
Kutelan saja kalimat paman tanpa mendebat. Akan kubuktikan nanti bahwa aku mampu bertanggung jawab terhadap keluarga ini dengan suatu hal nyata, bukan hanya retorika atau omong kosong. Paman salah. Beliau mengira aku gadis pedalaman yang lugu dan bodoh hingga dengan mudah percaya pada apa yang keluar dari lidah orang. Sayangnya aku lebih dulu tahu tentang usaha perkebunan yang sebenarnya selalu untung tapi uangnya disalahgunakan Gufron untuk bisnis yang lain. Buktinya jelas. Tapi aku tak mau membahasnya sekarang. Bisa panjang urusannya kalau paman ingin diperlihatkan buktinya yang masih tersimpan dalam tempat khusus dalam ruanganku di kantor. Sementara besok pagi aku sudah harus kembali ke Lolobata. Biar kasus ini ditutup saja buat pelajaran. Bukti itu sengaja kusimpan agar kelak bisa jadi senjata seandainya Gufron berniat jahat menyerangku.
"Kau masih akan teruskan usaha perkebunan yang diberikan padamu?"
"Tentu saja. Untungnya besar. Panen raya kali ini harga komoditas sedang bagus."
"Yakin bisa untung dengan pengawasan yang setengah-setengah? Saya dengar besok kamu akan kembali ke hutan. Bagaimana mungkin bisa berhasil mengelola kebun kalau kamu tidak fulltime mengawasi. Taqi itu korup. Tidak bisa dipercaya."
"Saya akan bangun pengawasan sistemik, terutama dalam hal keuangan. Saya yakin akan bisa pegang kendali penuh perusahaan walau mungkin tidak selalu ada di perkebunan." ucapku yakin. Padahal aku baru berencana mengkonsultasikan ini pada Jim atau Bray.
Paman sedikit kaget mendengar bahasaku yang mungkin terdengar janggal diucapkan oleh anak gadis yang tinggal di pedalaman. Apalagi aku begitu yakin menentang ide menjual perkebunan yang masih saja dibahas paman. Kebun itu jelas-jelas sudah menjadi hakku kenapa masih ada upaya mempengaruhiku untuk menjualnya.
"Tahu apa kamu tentang manajemen usaha perkebunan?"
Aku tersenyum simpul. Rupanya paman masih berpikir aku gadis pedalaman yang tak tahu apa-apa. Magang selama lebih dari sebulan membantu sekretaris direksi PT XY ternyata bermanfaat sekali. Jim mengajarkanku banyak hal tentang manajemen perusahaan termasuk bagaimana menganalisa laporan keuangan, mengarsipkan surat-surat penting, dan mengenal beberapa istilah yang sering disebut saat rapat manajemen. Jim juga memberiku buku-buku tentang manajemen dan perhutanan. Walau belum profesional, tapi pengetahuanku tidak nol.
"Paman tidak perlu khawatir soal nenek. Bantu doa saja supaya tak ada masalah dalam mengelola perkebunan. Urusan rejeki, keselamatan, jodoh, dan umur ada di tangan Allah. Kita hanya bisa menjalani takdirNya sebaik kita mampu." Aku berkelit dengan kalimat bijak.
Aku sedang tak ingin berdebat. Padahal hatiku memberontak ingin bertanya apa peran paman dalam mengatasi masalah yang dicemaskannya. Bisa membantu apa? Atau ada maksud lain dibalik sarannya menjual perkebunan itu.
Kalau aku dianggap tidak mampu mengelola kebun, mengapa bukan paman yang ambil alih tanggung jawab keuangan buat nenek? Paman adalah anak lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas ibunya yang sudah lanjut usia. Sejak tadi aku tidak mendengar ada inisiatif menawarkan berbagi tanggung jawab. Padahal kata nenek beliau telah memberikan harta yang kalau dinominalkan lebih besar dengan pertimbangan anaknya laki-laki.
Lama terdiam. Akhirnya paman mengakhiri pembicaraan dengan nada sedikit mengancam, "Baiklah. Paman pulang dulu. Pastikan tanggung jawabmu terpenuhi ya."
Rahangnya mengeras. Kalimat terakhirnya seolah ingin menegaskan lagi bahwa paman tak ingin bertanggung jawab atas masalah keuangan nenek. Culas. Dalam pembagian harta paman menuntut lelaki harus lebih banyak, tapi tidak dalam hal tanggung jawab.
Ah, sudahlah. Aku tak ingin mendebat. Semoga saja Allah memudahkan rejeki kami dan nenek diberi umur panjang, sehat dan bahagia. Lihat saja nanti. Apakah dengan berjalannya waktu paman akan bertanggung jawab atau tidak pada ibu kandungnya. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Sejak kecil baba mengajarkanku agar tidak menggantungkan sesuatu pada manusia yang pada akhirnya akan menuai kecewa.
Paman kembali masuk rumah memohon pamit pada nenek dengan pelukan dan cium pipi kanan dan kiri. Rela tidak rela rumah sewa ini adalah pilihan nenek sendiri. Meski cenderung menyalahkan aku yang dianggapnya mempengaruhi keputusan nenek, tapi di depan nenek paman tetap tak henti mengungkapkan rasa bersalah karena telah menjual rumah nenek demi kepentingan anaknya.
"Jangan lupa dan malu berkunjung menemui ibu dan keponakanmu!" Pesan penting itu disampaikan nenek sekali lagi pada paman sambil menepuk-nepuk punggungnya lalu mencium ubun-ubunnya.
__ADS_1
Paman tak bersuara. Mungkin janji itu berat buatnya hingga ia memilih tak merespon pesan itu. Padahal aku yakin kasih ibu sepanjang jalan. Apapun yang telah terjadi dalam perjalanan hidup, anak tetaplah anak. Nenek sangat berharap sampai kapan pun anaknya akan tetap mengingatnya.
Setelah kepergian paman, aku baru berpikir ancaman paman agak mengerikan. Aku diberi tanggung jawab atas nenek tapi tak bisa selalu mendampinginya. Bagaimana bisa? Di satu sisi aku tetap harus pulang ke Lolobata. Pada sisi yang lain ada rasa was was meninggalkan nenek dan tanggung jawabku di sini.
Meski sulit, aku harus berani ambil resiko. Satu-satunya tumpuan yang bisa diminta untuk berbagi tanggung jawab hanya Fifi.
Menjelang pulang aku mewanti-wanti Fifi agar lebih memperhatikan nenek. Walaupun beliau sudah punya asisten yang membantunya dalam banyak hal tapi kupikir nenek akan lebih senang kalau cucunya perhatian. Masalahnya Fifi kurang peka untuk urusan ini jadi harus benar-benar diingatkan.
"Selama kakak tidak ada kamu jaga nenek ya, Fi. Kalau nenek ke kedai, kamu harus ikut."
"Di kedai Fifi ngapain, Kak? Jadi pelayan?" tanya Fifi setengah meledek.
"Temani nenek saja. Kalau nenek kelihatan tidak sehat minta beliau istirahat."
"Itu kan sudah jadi tugasnya bi Ika dan bi Siti tiap harinya. Mereka selalu ketat mengawal jadwal istirahat nenek dan paling tahu kondisi kesehatan nenek."
"Benar mereka lebih tahu. Tapi nenek pasti lebih suka kalau cucunya perhatian."
Fifi menaruh telunjuk di kening. Pura-pura mikir.
Ah Fifi. Pikirannya masih didominasi dunia bermain.
Sebagai langkah awal tak apalah. Keinginannya belajar jadi barista itu patut didukung. Mungkin nanti di kedai Fifi akan menemukan banyak spot foto menarik untuk memenuhi akun media sosialnya. Aku berharap setelah melihat dan terlibat dalam aktivitas di kedai dia jadi tertarik belajar mengelola kedai. Saat ini pelanggan kedai sedang ramai dan Fifi paling suka keramaian. Apalagi kalau ada pertunjukan musik, komedi atau media entertainmen lain. Dia bakal betah. Aku sangat berharap Fifi bisa membantu mengelola kedai agar bebanku jadi lebih ringan.
"Boleh juga belajar jadi barista kalau memang kamu berminat ke arah sana. Tapi ingat, tugas utama kamu adalah menemani nenek." tegasku.
"Baik, Kakak."
"Minggu depan mungkin kakak akan kembali ke sini lagi buat ngecek perkebunan dan mengantar mama membawa berkas kepindahan sekolahmu."
Fifi tersenyum riang. Impiannya bersekolah di kota besar akan segera terwujud. Ternyata diam-diam dia tertarik juga pada dunia racik meracik kopi. Harapanku sedikit ada titik cerah. Semoga nantinya dia tertarik mengelola kedai.
__ADS_1
"Jangan keluar malam kalau tidak ada kebutuhan darurat ya, Fi. Ingat pesan paman. Kita harus bisa menjaga martabat keluarga."
Fifi memanyunkan bibirnya. "Iya, Kak. Fifi tahu kok mana yang baik mana yang buruk."
"Segera kabari kakak kalau ada sesuatu."
"Siap, Kakak." jawab Fifi sembari tersenyum tengil dan memiringkan kepalanya.
Aku tersenyum sambil membereskan beberapa potong pakaian ke dalam ransel. Sementara Fifi asyik membersihkan kuku kakinya.
"Nggak usah terlalu serius mikirin nenek, Kak. Kalau mau pulang ya pulang aja. Di sini ada Fifi, pak Rodi, bi Ika dan bi Siti. Semua akan baik-baik saja kok."
"Kamu janji akan jaga nenek sebaik-baiknya kan?"
"Ya pasti dong. Jangan disangsikan lagi masalah itu."
"Terima kasih sudah mau berbagi tanggung jawab sama kakak ya."
"Kenapa sih kakak tidak mau tinggal di sini saja? Mama pasti ikut ke sini kalau kita berdua tinggal di sini. Di sini mau apa-apa lebih mudah daripada di kampung kita."
Aku memilih diam menghindari silang pendapat.
"Baru beberapa hari Fifi sudah dapat banyak teman di sini. Sosial media Fifi juga makin ramai."
"Kamu saling folow dengan kenalan barumu?"
Fifi mengedipkan matanya sambil tersenyum bangga. "Tidak hanya itu. Teman-teman mereka juga tertarik follow aku. Sehari kemarin aku dapat lebih dari 100 pengikut baru."
Benarkah? Cepat sekali geraknya? Padahal isi sosial media Fifi bukan informasi penting. Hanya foto-foto ala selebritis dan banyolan konyol ala remaja tanggung.
"Kalau sudah banyak pengikut sesekali promoin kedai kita dong biar makin ramai." ungkapku spontan. Mana tahu sosial media Fifi bisa digunakan untuk promosi gratis.
__ADS_1
"Pasti. Tunggu aja tanggal mainnya. Fifi akan undang beberapa teman nongkrong di kedai sambil ambil foto kalau ada obyek yang menarik. Kalau perlu kita bikin booth khusus foto yang unik dan kekinian."
"Terserah. Ngomong aja sama pak Tristan kalau mau bikin foto booth."