa bertasbih."
Aku tersenyum. Tak terlukiskan bagaimana rasa bahagiaku saat itu. Aku akan punya teman baru. Hari-hariku tak akan sepi lagi.
__ADS_1
Terima kasih Arfa. Kamu sahabat terbaik yang kupunya. Meski akan pergi jauh, namun kamu meninggalkan teman lain sebagai pengganti. Kamu memang orang yang paling paham bagaimana hatiku. Aku tahu pasti kamu yang punya ide ini dan kali ini kamu berhasil membuatku menerima ide ini.