LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
KECEWA


__ADS_3

Aku pamit pergi ke mushola lalu makan sendiri di ruang yang kosong. Aku malu. Belum terbiasa dengan wajahku. Tapi aku berusaha menguatkan diri bahwa kondisi wajah ini tak akan mengubah apapun dalam hidupku.


Makanku tak terasa nikmat sebab ketika menggerakan mulut luka di pipiku terasa perih. Aku memilih makanan yang mudah ditelan tanpa dikunyah. Di hadapanku ada semangkuk bubur manado dan segelas susu. Menu spesial itu kuminta sendiri lewat catatan tertulis pada pak Tristan, termasuk permintaan makan di ruang khusus sendirian.


Aku butuh mengisi kembali semangatku dengan merenung sendiri. Aku bukan orang yang suka jadi pusat perhatian di keramaian, apalagi dengan keadaan wajahku yang tak biasa ini. Itu sebabnya aku di sini. Sendirian menikmati semangkuk bubur manado dan segelas susu sebagai menu makan siang yang istimewa.


Tut tuut tuut suara gawaiku berdering. Panggilan video dari Bray. Aku ragu hendak mengangkatnya atau tidak. Kubiarkan saja sampai batas waktu menghentikan sendiri suara panggilan itu.


Tut tuut tuuut. Dering panggilan video itu berbunyi lagi. Sudah dua kali panggilan. Tak pantas aku mengabaikan. Barangkali ada berita penting yang harus disampaikannya padaku. Kuangkat gawaiku meski dengan setengah hati.


"Assalamu'alaikum, ukhti Fifa."


Salam dan senyum Bray membuatku tambah malu.


Dipanggil ukhti membuatku merasa bersalah. Tak pantas mengenakan pakaian ini tanpa panggilan hati. Aku mengenakan pakaian ini hanya dengan alasan menyembunyikan wajah kuntilanak yang mengerikan. Entahlah. Aku tak tahu apakah yang kulakukan ini akan mencoreng nama baik suatu golongan atau tidak. Kalau misalnya ada tuntutan harus minta maaf pada ukhti-ukhti bercadar, aku akan lakukan sepenuh hati.


"Wa'alaikumsalam." jawabku lirih.


"Bagaimana kabarnya, Fifa?"


"Baik."


"Aku minta maaf ya belum bisa ketemu langsung sama kamu. Kemarin sore aku masih harus dampingi assesor ISO internasional yang datang ke kantor."


Aku sudah tahu alasan itu dan memakluminya. Aku masih merasa diistimewakan. Di sela kesibukan Bray masih sempat membantu dan memikirkan nasibku.


"Tak apa. Terima kasih telah peduli dan membantu aku. Terima kasih telah mengutus kak Hisyam mengantar kami sampai Makassar. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih super banyak buat mas Bray. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda." Aku mencoba merangkai banyak kata melawan nyeri di pipiku karena gerakan mulut yang menarik otot-otot di sekitar lukaku.


Bray tersenyum puas mendengar banyak ucapan terima kasih dariku.


"Alhamdulillah semua pekerjaanku dimudahkan karena kebaikanku padamu."


Ups. Kenapa kedengaran seperti jadi besar kepala ya?


"Assesor puas dengan kondisi perusahaan kami. Semua aspek di atas standar. Cingcai. Salah seorang assesor bahkan janji mau mempertemukan aku dengan investor dari Jepang untuk rencana pembangunan pabrik baterai mobil listrik yang kami rencanakan." ungkap Bray dengan semangat.


"Apa tidak serakah menerima banyak tawaran?"

__ADS_1


"Bukan serakah ya. Mana peluang yang lebih baik yang datang tinggal dipilih aja to. Bisnis itu harus cerdik. Setiap ada peluang langsung tangkap aja. Makin banyak peluang yang kita dapat, daya tawar jadi lebih bagus."


"Iya ya." Kuiyakan saja omongannya walau aku tidak mengerti arah tujuannya. Aku awam dan bodoh soal bisnis. Baru belajar sistem keuangan saja lemah otakku. Apalagi yang lain.


Setelah beberapa detik saling diam. Bray kemudian membuka topik lain.


"Mamanya Maudy masih di sana ya?" tanya Bray agak ragu padahal aku yakin hal itulah yang membuatnya penasaran dan meneleponku.


"Iya."


"Gimana hasil pembicaraan dengan dia?"


"Kami akan cabut laporan dengan syarat."


Bray langsung menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya yang terlihat gagah dan ergonomik. Detik itu juga wajahnya berubah kecewa. "Yah. Kok keputusannya cabut laporan. Harusnya jangan mau cabut laporan, Fifa. Maudy sudah melakukan tindakan penganiayaan berat dan terencana. Nggak layak dapat pengampunan. Tindakannya itu sadis. Kriminal."


Aku tak bisa menjawab protesnya. Bray terlihat sangat kecewa dengan keputusan itu. Aku jadi merasa sangat bersalah. Harus diakui siasat Bray yang membuat Maudy berhasil ditangkap polisi. Dia juga sudah membujuk dan menekan kapolsek agar tidak terima suap dari keluarganya. Dengan cerdik Bray mengutus Hisyam membantu kami cepat-cepat lari mencari suaka. Dia yang sudah merencanakan semua strategi jitu menghadapi Maudy.


Banyak hal yang sudah dilakukan di sela kesibukannya. Wajar bila Bray kecewa. Usahanya membuat Maudy mendekam lama di penjara seolah pupus dengan keputusan impulsif kami.


"Harusnya biar dia di penjara lebih lama. Maudy perlu tahu rasanya tidur di lantai yang banyak nyamuk dan kecoanya. Dia harus merasakan hinanya jadi tahanan. Selama ini dia selalu bertindak sesuka hati dan semena-mena sama orang lain. Tak pernah mau tahu bagaimana sulitnya hidup orang lain."


"Kata nenek aku akan dapat pahala dan kelapangan hati kalau memaafkan."


"Memaafkan boleh, tapi laporan pidana tetap harus lanjut. Biar dia jera." bantah Bray dengan nada tinggi.


Aku diam lagi membiarkan Bray melampiaskan kekesalannya panjang lebar dikali tinggi sampai penuh volumenya.


"Dia itu sudah jahat dan bersikap seenaknya sama kamu. Maudy harus dihukum berat. Jangan dibebaskan begitu saja."


"Ada syaratnya kok sebelum kami cabut laporan dia harus minta maaf pada semua, termasuk sama mas Bray juga. Notaris kami sedang buat perjanjiannya. Mereka juga sudah setuju membayar biaya berobat 3 milyar."


"Tetap saja itu terlalu mudah buat dia. Tidak sebanding dengan penderitaan kamu. Tidak adil." Bray tetap ngotot mengatakan tidak adil.


Aku tak berkutik. Memang salah tak melibatkan dia dalam keputusan ini. Kunikmati wajahnya yang tampan itu sambil tersenyum. Marah-marah pun ia tetap tak kehilangan kharisma di mataku.


"Fifa ..."

__ADS_1


Bray memotong ucapannya pada namaku. Itu salah satu bagian yang kusuka dari dirinya dan membuatku tersanjung. Kutunggu kelanjutannya apakah ia masih ingin meluapkan kecewanya. Tapi tampaknya dia sudah lelah. Semua ungkapan kecewanya sudah tumpah. Luap sudah terbawa angin.


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Ya. Fifa minta maaf tidak bisa memenuhi keinginan mas Bray. Begitulah keputusan keluarga kami."


"Kamu terlalu baik, Fifa." ucapnya pelan. Jelas kulihat raut kecewanya meski mengatakan aku baik. Sungguh aku bingung harus bagaimana. Tak kupungkiri hatiku juga sakit melihat dia kecewa. Tapi bagaimana? Keputusan itu tak mungkin memuaskan semua pihak.


"Fifa. Boleh buka cadarmu? Aku mau lihat bagaimana perkembangan lukamu. Foto yang dikirim dokter Hans kemarin terlihat mengerikan."


Deg. Laju detak jantungku seperti direm. Tiba-tiba gerakan jantungku melemah. Darah ingin berhenti mengalir. Aku sedih dan takut Bray lebih kecewa lagi kalau tahu bagaimana rupa wajahku.


"Fifa ..."


"Wajahku sekarang jelek kayak kuntilanak. Mas Bray nggak takut lihat kuntilanak?" Aku mencoba menghindar dengan lelucon yang tak lucu.


"Enggak. Biasanya kuntilanak cantik sebelum dicabut paku dari kepalanya. Kalau sudah dicabut pakunya baru jelek, soalnya ketawa cekikikan." Tak kusangka Bray justru menimpali dengan tawa kecil.


"Jadi kalau nggak ketawa cekikikan kuntilanak tetap cantik?"


"Ya. Tetap cantik."


"Walaupun mukanya penuh goresan?"


Bray diam sejenak. Tak yakin untuk menjawab ya atau tidak.


Akhirnya kuputuskan untuk membuka saja cadarku dan tersenyum menghadap kamera gawaiku. Toh dia sudah tahu keadaanku saat masih berdarah-darah lewat foto yang dikirim dokter Hans. Apapun yang terjadi aku harus siap. Andai Bray kecewa melihat wajahku lalu menganulir janjinya di hadapan makam baba aku sudah siap. Sejak awal aku hanya ingin melihat dan mengaguminya sebagai idola, tak harus kumiliki seutuhnya.


"Kamu masih terlihat cantik." komentarnya.


"Itu fitnah."


"Beneran. Dari sini kamu masih tetap terlihat cantik. Mungkin karena pancaran cahaya hatimu. Pokoknya aku tetap sayang kamu."


Benarkah itu? Atau hanya kata manis untuk menghibur diri. Terserah. Pada suatu ketika semua akan mencapai titik keseimbangan hidup. Belum tentu apa yang kita inginkan tercapai. Belum tentu keputusan dan perilaku kita disukai orang lain. Namun kita selalu berupaya mencapai apa yang kita inginkan.


"Kalau wajah kamu tidak bisa pulih, bisa ambil bedah kosmetik. Artis korea aja lumrah cantik karena operasi plastik kok. Bukan masalah. Menjadi cantik itu perkara mudah. Yang sulit adalah merubah sikap dan karakter orang menjadi lebih baik. Sekarang dokter bedah plastik jumlahnya sudah banyak. Tapi mendapatkan gadis berkarakter susahnya minta ampun." Bray tersenyum simpul.

__ADS_1


Dukungan orang lain ternyata berpengaruh juga membuat suasana hatiku lebih baik dalam menerima takdir ini. Bibirku mengembangkan senyum. Harus semangat. Hidupku tak boleh hancur karena masalah ini.


__ADS_2